Anna hanya seorang gadis biasa, ceria dan baik hati. Berubah menjadi gadis yang liar setelah seorang pria merenggut kesuciannya, peristiwa naas dari serangkaian peristiwa lainnya yang ia alami. Hingga suatu peristiwa membawanya ke dalam jerat cinta dua pria psikopat yang menginginkannya.
"Sesaknya beban hidup yang kujalani menghimpit jalan takdirku, membuatku harus berjuang keras tanpa hasil maksimal. Hanya karena aku kalah dalam segala hal."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rangga jatuh cinta.
"Hei Anna, sedang apa kau di sini?"
Anna tengadahkan wajahnya menatap Rangga yang sudah berdiri di hadapannya. "Kau? ada apa kau kesini?" tanya Anna balik.
Rangga jongkok di hadapan Anna tersenyum lebar. "Kau sendiri? apa tidak malu di lihat orang lain?" Rangga mengedarkan pandangannya ke arah orang orang yang lalu lalang memperhatikan mereka berdua.
"Tidak, buat apa malu." Anna duduk bersila di bawah pohon tepi jalan raya, sesekali tangannya memungut kerikil lalu ia lemparkan ke jalan raya. "Kalau kau malu, ngapain kau ikut duduk di sini? nanti pakaianmu kotor."
Rangga tertawa kecil, menunduk sesaat. "Ya, aku akui untuk pertama kalinya aku duduk di tepi jalan seperti ini."
"Kau malu?" Anna menatap wajah Rangga sekilas.
Rangga menyenggol lengan Anna dengan bahunya. "Malu sih, tapi ada temannya kan?" Rangga melirik ke arah Anna yang terlihat cuek.
Anna mengangkat kedua bahunya, kepalanya tertunduk mencabuti rumput kecil di sekitar kakinya. "Ada apa kau kemari? Tasya nanti mencarimu." Anna melirik ke arah Rangga.
Rangga menarik kedua lututnya ia dekap erat. "Dia istirahat." Matanya melirik ke arah Anna. Haruskah ia mengatakan apa yang baru saja ia dengar dari mulut kedua orangtua Anna? atau membiarkan Anna untuk mengetahuinya sendiri?
"Kenapa kau melihatku seperti itu?" Anna menautkan kedua alisnya menatap Rangga yang tengah memperhatikannya cukup lama.
"Tidak, kau cantik juga." Rangga tersenyum lebar. "Serius kau menolakku?"
Anna menatap horor Rangga, mencubit lengan pria itu. "Apaan sih? aku tidak mau lah, apa kurang jelas?"
Rangga tertawa kecil sembari mengusap lengannya sendiri. "Ya, ya..aku tahu kenapa kau menolakku."
"Apa?" Anna menatap tajam ke arah Rangga.
"Kau tidak enak dengan Tasya bukan?" Rangga menoleh ke arah Anna.
"Sok tahu!" sungut Anna tangannya hendak mencubit lengan Rangga, namun pria itu menjauhkan tubuhnya dari Anna.
"Tentu saja aku tahu." Rangga berdiri. "Ayo kita pulang."
Anna tengadahkan wajahnya menatap Rangga, ia tersenyum tipis. Diam diam gadis itu menaruh hati terhadap pria di hadapannya. Rangga, pria lembut dan humoris membuat wanita manapun nyaman bila di dekatnya. Tapi Rangga bukanlah tipe pria badboy. Pria itu menyukai gadis mandiri dan tangguh seperti Anna.
"Kau mau pulang, atau mengagumi ketampananku sampai malam?" Rangga tertawa kecil menatap wajah Anna.
Anna tertawa samar, ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Ayo.." Rangga mengulurkan tangannya.
Sesaat Anna menatap tangan Rangga, lalu beralih menatap wajahnya. "Ayo." Rangga berdecak sambil menggelengkan kepala. "Wanita memang sukanya di paksa.
Anna melebarkan matanya saat Rangga menarik tangan Anna paksa lalu menggendong Anna di punggungnya. Anna menjerit kecil lalu menepuk punggung Rangga sesaat. " Sudah diam." Rangga melirik sesaat ke arah belakang. Perlahan Anna mengalungkan kedua tangannya di leher Rangga.
"Apa kau tidak malu di lihat orang?" tanya Anna berbisik di telinga Rangga.
"Kau saja tidak malu, kenapa aku harus malu?" ucap Rangga di sela sela langkahnya menoleh ke arah Anna. Membuat gadis itu tersipu malu. Untuk pertama kalinya ia merasakan sesuatu yang lain di hatinya. Rasa yang belum pernah ia miliki sebelumnya terhadap seorang pria. Anna tersenyum tipis menatap lurus ke depan.
Untuk pertama kalinya Rangga melakukan hal konyol di depan umum. Tapi ada rasa yang beda, pria itu merasa jadi dirinya sendiri. Berbeda sebelum ia mengenal Anna, aturan di rumahnya sangat ketat dan dsiplin. Dari awal bangun tidur sampai mau tidur, tidak lepas dari aturan yang sudah di terapkan orangtuanya yang berdarah biru.
"Apa kau sudah gila?" Anna menautkan kedua alisnya menatap Rangga yang senyum senyum sendiri.
"Iya kau tahu, aku gila karenamu." Rangga tertawa terbahak bahak melihat Anna memajukan bibirnya mencibir.
"Lebay!"
Orang orang yang lalu lalang menatap aneh mereka berdua, bertingkah konyol seperti anak kecil.
Tak lama kemudian mereka sudah memasuki gerbang rumah. Rangga menurunkan tubuh Anna di halaman rumah orang tuanya. Ia menoleh ke arah Anna. "Ini rumahmu sekarang, Anna."
Anna menundukkan kepala sesaat, "aku tidak tahu. Aku merasa asing di sini." Anna menatap lurus ke arah rumah mewah milik orangtuanya.
"Jalani saja dulu, jika kau tidak nyaman..kau bisa pergi." Rangga menarik tangan Anna lalu melangkahkan kakinya.
Ya, Rangga benar. Buat apa di paksakan jika tidak nyaman. Anna tersenyum tipis menundukkan kepalanya.
Sementara di dalam rumah Elama dan Alan tengah memperhatikan mereka berdua di balik kaca jendela rumah. "Kau lihat? belum apa apa gadis itu sudah tidak tahu diri. Merebut kekasih adiknya sendiri." Alan menatap tidak suka pada Anna.
"Alan, dia putri kita juga." Elama tidak suka dengan pernyataan suaminya. Meskipun harus ia akui, mencari Anna hanya untuk menyelamatkan Alan dan Tasya.
"Kau tidak perlu mengingatkanku berkali kalai, Elama." Alan menatap tajam Elama. "Sebaiknya kau atur, bagaimana caranya anakmu itu mengikuti keinginan kita." Alan balik badan melangkahkan kakinya menuju ruang tamu.
Elama menarik napas panjang, menatap punggung suaminy. "Kau selalu egois.." ucapnya pelan. Elama mengalihkan pandangannya ke arah pintu yang di ketuk dari luar, lalu berjalan ke arah pintu.
"Anna? kau dari mana Nak?" sapa Elama dari arah pintu.
"Maaf Bu.." jawab Anna menundukkan kepalanya.
"Ya sudah, ayo masuk.." Elama menepi, lalu membiarkan Anna dan Rangga masuk ke dalam rumah.
"Anna, sebaiknya kau istirahat. Kamarmu sudah Mama siapkan." Elama merangkul bahu Anna.
"Iya Bu.." Anna menoleh ke arah Rangga sesaat lalu ia mengikuti langkah Elama dari belakang.
"Om, kalau begitu aku pulang dulu." Rangga membungkuk sesaat.
"Tunggu dulu, Om mau bicara." Alan berdiri lalu berjalan mendekati Rangga dan memintanya untuk duduk di kursi.
"Ada apa Om?" tanya Rangga lalu duduk di kursi berhadapan dengan Alan.
Mata Alan menyipit menatap penuh selidik, "apa kau menyukai Anna?"
Rangga terbatuk kecil, lalu membenarkan duduknya. "Kenapa Om? ada masalah?"
"Om tidak suka kau dekat dekat dengan Anna, karena Anna sudah Om jodohkan." Alan juga tidak mau Tasya bersedih, ia tahu kalau Tasya mencintai Rangga.
Rangga tertawa kecil sesaat menundukkan kepala, "Om tidak bisa melarang siapapun untuk menyukai Anna, termasuk aku."
Alan tersenyum sinis, "aku tahu Rangga, tapi Anna sudah di jodohkan."
"Menggantikan Tasya bukan?" Rangga sedikit kesal dengan sikap Alan. Jika saja Alan tidak memulainya terlebih dulu, mungkin Rangga tidak akan berucap tidak sopan.
"Apa maksudmu?" Alan menyipitkan matanya sebelah menatap Rangga. Apakah anak muda itu tahu? apa yang di bicarakannya tadi?
"Tidak Om, bercanda.." sahut Rangga tersenyum. "Maaf Om, jika tidak ada lagi yang di bicarakan, aku permisi dulu." Rangga berdiri, sesaat menatap Alan tidak suka lalu balik badan melangkahkan kakinya meninggalkan rumah Alan.
Alan menarik napas panjang, menatap punggung Rangga lalu ia berdiri tegap. "Aku harus secepatnya mengantarkan Anna ke rumah calon suaminya."
***
Anna baru saja selesai membersihkan dirinya, lalu membuka lemari pakaian. Terdapat beberapa pakaian milik Tasya yang belum pernah di gunakan. Anna mengambil salah satu pakaian dan memperhatikannya. "Gaun?" Anna tidak suka menggunakan pakaian layaknya perempuan. Ia lebih menyukai kaos longgar dan celan jeans. Lalu ia kembali memilih pakaian lainnya, tapi semuanya sama saja. Anna berdecak, lalu menutup kembali lemari pakaiannya. "Sudahlah, aku pakai ini saja. Besok baru diganti."
"Boleh aku masuk?" sapa Tasya dari arah pintu yang sudah terbuka.
"Tasya?" Anna berjalan menghampirinya. "Kau bikin kaget saja."
Tasya tertawa lebar, "ini, aku bawain pakaian kesukaanmu." Tasya menunjukkan kaos dan celana jeans.
"Ah, makasih ya." Anna mengambil pakaian di tangan Tasya lalu mempersilahkan adiknya itu untuk masuk ke dalam kamar.
Tasya duduk di tepi tempat tidur, memperhatikan Anna mengganti pakaiannya di depan Tasya dengan cuek. Tasya tersenyum memperhatikan Anna yang memiliki karakter berbeda dengannya. Tapi ia senang memiliki kakak seperti Anna layaknya kakak laki laki yang selalu menjaga adik perempuannya.
"Hei, kenapa kau bengong?" ucap Anna bertolak pinggang di hadapan Tasya.
"Tidak, Anna..eh kakak." Tasya dan Anna tertawa bersama, mereka sama sama canggung dengan identitas barunya.
Anna duduk di tepi tempat tidur merangkul bahu Tasya, "kau tidak perlu menyebutku, Kakak. Seperti biasa kau bilang 'siap bos'."
Tasya tertawa kecil menatap Anna lalu menganggukkan kepala, "kau benar."
"Kau tetap adikku, apapun kau menyebutku. Tidak mengurangi rasa sayangku." Anna tersenyum tipis lalu memeluk erat Tasya. Perlahan Tasya membalas pelukan Anna tersenyum lebar meski hatinya sedih. Bagaimana tidak? Anna di cari kedua orangtuanya hanya untuk menggantikan posisinya. Merasa bersalah? ya, Tasya merasakan hal itu. Tapi ia juga tidak mau di jodohkan dengan pria yang konon menurut kabar yang ia dengar. Pria yang akan di jodohkannya sudah tua dan psikopat.
Istilahnya pagar makan tanaman nih
penasaran
siapa yg akan dijodohkan dengan Anna
lanjutkan
Salam kenal kak💐💐