Alya Renatha tak pernah menyangka akan diceraikan oleh Leonhart Varellion, CEO dingin dari Leonhart Corporation yang menikahinya tanpa cinta. Saat ia pergi dari hidup pria itu, Alya tidak tahu bahwa dirinya sedang mengandung anak kembar tiga.
Bertahun-tahun berlalu. Alya kembali ke kota itu bersama ketiga putranya. Tanpa sengaja, mereka bertemu dengan Leon di sebuah lobi hotel.
“Om, mau nggak jadi Papa kami?” tanya ketiga bocah itu serempak—membuat Leonhart Varellion terpaku dengan tatapan datar, karena wajah mereka mirip dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julian_06, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepedihan Alya
Setibanya di rumah sakit, Alya melihat keadaan sang nenek yang sudah koma. Luka di bagian kepala sangat parah sehingga tak ada lagi kesempatan untuk sembuh.
"Nenek, jangan tinggalkan kami!" Alya menangis sambil mencium tangan sang nenek.
Entah siapa lagi jika sang nenek sudah tiada, tapi Alya yakin jika neneknya akan sembuh dan bisa kembali pulang bersamanya. Dokter muda datang dan turut prihatin dengan keadaan Alya yang hamil besar begini malah mendapat situasi seperti ini. "Nyonya Alya, percayakan pada Tuhan jika nenek anda bisa sembuh."
"Tuhan tidak pernah berpihak kepadaku," kata Alya.
Dokter mengernyitkan dahinya.
"Tidak ada yang tidak mungkin, Nyonya."
"Semoga seperti itu, Dokter."
Dokter memperhatikan perut Alya yang membesar. "Semoga bayi itu bisa menjadi keberkahan bagi anda."
Alya tersenyum. "Terima kasih, Dokter. 3 bayi ini penguat saya untuk hidup."
"Kembar triplets?" tanya dokter."Iya, tanpa seorang ayah," jawab Alya.
"Ayahnya pasti akan menyesal setelah 3 bayi itu lahir. Bolehkah saya menyentuh perut anda? Maaf jika tidak sopan."
"Silahkan!"
Dokter itu menyentuh perut Alya setelah mendapatkan izin. "Semoga menjadi anak-anak yang cerdas, genius serta membahagiakan mamanya."
"Terima kasih atas doanya, Dokter."
"Sama-sama, saya permisi dulu."
Setelah dokter pergi, Alya melihat wajah sang nenek yang masih terlelap, dia mencium keningnya lalu berharap beliau segera pulih apapun yang terjadi.
Alya tidak mau kehilangan sang nenek karena satu-satunya keluarga yang ia punyai hanya beliau.
Beberapa jam kemudian.
Alya duduk di bangku panjang lorong rumah sakit dengan perasaan cemas dan hati yang berdebar-debar. Saat ini, dia sedang menunggu kabar terbaru tentang kondisi neneknya yang koma.
Tiba-tiba seorang dokter berjalan keluar dari ruangan neneknya dengan ekspresi yang serius. Alya pun segera bangkit dari duduknya dan menghampiri dokter tersebut. Wajah dokter yang muram membuat jantung Alya berdegup kencang, khawatir dengan kondisi neneknya.
"Dok, bagaimana keadaan nenek saya?" tanya Alya dengan suara bergetar.
Dokter tersebut menghela napas sejenak, lalu menjawab dengan lembut, "Saya minta maaf, Alya. Nenek Anda sudah tiada."
Mendengar kabar itu dunia seakan runtuh di depan mata Alya. Air mata langsung mengalir deras di pipinya dan tubuhnya terasa lemas tak berdaya. Neneknya adalah sosok yang sangat penting dalam hidupnya dan kini sudah meninggalkannya untuk selamanya.
Alya mencoba menahan tangisnya, namun perasaan sedih dan kehilangan begitu menggelayuti hatinya. Ia merasa tak sanggup untuk menahan rasa sakit yang selalu dia alami. Dalam keadaan hamil yang membutuhkan banyak dukungan dan perhatian, kehilangan sosok yang selalu ada untuknya membuat Alya merasa semakin terpuruk.
Dia duduk kembali di bangku lorong rumah sakit sambil menangis tersedu-sedu sambil terus memikirkan kenangan indah bersama neneknya. Alya berharap agar ia masih bisa merasakan pelukan hangat dan nasihat bijak dari nenek, terlebih saat ia akan melahirkan anak-anaknya nanti. Namun, kenyataan yang pahit harus dihadapinya, neneknya telah pergi."Nenek, kenapa kamu meninggalkanku? Siapa yang akan menjagaku dan siapa yang akan membantu merawat 3 kembarku?"
Dokter mendekat.
"Saya turut berduka cita, Nyonya. Rumah sakit ini juga akan membantu memakamkan nenek anda dan biaya rumah sakit akan ada yang membayarnya," ucap dokter itu.
"Siapa yang membayarnya, Dok?" tanya Alya.
Dokter tersenyum. "Seseorang yang tidak mau disebut namanya. Pertolongan Tuhan pasti nyata."
Alya mengangguk sambil mengusap air matanya. "Aku percaya pada Tuhan, kepergian nenek pasti juga yang terbaik."
Setelah proses keluar rumah sakit, jenazah Nenek akhirnya dibawa pulang untuk dimakamkan. Alya menatap pilu kepergian Nenek yang begitu cepat dan mendalam. Ia merasakan seolah jantungnya diremas-remas oleh tangan tak kasat mata.
Di pemakaman, Alya berdiri di samping lubang kubur yang telah disiapkan untuk Nenek. Tangisnya pecah mengiringi jenazah Nenek yang diturunkan perlahan ke dalam liang lahat. Setetes demi setetes air mata jatuh ke tanah, mencampur dengan debu dan tanah liat yang sebentar lagi akan menutupi Tubuh nenek untuk selamanya.
"Semoga Nenek tenang di alam sana bersama Kakek Alfred," bisik Alya lirih.
Saat prosesi pemakaman selesai, Alya masih berdiri di sana, menatap gundukan tanah yang kini menutupi Nenek. Dia berdoa dalam hati memohon agar Nenek diberikan ketenangan dan kebahagiaan bersama Kakek Alfred di alam sana. Setiap helaan napasnya berat seolah membawa beban duka yang tak mampu diungkapkan dengan kata-kata.
"Sekarang aku akan berjuang sendiri dengan bayi-bayiku, semoga tidak ada suatu hal yang menghalangi kami. Kami sayang,Nenek," gumam Alya.
Setelah menghadiri pemakaman sang nenek, Alya kembali ke rumah neneknya yang kini terasa begitu sepi. Di setiap sudut ruangan masih terasa kuat bekas kenangan yang pernah dibaginya bersama sang nenek. Alya mengusap air matanya yang mulai mengalir, berusaha untuk tidak bersedih. Namun, tiba-tiba saja rentenir yang biasa menagih hutang neneknya datang menghampiri.
"Kamu sedang berduka, kan?
Kami minta maaf, tapi kami tidak bisa menunggu lagi. Kami akan menyita rumah ini," ucap salah satu rentenir tanpa rasa belas kasihan.Alya terkejut dan marah, "Apa kalian tidak punya hati? Aku baru saja kehilangan nenekku dan kalian datang untuk mengambil rumah ini?!"
Namun, rentenir itu tidak bergeming. Mereka tetap bersikeras untuk menyita rumah tersebut. Air matanya kembali mengalir, kali ini lebih deras dan sulit untuk ditahan.
"Bawa barang penting mu dan angkat kaki dari sini!"
"Kalian tidak punya hati!" teriak Alya.
Salah satu dari mereka marah dan hendak memukul Alya, Alya langsung menutup matanya dan malah teringat dengan Leon yang sering melontarkan pukulan kepadanya.
"Jangan! Dia sedang hamil besar, kita beri keringanan saja."
"Sialan!"
"Alya, kami beri waktu sampai besok untuk berkemas dan besok kamu harus pergi dari sini tanpa terkecuali."
Mereka lalu pergi meninggalkan Alya yang traumanya kambuh, dia susah untuk bernafas tapi dia berusaha untuk terus bernafas.
"Hah... hah... hah... demi ketiga bayiku. Hah... hah... Sayang, setelah lahir nanti semoga kalian bisa menjadi penyemangat Mama. Nenek buyutmu sudah tiada dan kalian masih punya Mama untuk terus bertahan hidup," gumam Alya.
Alya lalu duduk di sofa sambil berpikir bagaimana langkah selanjutnya ketika besok rumah ini akan disita dan yang tersisa sekarang adalah kalung emas ini, ia pun juga tidak mungkin menjualnya.
***
Keesokan harinya, Alya bangun pagi-pagi dengan perasaan berat. Dia telah mengepak semua barangnya dan siap untuk pindah hari ini. Rumah peninggalan nenek yang selama ini menjadi tempat berlindungnya kini akan disita oleh rentenir yang kejam dan dia tak bisa berbuat banyak.
Alya berjalan keluar dari kamarnya lalu memandang rumah yang sudah kosong dan sunyi. Setiap sudut rumah menyimpan kenangan indah bersama neneknya. Namun, kini semuanya akan berakhir.
Alya menahan air matanya yang hendak menetes, berusaha untuk tegar menghadapi kenyataan pahit ini.
"Nenek, aku harus bagaimana? Kenapa nasibku selalu seperti ini?
Aku harus kemana? Aku tidak punya siapa-siapa lagi."
Tak lama kemudian, rentenir itu datang bersama beberapa orang bawahannya. Wajah mereka penuh dengan kesombongan dan keangkuhan seolah sudah menang sebelum perang dimulai. Mereka memasuki rumah tanpa permisi dan dengan wajah yang bengis.
"Sudah siap pindah, Non?"
tanya rentenir itu dengan nada sinis.
Alya menatapnya dengan pandangan tajam, namun tak bisa menutupi rasa takut yang melanda hatinya. Dia mengangguk memberikan kunci rumah kepada rentenir tersebut.
"Sudah kubawa semua barangku, Pak. Silakan saja ambil rumah ini," ujar Alya dengan suara bergetar. Rentenir itu tertawa kecil, merasa puas atas kesengsaraan yang dialami oleh wanita malang itu.
Alya menarik napas dalam-dalam berusaha menenangkan diri.
Dia menggendong tasnya yang berisi barang-barang pribadinya, ia pun berjalan keluar dari rumah yang kini bukan miliknya lagi.
Langkahnya terasa berat, seakan menyeret beban hidup yang tak kunjung usai.
"Maaf, Nek. Aku tidak bisa mempertahankan rumah ini dan aku tidak bisa mempertahankan kalung emas milik Kakek Alfred yang Nenek berikan kepadaku, aku berencana akan menjualnya sebagai penopang hidup kami sampai beberapa waktu ke depan," gumam Alya sambil mengusap air matanya.
Dia lekas menuju ke toko emas terdekat dan menjual kalung yang emas yang warnanya sudah pudar tersebut. Setibanya di toko emas, dia menyampaikan maksud untuk menjual emas ini dan si pemilik toko terkejut.
"Wah, ini emas mahal dan liontinnya begitu mewah. Kamu dapat ini dari mana?" tanya si pemilik toko.
"Dari nenek, tapi dia dapat dari kekasihnya dulu," jawab Alya.
"Tidak ada suratnya?"
Alya menggelengkan kepala. "Hanya itu saja."
Si pemilik toko tentu saja tersenyum licik, dia bisa mencurangi wanita itu.
"Baiklah, aku akan timbang dan beri harga terbaik untukmu."
Si pemilik toko mulai menimbang.
"Aku akan menghargainya 25 juta sesuai harga saat ini."
Alya terkejut karena menurutnya termasuk nilai yang besar padahal dia sudah dicurangi.
Akhirnya transaksi dilakukan, Alya bisa membawa 25 juta untuk modal mencari kontrakan serta untuk biaya melahirkan.
Di sisi lain.
Seorang pria berjas dengan wajah kesombongannya saat ini sudah menjadi direktur utama dari Alf Corporation dibidang IT. Siapa lagi jika bukan Leonhart Varellion? Dia sudah berhasil menguasai posisi tersebut setelah merasa berjuang mendapatkannya bahkan dia harus membuktikan dirinya yang terbaik dari cucu kakeknya yang lain.
"Tuan, setelah ini akan ada rapat tambahan."
"Persiapkan semuanya!" jawab Leon.
Saat bersamaan Miki datang dan langsung memberinya sebuah kecupan tapi entah kenapa Leon malah mendorongnya.
"Sayang, apaan sih? Kok begitu?" tanya Miki ."Aku sibuk."
Miki menatap wajah kekasihnya itu. "Setelah kamu jadi CEO, kamu semakin menjauh dariku."
"Aku sibuk."
"Setiap hari kamu sibuk sampai tidak ada waktu denganku.
Sebenarnya kamu sayang aku atau tidak?"
Leon menatapnya dengan kesal. "Kamu selalu menuntut ku ini dan itu. Aku muak, kita putus saja!"
"Apa?! Aku minta maaf jika aku ada salah, tapi aku tidak mau putus.
Aku ingin memperbaiki semuanya," ucap Miki penuh harap.
"Pergilah!""Leon, please!"
Leon memanggil petugas keamanan dan setelah mereka tiba, Miki diseret paksa pergi dari sana.
"Hah... perempuan membuatku gila," ucap Leon sambil mengusap wajahnya kasar.
Leon berjalan ke arah jendela dan terlihat pemandangan kota, posisi perusahaannya ini sudah menjadi yang terkuat di negara ini karena berkatnya. Tiba-tiba dia malah teringat dengan mantan istrinya yang dia usir tanpa sepeser uang.
"Sialan! Lagi-lagi teringat wanita kampungan itu, dia pasti kembali bekerja di Resort Indraloka dan menjajakan dirinya lagi seperti dulu. Sangat menjijikkan!"
Sang asisten pribadinya lalu masuk ke dalam ruangan sang tuan.
"Tuan Leon, kalung berharga milik kakek anda sudah ditemukan di sebuah toko emas. Seorang wanita hamil yang menjualnya."
knp Fared kesetanan liat badut itu 😡😡😡