Joe membawa pesan terakhir pamannya: mencari orang yang menghancurkan keluarganya. Jejak itu menuntunnya bukan ke orang asing — melainkan ke pintu rumah sahabat-sahabatnya sendiri. Saat kebenaran terungkap, ia harus memilih: membalas dendam, atau menyelamatkan persahabatan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MR1991, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KERIBUTAN DIKANTIN KAMPUS
Robert menghela napas panjang, uap putih keluar perlahan dari mulutnya yang keriput di bawah cahaya remang api unggun yang menari-nari di tengah halaman rumah kayu. Tatapannya jatuh ke nyala api yang bergoyang-goyang, seakan melihat bayangan masa lalu yang lama sekali ia tinggalkan — masa yang penuh darah, ancaman, dan ketakutan yang tak pernah benar-benar hilang dari ingatannya.
"Joe..." suaranya rendah namun jelas, terdengar berat namun penuh ketulusan yang mendalam. "Sebenarnya aku sudah lama meninggalkan masa laluku yang buruk. Aku berjanji pada diriku sendiri untuk tidak lagi terlibat dalam pertikaian, dendam, atau hal-hal yang bisa membahayakan nyawa orang lain. Hidupku sekarang sederhana — berburu di hutan yang sepi, bertani di ladang kecil di belakang rumah, dan menenangkan hati yang dulu pernah gelisah di tengah hutan yang sunyi ini. Di sini tidak ada orang yang memaksa, tidak ada yang mengancam, dan tidak ada yang harus dibalas atau dibenci."
Joe mendengarkan dengan tenang, tidak sedikit pun terlihat kecewa atau marah. Ia duduk bersila di atas tanah yang tertutup alas jerami kering, menatap pria tua itu dengan pandangan yang penuh pengertian. Cahaya api memantul di matanya yang tajam namun lembut.
"Aku mengerti, Paman," jawabnya lembut namun tegas, suaranya tenang dan mantap. "Aku tidak akan memaksa Paman untuk ikut campur jika Paman tidak mau. Keputusan Paman adalah hak Paman sepenuhnya. Terima kasih sudah jujur kepada kami. Setidaknya kami tahu bahwa Paman bukan orang yang tidak tahu berterima kasih."
Arthur yang duduk di samping Joe hanya diam, menunduk memandang bara api yang perlahan memutih di depannya. Ia tahu betapa besar harapan Joe pada pria tua ini — satu-satunya orang yang masih hidup dan mengenal ayahnya dengan baik — namun ia juga tahu bahwa tidak semua orang mau kembali ke dalam dunia yang penuh bahaya dan pembunuhan yang baru saja mereka lari dari sana.
Namun seketika itu juga, Robert mengangkat wajahnya perlahan dan menatap Joe lekat-lekat. Matanya yang keruh tadi kini berkilat tajam, seakan ada tekad baru yang tumbuh dan menguat di dalam dadanya yang sudah lama tenang. Ia melihat ke wajah pemuda itu — wajah yang begitu mirip dengan tuannya yang dulu pernah menolongnya, memberinya pekerjaan, rumah, dan kehidupan yang layak.
"Meskipun begitu..." lanjut Robert dengan nada yang berubah lebih mantap dan tegas, seakan setiap kata yang diucapkannya adalah janji yang tidak bisa diingkari. "Aku tidak akan membiarkan anak tuanku berjuang sendirian di dunia yang kejam ini. Aku tidak ikut turun langsung ke medan perang karena aku sudah terlalu tua untuk berlari dan bersembunyi, tapi aku akan memberi bantuan apa pun yang kalian butuhkan untuk membalas dendammu. Baik itu tempat persembunyian yang lebih aman, makanan yang cukup untuk berbulan-bulan, obat-obatan untuk mengobati luka, senjata untuk melindungi diri, maupun informasi tentang siapa saja yang terlibat dalam peristiwa itu — semuanya akan kusiapkan sebaik mungkin."
Joe tersenyum lega, matanya bersinar penuh harapan yang nyata. Ia mengangguk pelan. "Terima kasih, Paman. Itu sudah lebih dari cukup bagi kami. Kehadiran Paman saja sudah sangat berarti bagi kami berdua."
"Tapi ada syaratnya," potong Robert dengan tegas, mengangkat satu jari telunjuk yang kasar dan panjang. "Kalian berdua harus tetap bersembunyi di sini dulu dan memulihkan diri sepenuhnya. Jangan terburu-buru kembali ke kota. Terburu-buru hanya akan membuat kalian lengah, dan kelengahan adalah hal yang paling dibutuhkan musuh untuk menangkap kalian lagi. Dan percayalah... jika sampai tertangkap kali ini, nasib kalian tidak akan sekadar ditahan atau dipukuli. Kalian bisa mati tanpa ada yang tahu di mana kalian dikuburkan."
Joe mengangguk mantap, wajahnya serius dan penuh kesungguhan. "Aku paham, Paman. Kami akan sabar dan menunggu waktu yang tepat — waktu di mana kami cukup kuat dan cukup tahu untuk tidak lagi hanya menjadi mangsa yang dikejar-kejar."
Mereka pun kembali melanjutkan makan malamnya dengan tenang di bawah terpal yang melindungi mereka dari udara malam yang makin dingin. Daging ayam hutan yang gurih dan beraroma rempah, daging kelinci yang lembut dan manis di lidah, ikan sungai yang segar dan tidak berbau amis, serta kuah sup yang hangat dan kental — semuanya habis tak bersisa dimakan bersama dalam kebersamaan yang hangat. Suara hujan yang masih turun deras membasahi hutan di sekeliling mereka justru membuat suasana di bawah terpal terasa semakin nyaman, aman, dan damai. Kehangatan api unggun, aroma makanan yang lezat, dan kebaikan hati pria tua itu membuat malam yang seharusnya penuh ketakutan menjadi momen yang tak akan mereka lupakan.
Setelah makan selesai dan peralatan makan sudah dibersihkan, Robert berdiri perlahan dan masuk ke dalam rumah kayu yang berbau kayu tua dan kering. Tak lama kemudian ia keluar membawa sebotol minuman berwarna cokelat kemerahan yang terlihat pekat dan kental. Botolnya terbuat dari kaca tebal yang sudah berdebu, menandakan bahwa minuman itu sudah disimpan cukup lama di tempat yang sejuk dan gelap.
"Minuman ini pas sekali untuk cuaca yang hujan deras begini," ucap Robert sambil membuka sumbat botol itu dengan tangan yang kasar namun mantap. Aroma yang keluar dari dalam botol itu sangat harum — campuran gula merah, rempah kayu manis, cengkeh, dan sedikit rasa manis yang kuat. "Buat menghangatkan badan yang dingin dan menenangkan pikiran yang terlalu banyak berpikir."
Ia menuangkan minuman itu ke dalam tiga cangkir kayu yang sudah tersedia di meja pendek di tengah mereka. Cairan itu berwarna gelap dan memancarkan uap hangat yang membawa aroma rempah yang kuat namun menyenangkan. Mereka bertiga memegang cangkir masing-masing dengan kedua tangan, merasakan kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuh, lalu mengangkatnya perlahan seakan bersulang tanpa kata. Malam itu mereka habiskan dengan saling bertukar cerita — masa lalu yang indah maupun yang menyakitkan, harapan di masa depan, ketakutan yang sering muncul di mimpi, dan impian yang ingin diwujudkan — sambil tertawa lepas di tengah hutan yang sunyi dan sepi. Untuk sesaat, beban berat yang dipikul Joe di pundaknya terasa sedikit lebih ringan karena ia tahu bahwa ia tidak sendirian.
Keesokan paginya, langit masih berwarna kelabu namun hujan sudah berhenti sepenuhnya. Udara pagi terasa sangat sejuk dan segar, berbau tanah basah, lumut, dan dedaunan hijau yang masih meneteskan air hujan. Matahari baru saja mulai mengintip pelan dari balik ujung bukit yang jauh, menyebarkan cahaya pucat yang lembut dan keemasan ke seluruh penjuru hutan yang luas itu. Kabut tipis masih melayang rendah di antara batang-batang pohon besar yang menjulang tinggi ke langit.
Joe dan Arthur sudah selesai merapikan diri dan berdiri di depan pintu rumah kayu dengan pakaian yang sederhana namun bersih. Mereka siap mengikuti Robert berburu pagi itu. Selama ini mereka hanya berdiam diri di rumah, dan mereka merasa tidak enak hati jika hanya beristirahat sementara Robert bekerja keras setiap hari mencari makanan untuk mereka bertiga.
"Paman," panggil Joe dengan sopan saat Robert keluar membawa senapan panjang di tangan kanannya dan tas kain kosong yang digantung di bahu kiri. "Bolehkah kami ikut pagi ini? Kami ingin belajar cara mencari makanan di hutan sekaligus membantu membawa hasil buruan pulang."
Robert berhenti sejenak di depan pintu, menatap mereka berdua yang tampak bersemangat dan sehat kembali. Awalnya ia hendak menolak — lebih baik mereka tetap di rumah yang aman dan tidak menambah beban perjalanan — namun melihat tekad yang kuat di wajah Joe dan antusiasme di wajah Arthur, ia akhirnya mengangguk pelan setuju.
"Baiklah," ucapnya pelan namun tegas. "Ikutlah bersama saya. Tapi ada satu syarat penting: jangan berisik dan lakukan apa yang kukatakan tanpa bertanya dulu. Hutan di sini tidak selamanya ramah dan tenang seperti yang kalian lihat pagi ini. Ada bahaya yang bersembunyi di balik keindahannya."
Mereka pun berjalan beriringan menyusuri jalan setapak yang berlumut dan masih basah terkena air hujan semalam. Pohon-pohon besar berdiri rapat di sekeliling mereka, menciptakan bayangan yang teduh dan suasana yang sunyi. Langkah kaki mereka hampir tidak bersuara di atas tanah yang empuk dan tertutup daun-daun kering yang lembap. Robert berjalan di depan dengan langkah yang tetap mantap dan ringan meski sudah berusia lanjut, sementara Joe dan Arthur mengikuti di belakang dengan penuh perhatian, mengamati setiap gerak-gerik pria tua itu dengan saksama — cara ia menengok ke kiri dan kanan, cara ia mengendus udara, dan cara ia berjalan tanpa menabrak ranting kering yang bisa berbunyi keras.
Setelah berjalan cukup lama masuk semakin dalam ke hutan, tiba-tiba Robert mengangkat tangan kanannya perlahan sebagai tanda berhenti. Joe dan Arthur langsung menghentikan langkah seketika, menahan napas secara tidak sadar dan menatap Robert dengan penuh tanya. Ia menoleh sebentar ke belakang dengan wajah yang serius dan memberi isyarat dengan jari di bibir agar mereka diam dan jangan mengeluarkan suara sedikit pun.
Mereka berdua pun berdiri tegak tanpa bergerak sedikit pun, mata mereka mengikuti arah pandangan Robert yang kini perlahan-lahan mengangkat senapannya setinggi bahu. Ia menopang senapan itu dengan tangan kirinya yang kokoh, tangan kanannya mencengkeram erat bagian pelatuk, dan matanya menyipit tajam menembus celah dedaunan hijau yang lebat di depan mereka.
Tak jauh dari tempat mereka berdiri, sekitar tiga puluh langkah ke depan di seberang semak belukar yang rendah dan rimbun, terlihat seekor rusa berukuran besar dengan bulu berwarna cokelat kemerahan yang mengkilap terkena cahaya matahari pagi yang menembus celah daun. Tanduknya yang besar dan bercabang indah menjulang tegak di atas kepalanya yang gagah. Rusa itu sedang menunduk dengan tenang memakan rumput liar yang tumbuh lebat di tanah yang lembap, sama sekali tidak menyadari keberadaan tiga orang yang mengamatinya dari kejauhan.
Robert bergerak sangat pelan dan hati-hati, seakan kakinya tidak menyentuh tanah sama sekali. Ia menyesuaikan posisi kakinya agar tetap seimbang, mengatur napasnya menjadi pendek dan tenang, lalu perlahan mengarahkan ujung senapannya tepat ke arah leher rusa itu — tempat yang paling vital sehingga hewan itu tidak akan menderita lama. Joe dan Arthur menahan napas, jantung mereka berdegup kencang di dalam dada melihat ketelitian, kesabaran, dan ketenangan yang luar biasa dari pria tua itu.
Setelah dirasa posisinya sudah tepat, angin tidak berubah arah, dan rusa itu tetap diam di tempat, Robert perlahan menarik pelatuk senapannya.
DOR!
Suara tembakan menggema keras membelah kesunyian hutan pagi itu, diikuti kepakan sayap burung-burung yang terbang ketakutan dari dahan-dahan pohon tinggi di sekeliling mereka. Rusa besar itu tersentak seketika, tubuhnya yang besar dan tegap sedikit melompat ke atas lalu perlahan terkulai dan jatuh tergeletak diam di atas rumput hijau yang segar. Tembakan itu sangat akurat — tepat mengenai lehernya sehingga hewan itu jatuh seketika tanpa perlawanan.
Joe langsung berlari mendekat dengan wajah yang berseri-seri dan penuh kekaguman. "Bagus sekali, Paman! Luar biasa!" serunya dengan suara yang sedikit lebih keras dari biasanya karena kegembiraannya. "Malam ini kita makan daging rusa lagi, dan pasti lebih banyak dari sebelumnya! Dagingnya besar sekali, cukup untuk kita makan berhari-hari!"
Arthur ikut berjalan mendekat dengan langkah cepat sambil tersenyum lebar hingga matanya menyipit dan matanya berbinar-binar. "Akhirnya daging rusa lagi," ucapnya dengan nada penuh kegembiraan yang nyata. "Gue bakal makan banyak sekali malam ini, Jo. Daging rusa itu paling enak — lembut, manis, dan tidak berbau. Gue nggak sabar menunggu sampai malam tiba untuk menikmatinya."
Setelah memastikan rusa itu sudah tidak bernyawa, Robert dengan sigap dan terampil mulai mengikat kaki-kakinya agar bisa diangkat dan dibawa pulang. Joe dan Arthur segera membantu mengangkat bagian tubuh yang berat. Mereka bertiga tidak langsung pulang begitu saja — setelah meletakkan rusa di tempat yang terlindungi, mereka berjalan menyusuri hutan lebih jauh lagi, mencari sayuran liar yang bisa dimakan serta buah-buahan hutan yang sudah matang dan manis. Robert mengajari mereka dengan sabar mana daun yang aman dan mana yang beracun, mana akar yang bisa dimasak dan mana yang pahit, serta buah apa yang bisa dimakan langsung dan mana yang harus dimasak dulu. Dalam perjalanan itu, Joe merasa semakin beruntung dan bersyukur bisa bertemu dan tinggal bersama pria tua yang begitu bijaksana, berpengalaman, dan baik hati ini.
Sementara itu, jauh dari kedamaian hutan yang sejuk dan sunyi, di halaman kantin kampus yang bising, panas, dan penuh hiruk-pikuk, suasana terasa sangat tegang di satu sudut meja panjang yang terpisah dari keramaian.
Alex, Rey, dan Billy duduk berhadapan satu sama lain di meja yang besar dan panjang. Makanan dan minuman yang mereka pesan tadi masih utuh hampir tidak tersentuh sama sekali — piring masih penuh, gelas masih penuh, dan sendok tetap tergeletak di tempatnya. Suara tawa, obrolan, dan tawa mahasiswa lain terdengar riuh di sekeliling mereka, namun di meja itu — keheningan yang berat dan tegang mendominasi sepenuhnya. Tidak ada yang berbicara, tidak ada yang berani menatap mata yang lain. Hanya suara sendok yang sesekali beradu dengan piring dari meja-meja lain yang terdengar sangat nyaring di telinga mereka yang sedang gelisah dan marah.
Keheningan yang menekan itu berlangsung cukup lama hingga akhirnya Alex menghela napas panjang dan berat, lalu memecah kesunyian dengan nada yang rendah namun tegas dan serius.
"Sampai kapan kalian berdua akan seperti ini?" tanyanya sambil menatap bergantian ke arah Billy dan Rey dengan pandangan yang lelah namun tegas. "Kita harus memandang jauh ke depan jika ingin menjadi penerus bisnis seperti orang tua kita. Bukan saling diam, saling curiga, dan bermusuhan tanpa alasan yang jelas di tempat seperti ini."
Billy tersenyum sinis, menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi dengan santai sambil melipat kedua tangannya di dada. Wajahnya tampak angkuh, dingin, dan penuh keremehan terhadap orang di depannya.
"Gue nggak butuh teman seperti Rey yang nggak bisa bersikap profesional," ucap Billy dengan nada yang dingin, tajam, dan merendahkan. "Kalau dia cuma bisa terbawa perasaan dan emosi tanpa berpikir jernih, lebih baik dia mundur saja dari semuanya dan jangan ikut campur urusan yang berat."
Rey langsung menegakkan tubuhnya dengan kasar, wajahnya berubah merah padam menahan amarah yang sudah lama ia simpan dan kini meledak. Ia menatap Billy dengan pandangan tajam dan penuh kebencian seakan ingin menerkamnya saat itu juga.
"Masalah ini bukan soal profesional atau nggak profesional!" bentak Rey dengan suara keras dan tinggi hingga beberapa mahasiswa di meja sebelah menoleh ke arah mereka dengan terkejut. "Ini menyangkut keluarga! Dan loe nggak punya hak sedikit pun untuk meremehkan hal itu seakan itu hal yang tidak penting!"
Rey mencondongkan tubuhnya ke depan ke arah Billy, jari telunjuknya menunjuk ke arah meja di antara mereka dengan gemetar karena marah.
"Dan perlu loe tahu, gue juga nggak butuh teman seperti loe yang selalu menganggap diri loe paling berkuasa, paling benar, dan paling hebat di mana-mana!" tambahnya dengan nada penuh kemarahan yang tidak lagi bisa ditahan.
Billy tertawa pendek — tawa yang terdengar sangat merendahkan, dingin, dan penuh kesombongan. Ia menatap Rey dengan tatapan datar yang seakan melihat serangga kecil di bawah kakinya.
"Jangan merasa setara dengan gue, Rey," ucap Billy perlahan namun penuh penekanan pada setiap kata yang diucapkannya. "Gue nggak pernah menganggap loe setara atau di atas gue. Bagi gue... loe selalu berada di bawah gue, sejak dulu sampai kapan pun."
Kalimat itu seakan menjadi batas akhir kesabaran Rey yang sudah lama menahan diri. Wajahnya berubah merah padam hingga ke leher, urat-urat di lehernya menonjol jelas, dan kedua tangannya mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih. Ia bangkit berdiri dengan kasar, kursi di belakangnya berderit keras di lantai keramik yang licin.
"Loe bicara apa?!" bentak Rey dengan suara menggelegar sambil mengangkat kedua tangannya seakan hendak memukul meja dengan kekuatan penuh. "Loe pikir loe siapa berani bicara begitu? Hari ini gue ajarkan loe sopan santun yang benar!"
Rey melangkah maju dengan niat memukuli Billy tanpa ampun di tempat itu juga, namun Alex segera berdiri dengan cepat dan menahan bahu Rey dengan kuat agar tidak mendekati Billy.
"Berhenti!" bisik Alex dengan tegas namun rendah agar tidak terlalu terdengar oleh mahasiswa lain yang mulai memperhatikan mereka. "Kita nggak akan pernah bisa menemukan Joe dan Arthur kalau kita berpecah dan saling memukul seperti ini. Musuh kita bukan satu sama lain. Ingat itu baik-baik!"
Rey menghempaskan tangan Alex yang menahannya dengan kasar dan kuat hingga Alex harus mundur selangkah.
"Gue nggak butuh bantuan loe berdua untuk menemukan Joe dan Arthur," ucap Billy dengan nada yang tetap dingin, tenang, dan angkuh seakan tidak terjadi apa-apa di depannya. "Gue bisa melakukannya sendiri tanpa bantuan siapa pun."
Tanpa menunggu jawaban siapa pun, Billy berbalik badan dengan tenang dan melangkah pergi meninggalkan kantin dengan langkah yang tegap, percaya diri, dan penuh kebanggaan seakan ia adalah penguasa di tempat itu. Mahasiswa lain yang melihatnya hanya diam dan berbisik-bisik pelan di antara mereka sendiri sambil menatap punggung Billy yang menjauh.
Setelah sosok Billy benar-benar hilang di pintu keluar kantin, Rey dengan keras meninju meja kayu yang tebal di depannya hingga gelas berisi air di tepi meja bergetar hebat dan sebagian airnya tumpah membasahi permukaan meja.
"Seharusnya loe nggak menahan gue tadi," geram Rey dengan suara rendah namun penuh kemarahan yang masih meluap-luap. "Biarkan gue menghajar dia sampai mampus. Dia memang pantas dihajar dan diberi pelajaran yang berat."
Alex dengan cepat menoleh ke kiri dan kanan, memastikan tidak ada yang terlalu memperhatikan mereka atau mendengar ucapan Rey. Ia lalu menatap Rey dengan wajah yang serius dan penuh peringatan.
"Lihat sekeliling, Rey. Hampir seluruh mahasiswa di sini melihat kejadian tadi," bisik Alex dengan cepat. "Jangan sampai nama keluarga kita dibicarakan dengan buruk dan dijadikan bahan pembicaraan orang-orang ini. Ingat siapa kita dan siapa orang tua kita."
Rey terdiam seketika mendengar peringatan itu. Ia menyadari bahwa emosinya hampir mengacaukan segalanya dan membuat mereka menjadi pusat perhatian yang tidak diinginkan. Ia menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan, mencoba menenangkan diri meskipun dadanya masih terasa panas dan sesak menahan amarah kepada Billy.
"Gue nggak berminat masuk kelas hari ini," ucap Rey pelan namun tegas sambil meraih tas punggungnya dari kursi. "Gue mau pulang dan minum sampai tenang. Nggak mungkin gue bisa duduk diam mendengarkan pelajaran dengan perasaan begini panas dan marah."
Alex mengangguk pelan setuju sambil meraih tasnya juga. "Gue ikut juga," jawabnya singkat dan padat.
Mereka berdua pun berjalan keluar dari kantin dengan wajah yang tertutup bayang-bayang kemarahan, kekecewaan, dan ketegangan yang semakin dalam. Mahasiswa lain yang berpapasan dengan mereka hanya menatap dengan penuh rasa ingin tahu dan penasaran, namun tidak ada yang berani menyapa atau bertanya apa pun. Di halaman parkir kampus yang luas dan panas, mereka masuk ke mobil masing-masing dan menyalakan mesin. Kemudian kedua mobil itu melaju keluar gerbang kampus bersamaan — pergi menuju arah yang sama.