Naomi Clarisse tak pernah iri pada kehidupan sang kakak. Meski selalu dibandingkan dan diperlakukan tidak adil, ia memilih bekerja keras demi keluarganya.
Namun hidupnya berubah dalam semalam ketika Alicia Grace, kakaknya sendiri, menjebaknya di kamar hotel bersama Nathaniel Wijaya, pewaris keluarga mafia yang dikenal dingin dan tak mengenal ampun.
Sebuah fitnah menghancurkan nama baik Naomi. Di saat Alicia menghilang bersama pria pilihannya, Nathaniel yang dipenuhi amarah memaksa Naomi menggantikan posisi sang kakak di altar pernikahan.
Pernikahan itu adalah hukuman bagi Nathaniel.
Dan mimpi buruk bagi Naomi.
Ketika satu per satu rahasia mulai terungkap, Naomi harus memilih: terus menjadi korban, atau melawan demi mengungkap dalang di balik fitnah yang telah merenggut hidupnya.
Tunggu kelanjutannya hanya di Novel Toon atau Manga Toon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melihat Alicia
Pagi itu, suasana Wijaya Mansion kembali dipenuhi kesibukan seperti biasanya. Cahaya matahari yang hangat menembus jendela-jendela besar, memantulkan sinarnya di lantai marmer yang mengilap. Para pelayan hilir mudik menyiapkan sarapan, sementara aroma kopi yang baru diseduh memenuhi ruang makan.
Saat hendak melangkah menuju pintu, Naomi muncul dari arah dapur sambil membawa sebuah termos kecil berisi kopi yang baru selesai diseduh.
"Tuan..." Nathan menghentikan langkahnya lalu menoleh.
Naomi mengulurkan termos itu dengan kedua tangan. "Kopi."
Nathan memandang benda itu beberapa detik.
"Saya lihat Tuan tadi belum sempat meminumnya." Naomi tersenyum tipis. "Kalau diminum di jalan mungkin masih hangat."
Beberapa pelayan yang melihat pemandangan itu saling bertukar pandang. Selama ini belum pernah ada yang berani menghentikan Nathan ketika hendak berangkat kerja.
Nathan sempat terdiam sejenak sebelum akhirnya menerima termos tersebut. "Terima kasih."
Hanya dua kata tapi cukup membuat Naomi sedikit terkejut. Ia tidak menyangka Nathan akan mengucapkan terima kasih secara langsung.
"Sama-sama, Tuan."
Nathan mengangguk singkat, lalu kembali melangkah keluar.
Dari ruang makan, Alan memperhatikan semuanya tanpa berkata apa-apa. Sementara Rieke diam-diam tersenyum kecil.
"Perubahan sekecil apa pun tetaplah sebuah awal," gumam wanita paruh baya itu lirih.
Setelah menerima termos dari Naomi tanpa sadar pandangannya sempat mengarah ke ruang makan tempat Leon sedang menghabiskan sarapannya.
"Berangkat dulu," ucap Nathan singkat.
Leon hanya menganggukkan kepala. "Ya, Daddy."
Meski percakapan itu sangat sederhana, Alan dan Rieke saling berpandangan diam-diam. Mereka sama-sama menyadari bahwa hubungan ayah dan anak itu mulai menunjukkan perubahan kecil.
Nathan segera meninggalkan mansion. Tak lama berselang, Leon pun berpamitan untuk berangkat ke sekolah.
"Semangat belajarnya, Nak," ujar Rieke sambil mengusap lembut bahu cucunya.
"Iya, Nek."
Leon melangkah keluar ditemani sopir dan pengawal keluarga. Kini mansion terasa jauh lebih lengang.
Setelah sarapan selesai, para pelayan segera membereskan meja makan. Naomi ikut membantu mengangkat piring dan gelas kotor ke dapur. Meski beberapa pelayan berkali-kali mengatakan bahwa itu bukan pekerjaannya, ia tetap membantu hingga semua pekerjaan selesai.
Naomi kemudian mengembuskan napas pelan. Entah mengapa, pagi itu ia ingin keluar sebentar. Bukan karena ada urusan penting, melainkan sekadar ingin menghirup udara luar setelah beberapa hari berada di dalam mansion.
Ia pun menghampiri kepala pelayan yang sedang memeriksa pekerjaan para staf.
"Bibi..."
Wanita paruh baya itu segera menoleh.
"Ada yang bisa saya bantu, Nyonya?"
Naomi tersenyum sopan.
"Saya ingin keluar sebentar ke minimarket. Hanya sebentar saja."
Mendengar permintaan itu, wajah kepala pelayan langsung berubah cemas.
"Maaf, Nyonya. Saya tidak berani mengizinkan."
Naomi sedikit mengernyit.
"Kenapa?"
Wanita itu tampak ragu sebelum akhirnya menjawab pelan.
"Sebelum berangkat ke kantor, Tuan Nathan berpesan agar Nyonya tidak keluar sendirian tanpa pengawalan."
Naomi terdiam beberapa saat.
"Saya hanya ingin berjalan sebentar. Minimarketnya juga dekat."
Kepala pelayan kembali menggeleng.
"Maaf, Nyonya. Kalau sampai terjadi sesuatu, saya yang harus mempertanggungjawabkannya kepada Tuan Nathan."
Naomi tersenyum kecil. Ia memahami kekhawatiran wanita itu.
"Kalau begitu, bagaimana kalau saya ditemani dua orang pengawal? Saya tidak akan pergi jauh dan setelah selesai langsung kembali."
Kepala pelayan tampak berpikir beberapa saat. Akhirnya ia memanggil dua orang pengawal yang sedang berjaga di halaman depan.
"Kalian dampingi Nyonya. Jangan lengah sedikit pun."
"Baik, Bi."
Baru setelah itu kepala pelayan kembali menatap Naomi.
"Silakan, Nyonya. Tapi jangan terlalu lama."
Naomi mengangguk sambil tersenyum.
"Terima kasih, Bi."
Ia mengambil tas kecilnya, lalu melangkah keluar dari gerbang utama mansion dengan ditemani dua orang pengawal.
Mobil perlahan meninggalkan halaman Wijaya Mansion. Pepohonan di sepanjang jalan bergoyang pelan diterpa angin pagi, sementara sinar matahari yang hangat mulai memenuhi sudut-sudut kota. Naomi menyandarkan tubuhnya sejenak pada kursi, menikmati perjalanan singkat yang entah mengapa membuat pikirannya terasa sedikit lebih tenang.
☘️☘️☘️☘️
Naomi mendorong keranjang belanja menuju arah kasir. Setelah memastikan semua kebutuhan rumah tangga telah ia ambil, ia melangkah melewati pintu kaca minimarket.
Namun baru beberapa langkah kakinya mendadak terhenti pandangannya terpaku pada sebuah butik yang berada tepat di seberang minimarket.
Seorang wanita baru saja keluar dari sana sambil tertawa kecil. Penampilannya begitu anggun dengan gaun bermerek yang membalut tubuhnya. Sebuah tas mewah menggantung di lengannya, sementara seorang pria berpenampilan rapi berjalan di sampingnya.
Pria itu merangkul pinggang wanita tersebut dengan begitu akrab. Keduanya tampak tertawa menikmati kebersamaan mereka.
Deg!
Jantung Naomi seolah berhenti berdetak matanya membelalak. "Kak Alicia...?"
Bisikan lirih itu lolos begitu saja dari bibirnya.
Sejak meninggalkan rumah beberapa minggu yang lalu Naomi tidak pernah lagi melihat wajah kakaknya. Ia bahkan tidak tahu ke mana Alicia pergi setelah semua kekacauan yang terjadi.
Namun kini perempuan yang selama ini menghilang begitu saja justru muncul di hadapannya Naomi spontan melangkah mundur dan berlindung di balik tiang dekat pintu minimarket.
Dadanya berdebar semakin cepat. Ia tidak mungkin salah mengenali wajah itu. Tatapan Naomi kemudian beralih kepada pria yang sedang menggenggam tangan Alicia.
Kening Naomi perlahan berkerut. Dadanya kembali dipenuhi pertanyaan yang selama ini belum pernah menemukan jawaban.
Bukankah dulu Alicia rela menyeretnya ke dalam semua kekacauan itu? Demi rencananya, sang kakak bahkan menjadikan Naomi sebagai kambing hitam hingga akhirnya ia dipaksa menikah dengan Nathan.
Namun sekarang Alicia justru terlihat hidup bahagia di samping pria lain lalu. Untuk apa semua itu dilakukan? Kalau sejak awal Alicia memang tidak berniat bersama Nathan, mengapa ia harus menghancurkan hidup adiknya sendiri?
Tanpa sadar Naomi merogoh tas sekempangnya. Tangannya sedikit gemetar ketika mengambil handphonenya.
Klik.
Satu foto berhasil ia ambil. Naomi kembali mengangkat ponselnya.
Klik.
Kali ini terlihat jelas pria itu mencium lembut punggung tangan Alicia, membuat wanita itu tersenyum manis tanpa sedikit pun berusaha menghindar.
Naomi menatap hasil foto di layar ponselnya.
Napasnya terasa berat. Bukan karena iri melihat kebahagiaan kakaknya tetapi karena sebuah pertanyaan terus berputar di kepalanya.
Nathan harus tahu jika memang selama ini dirinya benar-benar dijebak dan tak ada satu orang pun yang berani menghakimi jika pernikahan itu terjadi atas kemauannya sendiri.
Naomi masih menggenggam ponselnya semakin erat. Entah mengapa ia merasa dua foto itu bukan sekadar kebetulan.
Bisa jadi. Foto-foto itu akan menjadi awal terbukanya kebohongan yang selama ini membuat Nathan membencinya. Tepat ketika Naomi hendak menyimpan ponselnya...
Alicia tiba-tiba menoleh ke arah minimarket. Tubuh Naomi langsung menegang jantungnya kembali berdegup semakin kencang.
Apakah... Kakaknya melihatnya?
Bersambung ... .