Bagi Bagas, surga ada di telapak kaki ibu. Namun sayang, baktinya buta. Sebagai anak keenam dari tujuh bersaudara, Bagas selalu memaksakan diri membayar iuran Bagi Rata yang dituntut kakak pertamanya demi menyenangkan sang Ibu. Ia menutup mata bahwa ekonomi mereka pas-pasan, jauh di bawah kakak-kakaknya yang sukses.
Keuangan rumah tangga terkuras habis. Beruntung, Adinda sang istri adalah wanita tangguh. Lewat usaha katering rumahan dan kue online yang dibangunnya dari nol, Adinda berhasil membeli sebuah rumah sederhana satu kamar untuk tempat mereka berteduh bersama anak laki-laki mereka yang kini sudah SMP.
Bukannya sadar, Bagas justru menjadikan kemandirian Adinda sebagai tameng untuk terus menyetor uang ke keluarga besarnya. Puncaknya, modal katering Adinda dikuras sepihak, dan rumah mungilnya itu mulai diincar untuk kenyamanan sang mertua.
Saat anak laki-lakinya mulai ikut menderita dan berontak, Adinda akhirnya menyalakan mode tegas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAKTI BUTA SUAMIKU
Langkah kaki Adinda menapaki lantai marmer koridor Pengadilan Agama dengan ketenangan yang luar biasa. Angin sore yang berembus pelan di luar gedung seolah ikut merayakan kebebasan yang kini benar-benar menggantung di depan matanya. Tidak ada lagi debar dada yang mencekam, tidak ada lagi bayang-bayang ketakutan akan hinaan yang dahulu kerap melumpuhkan rasa percaya dirinya.
Di sampingnya, Pak Baskoro berjalan dengan langkah teratur. Pengacara paruh baya itu memeluk map berkas tebal di dadanya seraya mengamati raut wajah Adinda yang tampak begitu damai. Tidak jauh di belakang mereka, Bagas masih berdiri mematung bersama ibu dan kakaknya, ditatap cemooh oleh beberapa pengunjung sidang yang masih tersisa di koridor.
"Mari kita bicara di gazebo depan, Bu Adinda," ajak Pak Baskoro ramah seraya menunjuk sebuah bangunan kayu kecil yang dikelilingi pepohonan rindang di halaman pengadilan.
Adinda mengangguk sopan. "Baik, Pak Baskoro."
Mereka berdua melangkah menuju gazebo yang teduh, menjauh dari hiruk-pikuk dan atmosfer panas di dalam gedung persidangan. Begitu menduduki bangku kayu yang sejuk, Pak Baskoro meletakkan map berkasnya di atas meja, lalu menghembuskan napas lega seraya tersenyum lebar ke arah Adinda.
"Bu Adinda," buka Pak Baskoro dengan suara baritonnya yang hangat dan menenangkan. "Saya harus memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya untuk ketenangan Anda di dalam ruang sidang tadi. Sikap tegas dan bermartabat yang Anda tunjukkan benar-benar di luar perkiraan saya. Anda tidak hanya memenangkan posisi secara hukum, tapi juga memenangkan harga diri Anda secara utuh."
Adinda tersenyum tipis, mengusap kedua telapak tangannya yang saling bertaut gembira. "Semua ini berkat bimbingan dan bantuan dari Pak Baskoro juga. Kalau ndak ada Pak Baskoro yang mengarahkan draf gugatan sejak awal, mungkin Dinda masih bingung harus bersikap seperti apa di hadapan hakim."
Pak Baskoro terkekeh pelan, lalu menggelengkan kepalanya. "Saya hanya menjalankan tugas sebagai penasihat hukum, Bu. Tapi kejujuran dan keikhlasan hati Anda itulah yang membuat persidangan hari ini berjalan sangat mulus."
Pengacara senior itu kemudian membuka map tebalnya, mengambil sebuah lembaran catatan resmi dari panitera yang baru saja ditandatanganinya beberapa menit lalu sebelum keluar ruangan. Ia menatap Adinda dengan sorot mata penuh kepastian.
"Ada kabar yang sangat baik untuk Anda, Bu Adinda," tutur Pak Baskoro mantap.
Adinda mengerutkan dahinya pelan, menatap Pak Baskoro dengan rasa ingin tahu yang besar. "Kabar baik apa, Pak?"
Pak Baskoro menyandarkan punggungnya di sandaran kursi kayu, memperbaiki letak kacamata minusnya sebelum menjelaskan.
"Melihat dinamika di dalam ruang sidang tadi di mana Anda secara mutlak melepaskan seluruh tuntutan harta bersama, dan Pak Bagas sendiri tidak mampu memberikan sanggahan atau pembelaan apa pun atas poin-poin gugatan utama Hakim Mediator dan Majelis Hakim sudah mengambil simpulan awal yang sangat tegas."
Pak Baskoro menjeda kalimatnya sejenak, memberikan penekanan pada kata-kata berikutnya.
"Proses mediasi singkat yang dijadwalkan tadi pada dasarnya dinyatakan deadlock atau gagal menyatukan kembali rumah tangga Anda, karena sikap Anda yang sudah bulat dan tidak bisa diganggu gugat. Ditambah lagi, pihak Tergugat tidak mengajukan rekonvensi atau gugatan balik atas hak asuh anak maupun harta. Artinya, persidangan hari ini pada hakikatnya menjadi sidang pertama sekaligus sidang terakhir untuk pemeriksaan perkara Anda!"
Mata Adinda seketika membelalak lebar. Jantungnya berdesir hebat, bukan karena panik, melainkan karena rasa terkejut yang membuncahkan kebahagiaan tak terhingga.
"Maksud... maksud Pak Baskoro, Dinda ndak perlu melewati proses sidang yang berbelit-belit sampai berbulan-bulan?" tanya Adinda dengan suara yang sedikit bergetar, memastikan pendengarannya tidak salah.
"Sama sekali tidak perlu, Bu Adinda!" tegas Pak Baskoro dengan senyum penuh kemenangan. "Majelis Hakim sudah mencatat seluruh fakta persidangan hari ini. Putusan secara formal akan dibacakan pada agenda sidang berikutnya dua minggu lagi sebagai formalitas putusan verstek atau putusan akhir karena perkara sudah dianggap tuntas secara materiil. Setelah putusan ketuk palu dibacakan dua minggu lusa, masa tenggang tenggat hukum akan berjalan singkat, dan Surat Akta Cerai resmi dari Pengadilan Agama akan segera terbit dan selesai bisa kita ambil!"
Adinda tertegun. Air mata kebahagiaan yang sejak tadi ia tahan di pelupuk matanya akhirnya menetes perlahan, membasahi pipinya yang mulus. Beban berat berukuran raksasa yang selama bertahun-tahun mengimpit dadanya, membuat napasnya terasa sesak setiap kali terbangun di pagi hari, kini runtuh seketika tanpa sisa!
Proses perceraian yang semula ia bayangkan akan berjalan sangat alot, penuh ketegangan, dan memakan waktu serta biaya yang menguras energi... ternyata diselesaikan oleh Sang Maha Kuasa dengan begitu cepat dan mempermudah jalannya!
"Ya Allah... Alhamdulillah... Alhamdulillah ya Rabbal 'alamiin..." bisik Adinda tulus dari lubuk hatinya. Ia menyapu air mata bahagianya menggunakan ujung jilbab katunnya.
Pak Baskoro menatap momen haru itu dengan rasa bangga yang mendalam. Sebagai seorang pengacara yang sudah menangani ratusan kasus perceraian, jarang sekali ia melihat seorang klien wanita yang begitu tegar dan tidak serakah akan harta mantan suaminya, hingga hukum pun seolah memihak dan melapangkan jalannya begitu cepat.
"Jadi, Bu Adinda," lanjut Pak Baskoro dengan suara yang sangat lembut dan penuh dorongan moral, "Mulai detik ini, tugas Anda di pengadilan ini sudah selesai. Jangan lagi memikirkan Bagas, jangan lagi memikirkan bayang-bayang masa lalu yang kelam di rumah itu. Fokus Anda sekarang hanya satu melanjutkan hidup Anda dengan penuh suka cita."
Pak Baskoro mengetuk-ngetuk map berkasnya pelan. "Fokuslah membesarkan Dimas. Fokuslah mengembangkan usaha Katering Dapur Adinda yang sedang berkembang pesat. Buktikan pada dunia dan terutama pada diri Anda sendiri, bahwa keputusan yang Anda ambil hari ini adalah langkah awal menuju kehidupan yang jauh lebih mulus, berkah, dan dihormati."
Adinda menatap Pak Baskoro dengan pandangan penuh rasa hormat dan haru yang membuncah. Ia menegakkan posisi duduknya, lalu menganggukkan kepala beberapa kali dengan mantap.
"Terima kasih banyak ya, Pak Baskoro..." tutur Adinda dengan nada suara yang begitu tulus, bergetar menahan keharuan. "Dinda ndak tahu harus mengucapkan terima kasih seperti apa lagi. Kalau bukan karena bantuan, kebaikan, dan kerja keras Pak Baskoro yang mendampingi Dinda dengan sangat sabar sejak awal, Dinda ndak akan bisa berdiri setegar ini di depan hakim."
Pak Baskoro tersenyum hangat, mengibaskan tangannya pelan. "Ini sudah menjadi kewajiban saya sebagai penasihat hukum Anda, Bu Adinda. Melihat Anda keluar dari pintu pengadilan ini dengan kepala tegak dan senyuman lega, itu sudah menjadi kepuasan profesional yang luar biasa bagi saya."
Pak Baskoro berdiri dari kursi gazebo, merapikan jas hitamnya. "Untuk urusan pengambilan Akta Cerai dan dokumen penetapan hak asuh anak dua minggu ke depan, Anda tidak usah repot-repot datang lagi jika sedang sibuk di dapur katering. Biar tim saya yang mengurus penyelesaian administrasinya sampai surat-surat hukum itu diserahkan langsung ke tangan Anda."
Adinda ikut berdiri, menyalami tangan Pak Baskoro dengan rasa hormat yang amat sangat. "Sekali lagi terima kasih banyak, Pak Baskoro. Semoga kebaikan Pak Baskoro dibalas melimpah oleh Allah SWT."
"Aamiin YRA. Mari saya antarkan Anda keluar menuju area parkir depan," ajak Pak Baskoro ramah.
Saat melangkah keluar dari area halaman Pengadilan Agama menuju jalan raya, matahari sore sudah berada di ufuk barat, memancarkan sinar keemasan yang mempesona.
Tepat di tepi jalan raya depan gedung pengadilan, sebuah mobil MPV perak baru meluncur pelan keluar dari pintu gerbang. Di dalam mobil itu, tampak Bagas duduk di balik kemudi dengan raut wajah yang kusam, lesu dan menekur.
Ibunya yang duduk di sampingnya tidak lagi memamerkan gelang emasnya ke luar jendela, melainkan duduk bersedekah mengamati jalanan dengan wajah cemberut menanggung malu. Mas Broto di kursi belakang pun hanya diam membisu, tidak ada lagi celotehan sombong yang keluar dari mulutnya.
Mobil yang tadinya mereka pamerkan sebagai simbol kejayaan dan kesombongan, kini melaju pergi membawa tiga insan yang baru saja ditelanjangi oleh kehampaan dan rasa malu yang mendalam.
Adinda menyaksikan mobil itu menghilang di balik tikungan jalan raya tanpa ada rasa benci, dendam atau sedih sedikit pun di dalam dadanya. Perasaan Adinda kini benar-benar hampa dari sosok Bagas. Pria itu kini hanyalah masa lalu yang telah usai sebuah babak lampau yang telah tertutup rapat di lembaran bukunya.
Adinda mengambil ponselnya dari dalam tas bahunya, lalu menekan tombol panggil ke nomor Mas Danu.
Hanya dalam hitungan detik, suara kakak kandungnya yang penuh perhatian langsung menyapa dari seberang telepon.
"Assalamualaikum, Dinda! Gimana sidangnya, Din? Mas sama Mbak Anita dari tadi di luar kota ndak tenang nungguin kabar dari kamu!" suara Mas Danu terdengar begitu cemas sekaligus penasaran.
Adinda tersenyum manis, menghirup udara sore yang terasa sangat segar memenuhi paru-parunya.
"Waalaikumsalam, Mas Danu," sahut Adinda dengan nada suara yang begitu ceria dan ringan. "Alhamdulillah... semuanya berjalan sangat lancar, Mas. Pak Baskoro bilang, hari ini jadi sidang pertama sekaligus sidang terakhir buat Dinda!"
Seketika terdengar suara sorak gembira dari seberang telepon. Bukan hanya suara Mas Danu, tetapi juga suara Mbak Anita yang memekik gembira karena rupanya ponsel Mas Danu diset dalam mode loadspeker.
"Ya Allah! Beneran, Dinda?!" seru Mbak Anita heboh dari seberang sana.
"Alhamdulillah ya Allah! Mbak bilang juga apa! Doa orang teraniaya itu langsung diijabah cepat! Berarti dua minggu lagi Akta Cerai kamu resmi keluar?"
"Iya, Mbak Anita. Tadi di dalam ruang sidang, Bagas sama keluarganya ndak bisa bicara apa-apa waktu tahu Dinda ndak nuntut harta sepeser pun. Hakim langsung putuskan tuntas hari ini juga," jawab Adinda penuh kebahagiaan.
"Luar biasa adik Mas ini!" puji Mas Danu bangga dari seberang telepon. "Kamu memang wanita hebat, Din. Mas sama Mbak Anita bangga sekali sama kamu! Ya sudah, kamu langsung pulang ke rumah kontrakan ya. Istirahat yang cukup.
Besok pagi sesuai janji, Mas sama Mbak Anita sudah sampai di rumahmu lagi buat dampingi kamu belanja peralatan katering yang baru!"
"Iya, Mas Danu. Dinda mau langsung pulang sekarang, mau peluk Dimas. Hati-hati di jalan ya Mas, Mbak."
"Iya, Dinda. Assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam warahmatullah."
Adinda menutup sambungan teleponnya dengan perasaan lega yang membuncah. Ia menghentikan sebuah taksi keliling yang melintas di tepi jalan raya, lalu melangkah masuk ke dalamnya.
Di dalam taksi yang melaju tenang membelah jalanan kota yang disiram cahaya senja, Adinda menyandarkan kepalanya di jendela kaca. Ia menatap bayangan dirinya di kaca seorang wanita yang kini tidak lagi lemah, tidak lagi menggantungkan nasibnya pada belas kasihan orang lain, dan siap menyongsong masa depan yang cerah bersama anak semata wayangnya.
Matahari sore perlahan tenggelam di garis cakrawala, menandakan berakhirnya sebuah hari yang panjang. Namun bagi Adinda, sore itu adalah fajar baru bagi kehidupannya sebuah awal dari lembaran kisah hidup yang ditulisnya sendiri dengan kerja keras, martabat tinggi, dan kebahagiaan yang sejati.