NovelToon NovelToon
Mempelai Cantik Untuk Sang Juragan

Mempelai Cantik Untuk Sang Juragan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:14.9k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

~~

Di tengah pekatnya suasana pedesaan yang kental dengan tradisi, Larasati, seorang gadis cantik dan muda, harus merelakan masa mudanya hilang setelah terjebak dalam perjodohan politik. Ia dinikahkan dengan Raden Mas Baskoro, seorang juragan terpandang dengan usia yang terpaut jauh dengannya yang memiliki watak kaku dan dingin. Pernikahan mereka bukanlah didasari oleh cinta, melainkan sebuah kewajiban untuk menjaga martabat dan meneruskan garis keturunan keluarga besar sang juragan.

~~



Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 26

****

Beberapa hari telah berlalu sejak badai demam dan keraguan membakar tubuh serta jiwa Larasati. Berkat perawatan telaten dari Raden Mas Baskoro yang mboten pernah bergeser dari sisi ranjangnya, kondisi raga remajanya yang berusia sembilan belas tahun kini telah pulih seutuhnya. Rona merah berseri kembali menghiasi kulit kuning langsatnya, memancarkan aura keibuan yang kian ranum dan memikat.

Pagi itu, udara di perbukitan Joglo terasa begitu segar dan sejuk. Larasati melangkah anggun menyusuri jalan setapak taman dalam rumah joglo. Ia mengenakan kebaya katun sederhana sewarna gading yang melekat pas di tubuh remajanya, menonjolkan perutnya yang membuncit indah di usia kehamilan empat bulan lebih. Tangan kecilnya yang halus mboten henti-hentinya mengelus lembut bagian tengah perutnya, merasai kehangatan buah cintanya dengan sang penguasa tanah.

Larasati berhenti di tepi kolam ikan batu kali, menikmati gemericik air dan kecipak ikan-ikan emas yang berenang lincah. Seulas senyum manis terukir indah di bibirnya yang ranum. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, jiwanya merasa benar-benar tenang, damai, dan dipenuhi kebahagiaan murni sebagai permaisuri sah dari pria tiga puluh lima tahun yang teramat dicintainya.

Namun, kedamaian di selasar dalam itu mboten bertahan lama.

Klitik... klitik... klitik...

Suara derap langkah kaki berselop kayu berukir halus yang beradu keras dengan lantai batu kali mendadak memecah ketenangan taman. Diiringi gemerincing perhiasan emas yang riuh, seorang wanita berjalan masuk melintasi gerbang taman tanpa permisi, melewati para abdi dalem yang hanya bisa menunduk gemetar.

Wanita itu berusia akhir dua puluhan, berparas cantik dengan riasan tebal khas ningrat kota. Rambut hitamnya disanggul megah dengan selipan jamang perak, dibalut kebaya sutra jingga yang mewah bertatahkan benang emas. Ia adalah Nyai Gayatri—putri tunggal saudagar kaya raya dari kota kadipaten, wanita kaya yang di masa lalu pernah dijodohkan dengan Baskoro sebelum pria itu memilih mengasingkan diri di perbukitan Joglo.

Gayatri menghentikan langkahnya tepat beberapa tindak dari tempat Larasati berdiri. Tangannya yang dipenuhi cincin permata memegang kipas cendana setengah terbuka. Sepasang matanya yang tajam dan angkuh menatap Larasati dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan yang teramat merendahkan.

Gayatri terkekeh sinis, sebuah suara ringkih yang penuh nada penghinaan. "Oalah... jadi ini wanita desa yang rumornya berhasil memikat Raden Mas Baskoro?"

Larasati tersentak, namun jiwa remajanya yang kini kian matang sebagai permaisuri Joglo mencoba tetap tenang. Ia membalikkan tubuhnya dengan anggun, merapatkan kedua tangannya di atas perutnya yang membuncit. "Nyuwun sewu, Mbakyu. Anda mencari siapa di rumah ini? Dan siapakah Anda?"

"Mbakyu?" Gayatri mendengkus kejam, menutup kipas cendananya dengan sentakan keras. Tak! "Lantang sekali mulut desamu memanggilku Mbakyu! Aku adalah Nyai Gayatri dari kadipaten. Aku datang kemari untuk menemui Raden Mas Baskoro!"

Gayatri melangkah mendekat, melingkari tubuh Larasati laksana seekor ular yang siap mematuk. Matanya terpaku pada kebaya katun sederhana yang dikenakan Larasati dan perutnya yang menonjol.

"Ckckck... sungguh menyedihkan," cemooh Gayatri dengan nada suara yang ditinggikan agar terdengar oleh para pelayan di kejauhan. "Dulu, Raden Mas Baskoro hanya bersedia menyanding wanita-wanita bangsawan berpendidikan tinggi dari kota. Tapi lihat sekarang... selera pria sekelas Baskoro ternyata telah merosot sangat jauh ke dasar jurang. Hanya karena lilitan utang keluargamu yang memuakkan itu, dia terpaksa memelihara gadis desa tak bertata krama sepertimu di rumah besarnya ini!"

Dada Larasati berdesir hangat mendengar pemicu masa lalunya diungkit dengan begitu kejam. Namun, ia berusaha menahan emosinya demi janin di dalam rahimnya.

"Raden Mas Baskoro menikahi saya secara sah di hadapan Tuhan dan para tetua, Nyai Gayatri," sahut Larasati dengan suara yang rendah namun sarat akan ketegasan. "Saya adalah istri yang dihormati di rumah joglo ini."

"Istri?" Gayatri tertawa meledak, tawa renyah yang sarat akan ejekan pedas. Ia mengibaskan kipasnya ke arah perut Larasati. "Jangan berbesar kepala dulu, Gadis Desa! Perutmu yang membuncit itu tidak membuatmu sepadan bersanding di samping Baskoro! Mana mungkin wanita kampungan sepertimu bisa mendampingi penguasa Joglo di acara-acara besar kabupaten? Kamu tidak lebih dari sekadar gadis pelunas utang yang kebetulan beruntung bisa mengandung!"

Larasati membuka bibirnya, hendak membalas keangkuhan wanita kota itu demi mempertahankan harga diri rahimnya. Namun, sebelum sepatah kata pun keluar dari mulutnya, sebuah suara bariton yang teramat berat dan dingin menggema dari arah pintu selasar dalam.

"Cukup, Gayatri!"

Suara itu menggelegar penuh wibawa mutlak, sanggup menghentikan aliran darah siapa pun yang mendengarnya.

Raden Mas Baskoro melangkah keluar dari dalam rumah dengan gagah. Pria tiga puluh lima tahun itu mengenakan beskap lurik gelap dengan keris pusaka bertatah gading terselip di pinggangnya. Wajah tegap sang juragan tampak kaku laksana batu karang, sepasang matanya yang sedalam sumur tua memancarkan aura intimidasi yang teramat pekat dan berbahaya.

Baskoro melangkah lebar, mengikis jarak. Namun alih-alih menyapa Gayatri, pria perkasa itu langsung berjalan menghampiri Larasati. Tangan besarnya yang hangat merangkul pinggang Larasati yang kian berisi dengan teramat posesif, menarik tubuh remajanya rapat-rapat ke dadanya.

"Larasati, masuklah ke dalam kamar sekarang," perintah Baskoro, suaranya melunak teramat lembut saat berbicara pada istrinya. "Mbok Sum sudah menyiapkan wedang jahe hangat untukmu. Biarkan suamimu ini yang mengurus tamu yang tidak diundang ini."

Larasati menatap wajah suaminya. Ia melihat binar perlindungan yang teramat murni di mata Baskoro. "Inggih, Mas Baskoro," jawab Larasati patuh. Ia menjura pelan tanpa memandang Gayatri, lalu melangkah anggun menuju pintu dalam.

Saat Larasati melewatinya, Gayatri menyunggingkan senyum kemenangan yang mengejek, mengira Baskoro menyuruh istrinya masuk karena malu akan keberadaan gadis desa tersebut.

Setelah bayangan Larasati menghilang di balik pintu jati, wajah Baskoro seketika berubah sedingin es. Pria itu memutar tubuhnya, menatap Gayatri dengan pandangan yang sanggup membekukan seluruh isi taman.

"Ikut aku ke ruang kerja, Gayatri," titah Baskoro singkat tanpa nada ramah sedikit pun, lalu berbalik melangkah duluan.

Di dalam ruang kerja pribadi Baskoro yang megah dan beraroma kayu cendana, suasana terasa teramat menekan. Baskoro duduk di balik meja jati besarnya, menyilangkan kedua tangannya di atas meja, sementara Gayatri duduk di kursi ukir di hadapannya.

"Jadi, Baskoro..." mulai Gayatri dengan nada manja yang dibuat-buat, mencoba mencairkan ketegangan. "Ayahku mengutusku kemari untuk menyerahkan dokumen perjanjian pasokan kayu jati untuk kadipaten bulan depan. Tapi sungguh, aku kaget melihat kondisi rumahmu. Kenapa kamu membiarkan gadis desa tadi berkeliaran di selasar utama? Seleramu benar-benar—"

Brak!

Baskoro menepuk meja jatinya dengan pelan, namun tenaganya yang raksasa membuat cangkir kuningan di atas meja bergetar keras. Gayatri seketika bungkam, napasnya tertahan di tenggorokan saat melihat aura murka yang berkilat di mata Baskoro.

"Jaga mulutmu di dalam rumahku, Gayatri," ucap Baskoro, suaranya teramat rendah, bariton yang sarat akan ancaman mematikan. Pria tiga puluh lima tahun itu memajukan tubuhnya, menatap lurus ke dalam mata wanita kota di depannya. "Wanita yang baru saja kau hina di taman tadi... adalah Raden Ayu Larasati. Dia adalah istriku yang sah, ratu tunggal di atas tanah Joglo ini, dan ibu dari pewaris darah dagingku!"

Wajah Gayatri memucat seketika. "B-Baskoro... aku hanya bercanda. Lagipula, dia hanya gadis desa pelunas utang yang—"

"Satu kata hinaan lagi yang keluar dari bibirmu untuk istriku..." potong Baskoro dingin, jarinya menunjuk lurus ke arah wajah Gayatri, "Maka seluruh dokumen kerja sama kayu jati dengan keluargamu di kadipaten akan kubakar detik ini juga, dan aku pastikan keluarga saudagarmu mboten akan pernah bisa menapakkan kaki di wilayah perbukitan ini lagi!"

Gayatri terperanjat hebat. Ia menatap Baskoro dengan mata membelalak, mboten menyangka pria yang dikenal kaku dan dingin itu akan mempertaruhkan investasi bisnis bernilai ratusan gulden hanya demi membela seorang gadis desa berusia sembilan belas tahun.

"Baskoro... kamu membentakku hanya demi wanita itu?" bisik Gayatri dengan nada sebal dan tidak percaya.

"Dia bukan sekadar 'wanita itu', Gayatri. Dia adalah jiwaku," tegas Baskoro tanpa keraguan sedikit pun. Pria itu meraih gulungan kertas segel di meja, menandatanganinya dengan cepat, lalu melemparkannya ke depan Gayatri. "Urusan administrasi kita sudah selesai. Ambil kertas ini dan tinggalkan rumah joglo sekarang juga. Jika kau datang kemari lagi hanya untuk mengusik kedamaian istriku... jangan salahkan aku jika cara penyambutanku tidak lagi menggunakan tata krama!"

Gayatri menggigit bibir bawahnya erat-erat, wajah cantiknya memerah padam oleh rasa malu dan sebal yang luar biasa. Dengan tangan gemetar, ia menyambar kertas perjanjian tersebut, berdiri dengan hentakan kaki yang kasar, lalu melangkah pergi meninggalkan ruang kerja Baskoro tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Baskoro menghela napas panjang. Ia menyenderkan tubuh kekarnya di sandaran kursi jati, memejamkan mata sejenak untuk menenangkan gejolak di dadanya, sebelum akhirnya berdiri dan melangkah mantap menuju kamar utama untuk menyusul permaisuri tercintanya.

Bersambung

1
partini
👍👍👍
Maya Audina
di awal baca juga 35 kak,Larasati 19...
eh kadang2 Baskoro 40 Larasati 17..
kadang balik lg Baskoro 35 Larasati kadang 19 kadang 17😄
falea sezi
kapok😒 makanya uda tua sadar diri jangan cemburuan nuduh g jelas
Fauziah Daud
rasakan
Maya Audina
waah bikin masalah ini namanya nduk🤣
falea sezi
🤣🤣 tua bangka
partini
mampus Luh pak tua
Maya Audina
like&vote buatmu thor
Maya Audina
maaf Thor di awal Baskoro berusia 35, kok sekarang 40th
Maya Audina
Larasati gak jadi bersih2 dong yah, td katanya mau hapus riasan,eh nangis dan tau2 juragan masuk🤭
falea sezi
cerai aja laki tololl uda tua bangka g tau diri
Neni Abu Triana
udah dong jgn terus konflik please cape ,keren novel tp trs ajh konflik
partini
Laras maklum aja lah dia kan udah otw tuir jadi begitu
partini
randen mas kamu kan yg jebol tuh gawang apa ga ngerasain seyeeet busettt dah gitu aja udah kalap kata orang Jawa ngapak ada ini reden mas ledhoooooooooo 😂😂😂🤭
imel
masa gak bisa ngerasain waktu pertama kali main😏
partini
perasaan kemarin 40 th ko jadi 35 th Raden Baskoro
Fauziah Daud
trusemangattt
partini
ko bisa masuk si Bagas ga ada penjaga gitu
partini
kang datang udah di jotos pala mu gass,,ayo nduk di jawab kalau kamu dah cinta sama kang mas kalau ga siap" badai tornado
falea sezi
🤣🤣 aki2 istrimu bukan budak. yg harus di kurung
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!