NovelToon NovelToon
Sistem Bakat: Dari Pengangguran Menjadi Raja Bisnis

Sistem Bakat: Dari Pengangguran Menjadi Raja Bisnis

Status: tamat
Genre:System / Balas dendam. / Perubahan Hidup / Tamat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Hadid

"Raka Pradana, pengangguran dengan uang pas-pasan, tiba-tiba mendapatkan Sistem Arsitek Talenta—kemampuan melihat potensi tersembunyi yang dibuang perusahaan besar.

Syaratnya: dirikan perusahaan legal, bayar karyawan layak, ubah bakat menjadi keuntungan. Dari pabrik kasur kecil di Cikarang, ia membangun PT Arunika Karya Nusantara menjadi jaringan bisnis raksasa.
Konglomerat lama panik dan melancarkan fitnah, perang harga, hingga sabotase ekspor. Namun setiap serangan justru membuka kekuatan baru. Ketika Arunika ekspansi ke Kuala Lumpur, musuh menawarkan harga yang bisa membuatnya kaya seumur hidup.

Dua pilihan: menjual semua orang yang percaya padanya, atau gunakan bakat yang dulu diremehkan untuk menumbangkan imperium. Kali ini, sistem tak akan memilihkan jawabannya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 4

Suara gerinda memecah pagi di Pabrik Cikarang Selatan.

Raka belum tidur lebih dari dua jam ketika percikan api pertama menyembur dari dekat rangka mesin jahit industri. Enam pekerja berdiri membentuk barikade di depannya. Di baris terdepan, pria tua yang dilihat Raka semalam memegang map lusuh seperti perisai.

"Matikan alatnya!" bentaknya.

Seorang pria berkemeja batik, wakil pemilik lama, melangkah maju. "Pak Hendra, jangan menghambat pekerjaan resmi. Semua aset di ruangan ini sudah masuk daftar penjualan."

"Daftar buatan siapa?" Hendra Wijaya membuka map dan menarik dua lembar fotokopi. "Nomor seri mesin quilting itu dan mesin pemotong busa masih tercatat dalam perjanjian pemasok. Pelunasannya belum selesai."

Mandor pembongkar mengangkat tangan. Operator gerinda mematikan alat.

Keheningan yang tersisa terasa lebih tajam daripada suara potong tadi.

Raka, Bima, dan Arif berdiri di dekat pintu produksi. Mereka sudah masuk setelah Arif menghubungi wakil pemilik gedung. Namun tidak seorang pun di dalam ruangan itu menganggap tiga pria dengan pakaian kusut tersebut sebagai penyelamat.

Pria batik menunjuk Raka. "Ini calon pembelinya? Kalau mau ambil, bayar pagi ini. Setelah itu urusan mesin dengan pemasok bukan tanggung jawab kami."

Bima langsung menggeleng.

Raka melihat deretan mesin, meja potong, kompresor, dan rak bahan. Sebagian berdebu, sebagian masih memiliki bekas penggunaan baru. Jika ia menunggu terlalu lama, semuanya akan dibawa pergi atau menjadi rebutan kreditur.

"Berapa untuk paket aset yang tidak disengketakan?" tanya Raka.

Pria itu menyebut angka.

Angka tersebut hampir menghabiskan seluruh fasilitas dana awal yang bisa diakses Arunika.

Panel SAT muncul.

[Transaksi belum memenuhi verifikasi kepemilikan.]

[Pembayaran tidak tersedia.]

Raka tetap mengeluarkan ponsel. "Kalau saya bayar tanda jadi—"

"Jangan."

Suara Nadia terdengar dari speaker. Raka meneleponnya sejak lima menit lalu.

"Bu Nadia, kalau alat ini keluar—"

"Kalau Anda membayar barang milik orang lain, alatnya tetap bisa keluar dan uang Anda ikut hilang. Foto setiap pelat nomor. Minta daftar jaminan, bukti pembayaran, dasar kuasa penjual, dan rancangan sewa gedung. Jangan percaya istilah 'paket bersih' tanpa lampiran."

Pria batik mendekati ponsel. "Pengacara siapa itu?"

"Pengacara perusahaan yang tidak mau membeli masalah Anda," jawab Raka.

Mandor pembongkar berdeham. "Kami juga perlu kepastian. Surat kerja kami bilang semua mesin boleh dipindahkan. Kalau ada pemasok yang masih punya hak, kami tidak mau dituduh mengambil barang sengketa."

Tekanan di wajah wakil pemilik lama berubah. Tadi ia hanya menghadapi pekerja yang tidak punya uang. Sekarang pembeli dan pembongkar sama-sama meminta bukti.

"Dokumennya ada di kantor," katanya.

"Bagus," kata Bima. "Kita tunggu."

Arif mengangkat map transparan yang dibawanya. "Sambil menunggu, saya punya salinan data yang bisa diakses dari pengelola kawasan. Luas gedungnya cocok. Nama pihak yang memberi perintah pembongkaran juga cocok. Tapi daftar mesin tidak sama. Ada empat nomor seri yang tidak muncul dalam lampiran aset."

Hendra menoleh kepadanya. "Empat?"

"Dua yang Bapak sebut. Dua lagi saya belum tahu statusnya."

Mandor pembongkar mengambil daftar Arif dan membandingkannya dengan surat kerjanya. Setelah dua menit, ia memanggil seluruh pekerjanya mundur.

"Kami tunda pemotongan sampai pemilik menjelaskan nomor-nomor ini."

Percikan api padam sepenuhnya.

Enam pekerja pabrik saling memandang. Untuk pertama kalinya pagi itu, bahu mereka turun sedikit.

Raka tidak merayakan. Menghentikan mesin dipotong bukan berarti ia sudah memiliki pabrik.

"Pak Hendra," katanya, "saya perlu bicara dengan semua pekerja. Terpisah dari pihak penjual."

Mereka memakai ruang istirahat yang kipasnya sudah mati. Bima berbicara dengan tiga orang, Raka dengan dua, sementara Arif duduk bersama Hendra.

Pertanyaan mereka sama.

Apa yang sebenarnya diinginkan para pekerja?

Jawabannya intinya jelas. Mereka ingin pekerjaan baru. Mereka juga ingin tahu bagaimana mengejar gaji lama yang tertunggak. Tidak seorang pun meminta Raka membayar seluruh utang pemilik lama dari kantong perusahaan baru.

"Kami tidak bodoh, Pak," kata salah satu operator jahit. "Kalau Bapak bilang semua tunggakan jadi tanggung jawab perusahaan baru, kami justru takut. Berarti Bapak belum hitung apa-apa."

Bima melirik Raka. Kalimat itu menyelamatkan mereka dari janji bodoh yang hampir saja keluar karena emosi.

Hendra meletakkan enam salinan slip gaji di meja. "Kami cuma tidak mau pemilik lama hilang, lalu dokumennya ikut hilang."

"Bu Nadia bisa membantu memisahkan bukti tuntutan lama dari kontrak kerja baru," kata Raka. "Tapi saya tidak akan menyebut utang itu milik Arunika."

"Dan mesin?" tanya Hendra.

"Yang kepemilikannya jelas akan kami beli atau gunakan sesuai kontrak. Yang bermasalah tidak disentuh. Gedungnya kami sewa, bukan beli."

Hendra mengamati wajahnya. "Jadi Bapak mau pabrik tanpa menanggung masa lalunya."

"Saya mau menyelamatkan bagian yang masih bisa bekerja tanpa berbohong tentang bagian yang bukan tanggung jawab saya."

Menjelang pukul sepuluh, wakil pemilik lama kembali membawa dokumen. Dua mesin memang masih terkait hak pemasok. Dua nomor lain ternyata milik penyewa lama dan sudah seharusnya dikeluarkan dari paket.

Mandor pembongkar mencoret empat item dari surat kerjanya.

Nilai paket aset turun.

Raka mengubah pendekatan. Ia tidak membeli semua barang. Arunika hanya menyewa gedung, membeli peralatan yang kepemilikannya bersih, dan menegosiasikan hak penggunaan sementara atas beberapa fasilitas yang menempel pada bangunan.

Nadia mengirim rancangan dari Jakarta. Bima membacakan tiap batas keras: tidak ada pengambilalihan utang lama yang tidak tercantum, tidak ada hak atas mesin sengketa, dan penyerahan gedung harus disertai daftar kondisi.

Hendra membaca bagian pekerja.

"Tidak ada kalimat soal membantu dokumen tunggakan," katanya.

Wakil pemilik lama mendengus. "Itu bukan urusan penyewa baru."

"Benar," kata Raka. "Karena itu kewajibannya bukan membayar. Kewajibannya mempertahankan salinan dokumen yang sudah ada dan tidak menghalangi pekerja menggunakan jalur yang sah. Tulis itu sebagai komitmen terpisah."

Pria batik menolak selama dua puluh menit.

Mandor pembongkar mulai menghitung biaya menunggu. Pemilik gedung menelepon dua kali. Setiap menit membuat posisi agen itu semakin lemah.

Akhirnya ia menandatangani.

Raka membubuhkan namanya pada Kontrak Sewa Pabrik Cikarang. Belum final sepenuhnya, tetapi cukup sebagai perjanjian awal yang mengunci bangunan dan menunda pengosongan aset sampai verifikasi selesai.

Panel SAT menyala.

[Aset operasional pertama terdaftar.]

[Pembayaran hanya dibuka untuk item yang kepemilikannya telah diverifikasi.]

[Peringatan: mesin bermasalah tidak boleh dioperasikan.]

Truk pembongkar keluar hanya membawa besi bekas yang tidak disengketakan. Mesin utama tetap berdiri.

Pria batik memasukkan dokumennya dengan kasar ke dalam tas. Ia datang untuk menjual satu pabrik sebagai paket murah. Ia pulang setelah kehilangan empat mesin dari daftar dan kontrol atas gedung.

Raka berdiri di tengah lantai produksi yang masih berdebu.

Semalam ia tidak punya produk.

Sekarang ia memiliki pintu menuju sebuah pabrik.

Belum selesai.

Enam pekerja belum menjadi karyawannya. Mesin belum boleh dinyalakan. Dan uang yang tersisa harus menanggung sewa, bahan, serta gaji sebelum satu pesanan pun masuk.

Tepat tengah hari, Hendra menutup gerbang besi dengan gembok baru. Ia membawa enam map slip gaji ke ruang kantor kecil, lalu menyusunnya di depan Raka.

"Pabriknya sudah tidak dipotong," katanya. "Sekarang pertanyaan yang lebih sulit."

Hendra mendorong enam map itu ke tengah meja.

"Kontrak baru Bapak berani membayar berapa?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!