Restu orang tua memang satu hal yang sangat penting dalam sebuah hubungan, namun apa kita harus menerima begitu saja jodoh pilihan orang tua kita sementara hati kita sudah terpaut pada yang lain. Bisakah kita menjalani kehidupan jika bersama orang yang tidak kita inginkan. Namun, apa sudah jadi jaminan. Kita akan bahagia jika hidup bersama orang yang kita pilih?
layaknya permen nona-nona, ada pait.. asam.. manis... begitu pula hidup. Tinggal kita saja, mana yang kita pilih... itulah yang akan kita jalani.
Begitu pula jalan hidup dari seorang perempuan bernama Rani yang lengkap dengan lika liku hidup, up and down. Penasaran??? yuuuk ikuti kisah nya....
Selamat menikmati 😊semoga cocok di hati
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Nastiti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Beberapa tahun berlalu, akhirnya hari ini adikku lulus. Alhamdulillah dia lulus dengan nilai yang lumayan bagus dan langsung di rekrut di tempat dia magang dulu.
Setelah perdebatan panjang dan gencatan senjata dan saling diam selama beberapa hari dengan Azka karena aku kecewa dia menolak saranku untuk lanjut kuliah. Yang aku pikirkan karena dia laki-laki, aku ingin dia memiliki tingkat pendidikan yang lebih tinggi agar lebih mudah nantinya mencari pekerjaan karena tanggung jawabnya sebagai laki-laki ke depan akan lebih besar. Setelah dia berjanji akan mengambil kelas malam seperti yang kulakukan saat ini akhirnya aku mengizinkan dia menerima tawaran kerja di tempat magangnya dulu. Ya, aku ambil saja sisi positifnya. Di tengah susahnya mencari pekerjaan, tapi justru tawaran pekerjaan itu yang datang menghampiri.
Aku teringat perjuanganku untuk bisa sampai di titik sekarang tidaklah mudah. Dari diremehkan oleh atasan, dibandingkan dengan karyawan lainnya yang notabene masih baru beberapa bulan kerja, dan saat kesempatan itu datang aku buktikan jika aku lebih baik dari mereka yang dibanggakan. Dan aku akan sangat dibutuhkan oleh mereka.
Saat ini aku dipercaya untuk menghandle beberapa tugas penting, sudah beberapa kali juga aku ditugaskan untuk mengecek beberapa kantor cabang. Tidak mudah memang, apalagi disamping aku bekerja aku juga mengambil kelas malam, melanjutkan pendidikan. Alhamdulillah beberapa bulan lagi aku akan lulus.
*****
Dddrrtt...
Ddrrrtttt.....
Suara getaran ponsel diatas meja kerja. Memang sengaja hanya aku getarkan karena aku tidak mau suaranya terlalu mengganggu, apalagi jika aku sedang melayani konsumen.
Ponsel itu hanya aku lirik, karena aku masih menerima telepon di ponsel kantor yang aku pegang. Setelah selesai, baru aku hubungi kembali.
"Hallo, assalamu'alaikum Mas!" ucapku ketika sambungan telepon terhubung.
"Wa'alaikumsalam, Dek!" jawab suara lelaki di seberang sana. Dia Daniel, lelaki yang hampir dua tahun ini menemaniku, dan menjadi penyemangat perjuanganku. Dia kakak tingkat di tempatku mengambil kuliah malam.
"Maaf Mas, tadi masih online di ponsel kantor. Ada apa Mas?" tanyaku.
"Dek, Sabtu besok jadi kan kita pergi? Berangkat lepas kamu kerja aja nggak papa," ucapnya mengingatkan.
"Astaghfirullah, maaf Mas. Aku lupa. Sabtu besok jadwal ku ke Surabaya, Mas! Nemenin Bu Bos sidak," jawabku tak enak.
"Gimana sih, Dek? Kan sudah jauh-jauh hari kita bikin rencana buat pergi camping." ucap Mas Daniel kecewa.
"Yaaa, gimana lagi Mas. Nggak mungkin juga kan aku minta di tunda. Soalnya minggu depan Bu Bos ada trip keluar." jawabku penuh sesal.
"Tapi Sabtu besok ulang tahunku lho, Dek! Tega bener! Selama ini aku nggak pernah protes kan kalau kamu lebih banyak waktu buat kerja daripada pergi liburan bareng kayak gini. Paling juga jalan-jalan biasa dan itupun nggak pernah lama." ujarnya merajuk.
"Gini deh, Mas. Sabtu depannya lagi aku ijin libur kerja. Kita pergi camping nya Sabtu depan aja. Gimana?" ucapku berusaha membujuk Mas Daniel.
"Terserah deh!" jawabnya lalu menutup sambungan telepon sepihak.
Aku hanya bisa mengelus dada, inilah sifat yang aku tidak suka dari Mas Daniel. Beberapa kali aku bicarakan, dan dia janji bakal belajar berubah. Tapi tetap saja seperti itu.
Hah, aku tarik nafas dalam dan kembali fokus lagi mengerjakan tugasku yang masih ada beberapa belum selesai.
"Ran, udah makan siang?" tanya Mas Yunus, salah satu kurir di kantor.
"Belum Mas, nanggung kurang dikit nih!" jawabku sambil terus fokus pada layar laptop.
"Pengen ngebakso nih, tapi nggak ada teman!" ucapnya sambil duduk di kursi yang ada di sebelah meja ku.
"Terus?" tanyaku. "Tinggal keluar aja kan? Kang baksonya udah buka kan jam segini?"
"Kurang banyak itu cetak faktur nya?" tanya nya lagi.
"Nggak, lima lembar lagi!" jawabku.
"Ya udah, aku tungguin deh!"
"Maksudnya?" aku mengalihkan pandangan sebentar pada lelaki yang jadi pujaan teman-teman bagian gudang ini.
"Gak peka banget ya jadi cewek?"
"Emang situ bilang ngajak makan bakso? Nggak kan? Tadi bilangnya kan pengen ngebakso! Tapi nggak ada teman,l" jawabku.
"Buruan! Aku tunggu di depan aja ya!" ucapnya lalu pergi tanpa menunggu jawaban dariku.
Aku hanya geleng-geleng kepala melihat tingkahnya. Bukan aku tak paham maksudnya, beberapa kali dia mengungkapkan perasaannya. Tapi aku sudah menjalin hubungan dengan Mas Daniel. Jadi, aku hanya bisa menawarkan pertemanan saja dengannya.
Setelah aku selesaikan faktur yang urgent, aku segera menyusul Mas Yunus yang ternyata masih menunggu di depan.
"Sudah?" tanya nya ketika melihat aku keluar.
"Lho, masih disini? Kirain udah menikmati lezatnya bakso Pak Mardi."
"Kan tadi udah di bilang aku tunggu di depan!"
"Mas berangkat duluan aja, aku masih mau ke toilet bentar. Segan aku kalau ntar penggemar kamu tahu kita keluar makan berdua!" ucapku sambil terkekeh pelan.
"Beneran ya! Susulin!"
"Iya bawel!"
Tak lama, aku sampai di warung bakso Pak Mardi yang terkenal enak di daerah kami. Mas Yunus melambaikan tangannya saat melihat aku berdiri di depan pintu. Aku segera menuju ke arah tempatnya duduk.
"Nih, udah aku pesenin! Kalau kurang tambah aja lagi aja."
"Udah, ini udah cukup kok!" jawabku.
Dia hanya mengangguk sambil meminum segelas jeruk hangat. Ku hembuskan nafasku, laki-laki satu ini begitu hafal dengan apa yang aku suka dan tidak aku suka. Dia begitu mengerti bagaimana aku, sangat jauh berbeda dengan Mas Daniel.
"Hish, mikir apa sih!" gumamku pelan.
"Kenapa?" tanyanya karena mendengar aku bergumam.
"Nggak papa, capek aja Mas!"
"Heh, stop!" ucapnya tiba-tiba membuat aku berhenti menyendokkan sambal ke mangkok.
"Udah ya, adek manis. Sambalnya jangan banyak-banyak!" ucapnya memperingatkan. "Mau nggak bisa bangun lagi? Gara-gara asam lambung naik kebanyakan makan pedas?" tanyanya.
Aku hanya terkekeh, teringat saat aku menghubunginya untuk ditemani ke dokter sepulang kerja. Karena saat itu aku tidak bisa menghubungi Mas Daniel. Dan posisiku masih di kantor karena lembur menyelesaikan mengecek beberapa laporan setelah sidak bersama Bu Bos ke beberapa cabang.
"Iya, iya!" jawabku sambil mengerucutkan bibir.
Kamipun menikmati bakso sambil terus ngobrol hingga tak terasa bakso dihadapan kami sudah habis. Setelah itu kami kembali ke kantor, tentu saja kami tidak masuk bersama. Karena aku yang malas menghadapi sikap random penggemar Mas Yunus. Dan dia memaklumi hal itu.
*****
Sabtu pagi aku sudah bersiap membawa beberapa baju ganti, karena jadwalnya hari ini aku akan menemani Bu Bos mengecek dua cabang yang ada di luar kota, dan rencananya kami akan menginap untuk menghemat waktu daripada harus bolak balik karena dua cabang ini ada dalam satu kota hanya beda daerah saja.
Seperti biasa, saat tiba di kantor aku langsung menyiapkan semua perlengkapan yang dibutuhkan selama di sana.
Ponselku bergetar waktu aku masih mencetak beberapa data yang akan aku gunakan agar saat tiba disana nanti aku bisa langsung bekerja, tidak perlu menunggu lagi. Kulihat ternyata Bu Bos yang menelepon.
"Pagi Cik!" Sapaku karena Bos ku orang chinesse.
"Pagi Ran! Kami ndek mana?"
"Sudah di depan Cik, masih cetak data buat nanti."
"Eh, sorry ya.... aku lali Ran, hari ini aku ada kondangan sama Pak Wandi. Ke cabang e habis aku pergi aja ya? Nggak popo kan?" tanya Bu Bos.
"Hehehe... ya nggak papa Cik, saya ngikut aja!" jawabku.
"Ya wes, maaf ya... kamu wes datang pagi tapi malah nggak jadi berangkat."
"Nggak papa Cik, kan bisa nyelesaikan kerjaan yang lain tanpa gangguan seles," jawabku.
"Ya wes, eh kamu wes sarapan belum? Tak telpon Pak Wandi ya, biar sekalian di bungkus. Orange lagi beli sarapan."
"Nggak usah Cik, terimakasih. Tadi sudah sarapan!"
"Wes, nggak papa. Lauk e biar di pisah. Kan bisa kamu buat nanti agak siang!"
"Iya Cik, makasih."
"Ya wes, tak siap-siap dulu ya!"
"Iya Cik!"
Lalu sambungan telepon terputus. Aku ingat jika hari ini Mas Daniel ulang tahun. Aku berniat memberi kejutan buat dia. Sudah dua hari ini dia tidak menghubungiku.
"Ngambek rupanya dia!" ucapku sambil terus menyelesaikan beberapa pekerjaan. Aku berencana memberi sedikit kejutan buat dia nanti sepulang kerja. Kebetulan hari ini hanya setengah hari saja aku bekerja.
Waktu terus berputar, hingga tak terasa sudah waktunya pulang. Setelah selesai merapikan meja, akupun segera pulang. Tak lupa mampir ke toko kue, membeli sedikit kue untuk kejutan Mas Daniel. Aku berniat langsung mampir ke tempat kosnya saja. Malas rasanya kalau sudah sampai rumah terus keluar lagi.
Dengan ojek online yang aku pesan akhirnya aku sampai di tempat kos Mas Daniel. Tempat kos yang dia pilih memang sedikit bebas, beberapa penghuni yang aku kenal menyapa saat aku jalan menuju kamar yang ditempati Mas Daniel. Tapi meski begitu, aku tidak pernah mau masuk kamar lelaki itu jika ke sana. Kami hanya duduk di teras depan kamar yang memang disediakan kursi untuk sekedar duduk dan mengobrol.
Saat sampai di depan kamarnya, kulihat pintu tidak tertutup rapat. Namun langkahku terhenti saat kudengar sayup-sayup suara aneh dari dalam kamar. Jantungku berdetak lebih kencang, tangan ku gemetar saat memegang handle pintu kamar lelaki yang hampir dua tahun ini menjadi kekasihku. Tapi aku harus tahu sebenarnya apa yang dia lakukan. Aku teringat obrolanku dengan Mas Yunus tempo hari saat makan bakso. Karena tidak biasanya dia menanyakan hubunganku dengan Mas Daniel, dan dia juga mengingatkanku agar hati-hati. Sekarang aku baru bisa sedikit menghubungkan, apa mungkin Mas Yunus tahu sesuatu, atau mungkin dia pernah melihat Mas Daniel berbuat sesuatu di belakangku.
Ku kuatkan hati membuka pintu kamar itu, karena aku ingin melihat dengan mata kepalaku sendiri seperti apa sebenarnya lelaki yang terlihat baik didepanku selama ini.
Rasanya badanku lemas, kakiku tak sanggup menopang lagi saat aku melihat dua orang berlainan jenis saling memagut mesra dalam keadaan telanjang di atas ranjang. Mereka sedang bercumbu dan memacu, mengejar kepuasan dunia.
"Mas!" ucapku lirih tapi masih dapat di dengar. Mas Daniel yang membelakangiku segera menoleh. Kami semua sama-sama terkejut, apalagi saat aku melihat wanita yang ada di bawah kungkungan Mas Daniel. Dia Yunita, teman baikku selama kuliah. Kami sama-sama mengambil kelas malam.
Kutahan air mata yang akan menetes, ku tahan semua rasa sakit di dada. Aku tidak mau terlihat lemah di depan mereka.
"Maaf, aku ganggu kalian! Aku cuma mau antar ini buat kamu Mas. Selamat ulang tahun ya! Dan, terimakasih untuk kejutan yang kalian berikan!" ucapku.
Lalu aku pergi meninggalkan mereka yang mungkin masih syok dengan kedatanganku. Karena setahu mereka aku sedang pergi keluar kota bersama bos ku.
Sedih memang, kecewa, marah. Semua rasa itu jadi satu. Aku ingin menangis, tapi terasa sayang jika air mata ini jatuh hanya untuk lelaki seperti dia. Sambil sedikit berlari, aku pergi dari tempat kos itu. Aku baru berhenti di sebuah taman yang tak jauh dari tempat kos Mas Daniel. Aku duduk di sana sekedar menenangkan diri.
Kuabaikan panggilan telepon dari Mas Daniel ataupun Yunita. Aku sangat bersyukur, aku tahu semua ini sekarang. Sebelum hubungan kami lebih serius lagi. Selama ini aku memang membatasi hanya sekedar pegangan tangan saja, paling jauh hanya cium kening.
Aku melihat lagi layar ponsel, banyak notif panggilan dari dua orang yang saat ini tidak ingin aku temui. Jariku menari di atas layar ponsel mencari kontak seseorang.
"Assalamu'alaikum!" jawab lelaki di seberang sana.
"Wa'alaikumussalam, Mas dimana?" tanyaku.
"Baru kelar kirim ini, kenapa? Kamu sakit lagi? Masih di kantor?" tanya Mas Yunus.
"Nggak, Mas. Mas, bisa minta tolong jemput aku di taman kunang-kunang?"
"Iya!" jawabnya. "Kamu nggak papa, Ran? Kamu habis dari tempat pacarmu itu?"
"Aku tunggu ya, Mas!" ucapku tanpa menjawab pertanyaannya.
******