Cerita ini mengisahkan tentang Mawar. Menikah muda dengan Aditya walaupun sudah di larang oleh kedua orang tuanya.
Setelah berjuang ingin bangkit dari kemiskinan, rela berjualan kripik singkong agar suaminya bisa kuliah. Untuk menepis keraguan orang tuanya.
Namun, setelah berhasil. Apa jadinya jika sang suami malah menikah lagi?
Kita ikuti yuk kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Trisubarti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perselisihan Kecil.
Mas..." panggil Mawar sambil melempar sedikin umpan ikan. Ikan pun berlomba ingin berebut makanan.
"Kenapa?" Adit memeluk pundak Istrinya.
"Sebenarnya... aku kan ingin jualan, kalau tinggal di perkampungan kan? setidaknya bisa jualan di teras rumah." tutur Mawar.
"Tapi... kalau tinggal di tempat sepi begini? bagaimana mau jualan?" keluh Mawar. Melemparkan sedikit lagi umpan.
"Hee...dengarkan Aku" Adit bergeser posisi hingga menempel di samping Mawar.
"Aku tidak ingin kamu capek-capek lagi seperti dulu" ucap Adit lalu tangannya menekan kepala istrinya pelan hingga bersender di pundaknya.
"Sekarang waktunya kamu beristirahat, kejar cita-cita kamu, lanjutkan kuliah" tangan Adit mengusap-usap pundak Mawar.
"Sekarang waktunya aku yang harus kerja keras untuk menghidupi kamu"
"Sudah cukup Maw, penderitaan kamu selama ini"
"Dulu kamu yang mengantarkan aku hingga menjadi seperti sekarang"
"Aku, terimakasih sekali sama kamu Maw, dan sekarang saatnya kamu menerima penghasilan kerja keras kamu dulu" tutur Adit tangannya memainkan jemari istrinya di atas paha.
"Tapi... kalau aku nggak cari uang, dari mana bisa bayar kuliah?" tanya Mawar lirih.
"Tenang saja Maw, gajiku lumayan kok, cukup untuk biaya hidup kita, biaya kuliah kamu"
"Dan, untuk uang muka, aku akan pinjam bos dulu" saran Adit.
Mawar mengangkat kepala cepat menoleh menatap Aditya. "Aku nggak mau, kalau Mas pinjam uang bos, untuk membayar kuliah aku" ucapnya tegas.
"Kenapa? nanti aku cicil kok, potong gaji" jawab Adit enteng.
"Pokoknya nggak usah! aku masih punya tabungan kok, cukup kalau hanya untuk membayar uang muka" kekeh Mawar.
"Ya sudah lah... terserah kamu" Adit akhirnya mengalah.
Keduanya pun akhirnya saling diam mantengin Ikan-Ikan yang berlarian kesana kemari.
"Besok kita cari kampus, pilih saja dimana kamu mau kuliah" kekeh Adit.
Mawar mengangguk.
"Aku juga punya keinginan Maw" ucap Adit.
"Apa?" Mawar menoleh cepat.
"Kita kan menikah sudah lima tahun Maw. Sudah waktunya kita menimang seorang anak, memang kamu nggak ada keinginan apa?"
"Maksud Mas apa?! tanya Mawar kesal, dengan pertanyaan suaminya seolah menyalahkan dirinya.
"Kamu pikir, aku nggak tau Maw! kamu selama ini pakai alat kontrasepsi kan?! Tukas Adit terbawa emosi.
"Iya, maafkan aku Mas. Jujur, waktu itu aku bingung, aku juga ingin seperti orang-orang, punya anak yang lucu-lucu" ucap Mawar menunduk merasa bersalah.
"Tapi... jika aku punya bayi, bagaimana aku bisa jualan untuk mencari makan setiap hari, untuk bayar semester, untuk membantu Bapak membayar sekolah melati " sahut Mawar air bening pun lolos dari pelupuk mata.
"Maaf, bukan maksud aku untuk menyalahkan kamu" ucap adit menyesal bahwa kata-katanya sudah menyinggung perasaan istrinya. Adit merasa terkesan egois.
"Iya, Mas nggak salah, yang salah aku!" Tukas Mawar kemudian berdiri melangkah pergi meninggalkan suaminya.
Adit menatap kepergian istrinya tanpa berniat mengejar.
Sementara Mawar masuk kedalam kamar, kemudian menguncinya. Ia menangis tersedu-sedu telungkup di tempat tidur. Ia bukan menangis sakit hati karena ucapan suaminya.
Tetapi, Mawar merutuki dirinya sendiri. Biar bagaimana pun, dia merasa bersalah menunda kehamilan tetapi tidak berunding dengan suaminya.
Mawar ingat, selama menikah dengan adit. Belum pernah sekalipun Adit membentaknya.
Lelah menumpahkan air matanya Mawar pun tertidur.
****
Sementara Adit, masih betah di tepi kolam ikan memandangi ikan yang membuat hatinya damai.
"Deeertt deerrr.
(....)
"Iya Pak" sahut Adit, setelah menerima telepon dari seseorang. Setengah berlari ia mengambil kunci mobil yang tergantung.
Berlari ke atas menapaki anak tangga. Bermaksud ingin pamit kepada Istrinya. Namun, setelah ia mendorong handle pintu terkunci.
Adit kembali ke bawah mencari Simbok juga tidak ada. "Mbok Paijem..." panggilnya, melongok ke kamar Simbok juga kosong.
Tanpa pikir lagi Adit masuk kedalam garasi starter mobil kemudian berangkat.
Didalam mobil, kepalanya rasanya ingin pecah ia ngebut, lima belas menit kemudian sampai di rumah sakit.
Ia mencari tempat parkir tidak lama kemudian, kembali dan berjalan cepat menuju kamar seseorang yang sedang di rawat.
"Bagaimana keadaanya Pak?" tanya Adit' ketika sampai di depan ruang ICU. "Masih belum sadar Dit" sahut Pak Johan. Lirih.
"Saya masuk dulu Pak" ucapnya tanpa menunggu jawaban Johan, Adit kemudian masuk.
Di dalam ruangan sang dosen yang terkenal ramah dan santun. Kini meringkuk tidak sadarkan diri.
Kepala plostos wajah pucat membuat hati keluarganya teriris.
Ia Silfia Johan. Yang biasa di panggil mahasiswa dengan sebutan Ibu Silfi. Ia sedang berjuang melawan penyakit kanker otak glioblastoma stadium empat.
Anak satu-satu nya Tuan Johan, dan Nyoya Latania. Dulu pernah dinyatakan sembuh. Namun, ternyata kambuh kembali.
Silfi sudah tiga kali melakukan operasi pengangkatan tumor. Kadang ia tampak normal tetapi hanya sementara. Namun, jika sedang kambuh sungguh menyedihkan.
Berbagai macam pengobatan ala dokter, tradisional, herbal. Namun belum membuahkan hasil.
Segala upaya Tuan Johan dan Nyonya Latania akan ia lalukan. Walaupun harta tarohanya tidak peduli. Yang penting anaknya bisa kembali hidup normal seperti dulu.
Adit duduk di samping pasien memegangi telapak tangan sesekali mengecupnya. Bibirnya tak hentinya memberi semangat.
*****
Siang bergati sore, Mawar bangun dari tidur kepalanya terasa pusing mungkin karena terlalu lama menangis.
Mawar segera mandi, mematut diri di depan cermin. Matanya tampak bengkak.
Setelah ashar ia keluar dari kamar kelantai bawah, mencari sosok Adit tidak ia temukan.
"Mbok, lihat Mas Adit nggak?" tanya Mawar mendekati Simbok yang sedang memilih sayuran di dalam kulkas.
"Nggak lihat Non, sepertinya pergi. Sebab, mobilnya tidak ada" Simbok menjelaskan.
"Oh gitu ya?"
"Iya Non, tadi kan Mbok membeli tolak angin, eh... begitu sampai di rumah garasinya sudah terbuka" terang Simbok.
"Mbok, mau masak apa?" tanya Mawar melongok isi kulkas.
"Simbok juga bingung Non, mau masak apa. Menurut Non, masak apa?" Simbok balik bertanya.
"Saya yang masak ya Mbok" kata Mawar berniat masak kesukaan suaminya.
"Bilang saja Non, suruh masak apa, jadi Non tidak perlu repot" kata Simbok tidak enak jika yang masak Mawar.
"Nggak apa-apa Mbok" ucap Mawar ambil stok daging yang sudah membatu di dalam kulkas. Membiarkan mencair dulu, kali ini ia akan masak rendang kesukaan suaminya.
"Ya sudah... saya bantu ya Non" ucap Simbok ambil kelapa kemudian memarutnya.
Sementara Mawar meracik bumbu.
"Mas Adit tinggal di sudah berapa lama Mbok?"
"Baru sebulan Non pindahnya, tapi jarang tidur di rumah"
Mawar menatap Simbok kaget. "Jarang tidur di sini? terus tidur dimana Mbok?" Mawar mengerutkan dahi.
"Saya kurang tahu Non, saya nggak tanya-tanya" sahut Simbok, di sini hanya bekerja kalau tanya ini itu tentu tidak sopan.
Mawar selesai mengulek bumbu, Simbok juga sudah selesai memarut kelapa, kemudian memeras santan.