NovelToon NovelToon
PENGHIANAT

PENGHIANAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Dunia Masa Depan / CEO
Popularitas:391
Nilai: 5
Nama Author: nila edrina

Cinta pertama seharusnya indah.

Tapi milik Lay Amelty Ranza berubah jadi neraka.

Ahber Mazchar, ketua OSIS paling dingin, bilang dia cinta Lay.
Andkay, si badboy posesif, berteriak "LO HANYA MILIK GUE!"
Eskay, sahabat terbaik Ahber, tiba-tiba mendekati Lay diam-diam.

Tapi di balik senyum mereka... ada darah.

15 tahun lalu, keluarga Ahber membantai satu keluarga di Gudang B-09.
Sekarang balas dendam itu datang. Melalui cincin perak bergambar burung.

Cincin pertama: Milik Burung, si pembunuh.
Cincin kedua: Milik Nayla, adik yang pura-pura mati.
Cincin ketiga: Sekarang ada di tangan Ahber.

Di dalamnya tersimpan 3 Triliun dan rahasia yang bisa menghancurkan 2 keluarga besar.
Keluarga Mahesa dan Keluarga Dirga mengincar mereka.
Dan ada "A"... dalang yang mempermainkan semuanya dari awal.

Lay diculik. Dikhianati. Dipaksa memilih.

Sampai pesan terakhir itu masuk ke HP Ahber:
"Maaf gue salah."

Salah mencintai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nila edrina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30: ORANG KE 4?

BAB 30

ORANG KE-4

Malam itu hujan turun pelan.

Tetesannya mengetuk jendela ruang tamu satu-satu, seperti jari yang sabar menunggu untuk dipersilakan masuk. Lampu kuning temaram membuat bayangan Ahber di dinding terlihat lebih panjang dari biasanya.

Di atas meja kopi, amplop putih itu tergeletak. Sudah 3 jam sejak ia menemukannya di dalam laci, tapi belum juga berani ia buka lagi.

Layla sudah tidur di kamar. Dari kejauhan terdengar suara napasnya yang teratur, sesekali diselingi gumaman "Kiki... jangan jauh-jauh..."

Ahber menghela napas. Tangannya meraih amplop itu.

Foto 4 sahabat.

Dirinya. Eskay. Andkay. Dan Arka.

Arka dengan rambut cepak dan senyum yang selalu jadi penengah kalau mereka bertengkar. Arka yang dulu paling jago bikin mereka ketawa pas latihan basket sampai tengah malam. Arka yang terakhir kali ia lihat di pelataran sekolah, 15 tahun lalu, sambil melambai dan bilang "Sampai ketemu di reuni ya!"

Setelah itu... tidak pernah ada kabar.

Jari Ahber menyentuh wajah Arka di foto itu.

"Ke mana aja kamu selama ini?" bisiknya.

Ponsel di sampingnya bergetar. Nama "Eskay" muncul.

Ahber mengangkat.

"Halo?"

"Ber..." Suara Eskay terdengar serak. "Kamu belum tidur juga?"

"Belum." Ahber bersandar ke sofa. "Kamu?"

"Aku nggak bisa." Eskay tertawa kecil, tapi terdengar getir. "Foto itu terus muter di kepala aku."

Hening beberapa detik. Hanya suara hujan yang menemani.

"Menurutmu siapa yang ngirim?" tanya Eskay akhirnya.

Ahber menatap foto itu lagi. "Aku nggak tahu. Tapi yang pasti... dia kenal kita berempat. Dan dia masih simpan foto ini selama 15 tahun."

"Arka?"

"Kemungkinan besar." Ahber mengepalkan tangan. "Cuma dia yang paling mungkin. Andkay udah..."

Andkay sudah meninggal. 15 tahun lalu. Kecelakaan. Itu yang memisahkan mereka.

Eskay mengerti maksudnya. "Iya."

"Ber," panggil Eskay pelan. "Besok... kita ke rumah itu yuk."

Rumah itu.

Rumah kayu di pinggir kota. Tempat mereka berempat dulu menghabiskan hampir setiap sore. Ngerjain PR, latihan musik, debat hal nggak penting sampai lupa waktu.

"Sudah 15 tahun kosong." kata Ahber.

"Aku tahu." Suara Eskay bergetar. "Tapi siapa tahu ada petunjuk di sana. Siapa yang ngirim foto ini. Atau... di mana Arka sekarang."

Ahber diam lama.

"Jam berapa?"

"Jam 3 sore. Habis jemput Layla sama Raka dari les. Ajak mereka sekalian. Biar nggak curiga."

"Baik."

Telepon ditutup. Ahber masih duduk di sana sampai hujan reda. Foto itu ia masukkan lagi ke laci, lalu dikunci.

Di dalam hati, ada rasa takut. Takut membuka luka lama. Tapi ada juga rasa penasaran yang lebih besar.

15 tahun. Terlalu lama untuk bertanya-tanya.

---

Pagi datang dengan matahari yang malu-malu keluar dari balik awan.

Layla bangun lebih ceria dari biasanya.

"Papa! Hari ini kita les gambar lagi kan?"

"Iya." Ahber mengaduk telur di wajan. "Nanti sekalian kita jalan-jalan ke tempat baru ya?"

"Tempat apa?" Layla duduk di meja makan sambil mengayunkan kakinya.

"Tempat rahasia Papa dulu." Ahber tersenyum. "Tapi itu nanti. Sekarang makan dulu."

Layla mengangguk semangat. "Siap!"

Jam 2 sore, Ahber sudah ada di depan gedung les. Eskay datang 5 menit kemudian dengan mobilnya.

Mereka saling sapa singkat. Keduanya sama-sama berusaha terlihat normal.

Layla keluar duluan sambil memeluk map gambarnya. Di belakangnya, Raka menyusul sambil membawa sekotak es krim yang sudah meleleh setengah.

"Om Ahber! Tante Eskay!" Raka melambai.

"Halo, anak hebat." Eskay mencubit pipi Raka. "Es krimnya buat siapa?"

"Buat Layla! Satu. Satunya buat aku." Raka menyerahkan es krim cokelat ke Layla. "Tuh, sesuai janji."

Layla langsung senyum lebar. "Makasih, Raka. Kamu sahabat terbaik."

Mereka berempat masuk ke mobil. Tujuan: Rumah Kayu.

Sepanjang perjalanan Layla dan Raka ngobrol nggak berhenti. Tentang gambar, tentang es krim, tentang guru les yang lucu.

Ahber sesekali menoleh ke kaca spion. Melihat Eskay yang duduk diam di kursi penumpang.

"Kamu gugup?" bisiknya.

"Sedikit." jawab Eskay pelan. "Sudah lama sekali."

Mobil berhenti di depan gerbang besi yang sudah berkarat. Rumput setinggi lutut. Jendela-jendela tertutup debu.

"Wow..." kata Raka. "Rumah hantu."

"Bukan hantu." Ahber membuka pintu. "Ini rumah kenangan."

Mereka turun. Layla langsung menggenggam tangan Raka.

"Kenangan apa, Pa?" tanya Layla.

Ahber jongkok di depan putrinya. "Dulu, waktu Papa masih SMA, Papa punya 3 teman dekat. Kita sering kumpul di sini."

"Siapa aja?"

"Aku, Bunda Eskay, Om Andkay..." Ahber berhenti sebentar. "Dan Om Arka."

"Om Arka?" Layla mengulang. "Teman Papa?"

"Iya." Eskay ikut jongkok. "Om Arka itu orangnya paling lucu. Dia yang selalu bikin kita ketawa."

Raka mengangguk-angguk. "Terus sekarang Om Arka di mana?"

Ahber dan Eskay saling pandang.

"Itu yang mau kita cari." kata Ahber jujur.

Mereka masuk. Engsel pintu berderit panjang. Debu langsung beterbangan.

Di dalam masih sama. Sofa butut di sudut. Meja kayu di tengah. Dinding penuh coretan spidol dan poster band lama.

Layla dan Raka langsung berlari-lari kecil, penasaran.

"Wah ada gitar!" seru Raka sambil menunjuk gitar dengan 3 senar putus.

"Jangan disentuh, Sayang." kata Eskay. "Takut kena paku."

Eskay berjalan ke meja. Tangannya menyentuh permukaan kayu yang penuh goresan.

"Dulu kita sering begadang di sini." katanya pelan. "Kerjain tugas kelompok sampai jam 2 pagi. Terus ketiduran semua."

Ahber berjalan ke dinding. Di sana masih ada tulisan: `AHBER + ESKAY + ANDKAY + ARKA \= SELAMANYA`

Tulisannya sudah pudar, tapi masih bisa dibaca.

Jantung Ahber nyeri. Ia menempelkan telapak tangan ke dinding itu.

"Papa?" Layla tiba-tiba memanggil dari kamar sebelah. "Sini!"

Mereka bertiga langsung ke sana.

Di dalam kamar ada lemari kayu tua. Pintunya sedikit terbuka. Dan di bawahnya, ada sebuah kotak kayu kecil.

Raka yang pertama menemukannya. "Ini apa?"

Ahber mengambil kotak itu. Berat. Tangannya gemetar.

Ia meletakkannya di atas meja. Kuncinya sudah rusak, jadi bisa langsung dibuka.

Di dalamnya...

Surat-surat. Gelang persahabatan 4 warna: biru, pink, kuning, hijau. Beberapa foto polaroid. Dan satu amplop cokelat.

Ahber membuka amplop itu duluan.

Isinya surat. Tulisan tangan Arka. Ia kenal banget tulisan itu. Rapi tapi agak miring ke kanan.

`Untuk Ahber dan Eskay,`

`Kalau kalian menemukan surat ini, berarti aku sudah pergi jauh.`

`Maaf. Maaf karena aku pengecut. Maaf karena aku pergi tanpa pamit 15 tahun lalu.`

`Aku yang salah. Aku yang bikin Andkay celaka. Aku yang bikin kalian berpisah.`

`Hari itu aku dengki. Aku iri karena kalian lebih dekat. Aku yang bocorin jadwal latihan Andkay ke orang yang nggak suka dia.`

`Aku nggak bermaksud bikin dia celaka. Aku cuma mau nakut-nakutin.`

`Tapi semuanya jadi berantakan.`

`Aku nggak sanggup liat kalian sakit. Jadi aku pergi.`

`Jaga Layla baik-baik. Dia anak yang hebat. Sama seperti ibunya.`

`- Arka`

Tangan Ahber berhenti.

Ruangan mendadak sunyi. Hanya terdengar suara napas Eskay yang tertahan.

"Ber..." bisik Eskay. Air matanya jatuh. "Jadi selama ini..."

"Dia." Ahber menutup matanya. "Selama ini aku nyalahin diri sendiri. Nyalahin takdir."

Layla menatap bingung. "Papa kenapa nangis?"

Ahber cepat-cepat menghapus air matanya. Ia tersenyum. "Nggak, Sayang. Papa cuma... kangen sama teman Papa."

"Oh." Layla mengangguk. Lalu matanya tertuju ke gelang di dalam kotak. "Wah gelang! Boleh aku ambil satu?"

Raka juga ikut mendekat. "Aku juga mau!"

Ahber menarik napas. Ia mengambil gelang biru dan pink.

"Ini gelang persahabatan." katanya sambil memasangkan ke pergelangan Layla dan Raka. "Dulu punya Papa sama teman-teman Papa. Sekarang punya kalian."

Layla melihat gelangnya. "Berarti kita kayak Papa juga? Sahabatan 4 orang?"

Eskay tersenyum sambil mengusap kepala Layla. "Iya. Kalian berdua, terus nanti kita cari 2 teman lagi ya."

"Asyik!" Raka dan Layla langsung tos.

Di luar, langit mulai menguning.

Ahber melipat surat itu dan memasukkannya ke saku. Dadanya sesak, tapi ada sedikit lega.

Akhirnya ia tahu siapa yang harus disalahkan. Dan siapa yang harus dicari.

Ponsel Eskay tiba-tiba berbunyi. Nomor tidak dikenal.

Eskay melirik Ahber. Lalu mengangkat.

"Halo?"

Hening 3 detik.

Lalu suara laki-laki. Serak. Pelan.

"Jangan cari aku."

Tut.

Telepon mati.

Eskay menatap Ahber dengan mata melebar. Tangannya gemetar. "Itu... itu suara Arka."

Ahber langsung berdiri. "Dia masih di sekitar sini?"

"Aku nggak tahu." Eskay melihat ke jendela. "Tapi dia tahu kita di sini."

Raka dan Layla langsung diem. Merasakan suasana yang berubah.

"Papa?" Layla mendekat ke Ahber.

Ahber berjongkok, memeluk Layla dan Raka. "Nggak apa-apa. Kita pulang yuk."

Di perjalanan pulang, tidak ada yang bicara.

Layla memainkan gelangnya. Raka bersandar di jendela.

Sesampainya di rumah, Ahber mengantar Eskay dulu.

Di depan pagar, Eskay turun.

"Ber."

"Hm?"

"Kita harus cari dia." kata Eskay tegas. "Sebelum dia melakukan sesuatu yang lebih gila."

Ahber mengangguk. "Aku tahu. Besok aku mulai cari. Lewat teman-teman lama. Lewat sekolah."

Eskay mengangguk. Lalu ia melirik ke arah Layla yang sudah tertidur di kursi belakang.

"Jangan kasih tahu anak-anak dulu ya."

"Iya."

Malamnya, Ahber tidak bisa tidur.

Ia mengeluarkan surat Arka lagi. Membacanya berulang-ulang.

`Aku yang bikin kalian berpisah.`

Kalimat itu menusuk.

15 tahun ia hidup dengan rasa bersalah. Ternyata bukan dia.

Tapi kenapa Arka baru muncul sekarang? Kenapa lewat foto? Kenapa lewat telepon?

Dan yang paling penting... di mana dia sekarang?

Ahber membuka laptop. Mengetik nama "Arka Pratama" di kolom pencarian. Tidak ada hasil.

Ia mencoba cari di media sosial. Kosong.

Seolah-olah orang itu memang sengaja menghilang dari dunia.

Jam 2 pagi. Ahber masih terjaga.

Tiba-tiba ada notifikasi email masuk. Pengirim: anonymous@mail.com

Isinya hanya satu kalimat:

`Kalau mau ketemu aku, datang sendiri ke Taman Angsana. Besok jam 10 malam. Jangan bawa siapa-siapa.`

Ahber membaca email itu 5 kali.

Tangannya mengepal.

"Arka..."

Di kamar sebelah, Layla mengigau. "Papa... jangan pergi..."

Ahber menutup laptop. Ia berjalan ke kamar Layla. Mengusap kepala putrinya.

"PaPa nggak akan pergi, Sayang." bisiknya. "Papa cuma mau menyelesaikan ini. Biar kita bisa tenang."

Ia mencium kening Layla.

Besok. Jam 10 malam. Taman Angsana.

Tempat yang sama di mana 15 tahun lalu mereka terakhir kali berkumpul berempat.

Tempat yang sama di mana semuanya dimulai.

Dan mungkin... tempat yang sama di mana semuanya akan berakhir.

Ahber menatap keluar jendela. Hujan sudah berhenti.

Tapi ia tahu, badai yang sebenarnya... baru akan dimulai.

*BERSAMBUNG...*

---

1
Alia Chans
Hadir thor
like + bunga biar semangat deh/Smile/
nila edrina: terimah kasihh 🥰😘😭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!