tentang dua remaja yang bersahabat bersahabat - Rigecherta dan Tivane - yang bersahabat dari kecil, namun tragedi saat mereka duduk di kelas 9 SMP membuat mereka harus berpisah karena Tivane yang hilang ingatan.
Berpisah selama 3 tahun dan bertemu saat kelas 12 SMA. Namun Tivane akan di jodohkan.
Bagaiman nasib Rigecherta yang menunggu 3 tahun dan diam diam suka terhadap sahabatnya itu.
Akankah dia berhenti berharap kepada sahabatnya itu, atau mereka akan kembali bersatu.
ig author: Salbiah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon salbiah pulungan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
usaha Rigecherta
Suasana penginapan masih sepi karena semua masih istirahat di kamar masing-masing.
Di lorong menuju kamar cewe Rigecherta terlihat berjalan di belakang Ella.
Ella membukakan pintu dan masuk di ikuti oleh Rigecherta di belakang dan langsung di kunci agar tak ada yang melihat Rigecherta masuk ke kamar cewe.
Di dalam, terlihat Tivane yang masih menangis di pelukan Milenia. Luci yang melihat kedatangan Rigecherta langsung bergeser memberi tempat untuk Rigecherta.
Rigecherta mendekat dan mengelus pelan rambut Tivane.
" Sayang.." panggil Rigecherta pelan. Tivane menoleh dan menatapnya dengan mata sembab dan masih sesenggukan kecil.
" Ngapain lo disini?" Tanya Tivane dingin.
" Yang dengerin dulu-"
" Pergi!" Sela Tivane tak memberi ruang untuk Rigecherta menjelaskan.
" Nggak ada yang perlu kamu jelasin lagi. Kalau emang kamu maunya sama dia yaudah sana! Jangan pernah berharap aku mau sama tukang selingkuh" ucap Tivane dengan suara bergetar dan mendorong tubuh Rigecherta dengan tenaga yang tersisa.
" Yang.." ucap Rigecherta berusaha menarik atensi Tivane namun Tivane tetap membuang wajah.
" Pergi! Pergi gue bilang! Gue muak liat lo, gue benci sama lo" ucap Tivane histeris dengan air mata yang kembali mengalir deras.
" Oke aku pergi. Tapi kamu jangan nangis lagi ya.." ucap Rigecherta pelan dan memeluk tubuh gemetar gadis itu yang memberontak.
" Jangan nangis lagi ya.." ucap Rigecherta mengecup pelan puncak kepala Tivane dan perlahan melepaskan pelukan.
" Iya aku minta maaf, aku salah, aku minta maaf ya... Jangan nangis lagi..." Ia mengusap air mata Tivane.
Tivane menepis tangan Rigecherta dan naik ke atas kasurnya.
" Gue titip dia ya" pesan Rigecherta pada mereka.
" Lo tenang aja. Dia aman sama kita" balas Milenia mengangguk.
Rigecherta keluar dari kamar mereka dan berjalan dengan perasaan sesak dan wajah menunduk sedih. Sungguh ia sangat tidak suka saat melihat Tivane menangis seperti tadi.
Ia kembali ke kamar mereka dan melihat River dan Skyler yang sedang main game menatap nya heran.
" Napa muka lo kusut kayak orang galau gitu?" Tanya Skyler dan kembali main game.
" Vane marah sama gue" ucap Rigecherta serak.
" APA?! " Tanya River dan Skyler kompak membuat Veros yangsetengah tertidur langsung terlonjak kaget dan refleks mengumpat.
" Kaget babi" umpat Veros menatap mereka sengit namun tak di hiraukan oleh keduanya.
" Kok bisa dia marah sama lo?" Tanya Skyler pada Rigecherta.
Akhirnya Rigecherta menceritakan semuanya pada mereka dan menghela nafas panjang.
" Jadi gitu.." River manggut-manggut paham.
" Terus? Apa rencana lo?" Tanya Skyler.
" Gue bakal tetap jagain dia. Mau gimana pun si Zea pasti selicik itu sampai bisa dapat video itu." Ucap Rigecherta geram.
" Kalo masalah itu kita bisa bantu. Tapi Tivane?" Tanya Veros membuat Rigecherta menggeleng pelan.
" Gue juga masih bingung gimana cara bujuknya. Tapi yang pasti dia harus tetap di pantauan gue" jawab Rigecherta membuat mereka mengangguk setuju.
" Oh iya. Sini gue lacakin soal yang lo bilang tadi" ucap Veros membuka laptopnya.
" Nih. Ini semua info yang gue dapat" Rigecherta memberikan handphone nya pada Veros. River dan Skyler yang tadi sibuk main game mulai merapat dan melongok penasaran ke arah laptop Veros.
" Prita? Prita siapa Ge?" Tanya Skyler.
" Informan gue" jawab Rigecherta seadanya.
" Cakep nggak?" Tanya Skyler sempat-sempatnya.
" Gue tendang lo ya" ucap River dengan jengah membuat Skyler terkekeh pelan. Sudah di situasi seperti ini pun sahabatnya itu masih sempat bercanda.
" Nih. Udah gue kirim di grup file nya" ucap Veros.
" Widih.. boleh juga nih musuh kita" ucap River saat melihat file yang di kirim oleh Veros.
" Thanks" ucap Rigecherta singkat.
" Ya.. mau gimana pun kita tetep harus lindungin Vane" ucap Skyler membuat mereka mengangguk setuju.
" Kita udah mau ngumpul nih di lapangan" ucap River mengingatkan.
" Yaudah kita keluar. Gue mau pantau Tivane" Rigecherta berjalan keluar kamar lebih dulu di ikuti yang lain.
Mau bagaimana pun ia tetap harus memastikan Tivane baik-baik saja, walau hatinya juga patah saat Tivane mengatakan membencinya. Mau sepatah dan sesedih apapun Rigecherta, ia tetap akan menjaga gadis kesayangan nya.
Selama acara makan malam mereka berlangsung Rigecherta selalu memperhatikan bahkan berusaha berbicara dengan Tivane. Namun gadis itu selalu menghindar dan menjauh. Rigecherta bahkan bisa di bilang tak menyentuh makanan nya karena pikirannya hanya tentang Tivane, Tivane dan Tivane. Rigecherta merasa kepalanya sangat ribut oleh rasa khawatir dan cemas saat melihat wajah pucat dan mata Tivane yang masih terlihat sembab. Rigecherta merasa gagal dan merasa bersalah sudah membuat gadis yang selalu ia jaga malah menangis sesenggukan seperti tadi.
Selesai acara makan malam kini semua berkumpul di depan penginapan untuk membahas acara besok hari.
Di tengah-tengah acara, tiba-tiba Tivane merasa sedikit pusing pandangannya terasa sedikit goyang, namun ia tetap berusaha berdiri dengan stabil.
" Vane are you oke?" Tanya Luci yang melihat Tivane sangat pucat.
" Iya" jawab Tivane pelan.
" Vane kalau balik ke kamar aja. Jangan di paksain" ujar Milenia juga ikut khawatir.
" Iya ih. Muka lo juga udah pucet banget itu" sahut Ella yang sedari tadi memperhatikan.
" Aman kok" jawab Tivane pelan dan mencoba tetap tersenyum kecil.
Rigecherta yang memperlihatkan sedari tadi juga ikut heran saat melihat Tivane seperti mulai melemas. lalu tanpa aba-aba ia langsung mendekat cepat saat melihat Tivane hampir limbung dan jatuh lemas di pelukannya. Untung tepat di pelukannya.
" Astaga kan. Udah di bilangin juga" decak Milenia kaget bercampur cemas.
Rigecherta tanpa banyak kata langsung mengangkat tubuh pingsan Tivane dan membawanya dari kerumunan di ikuti oleh Milenia, Ella dan Luci.
" Bawa ke kamar aja cepat" ucap Milenia mengarahkan agar tak terhalang orang.
Ella dengan cepat langsung membuka pintu kamar untuk Rigecherta masuk.
Rigecherta meletakkan tubuh Tivane ke atas kasur itu dengan pelan dan hati-hati lalu menempelkan tangannya di dahi Tivane.
" Dia demam. Ambil kompres" ucap Rigecherta cepat. Luci langsung bergerak dan mengambilkan kompres dan minyak kayu putih pada Rigecherta.
Rigecherta dengan hati-hati meletakkan kompres itu di dahi Tivane dan mengusapkan minyak kayu putih ke arah leher dan telapak kaki Tivane agar tetap hangat dan tidak masuk angin.
Kini Rigecherta masih setia duduk di lantai terus menggenggam tangan Tivane dengan erat. Ia tetap terjaga dan memandangi wajah Tivane yang damai dalam tidurnya.
Luci dan Milenia sudah menyuruhnya agar kembali ke kamar cowok namun ia tetap ingin menemani Tivane. Mereka hanya bisa pasrah dan membiarkan.
" Nih selimut. Ntar malah elo nya yang sakit" Ella melemparkan selimut ke arah Rigecherta.
"Thanks" ucap Rigecherta singkat dan menyelimuti diri agar tak terlalu dingin karena duduk di lantai. Yang lainnya hanya bisa menghela nafas pasrah melihatnya yang bahkan tak mau beranjak sedikitpun.