Kirana cuma pengen kuliah tenang. Tapi dosen paling galak sekampus malah jadi orang yang bikin jantungnya berdebar tanpa alasan.
Status dosen dan mahasiswi jadi tembok pemisah. Masa lalu kelam Alden jadi ancaman yang siap menghancurkan semuanya.
Satu pertanyaan tersisa: berani nggak, Kirana, jatuh cinta pada orang yang paling dilarang buat dicintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon W_ Wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29: KIRANA DIPANGGIL KE RUANG KAPRODI
Pagi berikutnya, Kirana baru saja meletakkan tas di kursinya di kelas ketika ponselnya bergetar, menampilkan email resmi dari kantor kaprodi jurusan. Dia membuka pesan itu dengan tangan sedikit gemetar, membaca setiap kata dengan seksama.
"Kirana Ayu, diharap hadir ke ruang Kepala Program Studi hari ini pukul 10.00 untuk membahas hal penting terkait perkembangan akademik. Mohon konfirmasi kehadiran."
"Kir, kenapa mukamu pucet gitu?" tanya Tesa yang baru duduk di sebelahnya, memperhatikan raut wajah sahabatnya yang berubah drastis.
Kirana menunjukkan layar ponselnya, tangannya masih sedikit gemetar. "Aku dipanggil kaprodi, Tes. Pasti soal foto kemarin."
Tesa membaca pesan itu, wajahnya ikut berubah khawatir. "Gila, secepat ini? Kirain paling cuma jadi gosip biasa doang."
"Aku takut, Tes," Kirana berbisik, meremas ujung roknya. "Kalau ini sampe jadi masalah resmi, gimana nasib kuliahku? Gimana nasib Pak Alden?"
"Tenang dulu, Kir. Mungkin ini cuma klarifikasi biasa," Tesa mencoba menenangkan, meski nada suaranya sendiri terdengar tidak sepenuhnya yakin. "Kamu belum tentu salah kok, kalian kan cuma ngobrol biasa waktu itu."
Sepanjang pagi, Kirana tidak bisa fokus pada kelas yang sedang berlangsung, pikirannya terus melayang ke pertemuan yang akan dia hadapi beberapa jam lagi. Setiap kali dia mencoba mencatat sesuatu, tangannya berhenti di tengah jalan, kepalanya dipenuhi berbagai skenario buruk yang mungkin akan terjadi.
Tepat pukul sepuluh, Kirana berdiri di depan pintu ruang kaprodi, jantungnya berdebar kencang sebelum akhirnya mengetuk pintu itu dengan tangan yang sedikit gemetar.
"Masuk," terdengar suara dari dalam.
Kirana membuka pintu, mendapati Kepala Program Studi, seorang wanita paruh baya bernama Ibu Retno, duduk di belakang mejanya dengan ekspresi serius. Yang membuat jantung Kirana semakin berdebar adalah kehadiran Alden yang juga duduk di kursi tamu, wajahnya tegang namun berusaha terlihat tenang.
"Silakan duduk, Kirana," kata Ibu Retno, menunjuk kursi kosong di sebelah Alden.
Kirana duduk dengan hati hati, mencoba menjaga ekspresinya tetap tenang meski dalam hati dia merasa sangat gugup.
"Selamat pagi, Bu."
"Saya rasa kamu sudah tau kenapa saya panggil kamu ke sini," Ibu Retno memulai, nadanya profesional namun tidak terdengar menuduh secara langsung. "Ada foto yang beredar luas di media sosial mahasiswa, menunjukkan kamu dan Pak Alden dalam situasi yang dipertanyakan."
"Bu, itu cuma kesalahpahaman," Kirana buru buru menjelaskan, suaranya sedikit bergetar.
"Kami cuma lagi diskusi soal progress kelompok sebelum presentasi, Pak Alden yang jadi dosen pembimbing proyek kami."
Ibu Retno mengangguk, mencatat sesuatu di kertasnya. "Pak Alden sudah menjelaskan hal yang sama sebelum kamu datang. Tapi saya perlu dengar langsung dari kamu juga, untuk memastikan kejelasan situasi ini."
"Saya jamin, Bu, nggak ada hal yang tidak pantas terjadi di antara kami," Kirana melanjutkan, mencoba terdengar seyakin mungkin meski jantungnya masih berdebar kencang. "Pak Alden emang sering bantu kelompok kami, karena beliau pembimbingnya."
"Kirana benar," Alden ikut menambahkan, suaranya tenang meski Kirana bisa merasakan ketegangan yang tersembunyi di baliknya. "Sebagai dosen pembimbing, wajar saya sering berinteraksi dengan koordinator kelompok untuk memastikan progress berjalan sesuai target."
Ibu Retno menatap keduanya bergantian, ekspresinya sulit dibaca. "Saya percaya penjelasan kalian. Tapi saya juga perlu ingatkan, foto seperti ini bisa merusak reputasi, baik reputasi personal kalian maupun reputasi institusi kita."
"Kami mengerti, Bu," Kirana mengangguk, mencoba menahan air mata yang mulai menggenang karena tekanan situasi ini.
"Ke depannya," lanjut Ibu Retno, nadanya lebih tegas, "saya sarankan interaksi antara dosen dan mahasiswa dijaga tetap dalam konteks formal, terutama untuk hal hal yang bisa terlihat ambigu di mata publik seperti pertemuan berdua di tempat terbuka."
"Baik, Bu, kami akan lebih hati hati," Alden menjawab, suaranya penuh rasa tanggung jawab.
Ibu Retno menutup catatannya, menatap keduanya dengan ekspresi yang sedikit melunak. "Untuk sekarang, saya anggap masalah ini selesai. Tapi saya minta kalian berdua lebih bijaksana ke depannya, mengingat posisi kalian masing masing."
"Terima kasih atas pengertiannya, Bu," Kirana mengucapkan, merasa sedikit lega meski masih ada rasa tidak nyaman yang tersisa.
"Kirana, kamu boleh kembali ke kelas," kata Ibu Retno, mengalihkan pandangan ke arah Alden. "Pak Alden, saya masih perlu bicara sebentar soal hal lain."
Kirana berdiri, sedikit bingung harus meninggalkan Alden sendirian menghadapi kelanjutan pembicaraan itu, tapi dia tidak punya pilihan selain menuruti instruksi itu.
"Permisi, Bu," katanya, lalu keluar ruangan dengan langkah yang masih terasa berat.
Begitu keluar dari gedung administrasi, Kirana mendapati Tesa sudah menunggu di luar, wajahnya penuh kekhawatiran.
"Kir, gimana? Aman?" tanya Tesa begitu melihat Kirana mendekat.
"Untuk sekarang aman, tapi Ibu Retno masih ngomong sama Pak Alden," jawab Kirana, menghela napas panjang untuk melepaskan sebagian ketegangan yang masih dia rasakan.
"Terus tadi ngomongin apa aja?" Tesa bertanya lagi, penasaran.
Kirana menceritakan detail pertemuan itu, dari penjelasan yang mereka berikan sampai peringatan yang diberikan Ibu Retno tentang menjaga interaksi dalam konteks formal ke depannya.
"Untung nggak sampe jadi masalah besar," Tesa menghela napas lega mendengar cerita itu. "Tapi ini artinya kalian harus lebih hati hati banget ya sekarang."
"Iya, Tes. Aku juga mikirin itu," Kirana mengangguk, meski hatinya terasa berat memikirkan konsekuensi yang harus mereka hadapi. "Rasanya makin susah aja buat kita berdua deket, bahkan buat urusan proyek sekalipun."
Mereka duduk di bangku taman terdekat, menunggu kabar lebih lanjut sambil membicarakan langkah langkah yang harus mereka ambil untuk memastikan situasi ini tidak berulang. Tidak lama kemudian, ponsel Kirana bergetar, menampilkan pesan dari Alden.
"Kirana, saya sudah selesai bicara sama Ibu Retno. Semuanya terkendali, tapi kita perlu bicara soal langkah ke depan. Bisa ketemu sebentar sore ini, di tempat yang lebih aman dari perhatian orang lain?"
Kirana membaca pesan itu, merasakan campuran antara lega dan cemas. Dia membalas cepat. "Bisa, Pak. Di mana?"
"Kafe kecil di luar kampus, namanya Kopi Senja. Saya kirim lokasinya," balas Alden.
Kirana menyetujui pertemuan itu, meski dalam hati dia merasa situasi mereka semakin rumit setiap harinya. Foto yang tersebar kemarin sudah membuka mata banyak orang tentang kedekatan mereka, dan sekarang mereka harus lebih berhati hati dari sebelumnya, mencari cara untuk tetap berkomunikasi tanpa menimbulkan kecurigaan lebih lanjut.
"Kir, kamu yakin mau ketemu dia lagi sore ini? Nggak takut ketauan lagi?" tanya Tesa, khawatir dengan risiko yang mungkin timbul.
"Aku tau risikonya, Tes. Tapi kita emang perlu ngomongin ini baik baik, biar nggak ada kesalahpahaman lebih lanjut," jawab Kirana, mencoba terdengar yakin meski dalam hati masih ada kekhawatiran yang tersisa.
Sepanjang sisa hari itu, Kirana mencoba fokus kembali ke rutinitas kuliah, meski pikirannya terus melayang ke pertemuan sore nanti dan konsekuensi yang mungkin timbul dari kedekatan mereka yang kini sudah menjadi sorotan banyak orang di kampus. Dia menyadari, jalan yang mereka pilih untuk terus mempertahankan hubungan yang rumit ini akan semakin menantang seiring berjalannya waktu, tapi entah kenapa, dia tidak siap untuk melepaskan apa yang sudah mulai tumbuh begitu dalam di hatinya.