Menceritakan seorang pemuda hebat yang hidup di Dunia Sihir. Tapi dia harus mati setelah dihianati oleh suatu kelompok yang telah ia bantu. Meskipun telah mati, rupanya ia bereinkarnasi ke Dimensi Lain setelah jiwanya dan pikirannya masuk ke dalam tubuh seseorang yang masih remaja.
Ternyata, kehidupan di Dunia barunya, bukanlah Dunia Sihir, tepatnya Dunia yang biasa-biasa saja. Tapi ada 1 hal yang membuat dirinya istimewa, yaitu dia bisa menggunakan Sihir.
***
Note : Cerita ini berlatar Multiverse dan Sequel dari cerita 'OVERSOLDIER'.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ryn_Frankenstein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 07
Waktu sudah menunjukan jam 9, istirahat jam pertama sekolah pun tiba. Semua murid berbondong-bondong pergi ke kantin. Peter dan Kevin pun juga sama, karena mereka masih merasakan lapar. Peter dan Kevin duduk satu meja. Mereka memilih nasi rames, dan minumannya air bening.
Tak masalah, yang penting murah meriah dan bisa menghilangkan rasa lapar mereka. Saat sedang menikmati makanannya, dan tinggal sedikit, tiba-tiba pundak Peter dipegang oleh sebuah tangan.
Peter menghentikan aktifitas makannya, ia tak menoleh sama sekali, tatapannya ke arah depan. Orang yang memegang pundaknya bersuara. "Wah sepertinya, kamu sedang asik makan."
"Senior Niko." batin Kevin, ia terbelalak melihat Niko yang berdiri dibelakang Peter sambil memegang pundaknya.
Dengan dingin, Peter bersuara. "Singkirkan tanganmu."
Niko tak menggubris kata-kata Peter. Ia malah mencengkram pundak adik kelasnya ini. "Aku salut denganmu, karena kamu bisa berangkat dalam keadaan bersih."
BUGH..!!
Niko melangkah mundur, lalu berlutut sambil memegang perutnya setelah Peter menghantamkan sikutnya. Tingkah mereka berdua, menjadi pusat perhatian semua orang di kantin.
Kevin yang duduk dihadapan sahabatnya sampai tak percaya. Karena selama ini Peter, pendiam, tak pernah berbuat masalah, atau terlibat apapun. Sedangkan Peter, ia kembali fokus dengan makanannya. Ia tak peduli dengan tatapan semua orang yang memandangnya. Niko dibantu berdiri oleh kedua temannya.
Malu. Ya rasanya sangat malu. Anak satu-satunya dari salah satu keluarga terkaya di kota J, harus menerima rasa malu setelah mendapat perlakuan dari adik kelasnya.
"Kamu berani padaku !" ucap Niko marah.
Peter menyudahi makannya, padahal menurut perkiraannya tinggal 3 suapan lagi. Namun, moodnya jadi buruk karena harus terganggu manusia yang bernama Niko ini.
Peter bangkit dari duduknya. Ia berbalik dan menatap Niko dan kedua temannya. Temannya yang bernama Denis bersuara. "Jangan sok jagoan kamu..!!"
"Aku bukannya sok kuat. Aku hanya paling tidak suka diganggu ketika sedang makan." jawab Peter.
Lalu ia memandang dingin ke arah Niko. "Kamu jangan sok kuat menahan rasa sakit perutmu."
Niko terbelalak. Ya, perutnya benar-benar sakit rasanya. Padahal ia sudah menahan ekspresinya agar tetap terlihat biasa-biasa saja. Peter tersenyum. "Kenapa ? Terkejut ?"
Denis yang tak terima Niko dihina. Ia segera maju, namun sebelum itu, Ari sudah lebih dulu menghalanginya. "Jangan berbuat masalah, Denis."
"Sebenarnya kamu membela siapa, hah ?!" ucap Denis membentak kepada Ari.
"Aku tak membela siapapun. Aku hanya memberi tahu, kita sudah jadi pusat perhatian disini." jawab Ari.
Niko menghela nafasnya. Ya, temannya yang bernama Ari ini memang tak suka menjadi pusat perhatian. Maka dari itu, selagi bisa Ari hanya menginginkan minimnya kejadian jika itu berhubungan dengan temannya.
Denis hanya diam dan memandang benci ke arah Peter. Dan Peter sendiri, ia memandang Niko dan tersenyum. "Mungkin sekarang impas."
"Impas ? Apa maksudmu ?" tanya Niko.
"Bukankah kemarin aku sudah bilang, aku menunggu kata maafmu. Tapi, kamu malah mencari masalah padaku, tadi pagi dan saat ini." jawab Peter.
"Mana sudi kamu melakukan hal itu !!" balas Niko membentak, ia pun melangkah maju.
Lagi-lagi Ari bertindak, ia memegang lengan Niko. "Niko, sudah !! Jangan menambah masalah."
Niko menghempas tangannya, ia pun melangkah pergi. Denis pun menyusul setelah melempar tatapan tajam ke arah Peter. Ari menghela nafasnya, lalu ia memandang Peter.
"Aku sebagai temannya Niko, minta maaf kalau dia sudah berbuat masalah." kata Ari, lalu ia pergi menyusul Niko dan Ari yang sudah pergi dari kantin sekolah.
Peter pun juga segera membayar makanannya. Ia segera pergi kembali ke kelasnya. Kevin pun juga cepat-cepat membayar makanannya, dan menyusul Peter yang pergi meninggalkannya.Semua murid masih tak menyangka. Peter yang selama ini pendiam, dan tak pernah terlibat masalah selama di sekolah.
Ada yang menebak-nebak semua dimulai karena kejadian kemarin. Yang dimana Niko melewatinya dan sengaja menabrak pundak Peter, sehingga Peter tak terima.
Dan karena itu, Niko memulai ingin mengganggu Peter. Karena selama ini, tak pernah membantah jika Niko berbuat seenaknya. Semua murid kembali menjalankan aktifitas mereka, selagi jam istirahat belum selesai.
.....
Hari telah siang. Dan waktu sudah menunjukan jam 1 siang. Jam sekolah telah selesai. Semua murid melangkah keluar dari kelas mereka. Ada yang langsung pulang, dan ada yang main dulu.
Pastinya kebanyakan anak-anak muda ingin berkumpul atau bermain-main entah kemana. Seperti biasa, Peter dan Kevin berjalan kaki menuju tempat kerja mereka.
Kevin bersuara. "Peter. Apa kamu tak takut dengan senior Niko ?"
"Takut ?" sahut Peter.
Ia tersenyum. "Buat apa takut, jelas-jelas dia yang mulai. Aku hanya ingin membalas jika dia mencari masalah denganku."
Kevin tak bertanya lagi. Ia memilih diam. Ia tak mau membuat mood Peter menjadi jelek.
Tak lama kemudian. Mereka berdua telah sampai. Di luar dugaan, malam ini ramai pengunjung, Sudah pasti, tak hanya mereka berdua, semua karyawan, akan bekerja lebih ektra.
.....
Waktu jam sudah menunjukan jam setengah 10 malam. Hari ini banyak sekali pelanggan yang datang ke caffe. Memang, setiap banyak pelanggan yang masuk, mereka agak pulang telat.
.....
Kini Peter dan Kevin dalam perjalanan pulang ke kos-kosan mereka. Malam ini terlihat ramai, hingga menimbulkan sedikit kemacetan. Mereka memilih ke jalan perumahan yang sepi.
Karena tak nyaman dengan suara kendaraan yang bising di telinga mereka. Setelah beberapa lama mereka berjalan kaki, tiba-tiba ada sebuah mobil kijang hitam berhenti.
Peter dan Kevin bingung. Semua pintu mobil terbuka. Terlihat 5 orang berbadan besar dan berpakaian hitam semua berjalan mendekati mereka. Mereka mengenakan kain hitam untuk menutupi sebagian wajah mereka.
Tiba-tiba 2 orang dari mereka melancarkan pukulannya ke arah Peter dan Kevin. Sontak Peter menghindar, namun sayang, Kevin tak sempat menghindar, ia terkena pukulan.
Peter melangkah maju, dan melompat sambil memutar tubuhnya. Ia menendang orang itu. Peter mendekati Kevin, dan membantunya bangun berdiri.
"Siapa kalian ?" ucap Peter dengan tatapan tajam.
Mereka berlima tidak menjawab. Yang ada salah satu dari mereka maju ke arah Kevin. Kali ini, Kevin tak tinggal diam, ia memberi perlawanan. Dan berhasil menendang orang itu hingga terdorong dan terjatuh.
"Kalian kira aku tak bisa membela diri. Jangan remehkan aku. Gini-gini aku pernah mengikuti taekwondo." ucap Kevin yang sudah dalam posisi kuda-kuda.
"Kenapa kamu baru bilang ?" kata Peter yang berdiri biasa-biasa saja.
"Selama ini aku menahan diri karena aku tak ingin terlibat masalah apapun. Dan kali ini, aku tak ingin menjadi beban untuk sahabatku." jawab Kevin.
Kelima orang itu melangkah maju bersama-sama dan menyerang Peter dan Kevin. Kevin melawan 2 orang. Dan Peter melawan 3 orang. Kevin bisa menangkis dan menahan semua pukulan dan tendangan kedua orang itu.
___________
Jangan Lupa Like.
ternyata kalo tdk dijdkan favorit/masuk rak buku, malah like yg sebelumya hilang semua..