Sebuah kecelakaan mengubah hidup Nara Anindya selamanya. Saat membuka mata, dia terbangun di tubuh Bianca Ardhana, istri CEO tempatnya bekerja, sementara tubuhnya sendiri telah dimakamkan. Di balik rumah tangga yang tampak sempurna, tersimpan pengkhianatan, ancaman, dan rahasia yang belum terungkap. Mampukah Nara mengembalikan kebahagiaan keluarga itu tanpa kehilangan hatinya sendiri?
Jangan lupa like dan votenya ya. terimakasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waya520, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perubahan Yang Tiba-tiba
Nara masih terpaku menatap layar ponsel yang telah gelap itu.
Jantungnya berdetak tidak karuan setelah menerima telepon dari pria misterius itu. "Besok malam. Datang ke tempat biasa. Jangan membuatku marah."
Kalimat itu terus terngiang di telinganya. "Tempat biasa?" gumamnya lirih.
Bagaimana mungkin dia tahu tempat yang dimaksud?. Dia bahkan baru dua hari berada di tubuh Bianca.
Dengan tangan gemetar, dia mencoba membuka riwayat panggilan. Nomor itu tidak memiliki nama. Hanya deretan angka yang asing.
Nara menggigit bibir bawahnya. "Kalau aku tidak datang, bagaimana kalau dia benar-benar menyakiti Pak Elvano?" jujur dia takut jika itu terjadi. Mengingat Elvano yang memiliki Elora.
Jika Elvano di bunuh. Lalu siapa yang akan mengurus Elora. Kenapa keluarga ini rumit sekali sih.
Berarti selama ini Bianca di ancam?.
Lalu siapa pria yang mengancamnya?.
Apa itu mantannya?.
Entahlah, dia masih belum mengerti keadaan yang sebenarnya. Bahkan dia baru tahu jika hubungan Bianca dengan pak Elvano yang ternyata kurang baik. Itupun karena dia tidak sengaja mendengar gosip pelayan di rumah ini.
Padahal di publik, keduanya terlihat seperti pasangan yang amat sangat romantis. terlebih setelah hadirnya Elora di tengah-tengah mereka.
Dan hari ini, dia mengetahui jika selama ini Bianca diancam oleh seseorang.
Tok... Tok...
Nara memalingkan wajahnya ke arah pintu yang baru saja di ketuk dari luar.
"Bu Bianca?" terdengar suara pengasuh yang membuat Nara buru-buru mengunci layar ponsel.
"Iya?"
"Nona Elora mencari Ibu."
Nara tersenyum tipis. Anak manis itu mencarinya. "Baiklah aku akan ke sana."
...
Di ruang bermain, Elora sedang menyusun balok warna-warni. Begitu melihat Nara masuk, balita itu langsung berlari dengan langkah kecilnya.
"Mama."
Nara berjongkok dan membuka kedua tangannya. siap menyambut kedatangan anak itu. Elora langsung memeluknya erat.
"Ayo main."
"Iya."
Selama hampir satu jam, Nara menemani Elora bermain. Mereka menyusun balok menjadi kastel kecil. Sesekali Elora tertawa ketika bangunan itu roboh.
Tawa polos anak itu perlahan menghapus beban di hati Nara. "Jika melihat ini, apa Bianca tidak bisa menyayangi putrinya?"
"Kenapa keadaannya bisa jadi seperti ini?" gumamnya pelan.
"Mama ngomong apa?" tanya Elora yang menatap mamanya dengan tatapan polosnya.
Nara menggeleng sambil mengusap rambut Elora. "Tidak apa-apa."
...
Sore hari....
Suara mobil memasuki halaman mansion. Elora yang sedang menggambar langsung berseru girang.
"Papa pulang."
Balita itu berlari menuju pintu. Nara refleks mengejarnya. "Pelan-pelan Elora. Nanti jatuh."
Pintu terbuka. Elvano baru saja melangkah masuk ketika tubuh mungil putrinya memeluk kedua kakinya. "Papa!"
Elvano tersenyum tipis.Senyum yang sangat jarang terlihat jika di kantor. Dia mengangkat Elora ke dalam gendongannya.
"Anak Papa sudah makan?" tanyanya penasaran.
"Sudah." jawab anak itu lalu tersenyum lebar.
"Siapa yang nyuapi?"
"Mama."
Elvano terdiam kemudian melirik Nara. Tatapan pria sulit ditebak. Dia langsung menurunkan Elora dari gendongannya.
"Aku akan ke atas." Elvano baru hendak melangkah ketika Elora menarik lengannya.
"Papa."
"Hm?"
"Main sama Mama."
Nara langsung panik. Dia berjongkok untuk menyamai tinggi anak itu "Elora, Papa pasti capek habis kerja."
"Tapi Elora mau Papa sama Mama." ucap anak itu sedih.
Nara menggaruk tengkuknya canggung. Bagaimana ini?.
Masalahnya, dia takut Elvano marah karena pria itu mungkin kelelahan setelah pulang kerja.
"Papa ayo main sebentar tidak." rengek Elora yang sepertinya ingin menangis
Elvano terdiam beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk. "Hanya lima belas menit ya. Badan papa kotor, papa mau mandi."
Mata Elora langsung berbinar.
....
Mereka bertiga duduk di ruang keluarga. Elora sibuk menyusun puzzle.
Sementara Nara dan Elvano hanya duduk berseberangan dalam keheningan. Tidak ada yang berbicara.
Suasana menjadi sangat canggung. Nara bahkan tidak berani mengangkat kepala. Dia masih mengingat kejadian tadi pagi. Dia dengan lancang memanggil Elvano sayang. Padahal kata pelayan, Bianca tidak pernah mengobrol dengan Elvano. Jelas pria itu berpikir dirinya berbeda.
"Papa." Suara Elora kembali memecah keheningan.
"Lihat." Balita itu mengangkat puzzle bergambar keluarga.
"Ini Papa." anak itu menunjuk sosok pria.
"Ini Mama." Lalu menunjuk sosok wanita.
"Ini Elora."
Nara tersenyum. "Bagus sekali."
"Tapi... Papa sama Mama harus pegangan tangan seperti ini." tunjuk Elora pada gambar keluarga di puzzle itu.
Nara langsung tersedak ludahnya sendiri. "Hah?"
"Pegangan tangan." ucap Elora yang langsung menarik tangan Nara. Kemudian menarik tangan Elvano.
Tanpa sempat menghindar. Kedua tangan mereka akhirnya bertemu.
Tubuh Nara membeku. Begitu juga Elvano. Sentuhan itu terasa begitu asing bagi keduanya.
Nara buru-buru menarik tangannya. "Puzzle nya sudah bagus ya say..."
Dia langsung menghentikan ucapannya. Wajahnya berubah pucat. Dia hampir saja memanggil Elvano dengan sebutan sayang lagi.
Untungnya dia bisa menghentikan ucapannya.
Namun yang terjadi, Elora berseru dengan riang. "Mama panggil Papa sayang."
Deg....
Nara menutup wajahnya dengan kedua tangan. Astaga dia malu sekali.
Elvano melirik Nara beberapa saat. Sudut bibirnya bergerak tipis, nyaris seperti menahan senyum.
"Sepertinya pendengaran Elora cukup baik." Elvano tanpa sadar menggoda istrinya.
Nara ingin menangis saat itu juga. "Anak kecil ini benar-benar tidak bisa diajak kerja sama."
....
Malam hari...
Setelah Elora tertidur, Nara kembali memikirkan panggilan misterius tadi siang.
Dia berdiri di pinggiran balkon sambil memandangi langit. "Haruskah aku datang?. Aku takut jika ancamannya itu benar. Tapi kalau aku datang. Aku juga tidak tahu apa yang akan terjadi." gumamnya lirih.
"Mau pergi ke mana malam-malam?" Suara Elvano membuat Nara terlonjak kaget. Wanita itu menoleh ke belakang dan mendapati pria itu sudah berdiri di belakangnya.
"Aku... tidak ke mana-mana." ujar Nara gugup. Jantungnya berdetak kencang.
Elvano menyandarkan tubuhnya pada pagar balkon. "Besok aku akan pulang sedikit malam. Kalau ada apa-apa hubungi Raka."
Nara mengangguk. "Baiklah."
Elvano mengerutkan keningnya. Dia menatap Bianca dengan tatapan bingung. "Kamu berubah."
Nara mematung. "Maksudnya?" tanyanya hati-hati.
"Akhir-akhir ini kamu selalu menuruti ucapan ku, padahal dulu kamu paling tidak suka diatur."
Nara hanya tersenyum tipis. "Semua orang bisa berubah."
Elvano menatapnya dalam. "Kamu benar. Tapi perubahanmu terlalu tiba-tiba."
Kalimat itu membuat jantung Nara berdetak lebih cepat. Sepertinya Elvano mulai mencurigainya.
Belum sempat dia berpikir lebih jauh.
Ponselnya bergetar. Nomor yang sama.
Nara buru-buru mematikannya. Namun gerakannya tidak luput dari perhatian Elvano. "Siapa?"
"Hanya nomor tidak dikenal." jawab Nara bersikap biasa.
Elvano mengangguk, tetapi sorot matanya berubah tajam. Untuk pertama kalinya sejak kecelakaan, dia merasa ada sesuatu yang sedang disembunyikan istrinya.
...
Sementara di tempat lain...
Seorang pria memandangi layar laptop yang menampilkan rekaman CCTV di sekitar mansion Ardhana.
Dia tersenyum miring. "Besok malam. Aku ingin melihat apakah kau masih Bianca yang kukenal atau justru seseorang yang lain."