Di awali dengan sebuah perjodohan seorang sahabat yang tidak lain adalah adik dari orang yang ku cintai, aku di pertemukan dengan Andra yang ternyata saudara kembar Andre, kakak Anita.
Akhirnya kami berdua menikah. Namun perasaanku masih memilih Andre. Tanpa sengaja aku terus membuat Andra yang mencintaiku sakit hati.Sedangkan Andre sebenarnya memiliki perasaan yang sama terhadapku, tapi ia mempunyai sebuah alasan yang menyebabkannya menyerahkanku pada saudara kembarnya.
Ketulusan Andra akhirnya mampu meluluhkan Aku, dan kami benar-benar hidup sebagai pasangan suami istri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratu Asmara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
07. Wedding Moment
Aku Sekarang Ada di depan cermin. Beberapa perias pengantin pilihan keluarga Wijaya merias wajahku. Akhirnya hari yang aku tunggu datang juga. Hari ini ijab qabul antara aku dan Andra Wijaya di langsungkan.
Anita mendampingiku sejak lepas shubuh tadi. Katanya saat ini Andra sedang melaksanakan peresmian ikatan sakral kami di masjid yang letaknya tidak jauh dari rumah mereka.
Setelah ijab qabul dilaksanakan, Andra akan menjemputku untuk pelaksanaan resepsi.
"Saya terima nikah dan kawinnya, Sila ramadhanti dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai," Anita memutar voicenote kiriman Andre.
Artinya sekarang aku sudah sah menjadi istri Andra. Tiba-tiba jantungku berdegup kencang. Mungkin saat ini wajahku pucat pasi jika
tidak di tutupi make-up. Sejak semalam aku sudah tidak bisa tidur memikirkan hari ini.
Setelah riasanku selesai mereka semua meninggalkan aku dan Anita berdua saja.
"Selamat menempuh hidup baru, Sil. Sekarang kamu udah resmi jadi istri kakakku." Anita heboh sendiri. Dia tampak sangat bahagia.
"Makasih, Nit. Aku masih belum percaya semuanya ini bukan mimpi." Benar. Ini seperti mimpi, karena terjadi dalam waktu yang singkat.
"Tok..tok.." Suara pintu kamarku, lebih tepatnya kamar Andra yang sekarang menjadi kamarku di ketuk.
"Aku boleh masuk?" Itu suara Andra. Setelah menahan rindu beberapa hari akhirnya aku bisa melihat wajah Andra lagi. Tapi rasanya aku belum siap. Tangan dan kakiku gemetar.
"Biar aku yang buka, Sil. sekalian aku mau minum dulu ke dapur." Anita bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke arah pintu.
"Tapi, Nit.." Aku coba menahan Anita untuk tidak pergi.
"Aku nggak mau jadi obat nyamuk," Ledeknya sambil berjalan ke arah pintu. Andra melangkah mendekat. Aku hanya mendengar suaranya. Untuk menatapnya saja aku belum siap. Jarak di antara kami sudah sangat dekat. Seperti tahu dengan keadaanku yang lemah, Andra membantuku berdiri. Spontan aku mencium tangannya sebagai tanda hormatku pertama kali menjadi istrinya. Andra mengecup keningku lalu memelukku erat. Dia menangis.
"Tolong temani aku sampai akhir, Sil. Aku ingin berbagi segala yang aku punya denganmu.." Ucap Andra pelan.
"Maaf, kalau aku membuat kamu nggak nyaman. Tiba-tiba meluk kamu tanpa izin," Andra melepaskan pelukannya dan menjauh satu langkah dariku. Aku tahu, dia menjaga perasaanku.
"Aku sudah sah menjadi istrimu. Kamu tidak perlu izin untuk memelukku," Aku mencoba tenang, meskipun kenyataannya aku terkejut saat Andra tiba-tiba memelukku.
"Terimakasih, Sil. Kamu sudah bersedia menjadi pengantinku. Aku bahagia bisa memiliki kamu.." Andra memegang tanganku erat. Menuntunku kembali duduk di pinggir ranjang yang telah di hias dengan sangat indah.
"Sama-sama, Ndra. Menikah sama kamu rasanya kayak baru jadian tau nggak," Aku mengulas senyum. Pancaran mata Andra menggambarkan rona kebahagian.
" Ya, kamu benar... kita baru saja jadian. Dan mulai akan melewati masa pacaran." Andra tersenyum misterius. Jantungku semakin berdebar saat dia mengatakan hal itu.
"Kamu buat jantung aku mau copot tau nggak," Aku tersipu malu.
"Makanya jangan mesum dong, pikirannya udah kemana-mana ya.." Andra mencubit hidungku pelan.
"Dih!. kok aku dibilang mesum sih, aku nggak mikir aneh-aneh kok,"Aku berusaha membela diri.
Aku mulai berani menatap Andra. Ternyata dia lebih tampan dari biasanya. Aku mencubit tanganku sendiri, rasanya sakit. Ini nyata. Pangeran tampan keluarga Wijaya ini telah menjadi milikku, suamiku.
"Sila, kamu cantik banget hari ini.." Kata Andra setengah berbisik membuat mukaku memerah. Mungkin sama dengan warna udang rebus. Andra terus menatapku. Seperti tidak ingin berpaling. Jantungku berdegup lebih kencang lagi, semoga dia tidak mendengar suaranya.
"Sudah siap untuk nanti malam..." Bisiknya lagi, aku tersenyum. Andra mulai mesum nih, batinku.
"Siap untuk apa?" Aku pura-pura bodoh.
"Beneran nggak tau?" Andra masih berbisik. membuat bulu kudukku merinding.
"Aku pura-pura nggak tau, tuh." Aku balas berbisik padanya.
"Istriku mulai nakal ya... Yuk kita ke depan... tamu udah pada dateng tuh, nggak enak," Andra menggandeng tanganku keluar dari kamar. ternyata di luar kamar sudah ada papa dan mama Wijaya.
"Lihat Ma, menantu kita cantik sekali. Pantas saja kita dibiarkan menunggu lama di sini," Kata pak Wijaya pada istrinya membuat aku tersipu malu.
"Iya, pa. kaki mama sampai pegel." Sahut mama sambil melirikku seraya tersenyum. Kemudian mereka berdua memelukku sebagai tanda syukur dan selamat datang.
"Selamat ya, Sila. Mulai hari ini kamu resmi jadi bagian keluarga wijaya. Jaga Andra baik-baik. Anaknya manja, jadi kamu harus pintar manjain dia, Biar nggak ngambek," Mama memberiku wejangan.
"Mama jangan buka kartu dong, baru sehari udah di bocorin rahasiaku," Andra pura-pura ngambek.
Kami semua tertawa dengan tingkah Andra yang lucu.
Hari pernikahan kami berjalan sukses. resepsi super mewah yg di adakan keluarga ayah mertua benar-benar memanjakan tamu undangan.
Tamu yang datang sangat banyak. sampai tempat yg disediakan penuh sesak. Aku dan Andra sudah kelelahan sejak pagi hingga malam duduk di pelaminan. Aku mengecek jam yang tertera di layar smartphoneku. Sudah pukul sepuluh lewat lima belas menit. Mataku mulai sayu.
"Sabar sayang, sebentar lagi kita masuk aja. Aku juga udah cape nih, pengen cepet tiduran," Keluh Andra.
"Mandi dulu, Ndra.." Aku mengingatkan dia untuk mandi terlebih dahulu.
"Siap tuan putri..." Andra meremas tanganku gemas. Setengah jam kemudian. Tamu mulai sepi. Aku dan Andra diperbolehkan meninggalkan pelaminan.
Aku tidak menyangka, Masa lajangku sudah selesai hari ini dengan seorang pria asing yang tiba-tiba saja berhasil merebut hatiku.
Apa mungkin karena wajahnya mirip dengan Andre, jadi aku mudah begitu saja jatuh cinta padanya? Semoga perasaanku ini bukan hanya sekedar pelarian saja. Kasihan Andra, ia tampak begitu tulus padaku.
"Kamu mikirin apa sih, sampe ngelamun gitu," Andra menyentuh bahuku, membuat aku sadar dengan kehadirannya.
"Maaf, Aku nggak bermaksud untuk mengabaikan kamu. Aku hanya teringat pada mendiang orang tuaku. Seharusnya di momen begini, mereka ada di sini mendampingiku," Aku berbohong untuk menutupi sebenarnya apa yang sedang aku pikirkan.
"Mereka pasti melihat kita bahagia hari ini, sayang. Aku akan berusaha terus membuatmu tersenyum. Jangan pernah sedih lagi. Sekarang kita berdua bersatu untuk saling berbagi," Andra mencoba untuk menghiburku.
Setidaknya aku harus mencoba untuk mempercayainya. Siapapun dia, saat ini dia adalah suamiku yang sah. Semoga kami berdua bisa saling menjaga, saling berbagi, saling mengasihi sampai saatnya tiba.
Aku percaya, apapun yang sudah terjadi hari ini, sang pencipta ikut andil di dalamnya. Aku hanya bisa berdo'a yang terbaik untukku dan Andra, suamiku.
Kenapa ngurusin Andre.
Rasain dilecehkan Andre.
Salahmu sendiri Sila.