NovelToon NovelToon
Dokter Forensik: Aku Bisa Melihat Penyebab Kematian

Dokter Forensik: Aku Bisa Melihat Penyebab Kematian

Status: sedang berlangsung
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Putra

"Arka Pratama hanyalah dokter muda magang di Instalasi Kedokteran Forensik. Gajinya kecil, pangkatnya rendah, dan semua orang meremehkannya. Tapi di hari pertamanya, sebuah sistem misterius bernama ""Kebenaran Forensik"" terbangun dalam dirinya — memberinya kemampuan melihat Label Kematian yang tak kasat mata di atas setiap jenazah.
Kasus yang sudah divonis bunuh diri? Arka melihat label merah: PEMBUNUHAN.
Mulai detik itu, tidak ada kebenaran yang bisa disembunyikan darinya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 13

Bab 013: Pesan Tengah Malam dari Kapten Adira

Bambang berhenti di depan gang dengan motor dinas hitam.

Lampu depannya menyapu pagar kos.

Arka menutup pintu pagar pelan, lalu mendekat sambil membawa tas forensik.

Bambang melihat tas itu dan mengangkat alis. "Cepat juga, Dok. Baru ditelepon lima menit sudah turun."

"Kalau dipanggil pukul sebelas malam untuk potongan daging, biasanya bukan untuk makan malam, Pak."

Bambang tertawa pendek. "Mulutmu makin berani setelah kenal Kapolrestabes."

"Masih lebih aman daripada mulut Mas Dimas."

"Itu benar. Naik."

Arka naik ke boncengan. Motor langsung bergerak keluar dari gang Gubeng yang sempit.

Udara malam menyentuh wajahnya.

Dari balik helm, suara Bambang terdengar berat. "Bu Adira sudah di lokasi. Inafis juga jalan. Petugas kebersihan yang menemukan benda itu hampir pingsan."

"Sudah dipastikan jaringan manusia?"

"Belum. Itu sebabnya kamu dipanggil."

Arka memegang tali tas lebih kuat. "Dokter jaga IKF?"

"Sudah diberi tahu. Tapi Bu Adira minta kamu ikut dari awal. Katanya kalau menunggu prosedur terlalu panjang, lokasi keburu rusak."

Kalimat itu membuat Arka diam.

Dulu ia menunggu perintah untuk mencuci botol.

Sekarang seorang Kanit Reskrim meminta dirinya sebelum garis polisi selesai dipasang.

Gelar di kartu belum berubah.

Belum.

Tetapi posisi di papan permainan sudah bergeser.

Motor melewati jalan besar. Warung kopi pinggir jalan masih buka. Beberapa pengemudi ojek online duduk menunggu order. Lampu minimarket menyala terlalu terang untuk jam hampir tengah malam.

Ponsel Bambang berbunyi di holder.

Nama Adira muncul.

Bambang menekan speaker. "Siap, Bu. Dok Arka sudah saya bawa."

"Berapa menit?" suara Adira tajam.

"Tiga puluh kalau jalan kosong."

"Dua puluh lima."

"Bu, saya polisi. Kecepatan saya masih waras."

"Bambang."

"Siap. Dua puluh lima."

Arka menahan senyum.

Adira melanjutkan, "Dok, dengar?"

"Dengar, Bu Iptu."

"Laporan awal: satu kantong plastik hitam ditemukan di belakang gudang logistik. Isi awal terlihat seperti potongan jaringan. Petugas tidak berani menyentuh lagi. Kami tutup area sementara."

"Suhu lokasi?"

"Gudang belakang. Banyak kontainer sampah. Ada sisa pendingin dari gudang makanan beku di dekat sana."

Arka langsung menangkap kata itu.

Makanan beku.

"Ada CCTV?"

"Ada, tapi titik belakang sebagian buta. Kevin dari Unit Siber sedang ditarik."

Kevin Tanuwijaya.

Nama baru. Berarti kasus ini tidak kecil.

"Korban diketahui?" tanya Arka.

"Belum. Jangan simpulkan apa pun sebelum lihat."

"Siap."

Panggilan terputus.

Bambang melirik spion. "Kamu dengar nada Bu Adira?"

"Dengar."

"Itu nada kalau dia belum makan, belum tidur, dan sudah mencium perkara buruk."

"Berarti kita harus sampai sebelum dia menggigit orang."

"Tepat."

Motor melaju lebih cepat.

Panel sistem masih mengambang tipis di ujung pandangan Arka.

[Misi baru terdeteksi.]

[Tingkat kesulitan: C]

[Objek awal: jaringan tubuh tidak utuh]

Tidak ada detail lain.

Tidak ada nama korban.

Tidak ada penyebab kematian.

Belum ada jenazah utuh untuk dibaca.

Arka menarik napas pelan.

Inilah batas sistem.

Ia memberi pintu.

Ia tidak mengantar sampai ruangan terakhir.

Sisanya tetap harus dicari dengan mata, sarung tangan, pinset, kantong bukti, dan prosedur.

"Dok," kata Bambang tiba-tiba.

"Ya?"

"Kamu tahu kenapa Bu Adira minta kamu secara khusus?"

"Karena perkara Sari?"

"Itu salah satunya."

Bambang memperlambat di lampu merah, lalu menoleh sedikit. "Karena kamu kalau melihat sesuatu, kamu tidak langsung berteriak paling pintar. Kamu cari cara supaya bisa dibuktikan. Itu beda."

Arka tidak menjawab cepat.

Pujian dari Bambang tidak datang sering.

Kalau datang, biasanya diselipkan di tengah suara knalpot dan lampu merah.

"Saya masih Dokter Muda, Pak."

"Iya. Dokter Muda yang bikin pelaku pembunuhan kamar terkunci masuk BAP sebelum makan siang. Jangan terlalu rendah hati, nanti Dimas yang ambil jatah sombongmu."

Arka tertawa.

Lampu berubah hijau.

Motor kembali melaju.

Mereka melewati kawasan yang makin lengang. Toko tutup. Truk besar mulai tampak. Jalan menuju Rungkut berbeda dari pusat kota. Lebih lebar, lebih gelap, dan lebih banyak pagar tinggi.

Arka membuka tas sebentar.

Sarung tangan nitril.

Masker.

Pinset.

Kantong sampel.

Spidol bukti.

Senter kecil.

Buku catatan tahan air.

Semua ada.

Ia menutup tas.

Di kepalanya, ia menyusun langkah.

Pertama: pastikan jaringan manusia atau hewan.

Kedua: cek tepi potongan, pola alat, perubahan warna, bau, suhu, kemungkinan pembekuan.

Ketiga: jangan menginjak lokasi sebelum Inafis selesai foto awal.

Keempat: jangan mengatakan apa pun yang tidak bisa ditulis dalam laporan.

Sederhana.

Sulit.

Karena tubuh manusia yang sudah dipotong jarang memberi rasa hormat kepada urutan kerja.

Ponsel Arka bergetar.

Pesan dari Dimas.

Mas Arka, saya menyusul. Kalau ada yang muntah duluan, kemungkinan besar Pak Bambang.

Bambang bertanya, "Siapa?"

"Mas Dimas."

"Jangan dibaca. Pasti menghina saya."

"Tidak, Pak. Dia hanya membuat prediksi medis."

"Berarti menghina saya."

Arka memasukkan ponsel kembali.

Humor kecil itu hilang saat mereka memasuki gerbang kawasan industri.

Pos satpam sudah ramai.

Seorang petugas berseragam menunjuk arah belakang gudang. Lampu kuning dari tiang tinggi jatuh ke aspal basah. Beberapa truk terparkir berjajar seperti dinding.

Di kejauhan, lampu rotator biru berputar lambat.

Bambang berhenti di dekat garis polisi luar.

"Kita jalan dari sini. Jangan sampai ban merusak jejak."

Arka turun.

Begitu kakinya menyentuh aspal, bau itu datang.

Tipis dulu.

Lalu menebal.

Baunya lebih berat dari bangkai biasa.

Ada asam busuk, lemak, plastik lembap, dan sesuatu yang dingin meski udara Surabaya tidak dingin.

Arka memasang masker.

Seorang anggota berseragam mendekat. "Pak Bambang, Bu Adira di belakang kontainer."

"Ada yang sentuh barang?"

"Petugas kebersihan sempat membuka plastik, Pak. Setelah lihat isi, langsung mundur. Kami pasang perimeter."

"Bagus."

Mereka melewati tumpukan palet kayu.

Adira berdiri di depan kontainer hijau, rambutnya diikat rapi, wajahnya keras. Ia mengenakan sarung tangan, tetapi belum menyentuh apa pun.

Di sebelahnya, seorang petugas kebersihan duduk di kursi plastik. Wajahnya pucat. Tangannya gemetar memegang botol air mineral.

Label kuning muncul di atasnya.

[Syok ringan]

[Mual]

[Paparan bau kuat]

Arka hanya melirik sebentar.

Adira melihatnya datang. "Dok."

"Bu Iptu."

"Kamu lihat dulu dari luar garis. Jangan masuk sebelum Inafis selesai foto."

"Siap."

Ia berjongkok di tepi garis polisi.

Di bawah lampu senter, kantong plastik hitam itu terbuka separuh.

Cairan keruh menggenang di bawahnya.

Di dalam lipatan plastik, ada potongan jaringan merah pucat dengan bagian putih seperti lemak. Permukaannya tidak koyak acak. Ada garis potong yang terlalu rata untuk gigitan hewan.

Sistem yang sejak tadi menunggu akhirnya menyala.

Warnanya belum merah penuh.

Belum.

Hanya garis kuning tipis yang menempel di tepi objek.

[Jaringan biologis: kemungkinan manusia]

[Status: tidak utuh]

[Anomali suhu: riwayat pembekuan terdeteksi]

Arka menahan napas.

Adira memperhatikan wajahnya. "Dok?"

Arka berdiri pelan.

"Bu," katanya, suara rendah tetapi jelas. "Ini jaringan tubuh."

Bambang yang berdiri di belakangnya berhenti bercanda.

Adira menatap kantong plastik itu lagi. "Seberapa yakin?"

Arka memakai sarung tangan.

"Cukup yakin untuk meminta semua tempat sampah dalam radius lima ratus meter ditahan sekarang juga. Jangan ada yang diangkut keluar kawasan."

Mata Adira menajam.

"Alasan?"

Arka menunjuk tanpa melewati garis.

"Tepi potongannya rata. Ada lapisan lemak subkutan. Warnanya tidak seperti daging pasar. Dan baunya..."

Ia berhenti sejenak.

Bau itu menempel di bagian belakang tenggorokan.

"Ini jaringan tubuh yang pernah dibekukan, lalu mencair."

Adira tidak membuang waktu.

Ia langsung mengangkat HT.

"Semua unit, tahan seluruh kontainer sampah radius lima ratus meter dari gudang logistik. Tidak ada truk keluar. Ulangi, tidak ada truk sampah keluar."

Suara radio menjawab bertubi-tubi.

Arka menatap kantong hitam itu.

Panel kuning di matanya berkedip sekali lagi.

[Petunjuk awal cocok dengan mutilasi pasca-kematian]

[Misi diperbarui: identifikasi korban]

Di balik kontainer, angin malam membawa bau yang sama dari arah lain.

Lebih dari satu sumber.

Arka menoleh ke gelap di antara deretan tong sampah.

Untuk pertama kalinya malam itu, ia merasa kasus ini tidak sedang menunggu mereka.

Kasus ini sudah menyebar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!