NovelToon NovelToon
Dicampakkan Suami, Aku Jadi Pengusaha Sukses

Dicampakkan Suami, Aku Jadi Pengusaha Sukses

Status: tamat
Genre:Selingkuh / Penyesalan Suami / Orang Disabilitas / Tamat
Popularitas:22.2k
Nilai: 5
Nama Author: Senja

Kania mengira pernikahannya dengan Firman adalah takdir bahagia. Selama dua tahun, Firman menjadi suami sempurna sekaligus pahlawan yang menyelamatkan ekonomi keluarganya.

Meski hidup dengan disabilitas pada kaki kirinya akibat sebuah kecelakaan, Kania tak pernah menyerah menjalani hidup. Ia percaya, selama Firman tetap berada di sisinya, semua kekurangan itu bukanlah penghalang untuk meraih kebahagiaan.

Namun, saat perusahaan Firman bangkrut, badai besar menghantam rumah tangga mereka.

Pria yang pernah berjanji akan terus menggenggam tangannya mendadak berubah dingin. Lalu, seorang wanita dari masa lalu Firman datang menawarkan suntikan dana untuk menyelamatkan perusahaan dengan satu syarat, Firman harus membuang Kania dari hidupnya.

Demi mengembalikan kejayaan dan mempertahankan ambisinya, Firman tak ragu mengkhianati janji suci pernikahan mereka.

Terluka hebat, Kania memutuskan pergi meraih kebahagiaannnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 35 Di Maki Menantu Baru

Brak!

Suara bantingan pintu utama yang terbuat dari kayu jati itu sukses membuat Tuti terlonjak kaget. Ia yang sedang asyik menonton televisi di ruang keluarga segera menoleh.

Mawar melangkah masuk dengan langkah mengentak keras, sepatu hak tingginya berbunyi nyaring beradu dengan lantai marmer yang baru saja dipel. Wajah cantik menantunya itu tampak merah padam, ditekuk sedemikian rupa bak kertas kusut.

"Kenapa wajahmu ditekuk begitu, Mawar? Ada masalah di luar?" sapa Tuti, berusaha memasang senyum paling manis. Ia menghampiri menantu kesayangannya itu, sosok yang selalu ia agung-agungkan di depan ibu-ibu arisan karena status dan kekayaannya.

Namun, senyum Tuti tak berbalas. Mawar melewatinya begitu saja seolah mertuanya itu hanyalah pajangan dinding. Wanita muda itu melempar tas mahalnya ke atas meja kaca dengan kasar, lalu menjatuhkan bokongnya ke sofa empuk sambil menghela napas panjang yang penuh emosi.

"Bukan urusan Mama!" ketus Mawar tanpa sedikit pun menatap mata ibu mertuanya. Ia bersedekap dada, mengurut pelipisnya yang berdenyut nyeri mengingat kejadian mengerikan di restoran tadi, saat ibunya menyerahkan separuh harta padanya untuk Kania.

"Buatkan teh hangat dong, Ma. Aku haus."

Langkah Tuti seketika terhenti. Senyum di wajah tuanya luntur perlahan. Ia berdiri mematung di dekat sofa, menatap Mawar dengan perasaan campur aduk. Seumur hidupnya, belum pernah ada yang menyuruhnya dengan nada memerintah dan sekasar itu di rumahnya sendiri.

Tiba-tiba, ingatan Tuti melayang pada Kania, mantan istri Firman yang dulu selalu ia caci maki. Dulu, Kania tidak pernah sekalipun berani menatap matanya secara langsung, apalagi menyuruhnya membuat minuman. Kania-lah yang selalu bangun sebelum subuh, menyiapkan sarapan, menyeduh teh untuknya, dan menunduk hormat meski Tuti terus-terusan memarahinya tanpa alasan. Kania tak pernah melawan.

Kenapa sangat berbeda dengan Mawar?

"Mama malah diam saja sih?!"

Lamunan Tuti buyar seketika. Mawar kini menatapnya dengan mata melotot tajam dan alis menukik.

"Mama budeg, ya?! Aku bilang aku haus!" ulang Mawar dengan suara melengking tajam yang membuat telinga Tuti berdenging. "Tenggorokanku kering habis marah-marah di luar! Cepat buatkan teh!"

Dada Tuti bergemuruh panas. Harga dirinya sebagai nyonya rumah dan ibu mertua seakan diinjak-injak, namun ia menelan ludah paksa. Ia harus menahan diri. Ia ingat tagihan kartu kreditnya bulan ini dibayar oleh Mawar.

"Iya, Mawar... Mama buatkan sekarang," sahut Tuti tergagap, menundukkan kepalanya dalam-dalam.

Baru saja Tuti membalikkan badan hendak menuju dapur, suara arogan Mawar kembali menghentikan langkahnya.

"Oh iya, sekalian! Aku mau camilan kue kering. Jangan yang murahan! Aku mau kastengel yang dibeli mas Firman kemarin dari bakery langgananku. Paham?!" perintah Mawar sembari mengibaskan tangannya dengan gaya mengusir, seolah Tuti adalah pembantu bayarannya.

"Iya, Sayang. Sebentar, ya," ucap Tuti dengan dada sesak.

Di dapur, Tuti menggerutu pelan. Tangannya gemetar menahan amarah saat menyeduh teh celup ke dalam cangkir porselen.

"Menantu kurang ajar. Kalau bukan karena kamu kaya raya, sudah kucakar wajahmu! Benar-benar tidak punya sopan santun!"

Tuti tak punya pilihan. Ia menata cangkir teh dan sepiring kecil kastengel di atas nampan kayu, lalu membawanya kembali ke ruang keluarga dengan langkah terburu-buru.

"Ini teh dan kuenya, Mawar," ucap Tuti, meletakkan nampan itu dengan hati-hati di atas meja kaca.

Mawar melirik sekilas dengan tatapan meremehkan. Ia mencondongkan tubuhnya, mengambil cangkir teh itu. Baru saja ujung bibirnya menyentuh cairan tersebut, Mawar langsung menjauhkannya dengan wajah jijik.

Prang!

Mawar membanting cangkir itu kembali ke atas tatakannya dengan kasar hingga teh panas itu tumpah menggenangi meja dan sedikit memercik ke ujung gaunnya.

"Aduh, panas! Mama ini bisa buat teh nggak, sih?!" jerit Mawar histeris, menepis-nepis ujung gaunnya. Ia menatap Tuti dengan kilat amarah yang siap meledak.

"Ini teh atau air rebusan mendidih?! Mama sengaja mau melepuhkan lidahku, ya?!"

"Ya ampun, Mawar! Mama minta maaf, namanya juga teh hangat, pasti baru diseduh air panas," bela Tuti panik, tangannya buru-buru mengambil tisu di atas meja untuk mengelap tumpahan tersebut.

"Alasan! Bilang saja Mama sengaja!" Mawar menepis tangan Tuti yang hendak mengelap meja, membuat wanita tua itu terhuyung ke belakang.

Mata Mawar kini beralih pada piring berisi kue kering. Ia mengambil satu kastengel, mencium aromanya, lalu melemparnya kembali ke piring dengan raut wajah muak.

"Ini kastengel murahan dari mana?! Aku bilang aku mau yang dari bakery langgananku! Ini pasti kue kiloan yang Mama beli di pasar, kan?! Jangan coba-coba kasih aku makanan sampah begini, perutku bisa sakit!" cerocos Mawar tanpa ampun.

Tuti membelalakkan matanya tak terima. Kesabarannya habis. Harga dirinya benar-benar terkoyak habis-habisan.

"Mawar! Jaga bicaramu!" nada suara Tuti akhirnya meninggi. "Itu kue yang dibeli suamimu! Mama ini mertuamu, ibunya Firman! Pantaskah kamu bicara kasar dan bertingkah kurang ajar begitu padaku?!"

Mawar justru tertawa sinis, tawa yang terdengar sangat dingin dan merendahkan. Ia berdiri, bersedekap dada, dan menatap Tuti dari atas ke bawah dengan tatapan meremehkan.

"Mertua? Cih!" Mawar mendecih pelan. "Dengar ya, Ma. Mama jangan merasa tinggi di depanku. Mama ingat baik-baik siapa yang bayar cicilan mobil mas Firman bulan ini? Siapa yang lunasi utang arisan sosialita Mama minggu lalu? Aku, Ma! Uangku!"

Tuti terdiam, wajahnya pucat pasi. Bibirnya bergetar hebat namun tak ada satu kata pun yang mampu ia keluarkan. Telunjuk Mawar kini menunjuk tepat ke depan wajahnya.

"Aku lagi pusing mikirin Kania, mantan menantu gembel Mama itu, yang sekarang mau merampok separuh harta keluargaku! Dan di rumah, Mama malah bikin aku tambah emosi!" desis Mawar tajam.

"Keluarga Mama ini cuma benalu yang menumpang hidup dari harta keluarga Adiningrat! Jadi jangan bertingkah sok berkuasa mengaturku!"

Napas Mawar memburu, ia menatap ibu mertuanya tanpa sisa rasa hormat sedikit pun.

"Mulai sekarang, Mama harus tahu posisi. Di rumah ini, aku yang berkuasa. Mama itu cuma numpang! Kalau Mama masih mau menikmati uangku, tutup mulut Mama, bersihkan tumpahan teh ini, dan buatkan aku teh baru yang suhunya pas! Mengerti?!"

Tanpa menunggu jawaban Tuti, Mawar menyambar tas mahalnya, lalu melangkah angkuh menaiki tangga menuju kamarnya. Ia meninggalkan Tuti yang kini terduduk lemas di sofa.

Air mata penghinaan menetes pelan di pipi keriput wanita tua itu. Dulu ia menindas Kania tanpa ampun, dan kini, Tuhan mengirimkan Mawar untuk memberinya pelajaran telak yang jauh lebih menyiksa.

"Sabar Tuti, sabar," gumamnya.

1
tinie
ternyata ditamatkan🤔🤔
Senja: Iya kak zonk ga dapat apa2
total 1 replies
Kukun Sabarno
hanya masalah waktu yang menunjukkan kebenaran💪
Kukun Sabarno
selama ada orang ketiga sekalipun itu mertua atau ipar rumah tangga gak akan aman
Kukun Sabarno
uang dari suami untuk isteri wajib diberikan langsung 👍
MamDeyh
Kakkkk yg ini kapan lagi up nyaaa
MamDeyh
Blm up lagi nih kak
Senja: Blm mak gagal semua2 nya🤭
total 1 replies
tinie
gimana rasanya
baru seminggu jadi loo mantu
gimana rasanya s tahun
tinie
karma dibayar kontan🤣🤣
Nice1808
karma dibayar tunai tuti😂🤣🤣🤣
Nice1808
makan tuh karma tuti🤭🤣🤣
Dede Maesaroh
makan tut🤣
MamDeyh
Mau nyukurin takut dosa/Grin/
Senja: waktu dan tempat dipersilahkan mak wkwk
total 1 replies
tinie
wah waah
gimana kalau mawar tau dia hanya anak pelakor
hasil hubungan gelap gulita🤣🤣
tinie
jangan jangan kecelakaan itu sengaja di buat ibunya mawar
agar Dahlia meninggal
namun sayangnya malah bpknya Kania yg kena
truk blong itu
tinie
oh oh
jadi mawar hasil hubungan gelap tooh
dan sekarang hasilnya sama
dia merebut suami orang

hadeeuuh
jadi adik kandung beda ibu
hemm
Fia Ayu
Kenapa gk ngomong, klo si mawar berduri itu anak selengkihan bpk moyangnya, pengen liat komuknya klo dia dengar begitu
Itin
Belum lagi kalau Mawar tau kenyataan bahwa dia hanyalah anak hasil perselingkuhan.... malu gak tuh??
Nice1808
hahhaha mawar ciut klo gk dikasih harta jd mingkemkan🤣
Nice1808
wah pantas abimanyu mulai suka dgn kania🤣🤣trnyata ada unsur balas budi juga 🤭
MamDeyh
Wowwww
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!