NovelToon NovelToon
Salah Buka Celana, Malah Dinikahi Komandan

Salah Buka Celana, Malah Dinikahi Komandan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cinta setelah menikah / Menikahi tentara
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mira K.

Cuma niat periksa batu ginjal, si komandan dingin malah "salah dibuka celananya" oleh dokter magang sok berani.
Satu kalimat "saya tanggung jawab", dan Keisha resmi jadi istri kontrak Sang Komandan Meriam—pewaris konglomerat Prawira yang paling ditakuti.

Perjanjiannya: tidak boleh saling sentuh.
Kenyataannya: komandan berhati es itu **tak pernah tahan semalam pun**.

"Katanya kontrak, Pak?"
"Kontraknya," bisiknya sambil menariknya mendekat, "mulai malam ini kita tulis ulang."

Yang mereka kira dokter miskin, ternyata putri konglomerat Wijaya yang hilang.
Yang dikira pernikahan palsu, ternyata jerat paling manis.
**Nyonya Meriam sudah pulang—dan sang serigala tak akan melepasnya lagi.**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15

Bab 15

Warisan Eyang

Pagi setelah resepsi, Keisha kembali duduk di ruang keluarga rumah Prawira dengan punggung lebih tegak daripada saat menjalani ujian profesi.

Kemarin ia datang sebagai pengantin. Hari ini, sebelum pindah ke Dago, ia diminta sungkem secara pribadi kepada Eyang Menur dan Ratna.

Arya duduk di sebelahnya dengan kemeja batik gelap. Wajahnya tetap setenang batu, seolah rumah sebesar ini, lukisan tua di dinding, dan dua lemari kayu yang tampak lebih mahal daripada mobil Keisha adalah hal biasa.

Mungkin memang biasa baginya.

"Kenapa tegang?" bisiknya.

Keisha mempertahankan senyum. "Karena keluargamu punya definisi sederhana yang menakutkan."

Sudut bibir Arya bergerak tipis. "Tidak ada ujian."

"Kamu juga bilang resepsinya sederhana."

Sebelum Arya sempat menjawab, Eyang Menur masuk ditemani Ratna. Keisha dan Arya segera bangkit, lalu berlutut di hadapan perempuan sepuh itu. Keisha mencium tangan Eyang, menahan haru ketika telapak keriput itu justru mengusap kepalanya lama.

"Semoga rumah tangga kalian menjadi tempat pulang, bukan medan perang," ucap Eyang.

Keisha melirik Arya. "Amin."

Arya membalas tatapannya. "Amin."

Ratna mendengus kecil. "Kalau melihat cara kalian saling menatap, Bunda tidak yakin bagian medan perangnya bisa dihindari."

Ketegangan Keisha pecah menjadi tawa. Bahkan Arya tampak menahan senyum.

Setelah mereka kembali duduk, Eyang mengambil sebuah kotak kayu dari meja di samping kursinya. Ukirannya halus, dengan motif bunga melati dan burung kecil. Ketika tutupnya dibuka, Keisha terpaku.

Di atas beludru hijau tua terbaring seperangkat perhiasan emas: kalung, sepasang subang, dua gelang, dan bros berbentuk melati. Bukan model yang berkilau berlebihan, tetapi setiap lekuknya dikerjakan dengan ketelitian yang membuat Keisha takut menyentuhnya.

"Ini milik ibu Eyang," kata Eyang Menur. "Diberikan kepada Eyang ketika menikah dengan almarhum suami Eyang. Bros itu pernah Eyang pakai saat mendampingi beliau dalam upacara pertama setelah pangkatnya naik."

Keisha menatap foto hitam putih di atas lemari. Seorang pria berseragam berdiri di samping Eyang Menur yang masih muda.

"Eyang Kakung tentara?"

"Purnawirawan jenderal," jawab Ratna. "Sudah lama meninggal."

Eyang mengangkat bros melati itu dengan hati-hati. Di bagian belakangnya terukir dua huruf kecil yang nyaris aus. "Beliau membelinya dari gaji pertama, ketika kami masih tinggal di rumah dinas yang atapnya bocor. Eyang menambah satu kuntum setiap kali keluarga kami melewati masa sulit. Jadi jangan melihat harganya saja. Di benda ini ada kesabaran, pertengkaran, dan puluhan tahun memilih untuk tetap pulang."

Keisha menyentuh ukiran itu dengan ujung jari. Tiba-tiba emas tersebut tidak terasa seperti lambang kekayaan, melainkan catatan sebuah pernikahan yang bertahan.

Keisha menoleh kepada Arya. Pria itu hanya mengangguk, seolah informasi mengenai seorang jenderal di keluarganya tidak berarti apa-apa. Potongan-potongan ganjil kembali muncul dalam benak Keisha: keamanan di resepsi, Kapten Reza, panggilan Ndan Meriam yang buru-buru ditelan, dan disiplin Arya yang terlalu kaku untuk pengusaha biasa.

Namun Eyang sudah menyodorkan kotak itu kepadanya.

"Mulai hari ini, ini milikmu."

Keisha spontan menahan kotak tersebut tanpa mengambilnya. "Eyang, saya tidak bisa. Ini terlalu berharga."

"Karena berharga, Eyang memberikannya kepada keluarga."

Kata keluarga menusuk lebih dalam daripada semestinya. Keisha menelan ludah. Ia adalah istri Arya di hadapan agama dan negara, tetapi pernikahan ini dimulai dari angka, tanda tangan, dan tenggat satu tahun. Eyang tidak tahu apa pun tentang kamar terpisah, evaluasi kontrak, atau kemungkinan mereka pergi ke Pengadilan Agama setelah kerja sama berakhir.

"Saya takut tidak pantas menjaganya," katanya pelan.

Eyang Menur menggenggam tangannya. "Kepantasan tidak ditentukan oleh darah atau tebalnya rekening. Eyang melihat caramu membela ibumu. Orang yang menjaga ibunya sekuat itu tahu cara menjaga sesuatu yang dititipkan dengan cinta."

Dada Keisha menghangat dan nyeri sekaligus. Ia ingin mengatakan bahwa kepercayaan sebesar itu mungkin salah alamat. Namun tangan Eyang begitu tulus, hingga penolakan terasa seperti menghina kasih sayang yang tidak pernah diminta Keisha, tetapi diam-diam ia rindukan.

Ratna lalu meletakkan sebuah map krem di atas kotak perhiasan.

"Ini apa?" tanya Keisha, suaranya makin waspada.

"Akta hibah sebuah rumah kecil di Lembang beserta tanahnya," jawab Ratna. "Notaris sudah menyiapkan proses balik nama. Hibah dilakukan semasa Eyang hidup, bukan warisan. Kamu akan mendapat penjelasan lengkap dan boleh menunjuk penasihat sendiri sebelum tanda tangan."

Keisha hampir menjatuhkan kotak itu. "Rumah?"

"Kebun di belakangnya juga," kata Eyang ringan.

"Eyang, perhiasan saja sudah terlalu banyak. Saya sungguh tidak bisa menerima rumah."

"Bisa."

"Tapi perjanjian pranikah kami memisahkan harta."

Arya akhirnya bicara. "Justru karena hibah itu ditujukan langsung kepadamu, rumah tersebut menjadi hartamu sendiri. Tidak masuk harta bersama."

Keisha memelototinya. "Mas Arya, kamu seharusnya membantuku menolak."

"Aku tidak pernah menang kalau Eyang sudah memutuskan sesuatu."

"Jadi kamu membiarkanku sendirian?"

"Aku sedang menyelamatkan diri."

Ratna menutup mulut, tetapi tawanya tetap terdengar. Eyang Menur malah menepuk lutut Arya dengan kipas lipat.

"Cucu tidak berguna," omelnya, lalu kembali menatap Keisha. "Dengar, Nak. Ini hakmu sebagai cucu menantu. Bukan pembayaran karena menikahi Arya dan bukan cara membeli kesetiaanmu. Eyang memberikannya karena Eyang memilihmu sebagai penerus benda-benda ini."

Keisha menunduk. Rasa bersalah menggerus hangat yang memenuhi dadanya. Kalau satu tahun nanti ia dan Arya benar-benar berpisah, bagaimana ia mengembalikan bukan hanya emas dan tanah, tetapi kepercayaan perempuan sepuh ini?

Jari Arya menyentuh sisi bawah kotak, membantu menahan beratnya tanpa merebutnya. Sentuhan kecil itu membuat Keisha menoleh.

"Kamu tidak harus memutuskan soal akta hari ini," katanya. "Baca dulu. Tanya notaris. Tidak ada yang akan memaksamu."

Kalimat itu melegakan Keisha. Setidaknya batas yang mereka sepakati masih dihormati, bahkan di hadapan keluarganya.

"Perhiasannya dibawa," putus Eyang. "Untuk akta, baca sampai puas."

Keisha mengangguk pelan. "Terima kasih, Eyang. Saya akan menjaganya."

"Bukan saya. Panggil dirimu cucu Eyang."

Mata Keisha memanas. Ia mencium tangan Eyang sekali lagi. "Terima kasih, Eyang. Keisha akan menjaganya."

Saat Arya membantu membawa map ke mobil, Ratna menahan Keisha di teras. Untuk pertama kalinya, sorot matanya tidak terasa seperti pemeriksaan terhadap calon menantu.

"Arya sejak kecil sulit meminta bantuan," katanya. "Kalau terluka, dia memilih diam. Kalau khawatir, dia mengatur semuanya sampai orang lain kesal."

Keisha melirik punggung Arya yang menjauh. "Bagian membuat orang kesalnya sudah saya kenal."

Ratna tersenyum tipis. "Jaga Arya baik-baik, Nak. Dia tidak sekeras kelihatannya."

Sebelum Keisha sempat menjawab, Eyang memanggilnya lagi dari ruang keluarga. Perempuan sepuh itu menekan tutup kotak perhiasan hingga rapat, lalu menaruh kedua tangannya di atas tangan Keisha.

"Suatu hari," katanya dengan senyum penuh harap, "berikan ini kepada anakmu."

Keisha membeku.

Di kepalanya, pasal-pasal kontrak berbaris tanpa ampun: kamar terpisah, tidak ada hubungan intim tanpa persetujuan, tidak ada kewajiban memiliki anak.

Dari arah pintu, Arya menatapnya sambil mengangkat satu alis.

Keisha menggenggam kotak itu lebih erat. Untuk pertama kalinya, benda tersebut terasa jauh lebih panas daripada emas.

1
paijo londo
Yee si mantan datang ngeclaim kalo Arya punyanya g malu tuh muka badak padahal udah ditolak ma Arya juga🤦🤦
paijo londo
asyiiik Keisha masuk ke sangkar emasnya Arya 😍😍😍moga2;g ada perceraian
paijo londo
ya ampun pertemuan pertama yg menggelikan bikin jantung bedebar🤭🤭🤭salah diagnosis lagi🤦🤦
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!