NovelToon NovelToon
Godaan Sang Pembantu Baru

Godaan Sang Pembantu Baru

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Romantis / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:27.1k
Nilai: 5
Nama Author: Lady Matcha

Cerita Dewasa‼️

Bayangan gelap menyelimuti wanita bernama Sarah. Suaminya, Bagas Aryanaka, mengalami kecelakaan tunggal dan berakhir hilang ingatan. Parahnya lagi, yang lelaki itu ingat hanyalah seberkas memori indah bersama mantan kekasihnya-adik kandung Sarah yang bernama Farah.

Hal tersebut menjadi kesempatan bagi sang ibu mertua untuk turut mengusirnya karena dianggap sebagai wanita pembawa sial.

‎Demi membalaskan dendam dan menuntut hak anaknya. Ia pun memutuskan untuk menyamar sebagai pembantu di rumah keluarga Aryanaka. Sarah berjuang untuk menyembuhkan amnesia Bagas dengan terus berada disisi pria itu, sekaligus, melancarkan aksi liar dengan menggoda sang mantan suami.

‎Apakah Bagas akan kembali?
‎atau malah keduanya akan semakin lepas kendali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Matcha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 Jadi Pembantu Baru

Setelah temu rindu dan perkenalan singkat sang anak dengan sosok penolong-nya. Suratih pun melanjutkan perbincangan kepada momen yang paling ditunggu oleh perempuan bernama Thalia disana.

"Nah, Bagas. Thalia kan sudah baik menolong Bunda. Kebetulan Thalia ini yatim piatu, dia sengaja merantau ke kota untuk mencari pekerjaan. Gimana kalo Thalia jadi ART di rumah kita aja?"

Bagas terdiam sejenak. Sebenarnya ia tidak terlalu perduli terkait dengan balas budi apa yang bundanya inginkan untuk gadis yang sedang tersenyum canggung dihadapannya ini. Namun, Bagas cukup terkejut dengan usulan sang bunda untuk mempekerjakan orang asing. Seperti bukan sosok bunda yang ia kenal. Biasanya Bundanya itu sangat cuek, ia lebih memilih memberikan segepok uang ataupun satu set perhiasan untuk orang-orang yang telah membantunya serta tidak ingin berhubungan lebih jauh lagi.

Tetapi bagaimanapun karena perempuan tersebutlah, ia bisa bertemu kembali dengan sang bunda. Lagipula tidak ada ruginya juga untuk menambah pembantu. Masalah gaji sangat bisa Bagas atasi.

"Terserah Bunda aja," jawab Bagas singkat.

Mendapatkan balasan Bagas yang terkesan acuh tak acuh, membuat Suratih tersenyum puas, dalam benaknya ia merasa menang atas reaksi Bagas yang terkesan tidak terlalu perduli dengan kehadiran Thalia. Disisi lain, perempuan bernama Thalia itu masih berada ditempatnya dengan posisi menunduk sopan. Padahal di dalam hatinya, ia sudah sibuk bersumpah serapah atas dendam yang belum padam.

"Tunggu saja tanggal mainnya Aryanaka!"

Setelah mendapatkan persetujuan dari tuan rumah, Thalia pun segera diantarkan menuju ke salah satu kamar pembantu disana oleh asisten Bagas Aryanaka, yaitu Raska. Ya, sosok lelaki yang tentu saja sangat dikenal dan sangat mengenalnya.

"Bu Sarah, benar kan Anda Bu Sarah?"

Tiba-tiba saja Raska berbicara, menghentikan langkah si pembantu baru keluarga Aryanaka yang hendak membuka pintu kamar didepannya itu. Namun tanpa menolehkan wajahnya, perempuan yang dipanggil sebagai 'Bu Sarah' oleh Raska itu dengan suara pelan nan datar hanya menjawab,

"Tidak ada yang namanya Sarah. Ingat itu saja Tuan Raska."

Setelah mengatakan satu kalimat singkat tersebut, barulah Thalia berbalik, tersenyum sopan kepada lelaki yang telah mengantarnya. "Terimakasih Tuan Raska. Saya izin masuk dulu."

Raska tidak menjawab, ia masih terpaku dengan ucapan dari perempuan tersebut. Bahkan sampai pintu dihadapannya itu tertutup dan sepenuhnya merenggut kehadiran dari sosok bernama Thalia tersebut, Raska tetap senantiasa bergeming, dan tak lama kemudian ia seketika bergidik ngeri.

Entah apa yang sedang terjadi, Raska sepertinya memang harus tetap diam agar dirinya tidak terkena masalah, ia sungguh masih ingin hidup dengan tenang dan bekerja dengan baik agar bisa mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya.

...****************...

Terlihat seorang perempuan dengan rambut keriting dikuncir tinggi sedang sibuk memasak makanan untuk bekal seorang anak berambut hitam lurus yang sedang merengut sambil bertumpu dagu---duduk pada salah satu kursi yang berada didekat dapur.

"Tante Rania! lama banget sih Tan?! Nanti aku telah loh," rengek bocah dengan seragam merah putihnya.

"Duhh, sabar dong Thalia. Kamu kan tahu Tante tuh ndak iso masak, huwaa. Tapi tenang aja nduk, tenang. Iki wes hampir selesai kok, ndak bakal terlambat," ucap Rania menenangkan, padahal dirinya sendiri kini tengah merasa kalut dan sangat kewalahan hanya mengurus satu masakan.

Mendengar perkataan wanita yang sedang memasak dengan ribut itu, Thalia hanya bisa menghela napas berat dan menjatuhkan keningnya ke atas meja. Andai saja sang mama tidak harus pergi, pasti semua akan berlangsung cepat seperti biasa. Tidak seperti hari ini, dimana perempuan yang ia panggil Tante Rania itu malah membuatnya kesal karena menunggu terlalu lama hanya untuk nasi goreng saja.

"Sudah tau ndak iso. Kenapa gak beli aja sih Tante? Kan lebih cepet juga. Lagian juga Mama kemana sih Tan? Harus banget pergi ya? Thalia kangen."

Tidak langsung menjawab---Rania memilih untuk memfokuskan diri terlebih dahulu menyusun makanan yang telah ia masak ke dalam kotak bekal berwarna pink dan bergambar Barbie milik Thalia.

Tak lama, Rania pun bergegas menuju meja makan. Thalia masih terlihat menunduk sedih. Sembari memasukkan kotak bekal kedalam tas milik Thalia, Rania kemudian berkata pelan dan mengelus kepala sang anak dengan sayang,

"Thalia jangan sedih yo. Mama kamu tuh pergi buat cari uang, biar Thalia bisa makan enak, beli mainan, bisa beli jajan banyak. Mama perginya sebentar doang kok, berdoa aja supaya Mama selalu sehat, terus bisa pulang cepet dan kumpul bareng kita lagi."

"Tapi Mama tuh kemana Tante? Apa kayak Umi-nya Tina yang katanya pergi ke Arab jadi TKW ya Tan? Jauh dong, hiks hiks."

"Eh eh ndak Lia, Ndak kok. Mama ndak pergi jauh. Udah ya, nanti malem kita telponan deh sama Mama. Ayo semangat dong kan mau sekolah. Berangkat yuk! nanti telat," ajak Rania dengan wajah ceria.

Sambil mengelap air mata yang entah mengapa telah membasahi kedua pipinya, Thalia pun menuruti perkataan sang Tante, kemudian turun dari kursi dan berjalan ke arah pintu depan masih dengan wajah kesalnya.

"Padahal kan yang bikin telat itu Tante tau!"

Thalia sepertinya masih dendam pada sang Tante yang harus membuatnya menunggu lama untuk mendapatkan bekalnya hari ini.

"Hehehe, maafin Tante ya. Janji deh besok gak lagi. Thalia mau kan maafin Tante? pleaseeee," pinta Rania sembari menangkupkan kedua tangan dihadapan Thalia yang masih cemberut sambil bersedekap---memalingkan wajah tampak kesal.

"Ya udah, tapi janji ya besok gak lagi. Janji?"

Karena merasa kasihan pada sang Tante, Thalia pun menerima permintaan maafnya dan dengan manis mengacungkan jari kelingkingnya kepada Rania sebagai tanda perjanjian.

Kekisruhan pagi hari itu akhirnya selesai. Setelah mengantar Thalia ke sekolah dengan motornya, Rania pun berencana untuk berleha-leha diatas sofa saja. Namun, hal tersebut harus ia urungkan sementara, karena ternyata datang panggilan telfon dari orang yang sedang Thalia rindukan---ya, sang Mama yaitu Sarah.

"Halo mba! Gimana gimana mbak?"

"Ah, kamu Ran, baru juga nyampe ya belum gimana-gimana. Kamu tuh yang gimana? Udah selesai ngurusin Thalia? Dia rewel gak?"

"Oh, itu mah aman mbak. Wes rampungan kabeh. Tapi yo itu si Thalia tadi sempet nangis, katanya kangen sama Mama."

"Ya ampun baru sehari padahal. Tapi mbak juga sebenarnya udah kangen sih sama Thalia. Apalagi dirumah ini malesin banget, hawanya gak enak."

"Ihhh horor yo mbak? Ngeri tenan. Awas hati-hati mbak, takutnya dateng setan,-"

Tok tok tok

Berniat kembali lanjut menggoda Sarah, namun tampaknya sambungan telfon mereka harus terputus, karena tiba-tiba terdengar suara ketukan dari arah pintu kamar yang Sarah tempati.

"Lah beneran dateng setannya tuh mba, hihihi."

"Eh gak ya. Udah ah, mbak tutup dulu. Nanti malem kita telpon lagi bareng Thalia sekalian."

...****************...

Sarah tampak bergegas membuka pintu kamarnya yang diketuk pelan. Ia menduga yang datang adalah Raska ataupun Suratih yang ingin menyeramahinya. Namun, ternyata perkiraannya salah. Karena ketika ia membuka pintu, disana berdiri mantan suaminya yakni Bagas Aryanaka dengan keadaan shirtless dan berkeringat. Sontak Sarah pun menahan napas.

Raut wajah pria itu tampak datar, namun tatapannya teramat tajam. Sarah bergeming, menunggu pria tersebut berbicara, dan tak lama terlontarlah sebuah kalimat singkat dari si pria,

"Saya butuh kamu."

Begitu katanya. Jadi, ada apa?

1
partini
waa
partini
Bagas gelo,2 th loh ngab
partini
dua tahun Weh lama banget sandiwara nya ,,agak" deh gas
partini
ayo usaha betul" Sarah biar dia ingat udah boring ini masa ga ingat"
partini
hilang ingatan Ampe tamat ini cerita kah Thor,,masa lama permanen kah
Lady Matcha: Sebentar lagi kok kak. Ditunggu ya, jangan lupa terus ikuti cerita ini, karena bakalan ada plotwist mencengangkan nanti 🤫
total 1 replies
anonim
di tunggu up nya
Ela Sari Kamaruddin
klw bisa up yg banyak2 kk
Ela Sari Kamaruddin
bgus kk
Siti Amalia
udah baguss kaaa
partini
good story
Lady Matcha
Woww
FalconSC99
Gak akan bosan baca cerita ini berkali-kali, bagus banget 👌
Syaifudin Fudin
Gila, endingnya bikin terharu.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!