Bagi dunia, Hades Sterling adalah pengusaha kejam yang tak tersentuh. Namun bagi Persephone Sinclair, dia adalah suami posesif yang memanggilnya "Ma chérie". Percy suka petualangan dan kegilaan keliling dunia, sementara Hades suka membiarkannya bebas, dalam pengawasan ratusan pengawal bayangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon you see me, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29
Empat tahun berlalu tanpa ampun di dalam benteng mansion Sterling. Di bawah pengawasan mutlak Hades, Zeus tumbuh menjadi bocah empat tahun dengan manik mata kelabu tajam yang mewarisi sepenuhnya karisma sang ayah, namun dengan sejumput keusilan yang hanya bisa lahir dari darah Percy.
Pagi itu, udara Manhattan terasa cerah. Hades baru saja bertolak ke Zurich, Swiss, untuk menghadiri pertemuan darurat para dewan direksi global, sebuah perjalanan bisnis luar negeri yang dipastikan akan menyita waktu setidaknya tiga hari penuh.
Bagi dunia, kepergian Hades adalah sinyal bahwa imperium Sterling kini dipimpin oleh tangan-tangan wakil kepercayaan. Namun bagi Percy, kepergian sang suami adalah lonceng kebebasan yang sudah lama ia nantikan.
Jiwa "cegil" (cewek gila) sisi liar, impulsif, dan haus adrenalin yang sempat terkurung rapat di balik statusnya sebagai ratu Sterling, mendadak meronta-ronta minta dilepaskan. Dua tahun masa koma, dua tahun penjagaan ketat, dan empat tahun menjadi ibu rumah tangga teladan di balik dinding tinggi mansion telah membuat urat sabarnya menipis. Ia rindu sensasi travelling spontan tanpa jadwal pengawalan, rindu sensasi shopping brutal tanpa memikirkan izin keamanan dari sang suami posesif.
Percy melangkah cepat ke ruang tengah, manik mata ambernya berbinar penuh rencana. Ia mendapati Zeus kecil sedang sibuk membongkar mainan blok kayunya di atas karpet beludru.
Percy berlutut di hadapan putranya, menangkup kedua pipi mungil bocah itu dengan senyuman paling misterius.
"Hei, jagoan kecil Mommy," bisik Percy penuh antusias. "Bagaimana kalau kita membuat Daddy marah besar sekembalinya dari Eropa nanti?"
Zeus mendongak, manik mata kelabunya berkedip polos, lalu bibirnya tersenyum miring, sebuah replika mini dari seringai Hades. "Ikut Mommy?" tanya bocah empat tahun itu tanpa ragu.
"Tentu saja," jawab Percy mantap. "Kau adalah kartu as Mommy."
Tanpa buang waktu, Percy bangkit dan menyambar ponsel mewahnya dari atas meja. Ia membuka daftar kontak, mencari satu nama yang paling tahu cara merusak ketenangan kota Manhattan dalam waktu kurang dari satu jam Tyche Vance.
Prrrt... Prrrt...
Di ujung sana, panggilan terhubung dalam hitungan detik.
"Halo, darling," suara Tyche terdengar langsung, disusul oleh suara dentingan mesin jahit dan musik klasik dari butiknya. "Kulihat Hades baru saja lepas landas ke Swiss. Jangan katakan padaku kalau..."
"Kemasi barang-barangmu, Tyche," potong Percy cepat, suaranya bergetar karena adrenalin yang mendesak. "Koper kita, paspor kita, dan kartu kredit hitam milik suamiku. Kita berangkat ke Paris sekarang. Jangan tanyakan alasannya, temui aku di landasan helikopter pribadi dalam waktu satu jam."
Di seberang sambungan, keheningan melanda sesaat sebelum tawa lepas yang penuh nostalgia dan kenekatan meledak dari bibir Tyche Vance.
"Aku tidak percaya kau mengajakku gila lagi, Percy," seru Tyche penuh semangat. "Kirim koordinatnya. Ratu mode dan Ratu Sterling akan kembali mengguncang dunia!"
Satu jam kemudian, deru baling-baling helikopter pribadi berlogo lambang Sterling memecah langit pagi Manhattan. Di dalam kabin mewah yang dipenuhi jok kulit hitam mengilap, Percy duduk menyilangkan kakinya dengan santai, mengenakan kacamata hitam desainer dan mantel kasmir putih. Di sampingnya, Zeus kecil mengenakan jaket kulit miniatur yang membuatnya tampak seperti bos kecil, sibuk menatap tombol-tombol instrumen kokpit dengan mata berbinar penasaran.
Pintu kabin bergeser terbuka, menampilkan sosok Tyche Vance yang melangkah masuk dengan menyeret dua koper haute couture berukuran besar, mengenakan setelan celana panjang merah menyala dan topi lebar yang memancarkan aura dominasi mutlak.
"Kurasa aku sudah gila karena menuruti panggilan daruratmu, Ratu Sterling," sapa Tyche dengan senyuman lebar, melemparkan tas jinjingnya ke atas kursi sebelum duduk di seberang Percy.
Percy menurunkan kacamata hitamnya sedikit, menatap sahabatnya dengan seringai tipis yang sama liarnya. "Kau rindu sensasi ini, Tyche. Jangan berpura-pura ingin kembali menjadi anak baik setelah empat tahun mendekam di butik Fifth Avenue."
Tyche mendengus jenaka, mengambil segelas champagne dingin dari lemari pendingin mini di kabin. "Kau benar. Bau kain sutra memang menyenangkan, tapi tidak ada yang bisa mengalahkan kepuasan melarikan diri dari pengawasan ketat seorang Hades Sterling."
Helikopter pun melesat naik, meninggalkan tanah Amerika menuju Samudra Atlantik.
Jauh ribuan mil di belahan bumi yang berbeda, di dalam ruang rapat lantai teratas sebuah hotel bintang tujuh di Zurich, Swiss, Hades Sterling duduk di kursi utama dengan ekspresi wajah sedingin es. Para petinggi dewan direksi gemetar ketat di kursi masing-masing, mendengarkan laporan keuangan triwulan yang dibacakan dengan suara terbata-bata.
Tiba-tiba, pintu ruang rapat terbuka dengan tidak sopan. Asisten pribadi utama Hades melangkah masuk tergesa-gesa, mengabaikan tatapan tajam para dewan direksi, lalu membungkuk dan membisikkan sesuatu tepat di telinga sang penguasa.
Seketika itu juga, suhu di dalam ruang rapat terasa turun sepuluh derajat. Manik mata kelabu Hades menyipit tajam, urat-urat di pelipisnya menegang keras.
Ponsel satelit di atas meja mendadak bergetar. Layar menampilkan laporan dari sistem pelacakan GPS jet pribadi keluarga Helikopter pribadi keluar dari jalur otorisasi, menuju rute trans Atlantik dengan tujuan akhir Paris.
Dan yang lebih membuat darah Hades mendidih adalah sebuah pesan teks singkat yang masuk ke ponsel pribadinya dari nomor sang istri.
Terima kasih atas fasilitasnya, suamiku tersayang. Nikmati rapatmu di Swiss, karena aku dan Zeus sedang pergi kencan belanja dengan bibi Tyche.
P.S. Jangan mencari kami. Kecuali kau ingin pulang dan mendapati rumah kosong.
Hades mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih, nyaris meremukkan ponsel di genggamannya. Di tengah kesunyian ruang rapat yang mendadak mati, sang penguasa imperium menyadari satu hal ratunya benar-benar telah terbang bebas, dan perburuan paling melelahkan dalam hidupnya baru saja dimulai.
Langit Paris menyambut kedatangan mereka dengan hamparan awan kelabu tipis yang dramatis dan udara musim semi yang sejuk. Jet pribadi berlogo Sterling itu mendarat mulus di landasan khusus Le Bourget, di mana sebuah konvoi mobil hitam mewah berjejer rapi menunggu kedatangan sang ratu mode dan pelarian paling dicari di dunia hitam.
Begitu pintu kabin terbuka, Percy melangkah turun dengan anggun, membiarkan angin Paris menerbangkan helaian rambut chesnut brown nya. Di sampingnya, Zeus berjalan tegap sambil mengenakan kacamata hitam kecil, meniru persis gaya sang ayah saat menginspeksi pasukan. Tyche mengekor di belakang mereka sambil tertawa kecil, menikmati aroma kebebasan yang langsung menyeruak di udara ibu kota mode dunia itu.
"Selamat datang kembali di Paris, darling" bisik Tyche riang, merangkul lengan Percy saat mereka berjalan menuju mobil SUV yang membukakan pintu untuk mereka. "Kira-kira, berapa lama waktu yang dibutuhkan Hades untuk tiba di sini? Dua puluh empat jam?"
Percy mendengus geli, memasukkan tubuhnya ke dalam jok kulit mobil yang nyaman sementara Zeus duduk di pangkuannya dengan mata berbinar-binar menatap menara-menara klasik Paris di luar jendela.
"Kurang dari itu, Tyche," jawab Percy santai, manik mata ambernya menyiratkan kilatan nakal yang berbahaya. "Suamiku itu memiliki jet tercepat di dunia. Tapi sebelum dia berhasil menemukan kita di antara tumpukan tas belanjaan di Avenue Montaigne, pastikan kita sudah menghabiskan setengah batas limit kartu kreditnya."
Tyche terbahak keras, segera masuk ke dalam mobil di susul deru mesin yang langsung melesat membelah jalanan Paris yang sibuk.
Di belahan bumi yang lain, di atas langit Atlantik, sebuah jet pribadi jenis Bombardier Global 7500 melaju dengan kecepatan maksimal yang memecah rekor penerbangan komersial. Di dalam kabin utama, Hades Sterling duduk dengan tatapan kosong yang mematikan ke arah luar jendela.
Pertemuan dewan direksi di Zurich telah ia tinggalkan begitu saja dalam waktu kurang dari sepuluh menit setelah menerima pesan dari istrinya. Tidak ada satu pun anggota dewan yang berani membuka suara atau mempertanyakan kepergian sang bos besar.
Hades mengangkat pergelangan tangannya, melirik arloji mahalnya. Jarak Zurich ke Paris hanya memakan waktu penerbangan singkat.
Manik mata kelabu Hades menyipit tajam. Ia tahu betul watak Percy ketika jiwa "cegil" dan sisi liarnya sudah keluar dari sarang, wanita itu tidak akan semudah itu ditangkap tanpa membuat kekacauan terlebih dahulu.
"Siapkan tim pendaratan di Paris," suara Hades memecah keheningan kabin, dingin dan penuh mutlak. "Dan pastikan semua toko haute couture di Avenue Montaigne dikosongkan saat aku mendarat. Aku akan menjemput istri dan anakku... dengan caramu atau cara militer."