NovelToon NovelToon
Tuan Adiwangsa Hanya Bergairah Kepadaku

Tuan Adiwangsa Hanya Bergairah Kepadaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / CEO / Disfungsi Ereksi
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ratna Purnama

Seluruh Jakarta percaya Narendra Adiwangsa impoten.

Tiga puluh lima tahun hidupnya, pewaris Grup Adiwangsa itu tak pernah menginginkan perempuan. Bahkan dua tahun menikah, ia tak pernah menyentuh istrinya. Setelah perceraian, semua orang yakin satu hal—Narendra memang “tidak bisa”.

Narendra tak pernah repot membantah.

Sampai Sekar Melati Wardani muncul di hadapannya.

Perancang kebaya dari Bekasi itu bukan siapa-siapa. Tak punya nama besar, tak punya harta, bahkan keluarganya sendiri menganggapnya barang tukar demi mahar. Namun saat Narendra melihat Sekar mengenakan kebaya yang membungkus lekuk tubuhnya, sesuatu yang mati selama tiga puluh lima tahun tiba-tiba bangkit.

Untuk pertama kalinya, Narendra menginginkan seorang perempuan.

Bukan sekadar ingin menyentuhnya.

Ia ingin Sekar di rumahnya, di ranjangnya, dan memakai namanya.

Sekar mengira lelaki tampan di seberang apartemennya hanyalah pekerja kantoran biasa. Ia tak tahu Narendra sengaja menyewa tempat itu demi mendekatinya—dan semakin Sekar mencoba menjaga jarak, semakin pria itu kehilangan kendali.

“Katanya kamu tidak bisa?”

Narendra menarik pinggangnya hingga tubuh mereka menempel.

“Coba sendiri. Masih percaya rumor itu?”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 34

Bab 34

Gempa

Keheningan itu pecah oleh bunyi gelas beradu.

Sekar membuka mata.

Tempat tidur bergoyang pelan, lalu mendadak tersentak keras ke samping. Lemari kayu berderak. Lampu gantung mengayun liar, membentur langit-langit sampai serpihan cat berjatuhan ke selimut.

Gempa.

Sekar berguling turun dari ranjang dan merangkak ke sisi yang jauh dari jendela. Lantai bergerak seperti geladak perahu. Lututnya menghantam kayu, tetapi rasa sakit kalah oleh suara retakan dari dinding.

"Semua bangun! Keluar lewat depan!"

Teriakan Bu Tri terdengar dari bawah.

Sekar menarik bantal ke atas kepala. Ia menunggu guncangan terkeras melemah, persis seperti petunjuk keselamatan yang pernah dibacanya. Begitu lemari berhenti bergeser, ia berdiri dengan kaki gemetar.

Tas kedap air sudah berada dekat pintu. Ia menyambar tas dan sepatu, tetapi ponselnya masih terhubung ke kabel di meja samping ranjang.

Tangannya hampir meraih benda itu ketika jeritan terdengar di koridor.

"Tolong!"

Sekar meninggalkan ponsel.

Di dekat tangga, seorang perempuan muda terduduk sambil memeluk tiang. Wajahnya pucat, kedua kakinya kaku.

"Aku nggak bisa," isaknya. "Kakiku nggak bisa gerak."

"Bisa." Sekar berjongkok dan menarik lengannya. "Lihat aku. Namamu siapa?"

"Maya."

"Maya, pegang bahuku. Kita turun setelah hitungan tiga. Jangan lari, jangan dorong orang."

Bangunan kembali bergetar kecil. Maya menjerit.

"Satu, dua, tiga. Berdiri!"

Sekar memaksa tubuhnya sendiri tetap tegak sambil menopang Maya. Mereka bergerak ke tangga depan. Bu Tri berdiri di bawah sambil memegang senter dan mengarahkan semua orang keluar.

"Jangan ke sisi sungai! Halaman depan!"

Anak tangga terasa miring. Debu turun dari sambungan dinding. Sekar menahan pinggang Maya dan turun satu per satu, diikuti pasangan tua dari kamar ujung.

Begitu tiba di halaman, udara malam yang dingin menghantam wajah mereka. Orang-orang berkumpul di tengah tanah lapang. Beberapa hanya memakai sarung, beberapa membawa anak kecil yang menangis.

"Jauh dari atap! Jauh dari kabel!" Bu Tri mengangkat senter. "Kumpul dekat pohon mangga, tapi jangan tepat di bawah dahan."

Sekar membawa Maya ke titik aman dan membantu mendudukkannya di atas tikar plastik. Lututnya sendiri baru mulai terasa nyeri.

Guncangan utama berhenti.

Selama beberapa detik, hanya tangis dan gonggongan anjing terdengar. Lalu listrik padam. Seluruh desa tenggelam dalam gelap.

Seseorang menyalakan senter ponsel. Cahaya kecil bermunculan di halaman.

Sekar meraba saku.

Kosong.

Ponselnya tertinggal di lantai dua.

"Aku harus ambil ponsel," katanya kepada Bu Tri.

"Jangan naik." Bu Tri menangkap pergelangan tangannya. "Tunggu. Biasanya ada susulan."

Seolah menjawab, tanah kembali bergetar.

Kali ini lebih singkat, tetapi genteng di sudut rumah jatuh dan pecah. Semua orang menjerit. Sekar berjongkok, melindungi kepala dengan kedua tangan, lalu menutupi Maya yang kembali kaku.

Dari arah gunung terdengar bunyi rendah, panjang, seperti truk besar jatuh ke jurang.

Longsor.

Suara itu membuat bulu kuduk Sekar berdiri.

Setelah tanah diam, Bu Tri mulai menghitung tamu. "Kamar satu?"

"Dua orang, lengkap."

"Kamar dua?"

"Lengkap."

Sekar membantu mencocokkan nama pada buku tamu. Satu anak laki-laki belum terlihat. Ibunya berteriak panik, tetapi beberapa detik kemudian anak itu muncul dari belakang dapur bersama ayahnya.

"Semua lengkap," kata Sekar. Suaranya lebih mantap daripada perasaannya.

Bu Tri mengangguk. "Kita tetap di luar sampai ada kabar aman."

Maya masih menangis tanpa suara. Sekar memberinya air dari botol di tas.

"Pacarku pasti menelepon," ujar Sekar, lebih kepada diri sendiri.

"Ponsel Mbak di atas?"

"Iya."

"Nanti kalau susulan berhenti, saya temani ambil. Sekarang jangan."

Sekar melihat jendela kamarnya yang gelap. Jaraknya hanya satu lantai, tetapi genteng yang pecah menjadi peringatan nyata.

Ia memilih tetap di halaman.

***

Warga dari rumah sekitar mulai berdatangan ke tanah lapang. Seorang pria membawa radio baterai. Siaran terputus-putus menyebut gempa dangkal berkekuatan sekitar lima, berpusat di kawasan selatan Jawa Tengah. Belum ada laporan korban besar, tetapi beberapa desa mengalami listrik padam dan longsor lokal.

Orang-orang mencoba menelepon keluarga. Pada menit-menit pertama, beberapa sambungan masih masuk. Setelah itu jaringan penuh. Sinyal muncul satu garis, hilang, lalu tidak kembali.

Bu Tri mencoba nomor pos desa.

"Nggak masuk."

Sekar meminjam ponsel Maya untuk menghubungi Narendra. Layar hanya menampilkan panggilan gagal.

Ia mencoba nomor Satria.

Gagal.

"Jaringannya putus," kata Maya.

Sekar menekan liontin melati di dadanya. Narendra pasti melihat berita. Ia akan mengingat janji telepon pagi dan malam. Ia akan khawatir.

Namun naik ke kamar saat susulan masih mungkin terjadi bukan solusi. Jika dirinya terluka hanya untuk mengambil ponsel, Narendra akan jauh lebih marah.

"Kita buat tempat duduk untuk anak-anak," katanya kepada Bu Tri. "Tikar di gudang luar aman diambil?"

Mereka memindahkan tikar dan selimut dari bangunan satu lantai di samping halaman. Sekar membagikan air, menenangkan seorang nenek, lalu mengikat luka gores kecil di lengan tamu dengan kain bersih dari kotak P3K.

Tangannya baru gemetar ketika semua orang lain sudah duduk.

Ia menatap gelap ke arah gunung. Hujan tidak turun, tetapi tanah basah membuat longsor susulan tetap mungkin.

"Mbak Sekar tadi takut juga?" Maya bertanya.

Sekar mengembuskan napas. "Takut sekali."

"Tapi Mbak kelihatan tenang."

"Kalau dua-duanya panik, kita nggak akan sampai halaman."

Maya menggenggam tangannya. Kali ini Sekar membiarkan orang lain memberinya kekuatan.

Dua pemuda desa datang membawa helm proyek dan senter besar. Mereka tidak masuk ke bangunan, hanya memeriksa dari halaman. Satu sudut atap kehilangan beberapa genteng, tetapi tiang utama Rumah Angin masih tegak. Retakan pada dinding luar tampak dangkal.

"Tetap jangan naik sebelum terang," kata salah satu dari mereka. "Ada susulan kecil lagi di dusun atas."

Kabar lain menyebar dari mulut ke mulut. Sebuah gudang kosong roboh, dua rumah kehilangan dinding dapur, dan jalan bawah tertutup tanah. Belum ada korban jiwa yang diketahui. Seorang warga terluka di telapak kaki karena berlari tanpa sandal.

Sekar membuka tas dekat pintu yang sempat dibawanya. Di dalamnya ada sampel kain, kuitansi, power bank, obat pribadi, dan jas hujan, tetapi tidak ada ponsel. Ia mengambil plester serta kasa kecil dari kantong perjalanan dan menyerahkannya kepada Bu Tri.

"Mbak ingat bawa tas, tapi lupa ponsel?" Maya bertanya.

"Aku dengar kamu teriak." Sekar menatap lantai dua. "Saat itu kamu lebih penting."

Maya kembali menangis, kali ini sambil memeluk Sekar.

Menjelang pukul dua, angin bertiup lebih dingin. Bu Tri membagi kelompok kecil untuk menjaga anak-anak, lansia, dan pintu masuk. Sekar mendapat giliran mencatat nama warga dari dua rumah sebelah yang ikut mengungsi. Dengan pena yang beberapa kali lepas dari jari, ia memastikan tidak ada nama terhitung dua kali dan tidak ada orang yang tertinggal.

Kesibukan itu menahan pikirannya agar tidak terus membayangkan Narendra mendengar suara otomatis dari teleponnya.

***

Di Jakarta, Narendra belum tidur.

Pukul 01.06, ia duduk di tepi ranjang sambil memeriksa laporan jalan Giriwangi yang dikirim Fikri. Pesan suara terakhir Sekar diputar sekali lagi.

Besok aku pulang.

Beberapa detik kemudian, notifikasi gempa muncul dari aplikasi berita. Lokasi yang disebut membuat darah di wajahnya surut.

Jawa Tengah. Klaten. Kawasan pegunungan di sekitarnya.

Narendra langsung menekan nama Sayang.

Sebelum sambungan bergerak, panggilan Satria masuk.

"Ndra." Suara Satria tegang dan cepat. "Giriwangi kena gempa. Sumbernya dangkal. Tim saya dapat laporan listrik padam, sinyal di sana putus total."

Narendra sudah berdiri. "Rumah Angin?"

"Belum bisa dihubungi. Pos desa juga mati. Ada longsor baru di jalur bawah."

"Kirim orang sekarang."

"Tim berangkat dari Klaten, tapi jalan malam dan susulan masih terjadi. Saya menuju bandara."

Narendra memutus panggilan dan menelepon Sekar.

Satu dering tidak pernah terdengar.

Suara otomatis menjawab bahwa nomor tidak dapat dihubungi.

Ia menelepon lagi.

Hasilnya sama.

Narendra menghubungi Fikri. "Bangun. Cari penerbangan paling cepat ke Yogyakarta atau Solo. Kalau nggak ada, sewa pesawat. Aku berangkat sekarang."

"Baik, Pak."

Fikri menelepon kembali empat menit kemudian. Suaranya tetap rapi meski baru terbangun.

"Penerbangan komersial pertama penuh dan baru berangkat lewat pukul enam. Pesawat charter bisa siap pukul 04.20 dari Halim. Izin slot sedang diproses."

"Ambil."

"Mobil ke bandara tiba dua puluh menit lagi. Pak Satria menunggu di Yogyakarta dan sudah mengirim rute alternatif."

"Bawa obat, air, senter, dan power bank. Jangan bawa rombongan besar."

"Sudah saya siapkan."

Narendra membuka lemari tanpa melihat pakaian yang diambil. Ia memasukkan dua kemeja ke tas, lalu mengeluarkannya lagi karena sadar tidak membutuhkan koper untuk perjalanan yang hanya punya satu tujuan.

Ia mencoba nomor Bu Tri. Tidak tersambung.

Nomor pos desa. Tidak tersambung.

Pengemudi Sekar akhirnya mengangkat, tetapi pria itu berada di kota dan hanya tahu jalan masuk kembali tertutup longsor. Narendra meminta nomor petugas desa, lalu mendapati nomor itu juga mati.

Tangannya mulai gemetar. Ia mengambil celana, menjatuhkan ikat pinggang, lalu memungutnya kembali. Sepatu kanan terpasang pada kaki kiri sebelum ia sadar dan membongkar talinya.

"Pak, kendaraan sudah di bawah," kata Fikri melalui telepon.

Narendra meraih jaket dan berjalan keluar. Lift terasa terlalu lambat. Ia menekan tombol beberapa kali meski tahu itu tidak akan mempercepat apa pun.

Di layar, lokasi langsung Sekar berhenti pada titik yang sama sejak satu jam lalu. Baterai ponselnya masih terisi karena kabel tetap terpasang, tetapi tidak ada jaringan untuk mengirim perubahan.

Telepon ketiga kepada Sekar tetap dijawab suara dingin yang sama.

Nomor yang Anda tuju tidak dapat dihubungi.

Narendra menggenggam ponsel sampai buku-buku jarinya memutih.

Di antara satu tarikan napas dan berikutnya, sesuatu di dalam matanya seperti pecah.

1
Siti Kamisah Hasnul
Bagusss sekalii
semoga konsisten bagus sampe tamat 🥰
Qwerty789 10
suka banget pokoknya,,,,lanjut trus kakakkkk💪
Qwerty789 10
sukak banget ma kata-katanya 🫰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!