elama dua belas tahun, Nan Shin Sim mengabdikan hidupnya untuk keluarga.
Ia bekerja sebagai perawat, melayani ibu mertua, membesarkan dua anak, sementara suaminya, dr. Cheng An Kho, diam-diam membangun keluarga lain bersama wanita yang dicintainya.
Ketika perselingkuhan itu terbongkar, Nan Shin kehilangan segalanya.
Rumah.
Harta.
Bahkan hak asuh kedua putranya.
Semua orang mengira wanita itu telah benar-benar hancur.
Namun tepat ketika ia meninggalkan keluarga Kho dengan tangan kosong, sebuah telepon misterius dari Singapura mengubah jalan hidupnya.
Sejak hari itu, Nan Shin mulai menyembunyikan sesuatu.
Sesuatu yang cukup besar untuk membalikkan nasibnya.
Dan ketika mantan suami, ibu mertua, serta orang-orang yang pernah menginjaknya mulai menyadari ada yang tidak beres...
sudah terlambat.
Karena wanita yang mereka kenal...
bukan lagi Nan Shin Sim yang dulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5
Bab 5
Rumah Kontrakan Pertama
Peringatan Bu Ratna mengikuti Nan Shin sampai ke ruang ganti.
Belakangan ini hati-hati.
Saat membuka loker, Nan Shin melihat surat kontrak tahunannya terselip di bawah seragam cadangan. Sudut amplop itu sudah lecek karena berkali-kali dipindahkan. Pemandangan tersebut membawanya kembali pada hari pertama ia menerima surat serupa, sebelas tahun lalu.
Waktu itu, tangannya tidak gemetar karena takut.
Ia gemetar karena bahagia.
“Nan Shin Sim?” panggil petugas administrasi.
Nan Shin yang masih berusia dua puluh enam tahun segera berdiri. Seragam perawatnya baru, sepatunya belum bernoda, dan rambutnya diikat terlalu rapi karena ia takut terlihat tidak profesional.
Petugas itu menyerahkan map bening. “Kontrak satu tahun. Nanti dievaluasi sesuai kebutuhan rumah sakit.”
“Kalau evaluasinya bagus, kontraknya bisa diperpanjang, Pak?”
“Bisa. Yang penting disiplin dan ikuti penilaian unit.”
Nan Shin merapatkan map itu ke dada. “Saya akan bekerja sungguh-sungguh.”
Nan Shin membaca namanya dua kali sebelum menandatangani. Baginya, kata kontrak bukan ancaman. Itu adalah pintu masuk.
Di tikungan koridor, Kak Sri, perawat senior yang membimbing pegawai baru, sempat memeriksa kartu identitasnya. “Besok datang lima belas menit lebih awal. IGD tidak menunggu siapa pun.” Nan Shin mengangguk begitu cepat sampai Kak Sri tersenyum.
Ketika keluar dari ruang administrasi, Cheng An sudah menunggu di koridor dengan kartu identitas baru di dada. Ia juga baru bergabung dengan rumah sakit itu dan bekerja di unit bedah.
“Dapat?” tanyanya.
Nan Shin mengangkat map beningnya. “Dapat.”
Wajah Cheng An langsung berubah cerah. “Berarti malam ini kita rayakan.”
“Pakai apa? Uang kita tinggal sedikit.”
“Mi instan pakai dua telur.”
Nan Shin tertawa. “Itu namanya makan malam biasa.”
“Kalau telurnya dua, itu perayaan.”
Nan Shin mengangkat alis. “Kalau gaji pertama masuk, perayaannya apa?”
“Kita beli meja lipat.”
“Itu kebutuhan rumah.”
“Baik. Meja lipat dan es teh.”
“Es teh satu gelas dibagi dua?”
“Kalau kamu mau cepat punya rumah sendiri, iya.”
Nan Shin tertawa. “Kamu pelit sekali setelah menikah.”
“Aku sedang menjalankan rencana istriku.”
“Jangan menyalahkan aku kalau nanti bosan makan tempe.”
“Kalau makannya sama kamu, tempe juga cukup.”
Malam itu mereka pulang ke rumah kontrakan pertama mereka. Rumahnya hanya terdiri dari satu kamar, ruang depan sempit, dan dapur yang atap sengnya berbunyi keras setiap kali hujan turun. Cat dinding dekat jendela menggelembung karena lembap. Kamar mandi harus dikunci dengan kait kawat yang dipasang sendiri oleh Cheng An.
Ibu kos menyerahkan kunci sebulan sebelumnya sambil berpesan, “Kalau hujan besar, taruh ember di sudut dapur. Kadang bocor.”
Kunci itu kecil dan kasar. Gantungan plastiknya sudah retak, tetapi Nan Shin memegangnya seperti kunci rumah mewah.
Itu tempat pertama yang hanya mereka berdua miliki.
Mereka makan mi instan di lantai karena belum punya meja. Cheng An benar-benar menggoreng dua telur, lalu memberikan bagian kuning yang lebih besar kepada Nan Shin.
“Kamu butuh tenaga,” katanya. “Besok shift pagi, kan?”
“Kamu juga masuk pagi.”
“Aku lebih kuat.”
Nan Shin mencubit lengannya. Cheng An tertawa sampai hampir menumpahkan kuah.
Setelah makan, mereka membuka dua amplop kecil di atas lantai. Satu bertuliskan Sewa dan Tagihan. Satu lagi bertuliskan Rumah Sendiri.
Nan Shin memasukkan sebagian besar sisa uangnya ke amplop kedua.
“Jangan sebanyak itu,” kata Cheng An. “Kamu perlu uang pegangan.”
“Aku masih punya untuk ongkos.”
“Kalau ada kebutuhan mendadak?”
“Kita pakai punyamu.”
Cheng An menatap kedua amplop itu, lalu menambahkan beberapa lembar uang dari dompetnya. “Kalau begitu kita sama-sama nggak boleh boros.”
Mereka membuat aturan sederhana. Tidak membeli kopi di luar. Membawa bekal dari rumah. Naik angkutan umum jika jadwal memungkinkan. Setiap menerima tambahan uang jaga, setengahnya masuk ke amplop Rumah Sendiri.
“Kopi dari kantin juga nggak boleh?” Cheng An menunjuk daftar yang baru ditulis Nan Shin.
“Kalau kamu beli kopi, uangnya diambil dari jatahmu sendiri.”
“Kalau aku buatkan kopi di rumah?”
Nan Shin mendorong amplop Rumah Sendiri ke tengah lantai. “Itu baru suami hemat.”
Pada bulan pertama, pembayaran gaji Nan Shin terlambat lima hari karena berkas kontraknya belum selesai diproses. Cheng An menyerahkan hampir seluruh gajinya untuk sewa dan tagihan. Selama seminggu mereka makan nasi, tempe, dan sayur bening tanpa menganggapnya pengorbanan siapa pun.
Tidak ada konsultan keuangan. Tidak ada rekening khusus. Hanya dua amplop, satu buku tulis murah, dan keyakinan bahwa bekerja keras bersama pasti cukup.
Beberapa minggu kemudian, hujan besar turun saat Nan Shin pulang malam. Air merembes dari sudut dapur, tepat seperti peringatan ibu kos. Cheng An sedang berdiri di atas kursi, mencoba menahan tetesan dengan kain plastik.
“Turun! Nanti jatuh,” seru Nan Shin.
“Ambil ember dulu.”
Nan Shin meletakkan tas, mengambil ember, lalu menggesernya ke bawah tetesan. Air jatuh dengan bunyi teratur.
Tik. Tik. Tik.
Mereka berdiri di dapur sempit dengan pakaian lembap dan rambut berantakan. Cheng An turun dari kursi, memandang atap, lalu memandang istrinya.
“Maaf,” katanya. “Aku belum bisa kasih rumah yang lebih baik.”
Nan Shin mengulurkan tangan dan membersihkan debu dari pipinya. “Ini juga rumah.”
“Rumah bocor.”
“Tetap rumah.”
Cheng An menggenggam tangannya. “Suatu hari kita punya rumah sendiri. Nggak ada ember di dapur.”
Nan Shin mengangguk. Saat itu ia percaya tanpa syarat.
“Kalau rumahnya sudah ada, kita tetap makan mi di lantai sekali-sekali,” kata Nan Shin.
“Kenapa?”
“Supaya ingat kita mulai dari mana.”
Cheng An meremas jemarinya. “Dan supaya nggak ada yang merasa rumah itu miliknya sendiri.”
“Rumah kita,” ulang Nan Shin.
Tahun-tahun berikutnya, mereka benar-benar menabung. Nan Shin mengambil lebih banyak jaga malam. Cheng An menerima jadwal apa pun yang membantunya mendapatkan pengalaman. Kalau satu orang pulang terlambat, yang lain menyisakan makanan dan pesan pendek di meja.
Makan dulu. Jangan lupa minum.
Aku pulang pagi. Kunci pintu.
Semangat. Sebentar lagi kita bisa bayar uang muka.
Mereka jarang bertemu, tetapi pada masa itu kesibukan masih terasa seperti jalan yang ditempuh menuju tujuan yang sama.
Kenangan itu berhenti ketika pintu loker dibanting di sebelah Nan Shin.
Ia kembali berada di ruang ganti RSUD Serpong Utama, memegang surat kontrak tahun kedua belasnya. Amplop Rumah Sendiri sudah lama tidak ada. Rumah yang mereka impikan sudah berdiri di Cluster Verona. Atapnya tidak bocor. Dapurnya luas.
Hanya saja mereka tidak lagi berjalan ke arah yang sama.
Malam itu Nan Shin pulang dan menyiapkan makan untuk keluarga. Ia memasak sup ayam, menata lima mangkuk, lalu menunggu Cheng An seperti yang pernah dilakukannya di rumah kontrakan.
Pukul tujuh lewat dua puluh, ponselnya berbunyi.
Pesan dari Cheng An hanya satu baris.
Maaf, aku nggak bisa pulang untuk makan malam.