NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Dosen Duda Kaku

Menikah Dengan Dosen Duda Kaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Dosen / Duda
Popularitas:8.4k
Nilai: 5
Nama Author: Fega Meilyana

"Saya tidak melihat."
"Ya liat yang bener dong!"
"Kamu terlalu kecil."
"Hah?!"
"Jadi kamu minta saya untuk tanggung jawab?"
"Iya."
"Baik. Buka baju kamu."
"Hah! Jangan ngomong sembarang ya!"
Gara-gara terciprat air lumpur, Azel nekat menghadang mobil seorang pria asing.
Siapa sangka pria itu adalah dosen yang paling ditakuti di kampusnya. Belum selesai rasa kesalnya, ternyata dosen kaku itu adalah ayah dari Arjun, anak kecil yang begitu dekat dengannya.
Di balik sikap dosennya, Ibrahim Rabbani Mahendra, ia menyimpan luka di masa lalu.
Pertemuan demi pertemuan membuat hidup mereka perlahan berubah. Saat seorang anak kecil menjadi penghubung, takdir membawa Azel pada pilihan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Mampukah Azel menerima takdirnya?
Sementara Ibra mulai menyadari bahwa gadis bernama Arzelia Nayesha Mahina Ghazi bukanlah orang asing dalam hidupnya. Sebuah nama keluarga membawa kembali kenangan masa kecil yang telah lama ia tinggali.
Spin Off novel 'Dari Ribut Jadi Jodoh'

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

"Karena Azel yang selama ini sering bermain dengan Arjun di daycare adalah putri saya."

Deg!

Mata Ibra membulat.

"Azel... putri Uma?"

"Iya." Uma Azzura mengangguk sambil tersenyum.

"Kamu masih ingat, kan? Dulu kamu yang memberi nama panggilannya.... Acel."

Ucapan itu membuat Ibra membeku.

Acel... Nama kecil itu... Sudah sangat lama tidak ia dengar.

Nama itu hanya pernah ia berikan kepada seorang bayi perempuan yang sangat menggemaskan. Dalam sekejap, pikirannya melayang jauh ke belasan tahun silam.

Hari itu ndalem begitu ramai. Semua santri ingin melihat bayi perempuan yang baru saja lahir.

Putri bungsu Kiai Abidzar dan Uma Azzura.

Arshaf dan Aryan, yang saat itu masih anak-anak, bahkan tak henti-hentinya berebut ingin menggendong adik kecil mereka.

"Giliran aku!"

"Nggak! Tadi kamu udah lama!"

"Arshaf curang!"

"Cih, Aryan aja yang pelan."

Suasana menjadi riuh. Tak lama kemudian tangisan bayi mungil itu pecah.

"Eh... nangis." Aryan langsung panik. "Kak... gimana nih?"

Arshaf ikut kebingungan. "Aduh... Uma nanti marah."

Ibra yang sejak tadi duduk memperhatikan hanya tersenyum kecil. "Kasih sini."

Dengan hati-hati ia mengambil bayi mungil itu. Tubuh kecil itu langsung berada dalam dekapannya.

"Assalamu'alaikum, cantik..."nucapnya lirih.

Ajaibnya... Tangisan bayi itu perlahan mereda. Ia berhenti menangis. Sepasang mata bulatnya justru menatap wajah Ibra lekat-lekat.

"Lho... Kok diem?" Aryan sampai melongo. "Tadi nangis terus."

Arshaf ikut menggaruk kepalanya. "Ih... sama Ibra malah anteng."

Ibra hanya tersenyum kecil sambil mengayun pelan bayi itu. "Dia cuma mau digendong baik-baik."

Sejak hari itu, setiap kali datang ke ndalem, Ibra selalu mencari bayi kecil itu lebih dulu.

"Uma... Adiknya mana?"

Kalau sedang tidur, ia rela menunggu sampai bangun. Kalau sedang digendong orang lain, ia selalu meminta izin untuk menggendongnya sebentar.

Bahkan Bu Zulfa sampai menggeleng geli melihat tingkah putranya. "Kamu ini. Kalau ke ndalem yang dicari malah bayinya."

Ibra hanya tersenyum malu. "Soalnya lucu, Mah."

Pipi bayi itu begitu chubby. Matanya bulat. Kalau tersenyum, kedua pipinya semakin menggemaskan.

Kadang saat melihat Ibra datang, bayi itu akan menggerak-gerakkan tangan kecilnya sambil tertawa. Hal sederhana yang selalu berhasil membuat hati Ibra ikut bahagia.

Suatu hari, ketika bayi itu mulai belajar mengucapkan kata-kata pertamanya, Ibra tersenyum sambil berkata,

"Nama kamu emang Azel. Tapi aku panggil Acel aja. Lebih lucu dan gemes kaya kamu."

Sejak saat itu, Arshaf dan Aryan ikut-ikutan memanggil adik mereka dengan sebutan Acel. Nama panggilan itu hanya dikenal oleh orang-orang terdekat di ndalem.

Waktu terus berlalu. Acel tumbuh menjadi balita yang ceria. Usianya menginjak tiga tahun. Ia sudah pandai berlari kecil mengelilingi halaman ndalem.

Kalau melihat Ibra datang, gadis kecil itu akan tertawa riang lalu mengulurkan kedua tangannya.

"Kak... Iba..."

Ia belum mampu mengucapkan nama Ibra dengan jelas. Namun suara cadelnya selalu berhasil membuat semua orang tertawa.

Ibra akan mengangkat tubuh mungil itu tinggi-tinggi hingga terdengar tawa renyahnya memenuhi halaman.

Sayangnya, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Ayah Ibra dipindah tugaskan ke Jakarta. Hari kepindahan itu menjadi hari terakhir ia melihat Acel kecil. Saat hendak berpamitan, gadis kecil berusia tiga tahun itu hanya berdiri di teras ndalem.

Dengan mata bulatnya, ia melambaikan tangan kecil. "Dadaa... Kak Iba..."

Ibra membalas lambaian itu sambil tersenyum. Ia tidak pernah menyangka, lambaian kecil itulah yang menjadi kenangan terakhir mereka.

Setelah itu, mehidupan Ibra berubah. Berbagai ujian datang silih berganti. Hingga kenangan tentang Acel perlahan terkubur oleh kerasnya hidup.

Lamunan Ibra buyar. Ia kembali menatap Uma Azzura. Lalu berganti menatap Arjun. Kemudian kembali lagi kepada Uma.

"Masya Allah..." gumamnya lirih.

"Ternyata Acel kecil itu sekarang sudah sebesar itu."

Uma Azzura tersenyum hangat. "Iya. Dan sekarang dia malah menjadi mahasiswamu."

Ibra hanya mampu mengangguk pelan. Dalam hati ia masih sulit mempercayainya. Gadis yang selalu ia ajak berdebat di kelas. Yang mampu mengembalikan tawa Arjun. Ternyata adalah Acel kecil yang dulu selalu ia gendong dan ia sayangi seperti adik kandungnya sendiri.

Terdengar sebuah salam dari arah ambang pintu. "Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumussalam."

Semua orang menoleh bersamaan. Arshaf baru saja pulang dari pesantren. Ia melangkah masuk sambil melepas peci yang dikenakannya. Namun langkahnya terhenti ketika melihat seorang laki-laki yang duduk bersama kedua orang tuanya.

Keningnya langsung berkerut. Tatapannya meneliti wajah pria itu beberapa detik.

Kiai Abidzar tersenyum melihat ekspresi putranya. "Nah, ini Arshaf. Masih ingat, kan?"

Ibra berdiri dari duduknya sambil tersenyum tipis. "Tentu masih ingat, Kiai."

Arshaf masih memicingkan mata, berusaha mengingat. Beberapa saat kemudian, matanya membulat.

"Kamu... Ibra?"

Ibra mengangguk pelan. "Iya."

"Masya Allah..." Arshaf langsung menghampiri lalu memeluk sahabat lamanya itu erat. "Apa kabar, Bra? Ke mana aja kamu selama ini?"

Ibra membalas pelukan itu sambil tersenyum kecil. "Alhamdulillah baik. Saya... baru berani kembali ke sini."

Arshaf menepuk bahunya pelan. "Yang penting sekarang kamu sudah pulang."

Saat itulah suara kecil terdengar dari samping. "Hai, Om."

Arshaf menoleh. Matanya langsung tertuju pada Arjun yang sedari tadi berdiri di samping ayahnya.

Seketika senyumnya melebar. "Lho... Arjun?"

Bocah itu mengangguk riang. "Iya."

Kali ini giliran Uma Azzura yang kebingungan. "Lho, kamu kok kenal Arjun, Shaf?"

Arshaf tersenyum sambil mengangguk. "Kenal, Uma. Waktu aku masih kuliah di Jakarta dulu, Bu Zulfa pernah mencari guru ngaji untuk cucunya. Aku yang diminta datang mengajar."

Ibra menoleh cukup terkejut. "Kamu?"

"Iya."

"Waktu itu aku baru tahu kalau cucu Bu Zulfa namanya Arjun. Selama kurang lebih sebulan aku mengajarinya mengaji."

Arshaf tersenyum kepada bocah itu. "Iya kan, Jun?"

"Iya, Om."

"Tapi..." Arshaf kembali menoleh kepada Ibra. "...selama aku mengajar, aku sama sekali tidak pernah bertemu kamu."

Ibra mengembuskan napas pelan. "Maaf waktu itu pekerjaanku memang sedang padat. Pagi berangkat, malam baru pulang. Jadi kita selalu terlewat."

Arshaf menggeleng sambil menepuk bahu sahabatnya. "Nggak usah minta maaf. Yang penting sekarang kita sudah bertemu lagi."

Suasana kembali menghangat. Kiai Abidzar memandang mereka dengan senyum penuh syukur.

"Masya Allah. Benar kata orang, malau Allah sudah berkehendak mempertemukan dua orang, sejauh apa pun mereka pernah terpisah, pasti akan dipertemukan kembali."

Ibra mengangguk pelan. "Iya, Kiai."

Arshaf lalu bertanya, "Jadi sekarang kamu tinggal di Bandung?"

"Iya."

Ibra menatap Arjun yang sedang memainkan mobil-mobilan kayu di ruang tamu. "Saya dan Arjun memutuskan menetap di Bandung."

Arshaf tersenyum lebar. "Alhamdulillah. Berarti kita nggak bakal kehilangan kabar lagi."

Ibra membalas senyumnya. "Insya Allah."

Dalam hati, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Ibra benar-benar merasa telah kembali ke rumah yang pernah menjadi bagian penting dalam hidupnya.

Mereka terus berbincang di ruang tamu ndalem dengan suasana yang semakin hangat. Arshaf yang sejak tadi duduk di samping Ibra akhirnya membuka percakapan.

"Jadi... Azel mahasiswa kamu?"

Ibra mengangguk pelan. "Iya. Saya juga baru tahu kalau Azel itu putri Kiai dan Uma... sekaligus adik kamu."

Arshaf terkekeh. "Pantesan."

"Kenapa?" tanya Ibra.

"Dia sering ngeluh kalau dosen perpajakannya killer."

Uma Azzura langsung tersenyum geli. "Jangan-jangan yang dimaksud selama ini kamu."

Ibra hanya tersenyum tipis tanpa membantah.

Tiba-tiba Arjun yang sedari tadi mendengarkan percakapan orang dewasa langsung mengangkat tangan kecilnya.

"Kak Azel di mana, Kiai?"

Kiai Abidzar tersenyum hangat. "Panggil Kakek saja, Nak."

Arjun langsung mengangguk semangat. "Iya, Kek. Kak Azel lagi ke mana?"

"Kak Azel dari pagi pergi survei ke desa bersama teman-teman kampusnya. Mungkin sebentar lagi juga pulang."

"Oh..." Wajah Arjun sedikit berubah kecewa.

Ia berharap bisa bertemu Kak Azel hari ini. Melihat raut wajah cucu kecil itu, Uma Azzura segera menghampirinya lalu mengusap lembut kepalanya.

"Arjun... Mau ikut Nenek lihat kolam ikan?"

Mata Arjun langsung berbinar. "Mau! Ada ikan besar?"

"Banyak. Ada ikan koi warna merah, putih, kuning, sama hitam."

"Wah!" Arjun langsung berdiri dengan penuh semangat. "Ayah, Arjun boleh?"

Ibra mengangguk sambil tersenyum tipis. "Boleh. Tapi jangan lari."

"Siap, Ayah!"

Arjun segera menggenggam tangan Uma Azzura. "Ayo, Nek!"

Uma Azzura tertawa kecil. "Iya, iya. Pelan-pelan."

Keduanya berjalan keluar menuju halaman belakang ndalem. Begitu Arjun menghilang dari ruang tamu, suasana mendadak menjadi lebih tenang.

Kiai Abidzar menatap Ibra dengan penuh perhatian. "Arjun anak yang baik."

Beliau tersenyum tipis. "Azel juga sering bercerita tentang dia."

Ibra mengangkat pandangannya. "Cerita apa, Kiai?"

"Azel bilang, di daycare ada seorang anak kecil yang selalu ingin dekat dengannya. Sampai kalau Azel pulang, anak itu sering menangis."

Ibra mengangguk pelan. "Iya, Kiai. Arjun memang sangat dekat dengan Azel. Entah kenapa, saya sendiri juga tidak mengerti."

Kiai Abidzar tersenyum bijak. "Anak kecil tidak pernah salah memilih tempat untuk merasa nyaman. Mereka belum mengenal kepentingan. Kalau mereka menyayangi seseorang, itu murni karena hati."

Kalimat itu membuat Ibra terdiam.

Lalu Kiai Abidzar kembali bertanya, "Oh iya, Bu Zulfa ke mana? Kenapa tidak kamu ajak sekalian ke sini?"

Seketika senyum di wajah Ibra memudar. Tatapannya turun menatap lantai.

"Mama sudah meninggal hampir satu tahun yang lalu."

"Innalillahi wa inna ilaihi raji'un." Ucapan itu hampir bersamaan keluar dari bibir Kiai Abidzar dan Arshaf.

Wajah mereka berubah sendu.

"Maaf, Ibra. Kami benar-benar tidak tahu."

Ibra menggeleng pelan. "Tidak apa-apa, Kiai. Memang saya yang menghilang terlalu lama."

Ia tersenyum hambar. "Sekarang saya hanya tinggal berdua dengan Arjun. Sebelum Mama meninggal beliau berpesan agar saya kembali ke Bandung. Kembali ke pesantren. Kembali mendekat kepada Allah. Dan kembali bersilaturahmi dengan Kiai serta keluarga."

Ibra menarik napas panjang. "Sebenarnya saya sudah lama ingin datang. Tapi saya tidak pernah punya keberanian."

Kiai Abidzar menghela napas pelan. "Kamu tidak perlu merasa malu. Setiap orang pasti pernah jauh. Yang terpenting adalah kemauan untuk kembali."

Ibra hanya mengangguk pelan.

Keheningan menyelimuti ruang tamu beberapa saat. Hingga Arshaf yang sedari tadi menatap Ibra akhirnya bertanya dengan hati-hati. "Maaf kalau pertanyaan ini terlalu pribadi.... Ibu Arjun ke mana?"

Ibra memejamkan mata sejenak.nLalu menjawab dengan suara pelan. "Kami sudah bercerai."

Ruangan kembali hening. Tak ada satu pun yang langsung menanggapi.bKini semuanya mulai memahami. Mengapa tatapan Ibra selalu terlihat lelah.

Mengapa Arjun berkali-kali mengatakan ingin memiliki seorang ibu. Mengapa bocah itu begitu cepat melekat kepada Azel. Dan mengapa Ibra datang ke pesantren dengan membawa begitu banyak keraguan.

Kiai Abidzar akhirnya menepuk pelan bahu mantan muridnya itu. "Takdir memang tidak selalu sesuai dengan harapan kita, Ibra. Tetapi jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah. Selama masih diberi kesempatan untuk hidup, selalu ada kesempatan untuk memperbaiki diri."

Mata Ibra mulai memerah. Ia mengangguk pelan. "Iya, Kiai. Insya Allah..." gumamnya lirih.

"Saya ingin memulai semuanya dari awal."

Di sudut ruangan, Uma Azzura diam-diam mengusap sudut matanya yang mulai basah.

Kini ia benar-benar mengerti... Mengapa setiap kali bertemu Azel, Arjun selalu memancarkan kebahagiaan yang berbeda.

Bocah itu tidak sedang mencari teman bermain. Ia sedang mencari kehangatan yang telah lama hilang dari hidupnya.

***

Sementara itu, di halaman belakang ndalem, Arjun masih berdiri di tepi kolam ikan koi bersama Uma Azzura. Matanya berbinar melihat ikan-ikan berwarna merah, putih, dan emas berenang ke sana kemari.

Namun sesekali bocah itu menoleh ke arah pintu belakang rumah.

"Kenapa Kak Azel lama ya, Nek?"

Uma Azzura tersenyum lembut. "Mungkin masih di jalan, Sayang. Kalau surveinya jauh, biasanya pulangnya juga agak sore."

"Oh..." Arjun mengangguk pelan meski raut wajahnya sedikit kecewa.

Tak lama kemudian ia kembali bertanya. "Besok boleh Arjun ke sini lagi?"

"Boleh banget."

"Horeee!"

Arjun melompat kecil kegirangan. "Besok kesini lagi ya, Ayah."

Ibra yang baru saja keluar ke halaman hanya tersenyum tipis. "Tapi, Jun..."

Belum sempat ia melanjutkan ucapannya, Uma Azzura lebih dulu menyela. "Enggak apa-apa, Ibra. Kalau memang Arjun ingin bermain ke sini, silakan saja. Rumah ini terbuka untuk kalian. Nanti Nenek masakin makanan yang enak buat Arjun."

Mata Arjun langsung berbinar. "Serius, Nek?"

"Iya."

"Nenek jago masak?"

Uma Azzura terkekeh pelan. "Hmm... nggak juga sih."

"Ayah Arjun jago masak!"

"Oh ya?" Uma Azzura menoleh kepada Ibra dengan wajah terkejut. "Hebat dong."

Arjun mengangguk penuh kebanggaan. "Iya! Ayah bisa masak spaghetti carbonara, nasi goreng, ayam, sop... banyak! Kalau Ayah masak, enak semua."

Uma Azzura tersenyum hangat. "Masya Allah. Berarti Ayahnya Arjun memang luar biasa."

Ibra menggeleng pelan. "Biasa saja, Uma. Saya belajar sendiri. Soalnya..." Ia menatap Arjun sekilas. "...kalau bukan saya yang memasak, siapa lagi?"

Kalimat sederhana itu membuat Uma Azzura terdiam. Ada rasa haru yang menyelinap di dadanya.

Laki-laki itu... Benar-benar berusaha menjalankan dua peran sekaligus. Sebagai ayah..Dan sebagai ibu.

Arjun tiba-tiba menggenggam tangan ayahnya. "Makanya kalau nanti kita kesini lagi, Ayah masakin buat Kak Azel juga ya."

Deg!

Ibra langsung berdeham pelan. "Arjun."

"Iya?"

"Kita sudah sepakat tidak boleh bicara seperti itu lagi."

"Loh, Arjun cuma mau berbagi makanan. Boleh kan, Nek?"

Uma Azzura menahan senyumnya. "Tentu boleh. Berbagi makanan itu perbuatan yang baik. Tapi jangan memaksa orang lain ya."

"Iyaaa..." Arjun mengangguk patuh. "Yang penting nanti kalau Kak Azel datang, Arjun mau kasih makan ikan sama Kak Azel."

Uma Azzura mengusap kepala bocah itu penuh kasih. "Insya Allah. Kalau Allah mengizinkan, nanti kalian pasti bertemu lagi."

Tanpa disadari, Ibra menatap langit senja yang mulai menguning. Entah mengapa, setiap kali nama Azel disebut. Hatinya selalu terusik. Dan ia sendiri belum mampu menjelaskan alasannya.

***

Hari mulai beranjak sore. Langit Bandung dihiasi semburat jingga yang hangat.

Ibra menoleh kepada Arjun yang sejak tadi masih berdiri di dekat kolam bersama Uma Azzura.

"Arjun."

Bocah itu langsung menoleh. "Iya, Ayah?"

"Kita pamit sekarang."

Seketika wajah Arjun berubah murung. "Tapi, Arjun belum ketemu Kak Azel."

Ibra berjongkok hingga sejajar dengan putranya. "Arjun, lain waktu masih bisa bertemu."

"Tapi..."

Belum sempat Arjun melanjutkan ucapannya, Uma Azzura ikut berjongkok di hadapan bocah itu.

"Anak saleh."

Arjun menoleh. "Iya, Nek?"

"Besok kan masih hari libur."

"Iya."

"Kalau Ayah mengizinkan, besok Arjun boleh main lagi ke sini."

Mata Arjun langsung membulat. "Boleh memangnya?"

Uma Azzura tersenyum hangat. "Sangat boleh. Asal izin sama Ayah dulu."

"Horeee!" Arjun melompat kecil sambil bertepuk tangan.

"Besok Arjun main lagi!"

Uma Azzura terkekeh geli melihat tingkah bocah itu. "Yuk. Nenek antar sampai depan."

"Iya!" Arjun langsung menggenggam tangan Uma Azzura. Keduanya berjalan menuju halaman depan tempat mobil Ibra terparkir.

Sementara itu, Kiai Abidzar menepuk pelan bahu Ibra. "Sering-seringlah datang ke sini, Ibra."

Ibra tersenyum tipis. "Insya Allah, Kiai. Terima kasih karena masih menerima saya."

Kiai Abidzar menggeleng pelan. "Rumah ini tidak pernah menutup pintu untukmu. Kamu tetap keluarga kami."

Ucapan itu membuat dada Ibra terasa hangat. Sudah bertahun-tahun ia memendam rasa bersalah. Namun hari ini semuanya seakan disambut kembali tanpa sedikit pun diungkit.

Baru saja Ibra hendak membuka pintu mobil. Suara mesin mobil lain terdengar memasuki halaman ndalem. Sebuah mobil berhenti tak jauh dari mereka. Kemudian disusul satu mobil lagi di belakangnya.

"Itu kayaknya teman-teman Kak Azel pulang survei," ujar Uma Azzura.

Pintu mobil depan terbuka. Azel turun lebih dulu sambil membawa ransel.

Di belakangnya menyusul Fariz. Sekar, Bella, dan Ihsan juga ikut keluar dari mobil. Sementara beberapa anggota BEM lainnya yang berbeda mobil sudah pulang.

"Nah..." Uma Azzura tersenyum. "Itu Kak Azel."

"Kak Azeeel!"

Arjun langsung melepaskan genggaman tangan Uma Azzura lalu berlari sekencang kaki mungilnya menghampiri Azel.

Azel yang baru saja menutup pintu mobil langsung terkesiap. "Eh? Arjun?"

Bocah itu langsung memeluk pinggang Azel erat-erat. "Kak Azel! Aku habis main dari rumah Kakak!"

Azel masih tampak bingung. "Hah? Ke rumah Kakak?"

"Iya! Main sama Kakek sama Nenek."

Azel mengusap pelan kepala Arjun sambil tersenyum. "Masya Allah. Kok bisa?"

Baru saat itulah Azel mengangkat wajahnya. Tatapannya bergerak ke depan.

Dan... Deg!

1
Aidil Kenzie Zie
hm hm si Kutub Utara mulai mencair 🤣🤣🤣🤣🤣
Syti Sarah
cie cie yg mulai pdkt nih,kyak nya gak lma lgi nih.cahayo pak dosen,kejar trus smpai dpat 🤭🤭
Fegajon: Besok lebih gong lagi 😋
total 1 replies
Anak manis
aku prnh kya Azel, emang gak enak bgt klo bocor tuh. Rsanya malu bgt🥲
cutegirl
ibra mulai terang-terangan🤣
syora
ya allah semoga slain takdir sbgai penentu mohon bersamai dan ridho jln mnuju halal buat mereka
biarkan apa yg oma arsyila ucapkan mnjadi kenyataan amiin
jjr slalu ada /Sob/kadang luka yg berujung trauma blm tentu bisa stiap org hadapi apalagi smpai berujung ke hal yg merugikan dan negatif
Syti Sarah
Ibra mmang laki laki yg baik .klau mmang brjodoh,smoga Allah mudhkn sgla jlan nya .
syora
andai iya utk kli ini biarkan hati klian menuntun bertemu,dgn melalui takdir dan ridhoNzya
amiiiin
Syti Sarah
haaa kyak nya mreka ber2 blum mnydari prasaan nya masing2 deh.kok jdi aku yg snyum2 sndiri ya PGI ini 😅😅😅
kembangperawan
zel itu udah kode loh🤣
Naya En-lish
/Heart//Heart//Heart/
Syti Sarah
ayoo mai jawab ape zel,yg sprti bang iba kaaah 🤭kok jdi aku yg deg degan ya,huuuh 😅😅
Ayu Oktaviana
aduh abang ibra mulai pdkt ne.. trs semangat bang😍😍
Fegajon: yuhuuu😋
total 1 replies
Nifatul Masruro Hikari Masaru
Cie cie cie yang lagi pdkt
anakkeren
ibra mulai maju🤣
syora
ibra jgn menghindar ckp jlni takdir
Syti Sarah
smoga di prmudah sgla nya,Daan klau mmang brjodoh smoga Allah mudhkn smpai halal.
Aidil Kenzie Zie
Ibra langsung deg degan di tantang langsung kerumah sama Opa kalo ada niat baik🥰🥰🥰🥰
Syti Sarah
semoga smua di prmudah oleh Allah,kok jdi Mellow ya stiap BCA crita Arjun ini 🥺
Syti Sarah: iya btul bnget Thor .suka bnget sama crita Thor ,smoga azel bisa mnerima prmintaaan Arjun dgn ikhlas .amiiiin
total 2 replies
syora
mkasih thor slalu mnyajikan crita yg keseimbangan antra dunia dan akhirat brjln beriringan
bnyak hikmah dlm stiap critamu
Fegajon: Sama-sama Kak. Dukungan kamu juga membuat aku mau terus nulis🙏
total 1 replies
syora
ya allah thor kyknya kbnyakan bawang bombay ceritanya
sejak kemunculan arjun bawaan stiap bc pasti sedih,menangis
ya allah
syora: wah hbr dong laper aja bs ngabisin karya yg bagus
andai puasa pasti double tuh bagusnya hehee
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!