NovelToon NovelToon
Restu Yang Ditarik Kembali

Restu Yang Ditarik Kembali

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Mengubah Takdir / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:340.6k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

Sepuluh tahun membina rumah tangga, Adila mengira restu mertua adalah pelindung abadi bagi cintanya dan Revan. Namun, segalanya runtuh saat Meisya sahabat masa lalu Revan hadir membawa janin di rahimnya karena suaminya meninggal.

​Tiba-tiba, pengorbanan Adila sebagai istri sekaligus calon dokter yang mandiri justru menjadi senjata untuk memojokkannya. Karena dianggap mampu berdiri sendiri, Adila dipaksa mengalah. Revan mulai membagi perhatian, waktu, hingga nafkah bulanan demi menjaga Meisya yang dianggap lebih rapuh.

​Hati Adila hancur saat melihat Revan membelai perut wanita lain dengan kasih sayang yang seharusnya menjadi miliknya. Ketika restu itu ditarik kembali dan posisinya sebagai istri perlahan dijandakan di rumah sendiri, masihkah ada alasan bagi Adila untuk bertahan? Ataukah gelar dokter yang ia kejar akan menjadi jalan baginya untuk melangkah pergi dan meninggalkan pengkhianatan ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

9. Restu Yang Ditarik Kembali

​Sore itu, langit Jakarta berwarna jingga kemerahan, namun suasana di dalam mobil Revan jauh lebih membara. Adila dan Revan pulang bersamaan setelah perdebatan di kantor tadi siang. Sepanjang jalan, hanya ada keheningan yang menyesakkan. Adila menatap ke luar jendela, sementara Revan fokus pada kemudi dengan pikiran yang berkecamuk.

​Begitu mobil memasuki halaman rumah, pemandangan pertama yang menyambut mereka adalah Meisya. Gadis itu sedang berdiri di taman depan, memegang selang air, menyiram tanaman dengan gerakan yang sengaja dibuat lambat. Ia mengenakan terusan longgar yang menonjolkan perut buncitnya yang kian membesar.

​Saat melihat mobil Revan berhenti, Meisya memberikan senyum manis yang paling lebar senyum yang bagi Adila terlihat seperti ejekan kemenangan.

​Adila tidak sudi membalas. Bahkan sebelum mesin mobil benar-benar mati, Adila sudah membuka pintu dan langsung keluar dengan langkah tegas. Jas dokternya tersampir di lengan, memperlihatkan langkah kakinya yang penuh otoritas. Ia melewati Meisya tanpa menoleh sedikit pun, seolah gadis itu hanyalah udara kosong yang tidak kasat mata.

​"Adila! Tunggu!" seru Revan yang menyusul di belakang.

​Adila terus melangkah masuk, naik ke lantai dua, dan langsung menuju kamar mereka. Begitu Revan masuk, Adila membanting pintu dengan keras dan berbalik menatap suaminya dengan tatapan yang bisa membekukan darah.

​"Kita perlu bicara. Sekarang," desis Adila.

​Revan menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri. "Soal kartu kredit itu, aku sudah mengonfirmasinya ke Meisya tadi lewat telepon setelah kamu pergi dari kantor."

​"Oh, jadi kamu langsung laporan padanya?" Adila tertawa sinis. "Lalu apa pembelaannya kali ini? Apa uang jutaan rupiah itu menguap begitu saja untuk amal?"

​"Meisya mengaku, Di. Dia memang membelanjakan uang itu, tapi bukan untuk foya-foya," bela Revan dengan suara yang masih mencoba tenang. "Dia menggunakannya untuk kebutuhan calon anaknya. Vitamin, perlengkapan bayi, dan biaya pemeriksaan ke dokter spesialis. Dia tidak punya siapa-siapa lagi untuk diandalkan, Adila. Dia sedang mengandung anak sahabatku juga, mendiang suaminya."

​Adila merasa telinganya panas. Ia melempar tasnya ke atas tempat tidur dengan kasar. "Kebutuhan bayi? Revan, buka matamu! Kamu ini bukan calon bapaknya! Kamu hanya sahabat kecil Meisya dan kamu juga hanya sahabat suaminya, bukan wali nikahnya, bukan pula ayahnya! Kenapa kamu bersikap seolah-olah seluruh masa depan anak itu ada di pundakmu?"

​"Karena aku sudah berjanji pada almarhum suaminya untuk menjaganya!" suara Revan mulai meninggi.

​"Menjaga tidak berarti membiarkannya merusak rumah tangga kita!" bentak Adila. "Sekarang aku tanya padamu, jujur. Meisya masih punya saudara dan orang tua, kan? Dia bukan sebatang kara yang jatuh dari langit!"

​Revan terdiam sejenak, wajahnya tampak ragu. "Iya... dia masih punya orang tua di kampung. Ada kakaknya juga di sana."

​"Lalu kenapa?" suara Adila merendah namun penuh penekanan. "Kenapa kamu tidak mengembalikan Meisya ke kampungnya saja? Biar dia dirawat oleh keluarganya sendiri. Di sana ada ibunya yang lebih paham soal kehamilan, ada saudaranya yang punya kewajiban lebih besar dari padamu. Kenapa harus di sini? Di rumah kita?"

​Revan membuang muka, tidak berani menatap mata tajam istrinya. "Dia tidak mau, Adila. Dia bilang... dia tidak mau jauh dari makam mendiang suaminya. Dia ingin anaknya nanti lahir di kota yang sama dengan tempat Ayahnya dimakamkan. Dia ingin sering-sering ziarah."

​Mendengar alasan itu, tawa Adila pecah. Namun itu bukan tawa bahagia, melainkan tawa penuh amarah yang meluap-luap. Ia melangkah mendekati Revan hingga jarak mereka hanya beberapa senti.

​"Hanya karena makam? Itu alasan paling tidak masuk akal yang pernah aku dengar seumur hidupku sebagai orang terpelajar," ucap Adila dengan suara bergetar karena emosi.

​"Adila, hargai perasaan orang yang sedang berduka—"

​"Kalau alasan dia hanya karena ingin dekat dengan makam suaminya, itu gampang, Revan," potong Adila dengan nada bicara yang sangat dingin dan datar. "Kalau dia tidak mau pindah ke kampung karena makam itu, solusi dariku cuma satu yaitu Gali kuburnya, ambil jenazahnya dan pindahkan ke kampungnya!"

​Revan terbelalak, wajahnya menunjukkan kengerian luar biasa. "Adila! Kamu bicara apa? Kamu sudah gila? Itu tidak manusiawi!"

​"Yang tidak manusiawi itu adalah membiarkan istrimu tersiksa di rumahnya sendiri karena kehadiran wanita lain yang memanipulasimu dengan air mata!"

teriak Adila tepat di depan wajah Revan. "Pindahkan makamnya, urus semua biayanya. Aku yang akan bayar orang untuk menggali dan mengurus administrasinya kalau kamu terlalu takut untuk melakukannya!"

​"Dia sedang hamil, Adila! Kamu seorang dokter, di mana nuranimu?"

​"Nuraniku sudah mati sejak kamu membawa ular itu masuk ke sini!" Adila menunjuk ke arah pintu. "Seorang dokter tahu kapan harus melakukan amputasi sebelum infeksi menyebar ke seluruh tubuh. Meisya adalah infeksi itu, Revan. Dan kamu... kamu adalah inang yang membiarkan infeksi itu hidup."

​Adila menarik napas pendek, mencoba mengatur detak jantungnya yang menggila. "Pilihannya cuma dua. Kamu pulangkan dia ke kampungnya beserta makam suaminya sekalian kalau perlu, atau aku yang akan memastikan dia keluar dari rumah ini dengan cara yang jauh lebih menyakitkan dari sekadar pindah kampung."

​Revan mundur selangkah, menatap Adila seolah-olah ia baru saja melihat sosok asing. Ketegasan Adila kali ini benar-benar tidak menyisakan ruang untuk negosiasi.

​"Aku memberimu waktu sampai besok pagi, Revan," ujar Adila sambil berbalik, mengambil pakaian ganti dari lemari. "Pikirkan baik-baik. Apakah makam seorang pria yang sudah mati lebih berharga daripada pernikahan kita yang masih hidup ini?"

​Adila masuk ke kamar mandi, membanting pintunya lagi, meninggalkan Revan yang berdiri mematung di tengah kamar dengan perasaan hancur dan bingung yang luar biasa. Di luar, di balik bayang-bayang koridor, Meisya ternyata berdiri diam, mendengarkan setiap teriakan yang keluar dari kamar itu dengan senyum kecil yang perlahan menghilang, berganti dengan kilat mata yang penuh dendam.

1
Heni Hendrayani
is the best adilla 👍
Heni Hendrayani
kalau jodoh meskipun beda negara pasti ketemu jiga 😄💪
Heni Hendrayani
lelaki payah 🤣sundel tuh orang
Heni Hendrayani
,mantaap 👍😍
Weni Kasandra
Cerita yg bagus
Kaifstoryy
nama suaminya ganti2 mulu🤭

terus dibilang kerangka. berarti meninggalnya udah bertahun kan? jadi Meisya hamil anak siapa? 🤭
Ida Sriwidodo
Lohh.. katanya Revan ngga tau status Dila sebagai putri bungsu keluarag Wijaya.. piye ki thor? 😭😭🤔🤔
Ida Sriwidodo
Ini aneh lagi..
Meisya pergi kan diusir sama Revan sendiri.. dibeliin tiket pulkam one way.. bukan Meisya yang mencampakkan Revan karena dah jatoh misqueen...🤔🤔🤔
Sarifah_Aini97
Sumpah, bau-bau ada rahasia atau konflik besar yang bakal meledak nih🙂‍↕️
Sarifah_Aini97
Aduh, Adila kenapa nih? Pasti abis lihat atau baca sesuatu di HP-nya sampai tangannya gemeteran gitu.
Ida Sriwidodo
Lhah.. di bab terdahulu katanya mau ambil obgyn karena Dila mo fokus sama kesehatan reproduksi wanita 🤔😬
Ida Sriwidodo
Sampai sini jadi pen komen.. Hadi suaminya Meisya di bab ini katanya dah meninggal bertahun lalu.. tapi koq Meisya nya hamilnya baru sekarang yaa..? 🤔
Wulan Azka: apa saya salah ingat ya, yang saya ingat nama suami di Meisya itu Bayu 🤔
total 2 replies
Yuli Yuliawati
suami nggak dan keluarga g d otak tinggalin aja
Yuli Yuliawati
isteri sah tersakiti
awas aja pelakor dan suami durjana nggak dapat balasan nya
Yuli Yuliawati
Tinggalin aja suami durjana mu
Mama lilik Lilik
nama suami meysa, dari Bayu, Hadi,Danang,orang meninggal bisa ganti nama sampai 3x🤣
Wulan Azka: nah kan barusan di bab sebelumnya saya ikut komen soal nama suami Mesya, seingat saya namanya Bayu, kenapa jadi si Hadi
total 2 replies
Bunda
awal yang menarik,ijin baca kak🙏
Nay Chan
sebagai wanita aq suka sikap Adila💪🤣 buang yg lama cari yg baru🤭
Eric ardy Yahya
the punishment has begun Tiara . waktunya mendapatkan siksaan sesuai Peringatan Adila
Eric ardy Yahya
enak rasanya Tiara ? makanya kamu jadi orang gak usah kayak MONYET yang suka mengumpat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!