Hidup sungguh tak pernah berpihak kepadanya,
Sejak kecil nyawanya sudah terancam, dia harus menjadi saksi kecelakaan yang merenggut nyawa ibunya.
Menjadi yang tertuduh dan dianggap paling bertanggung jawab atas kematian satu satunya orang yang paling menyayanginya setelah sang ibu yakni sang tuan besar yang sebenarnya adalah juga kakeknya hingga akhirnya ia di buang dan ia terpaksa harus bertahan hidup di jalanan menjadi seorang kurir narkoba sejak usia belia demi hanya untuk bisa bertahan hidup.
Gabriella Calista,
mampukan ia menyelamatkan nyawanya ketika meski setelah 15 tahun berlalu, nyawanya masih di inginkan.....
dan apakah ia akan mau menerima cinta yang di tawarkan padanya oleh seseorang yang ternyata dia adalah pewaris sah darah seseorang yang telah membuatnya hidupnya hancur dan sengsara....
ikuti karya baru aku.....
" BIEL..... "
SELAMAT MEMBACA DAN SEMOGA SUKA, LOVE YOU😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon khitara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 30 masih menahan
Biel dan Erick duduk di trotoar jalan yang masih berada di area makam umum itu,
lebih tepatnya di depan area makam itu.
keduanya duduk sambil menatap lampu lampu jalan raya yang menyala terang.
Namun nyala terang lampu itu tak cukup mampu mengubah suasana tempat itu yang sepi.
Tak ada orang lain di tempat itu selain Biel dan Erick.
" sorry..... " cicit Biel,
Erick menoleh menatapnya, setelah kebisuan cukup lama mencekam keduanya.
Akhirnya Biel yang bersuara lebih dulu.
" untuk apa ?! " tanya Erick
" aku tidak tahu jika kau akan membawaku ke makam ayahmu,
aku tidak bermaksud untuk meledek ayahmu...."
ucap Biel tulus dan masih terdengar sedikit pelan namun masih bisa di dengar oleh Erick dengan jelas.
Biel merasa sedikit bersalah karena tadi sempat berkata jahat kepada pria itu.
Di sisinya Erick tersenyum tipis. ia menatap lembut kearah Biel meski gadis itu tak menatapnya.
Sekilas ia seakan menatap sosok lain dari gadis di sisinya itu.
Sosok gadis yang sangat cantik namun seolah menyimpan sejuta misteri.
" tak apa.....
aku tahu kau tak bermaksud seperti itu ..." jawab Erick kemudian.
Hening,
keduanya kembali terdiam dan membuat suasana kembali terasa sepi dan hening.
Biel melirik kearah jarum jam yang melingkar di pergelangan tangan kanannya,
jarum jam itu menunjuk angka dua.
Biel berdecak kesal di dalam hati,
Ia tak lagi punya waktu,
Uang puluhan juta yang seharusnya bisa ia genggam malam ini melayang begitu saja karena sosok disisinya.
Biel menarik nafas dalam,
Ia mencoba memikirkan apa sebenarnya maksud Erick berbuat seperti ini kepadanya. Apakah laki laki itu sudah tahu siapa sebenarnya dirinya dan sengaja melakukan ini padanya ?!
Atau.....
" Bee....." panggilan Erick yang terasa tiba tiba mengejutkan Biel.
" hemm...." lagi lagi jawaban seperti itu yang keluar dari bibir Biel.
" boleh aku bertanya sesuatu padamu ?! "
" tergantung,
jika itu urusan pribadi, aku tak mau kau bertanya "
jawab Biel dingin.
Teringat akan kegagalannya melaksanakan pekerjaannya,
Tiba tiba moodnya menjadi buruk.
Ia membutuhkan banyak uang untuk biaya pengobatan Cryssy.
Sementara Erick,
mendengar jawaban Biel, laki laki itu menghela nafas.
Ia menyadari sesuatu, Gadis di sisinya itu memang sungguh berbeda.
" sedikit pribadi....
tapi hanya sedikit...." ucap Erick dan Biel mencebik sembari melirik sejenak kepadanya.
" ckk....
sudah kuduga,
sepertinya kau itu memang tipe orang yang memang suka ikut campur urusan orang lain.
Dan aku yakin,
meski aku menjawab tidak mau kau bertanya apapun padaku kau pasti masih akan tetap memaksa bertanya " jawab Biel.
Erick tersenyum tipis.
" Bee....
aku sangat penasaran, apakah gadis sepertimu ini tidak ingin menjalani hidup normal selayaknya wanita biasa ?! " tanya Erick.
Biel menoleh menatap Erick tajam,
" apa maksudmu bertanya seperti itu ?! Kau pikir aku tidak normal ?!
aku wanita normal pak komisaris....bukan waria ?! " jawab Biel ketus.
" bukan begitu maksudku, maksudku....
tidakkah kau ingin menikah dan punya anak ?!
berada di rumah mengurus rumah tangga dan anak anakmu dengan tenang.
Dan di sore hari....
kau berdandan cantik menunggu suamimu pulang kerumah "
jawab Erick menjelaskan maksud kata katanya sambil menatap dalam ke dalam manik mata bening seorang Gabriela.
Keduanya saling menatap cukup lama sebelum Biel memutuskan tautan mata keduanya lebih dulu dengan melempar pandangannya kembali ke arah jalan raya di hadapannya yang lengang.
" aku tidak berminat " jawab Biel ketus.
" kenapa ?!
apa kau pernah terluka karena seseorang ?! sehingga kau tidak memiliki keinginan untuk menikah ?! "
" aku tidak perlu terluka hanya untuk tidak ingin menikah.
aku hanya tidak ingin terikat suatu hubungan yang rumit tanpa manfaat " jawab Biel jujur
" Bee....
kau tahu...
pekerjaanmu itu sangat berbahaya, kau bisa saja berada dalam bahaya karena pekerjaanmu itu "
jawab Erick, Biel sontak kembali menatap kepadanya.
" memangnya apa yang kau tahu tentang pekerjaanku ?! " tanya Biel cepat.
Erick tertegun sejenak,
Ia menatap dalam ke dalam netra Biel, ia ingin mengatakan yang sebenarnya jika ia tahu apa pekerjaan gadis itu sebenarnya.
Tapi jujur....
Ia takut, gadis itu akan berlari jauh dan akhirnya menghilang karena takut kepadanya.
" tentu saja aku tahu,
menjadi seorang bartender di club malam bukanlah pekerjaan yang layak untukmu " jawab Erick kemudian.
Ia memilih untuk bodoh dan tak tahu apa apa hanya agar bisa berada di sisi Biel.
" kau sangat cantik,
Laki laki mana yang tidak akan menginginkanmu.
Kau menempatkan dirimu berada dalam bahaya Bee....
bisa saja salah satu dari mereka mengincarmu dan berusaha mencari kesempatan untuk bisa memilikimu. Mereka mungkin akan melakukan segala cara untuk itu " lanjut Erick lagi.
Biel lagi lagi tersenyum tipis sambil membuang pandangannya kembali ke jalan mendengar ucapan Erick itu.
" katakan padaku,
berapa Jokey menggajimu.....jika kau mau aku akan memberikan uang itu untukmu bahkan lebih.
Aku akan bekerja keras dan aku akan memberikan seluruh gajiku padamu.
Tapi.....
keluarlah dari pekerjaanmu itu " ucap Erick terang terangan.
Biel kembali menoleh dan menatapnya.
" sebenarnya apa maksudmu bicara seperti itu padaku ?!
kau menyukaiku ?! " tanya Biel tanpa basa basi.
Raut wajahnya datar dan tatapannya dingin.
Erick sontak kelagapan.
" Bee...aku...
maksudku adalah....."
" tidak bukan ?!
Kau berkata seperti itu tentu bukan karena kau menyukaiku kan ?!
Dan asal kau tahu....
Aku lebih suka bekerja di jalanan dari pada aku harus menunggu belas kasihan dari orang lain " ucap Biel kemudian.
" aku memang orang miskin pak komisaris, tapi aku masih punya harga diri.
jangan pernah kasihan padaku karena aku senang dan bahagia dengan hidupku saat ini.
Dan aku sangat mencintai pekerjaanku ini.
Pekerjaanku ini ku pilih dengan keadaan sadar dan tanpa tekanan " ucap Biel dengan panjang kali lebar.
" tapi Bee...."
" sudahlah....sudahi pembicaraan yang tidak berguna ini,
aku mau pulang....jika kau masih mau di sini terserah.
Berikan kuncinya padaku,
Minta orangmu untuk menjemputmu....aku yakin,
kau tidak akan kesulitan mencari orang yang mau menjemputmu " ucap Biel sambil berdiri dan mengulurkan tangannya meminta kunci motor kepada Erick.
Tapi Erick tak lekas memberikannya.
" ku mohon lepaskan pekerjaanmu itu Bee....
mungkin hari ini atau hari hari yang telah lalu kau bisa selamat.
Tapi entah esok hari.
Hidupmu menjadi taruhannya, jika bukan yang berwajib mungkin mereka sendiri yang akan membuatmu berada dalam bahaya " ucap Erick sambil berdiri juga.
Biel mengerutkan keningnya menatap Erick.
" kau tahu siapa aku ?! " cicit Biel kemudian,
Erick diam tak menjawab.
Lagi lagi keduanya kembali terdiam meski dengan saling menatap.
" tak apa,
Bagiku tak apa jika kau tahu siapa aku....karena itu wajar,
dan jika karena itu kau mau menangkapku.....
silahkan....
lakukan saja....
tangkap aku jika kau mampu.... " jawab Biel kemudian dengan angkuhnya.
Erick menatap tak berkedip sosok di hadapannya itu.