Menikahi Pria Posesif dan Arogan membuatnya ingin melarikan diri. Terpaksa menikah kontrak demi membayar ganti rugi.
Dalam perjalanan pernikahan kontrak malah sang pria jatuh hati dan membuatnya hamil.
Ikuti kisah selanjutnya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mona Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Bulan sampai disebuah restoran dan seorang pelayan sudah menyambut mereka seakan mereka sudah diberi kabar jika Tuan Muda Richard akan datang.
Maka semua pelayan mengosongkan ruangan itu dan mempersiapkan pesta kecil untuk mereka berdua.
Bulan sangat terkejut dengan perlakuan para pelayan padanya. Mereka semua menatapnya dan tersenyum manis. Membuat Bulan sejenak lupa jika dia begitu kesal dengan Bosnya itu.
Richard menggandeng Bulan dan Bulan memapahnya hingga mereka duduk dimeja dengan hiasan bunga yang sangat harum.
Ini seperti kencan romantis.
Richard tersenyum pada seorang pelayan dan memanggilnya untuk menyediakan makanan paling enak untuk mereka berdua.
Tidak lama kemudian seorang pelayan datang dan menaruh pesanan dimeja. Mempersilakan mereka makan lalu meninggalkan mereka berdua dan mulai menyalakan musik romantis.
Bulan merasa lapar dan makan tanpa berbicara. Begitu juga Richard, dia juga sangat lapar, diapun langsung makan dengan lahap.
"Kenapa diam saja?"
"Aku tidak ingin berbicara saat sedang makan," kata bulan yang tidak ingin banyak berbicara lagi dan memilih diam daripada mereka terus bertengkar.
"Habiskan makananmu, setelah ini kita pulang,"
"Sudah, aku sudah kenyang," kata Bulan tanpa melihat pada Richard.
Richard lalu memanggil pelayan dan membayar semuanya dengan kartu.
Setelah itu Bulan memapahnya keluar dari restoran itu. Mereka masuk kedalam mobil. Seno sudah menunggu dirumah Richard untuk menyerahkan beberapa berkas dari perusahaan.
"Aku harus segera pulang, ada pekerjaan kantor yang harus ku selesaikan," kata Richard berbicara pelan.
"Ya...." Bulan menjawab singkat. Mereka cepat sampai dirumah.
Mobil Seno sudah terparkir disana. Bulan keluar dan memapah bosnya masuk kedalam. Saat masuk Seno sedang memainkan handphonenya miliknya. Ternyata Seno sedang menatap foto saat dia bertunangan dengan Bulan.
Seno mendengar langkah kaki, maka dia mendongak, dan dia bertemu pandang dengan Bulan. Dan saat itu Seno terkejut bahkan tidak bisa mengalihkan pandanganya dari menatap Bulan.
Dia benar-benar cantik malam ini. Tapi, dia bingung, kenapa Bulan bersama dengan bosnya. Apa yang dia lakukan disini? Gumam Seno.
Bulan juga tidak kalah terkejutnya. Dia tidak menyangka jika Seno bekerja pada Richard. Dan bertemu dengannya dalam keadaan seperti ini.
Tapi bulan sadar, ini sebuah rahasia, dan dia tidak boleh mengatakan apapun apa yang dia lakukan dan apa yang terjadi antara dirinya dan Bosnya. Skandal denganya sudah sangat membuatnya terluka. Dan satu-satunya cara adalah berlindung dirumah Richard, yang tidak setiap orang bisa masuk dan bertemu dengannya.
Richard tersenyum pada Seno.
"Kau sudah lama menunggu?" tanya Richard dan Bulan membantunya duduk.
Setelah itu Bulan akan pergi namun tangan Richard menarik lengannya dan menyuruhnya duduk.
"Tetap duduk disini," titah Richard dan membuat Bulan tidak bisa menolaknya.
Seno terus memandanginya sementara Richard melihat berkasnya. Bulan hanya tertunduk dan tidak mau menatap wajah Seno.
Seno tidak berani menanyakan apapun pada Richard tentang Bulan, kenapa ada disini? Apa yang dia lakukan disini? Dan bagaimana bisa mengenal bosnya. Sejuta pertanyaan ingin dia tanyakan pada Bulan, namun Bulan membuang muka dan seakan tidak ingin menatapnya.
"Baiklah, kau boleh pergi, aku akan menelfonmu besok untuk membawa berkas ini kekantor," kata Richard.
Seno mengangguk hormat dan pamit untuk pulang.
"Bulan, ayo kita kekamar," kata Richard terdengar oleh Seno. Seno menoleh saat sampai dipintu. Dia melihat bagaimana Bulan memapah bosnya dan naik kelantai dua.
Seno berdiri dipintu dan melihat pemandangan itu. Lalu dia menarik nafas dengan berat dan keluar dari rumah besar itu.
"Bulan...apa yang kau lakukan dirumah ini? Aku tidak menduga bertemu denganmu disini," kata Seno lalu masuk ke mobilnya.
Bulan masuk kekamar bersama Richard. Richard duduk dimeja kerja dan Bulan duduk disofa.
Richard menatap berkas dimeja tanpa menghiraukan keberadaan Bulan. Bulan hanya duduk diam dan merasa bosan. Dia bahkan tidak berbicara dan menyuruhnya melakukan sesuatu.
Hal itu membuat Bulan menjadi mengantuk. Dia mulai menguap karena bosan. Akhirnya bulan tertidur sambil bersandar disofa.
Jam 01.00 malam
Richard masih melihat berkas itu dan sekarang tinggal separo. Dia merasa haus dan memanggil bulan.
"Bulan, bisakah kau buatkan kopi untukku?"
Tidak ada sahutan. Richard lalu menoleh pada sofa. Dia lihat Bulan sedang tidur sambil bersandar.
"Hhheh, dia tidur," Richard lalu melihat jam ditanganya. Dia mengangguk karena memang sudah malam.
"Pantas saja dia tidur, aku hampir lupa dan tidak ingat jika ada dia dikamarku," gumam Richard tersenyum tipis.
Richard lalu bangun dan berjalan dengan tongkat ke sofa. Dia memandangi Bulan dan menurunkan kedua sudut bibirnya.
Perlahan dia mengambil selimut dan menyelimuti Bulan. Dia lalu duduk kembali dan mengerjakan berkasnya.
Hingga pagi hari, maka dia masih duduk dimeja kerjanya dan bulan terbangun.
Dia terkejut saat ada selimut menutupi tubuhnya. Bulan lalu menatap Richard diranjang, tapi Bosnya tidak ada disana. Bulan lalu mengedarkan matanya pada meja kerjanya. Terlihat Richard sedang merapikan berkasnya.
Bulan lalu melipat selimut itu dan Richard menoleh padanya.
"Kau sudah bangun...jika begitu bantu aku kekamar mandi," kata Richard.
Bulan lalu membantunya kekamar mandi dan seperti biasa dia akan menutup matanya saat menaikkan celananya.
"Aku akan tidur, selama aku tidur, kau bisa melakukan apa yang kau inginkan," kata Richard membuat Bulan kaget.
"Tumben, dia bersikap baik hari ini," gumam bulan lirih.
Richard lalu membaringkan tubuhnya dan tidur di ranjang. Bulan mematikan lampu dan masuk kekamar mandi.
Dia mandi dengan tenang tanpa harus terburu-buru kali ini. Setelah itu dia keluar dan merapikan bajunya didalam koper. Dia melihat gaun yang kemarin dia pakai, lalu dia menyimpannya.
"Jika aku taruh di koper maka akan rusak, sebaiknya aku simpan dilemari saja," kata Bulan lalu membuka pintu lemari dan menggesernya. Dia menaruh bajunya diantara jas milik Richard.
Setelah itu Bulan turun kebawah dan melihat kedapur.
"Non, duduk saja, saya akan menyiapkan sarapannya," kata seorang pelayan setalah tahu jika mereka akan menikah meskipun awalnya dikenalkan sebagai seorang pelayan.
"Tuan sungguh aneh, calon istri dibilang pelayan saat pertama kali datang kerumah, tapi sebenarnya Tuan memperlakukan kami dengan sangat baik selama kami bekerja disini," kata seorang pelayan sambil merapikan kulkas didapur.
"Benarkah?" Bulan terheran dengan sikap bosnya yang memperlakukanya dengan berbeda.
"Iya, kami bekerja disini dari saya masih muda dan sekarang saya sudah beruban," kata pelayan itu.
Bulan mengangguk pelan.
Ting tong
"Ada tamu..." kata pelayan itu dan segera menyuruh pelayan lain untuk membukakan pintu.
"Saya datang untuk mengambil berkas," kata Seno pada seorang pelayan. Dan saat itu Bulan keluar untuk membangunkan bosnya.
Bulan lalu dengan cepat naik ke atas saat Seno akan berbicara dengannya. Bulan menghindar dengan sengaja.
Richard masih tertidur pulas.
Bulan berdiri disampingnya dan menggoyangkan tubuhnya perlahan.
"Tuan, ada pak Seno dibawah. Mau mengambil berkasnya," kata Bulan.
"Ambil dimeja," kata Richard dengan mata terpejam dan tidur lagi.
Maka Bulan mengambilkan berkas itu dan akan memberikanya pada Seno. Kali ini dia tidak bisa menghindar, karena dia harus menyerahkan berkas itu.
wah sekertaris nya gak tau diri, ,, ada rasa sm richard.... dan mandang rendah bulan. ...
Jangan lupa mampir di novel ku juga ya~ Judulnya cinta kedua
Terimakasih🤗