cerita pendek misteri dan horor
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yani 11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18_Angkot tengah malam part2
Malam itu juga... Tangan Raka gemetar hebat saat menatap foto di layar ponselnya.
"Tii... tidak mungkin..." gumam Raka. Wajahnya memucat, sementara matanya membelalak penuh ketakutan.
Ia segera menghapus foto itu. Sekali tekan, tidak hilang. Dua kali, tetap ada. Dengan napas memburu, Raka mematikan ponselnya.
"Besok saja... besok aku bawa ke tempat servis." ucap Raka lirih. Wajahnya berusaha tenang, tetapi bibirnya terus bergetar.
Ia meletakkan ponsel di meja, lalu membaringkan tubuhnya.
Namun...
Baru beberapa detik memejamkan mata...Terdengar suara notifikasi.
Ting...
Raka membuka mata.
"Pasti pesan dari teman..." gumamnya. Wajahnya terlihat ragu, sementara dahinya berkerut.
Ia mengambil ponsel. Layar menyala sendiri.
Foto itu kini berubah. Bukan lagi dirinya yang duduk di dalam angkot.
Kini... Foto itu memperlihatkan dirinya sedang menatap kamera. Sementara semua penumpang berdiri mengelilinginya. Sopir angkot berada tepat di belakangnya. Mulut sopir yang robek perlahan terbuka.
Di bawah foto muncul tulisan baru.
"Kursimu sudah kami siapkan."
Raka menjatuhkan ponselnya.
Brak!
"Astaga!" teriaknya. Wajahnya dipenuhi keringat dingin, sementara napasnya memburu tidak karuan.
Mendadak... Lampu kamar padam.
Klik...
Seluruh rumah menjadi gelap.
"Pak! Bu!" teriak Raka. Wajahnya panik, sementara matanya liar memandang ke segala arah.
Tidak ada jawaban. Suasana sangat sunyi.
Lalu...
Terdengar suara mesin tua.
Kreek...Kreek...Kreek...
Suara itu...Sangat dekat. Padahal rumahnya berada di lantai dua. Mana mungkin ada suara angkot?
Raka berjalan perlahan menuju jendela. Tangannya gemetar saat membuka gorden.
Sreet...
Di bawah. Tepat di depan rumahnya... Angkot hijau itu terparkir. Lampunya menyala redup. Mesinnya masih hidup.
"As... astaghfirullah..." bisik Raka. Wajahnya pucat pasi, sementara kedua lututnya mulai lemas.
Pintu angkot perlahan terbuka sendiri.
Ciiit...
Tidak ada seorang pun keluar. Namun...Terdengar suara sopir.
"Raka..." Suara itu pelan. Dalam. Seperti berasal dari liang kubur.
"Raka...Turun..." katanya lagi
Raka mundur beberapa langkah.
"Bukan... bukan aku..." ucapnya terbata-bata. Wajahnya dipenuhi rasa takut, sementara air matanya mulai menetes.
Tok...Tok...Tok...
Kini suara ketukan terdengar dari pintu kamarnya. Padahal... Ia tinggal sendirian malam itu karena kedua orang tuanya sedang berada di luar kota.
"Si... siapa?" tanya Raka. Wajahnya tegang, sementara tenggorokannya terasa kering.
Tidak ada jawaban.
Tok...Tok... Tok...
Ketukannya semakin keras. Lalu terdengar suara seorang perempuan.
"Raka... buka pintunya..." ucap suara itu lembut. Wajah Raka berubah bingung ketika mengenali suara tersebut.
"Itu... suara Mama?" gumamnya. Wajahnya dipenuhi kebingungan, sementara alisnya berkerut.
Namun ia segera teringat. Ibunya sedang berada di luar kota.
"Siapa kamu?!" bentaknya. Wajahnya memerah karena panik, sementara tubuhnya gemetar hebat.
Suara itu tertawa.
"Hehehehe..."
Perlahan berubah menjadi suara melengking.
"Hihihihihihi..."
BRAK!!
Pintu kamar bergetar keras.
BRAK!!
BRAK!!
Seolah ada sesuatu yang sedang menghantam dari luar.
Raka menangis.
"Pergi... tolong pergi..." ucapnya lirih. Wajahnya basah oleh air mata, sementara kedua tangannya menutup telinga.
Tiba-tiba... Semua hantaman berhenti. Sunyi. Sangat sunyi.
Beberapa detik kemudian... Terdengar suara anak kecil.
"Kak..." panggil nya pelan.
Raka langsung membeku.
"Kak Raka..." Suara itu berasal dari bawah tempat tidurnya. "Main sama aku..."
Tubuh Raka terasa kaku.
Pelan-pelan... Ia menundukkan kepala.
Di bawah ranjang... Sepasang mata hitam pekat sedang menatapnya.
Lalu... Anak kecil tanpa mata itu merangkak keluar.
"Kakak datang juga..." ucapnya pelan. Wajahnya tersenyum lebar, sementara rongga matanya yang kosong mengeluarkan cairan hitam pekat.
Raka menjerit.
"Aaaaaaaaa!!"
Ia berlari keluar kamar. Namun lorong rumahnya berubah. Dindingnya dipenuhi tanah basah. Bau bunga melati semakin menyengat.
Di ujung lorong... Angkot hijau itu kini berada di dalam rumah. Mesinnya masih menyala.
Kreek... Kreek...
Pintu terbuka. Semua penumpang duduk rapi.
Seolah sedang menunggu seseorang. Nenek yang semalam ditemuinya tersenyum.
"Nak..." ucap nenek itu lirih. Wajahnya terlihat sedih, sementara matanya berkaca-kaca. "Jangan naik..."
Raka menatapnya bingung.
"Bukannya Nek yang kemarin bilang jangan melihat ke belakang?" tanya Raka. Wajahnya dipenuhi kebingungan, sementara napasnya tersengal.
Nenek itu mengangguk perlahan.
"Aku mencoba menyelamatkanmu..." ucapnya pelan. Wajahnya dipenuhi rasa iba, sementara bibirnya bergetar. "Tapi mereka sudah menandaimu."
"Apa maksudnya?" tanya Raka. Wajahnya semakin tegang, sementara alisnya mengerut dalam.
Nenek itu menangis.
"Setiap orang yang berhasil lolos..." ucapnya lirih. Wajahnya dipenuhi kesedihan, sementara air mata darah mulai mengalir dari kedua matanya. "...akan dijemput lagi."
Belum sempat Raka menjawab...
Sopir berdiri. Tubuhnya patah-patah. Tulangnya berbunyi.
Krak... Krek...
Rahangnya yang hilang perlahan tumbuh menjadi mulut raksasa.
"Sudah waktunya..." ucap sopir itu. Wajahnya membusuk, sementara belatung terus berjatuhan dari rongga matanya.
Seluruh penumpang berdiri bersamaan.
"Kursi kosong..."
"Kursi kosong..."
"Kursi kosong..."
Suara mereka bergema memenuhi rumah.
Mereka berjalan perlahan mendekati Raka. Anak kecil itu tertawa sambil melompat-lompat.
"Kepalamu lucu...Kepalamu masih utuh...Boleh aku pinjam?" ucapnya riang. Wajahnya tersenyum polos, sementara kukunya memanjang seperti pisau.
Raka berlari sekencang mungkin. Namun... Rumahnya tidak memiliki pintu keluar. Semua ruangan berubah menjadi lorong angkot. Semua jendela berubah menjadi kaca angkot yang dipenuhi bekas telapak tangan berdarah.
Di balik kaca...
Puluhan wajah pucat sedang menempel sambil tersenyum. Mereka mengetuk bersamaan.
Tok...Tok...Tok... Tok...
Suara itu semakin cepat. Semakin keras.
"Keluar..."
"Kami kedinginan..."
"Bukakan pintunya..."
Raka menutup telinganya.
"Diam!! Diam!!" teriaknya. Wajahnya histeris, sementara tubuhnya gemetar tanpa henti.
Tiba-tiba... Dari kejauhan terdengar suara azan Subuh.
Allahu Akbar...
Seketika seluruh makhluk itu menjerit.
"Aaaaaaaaargh!!"
Tubuh mereka menghitam. Mengepul seperti terbakar.
Nenek itu kembali berteriak.
"Lari, Nak!" teriaknya. Wajahnya penuh harapan, sementara kedua tangannya menunjuk sebuah pintu yang tiba-tiba muncul.
Raka berlari tanpa menoleh. Ia menerobos pintu itu.
Brak!
Tubuhnya terjatuh di teras rumah. Matahari mulai terbit. Semuanya kembali normal.
Dengan napas tersengal, ia menoleh ke belakang.
Rumahnya tampak seperti biasa. Tidak ada angkot. Tidak ada makhluk mengerikan.
Raka menangis sambil bersujud syukur.
"Aku selamat..." ucapnya lirih. Wajahnya dipenuhi kelegaan, sementara air mata terus mengalir.
Namun...
Saat ia hendak bangkit... Ia melihat sesuatu di halaman. Bekas ban angkot. Masih basah. Masih baru.
Di sampingnya... Tergeletak sebuah karcis lusuh berwarna kuning.
Dengan tangan gemetar, Raka mengambilnya.
Di bagian depan tertulis:
"Trayek: Halte Terakhir - Alam Penantian."
Di bagian belakang... Dengan tulisan merah yang tampak masih menetes...
"Penjemputan berikutnya: Malam Jumat... pukul 23.58 WIB."
Tepat ketika Raka membaca kalimat itu...
Dari kejauhan... Kembali terdengar suara mesin tua.
Kreek...Kreek...Kreek...
Seolah angkot itu... Tidak pernah benar-benar pergi.