Aldara, wanita yang hatinya baru saja remuk redam ditinggalkan kekasih demi wanita lain, berusaha menyembunyikan kesedihannya di balik senyum tenang agar tidak dikasihani orang lain. Ketika dipanggil oleh kenalannya, Siska, untuk bertemu di kafe langganan, ia tidak menyangka bahwa kunjungannya kali ini akan menjadi titik balik hidupnya. Di sana ia diperkenalkan kepada Aries—seorang pemuda pendiam namun memiliki pesona tersendiri. Pertemuan yang awalnya terasa biasa saja perlahan membuka jalan bagi sebuah kisah baru yang akan menyembuhkan luka lama dan mengajarkan Aldara arti cinta yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chinta Maulana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 020: Keraguan dan Kebohongan yang Terlihat
Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, Aldara pun berpamitan kepada teman-temannya yang masih berkumpul.
“Abang, Dede, Hafizah, Haru, Cici, aku pulang dulu ya, sudah terlalu larut malam.”
“Hati-hati di jalan ya,” jawab mereka serempak.
Setelah kepergian Aldara, percakapan masih berlanjut. “Ngomong-ngomong, Bang, aku dengar Mondol sempat membuat ulah lagi sama kalian ya?” tanya Haru penasaran.
“Iya, dia tidak terima diputusin sama Sheina, jadi ngamuk tak jelas dalam keadaan mabuk,” jawab Chepot.
“Tapi masalahnya sudah selesai kan?” tanya Haru lagi.
“Sudah, Kak Aldara yang sudah membereskan semuanya,” timpal Dede Ara.
Tak lama kemudian Hafizah juga pamit, dan satu per satu akhirnya pulang ke rumah masing-masing.
Sementara itu, di rumahnya Aldara duduk termenung di meja kerja. Matanya sesekali melirik ponsel, berharap ada pesan masuk, namun layarnya tetap kosong. “Kamu ke mana? Kenapa seharian ini tidak ada kabar sama sekali?” batinnya gelisah. Rasa takut masa lalu kembali menghantui: “Apakah kamu ada wanita lain? Atau kamu juga akan menghilang tanpa pamit seperti orang-orang yang pernah ada di hidupku?” Ia menghela napas panjang, lalu mencoba mengalihkan perhatian dengan kembali menulis.
Keesokan paginya, hal yang sama terjadi. Ponselnya masih sunyi senyap. “Sudahlah, mungkin kamu benar-benar sibuk,” gumamnya pelan, lalu bersiap pergi ke kafe seperti biasa.
Di kafe yang sama, Randy duduk berdua dengan seorang wanita cantik yang bukan Siska, Tapi Talita, pacar pertamanya yang sudah menjalin hubungan jauh sebelum Randy mendekati Siska.
“Kamu ke mana saja beberapa hari ini? Susah sekali dihubungi,” protes Talita.
“Aduh sayang, aku sibuk kerja demi masa depan kita,” jawab Randy dengan senyum merayu.
“Baiklah aku percaya. Tapi ingat, kalau aku tahu kamu membohongiku, aku tidak akan pernah memaafkanmu,” ucap Talita tegas.
“Mana mungkin aku berani berbohong pada wanita sebaik dan secantik kamu,” jawab Randy lagi.
Tak lama juga, Aldara masuk ke kafe dan melihat pemandangan itu sekilas. Ia memilih diam dan tidak mau campuri urusan orang lain, lalu duduk di meja pojok kesukaannya.
Randy yang melihat kedatangan Aldara tersenyum miring. “Aries ke mana? Apa sesibuk itu sampai tidak bisa menemani pacarnya? Ini kesempatan bagus untuk mendekatinya lagi. Pasti dia akan luluh melihat ketampananku,” pikirnya sombong.
Di meja pojok, Aldara kembali melirik ponselnya yang tetap sunyi. Rasa kesal mulai menyelinap di hati. “Kamu ke mana sih? Apa sesibuk itu sampai tidak sempat mengirim pesan singkat saja?” gerutunya pelan. "Awas ajah kalau kamu tak ada kabar selama seminggu, aku tidak akan mau ngomong lagi sama kamu" Batinnya kesal.
“Aldara!” panggil seseorang. Ia menoleh dan melihat Hafizah datang bersama Ikbal.
“Iya Zah, lagi nulis saja mengisi waktu,” jawab Aldara tersenyum tipis.
"Apa kabar Ikbal?" Tanya Aldara.
“Kabar baik, Dar,” sapa Ikbal ramah.
“Kamu tidak sibuk sampai bisa jalan-jalan ke sini?” tanya Aldara dengan nada sedikit menyindir. Ikbal hanya tertawa kecil sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Hari ini kebetulan libur, jadi aku luangkan waktu untuk orang yang paling aku sayang,” jawab Ikbal tenang sambil menatap Hafizah.
Mendengar itu, hati Aldara makin terasa sesak. Ia berharap sekali Aries bisa berkata hal yang sama, bahwa ia akan selalu meluangkan waktu untuknya, apa pun kesibukannya.