"Bagaimana jadinya kalau gadis nakal harus takluk menghadapi anak dari pemilik pesantren?"
Tsabita Azzahra, sebagai bentuk protes karena selalu dibanding-bandingkan dengan kakaknya, Safira, yang nyaris sempurna, Bita memilih hidup bebas: nongkrong di lounge elite, pulang subuh, dan akrab dengan kehidupan malam.
Puncaknya, setelah mabuk berat akibat patah hati, Bita membuat kekacauan terbesar dalam hidupnya. Di area parkir remang-remang, ia mengira seorang cowok jangkung yang sedang duduk tenang di atas moge hitamnya adalah tukang parkir. Dengan lancang, Bita memaki-maki cowok itu, menarik kerah bajunya, dan... muntah tepat di atas sepatu sneakers mahal si cowok sebelum akhirnya pingsan.
Sepanjang insiden itu, si cowok hanya diam, menatap Bita dengan pandangan dingin yang tidak terbaca, lalu menolongnya dengan tenang.
Kehabisan kesabaran, orang tua Bita memberikan hukuman final: Bita dijodohkan dengan anak pemilik salah satu Pesantren.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elma Grace, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8
Bita menyelinap masuk ke dalam ruang kelas dengan napas yang masih tersengal-sengal. Ia langsung mengambil posisi duduk di barisan paling belakang, berharap bisa bersembunyi dari pandangan dunia. Namun, harapannya pupus dalam waktu kurang dari tiga detik.
Brak!
Jessica dan Kevin langsung menggeser kursi mereka secara brutal, menjepit meja Bita dari kanan dan kiri. Wajah kedua sahabatnya itu memancarkan aura tuntutan penjelasan tingkat tinggi.
"Bita! Sumpah demi apa, lo utang penjelasan seumur hidup sama gue!" sembur Jessica dengan mata melotot heboh, volume suaranya untungnya masih tertahan karena kelas belum dimulai.
"Gila, Ta. Pagi-pagi mata gue langsung kesamber petir," timpal Kevin sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dramatis. "Sejak kapan seorang Tsabita Azzahra, ratu lounge Senopati yang hobi mematahkan hati cowok-cowok spek sad boy, mendadak tunduk, salim, khidmat banget lagi di depan cowok moge? Siapa dia, anjir? Speknya bukan sembarangan itu!"
Bita pura-pura sibuk mengeluarkan MacBook dan buku catatannya dari dalam tas ransel, mencoba mengabaikan tatapan intimidasi kedua sahabatnya. "Berisik lo berdua. Noh, liat depan, dosen udah mau masuk."
"Dosen bapak lo! Noh, liat jam, masih ada lima menit lagi!" Jessica menyentak lengan kemeja flanel Bita, membuat gerakan tangan gadis itu terhenti. "Gak usah mengalihkan isu ya, Ta. Gue liat dengan mata kepala gue sendiri. Cowok itu... gantengnya gak ngotak! Tampang berkelas, rahang tegas, tatapan matanya adem tapi mematikan, terus moge yang dia bawa? Itu Ducati Diavel, harganya bisa buat beli rumah seken di pinggiran Jakarta! Siapa dia?!"
Bita menghela napas pasrah, menyadari bahwa tidak ada jalan keluar dari situasi ini. Jika ia berbohong dan mengatakan pria itu adalah sepupunya, Jessica pasti tidak akan percaya karena adegan cium tangan tadi terlampau intim untuk ukuran sepupu.
"Oke, oke! Gak usah teriak-teriak, bisa gak?" bisik Bita ketus, melirik kanan-kiri memastikan mahasiswa lain tidak menguping. "Dia... suami gue."
Keheningan total mendadak menyelimuti sudut belakang kelas itu. Wajah Jessica dan Kevin seketika membeku.
"Hah? Lo bilang apa tadi? Kuping gue mendadak budek kayaknya," kata Kevin, mengorek kupingnya sendiri.
"Gue bilang, dia suami gue! Puas lo berdua?!" ketus Bita lagi, wajahnya mendadak merona merah karena terpaksa mengakui status barunya di kampus.
"APA?!"
Teriakan kompak Jessica dan Kevin sukses membuat separuh isi kelas menoleh ke arah mereka. Bita langsung mencubit paha Kevin dan lengan Jessica dengan gemas, membuat keduanya mengaduh kesakitan.
"Aduh! Sakit, Ta!" ringis Jessica sambil mengusap lengannya. "Tapi sumpah, lo gak bercanda kan? Kapan lo nikah, anjir? Kok gak ada pesta? Kok gak ada update di Instagram? Terus... kenapa lo bisa dapet cowok spek dewa begitu sementara minggu lalu lo masih mabuk gelantungan di bahu gue?!"
"Gue dijodohin sama bokap gue," jawab Bita singkat, nadanya berubah lesu. "Gara-gara kejadian malam itu di Senopati, Papa ngamuk besar. Fasilitas gue dicabut, dan gue langsung dinikahin sama anak temen bokap gue."
Kevin bersiul pelan, menatap Bita dengan pandangan tidak percaya. "Dijodohin? Tapi kok lo beruntung banget? Biasanya kan kalau di film-film, anak yang dijodohin gara-gara nakal itu dapetnya om-om buncit atau cowok berkacamata tebal yang hobi belajar. Lah ini? Tadi gue liat cara dia bawa motor aja udah kayak pembalap profesional. Karismanya tumpah-tumpah, Ta!"
"Karisma pala lo peyang!" cibir Bita kesal. "Lo gak tahu aja aslinya gimana. Dia tuh kaku, sedingin es batu, irit bicara, dan yang paling parah... dia tuh sok ngatur! Aturan hidupnya banyak banget, bikin gue serasa dikurung di penjara tahu gak!"
Jessica menyipitkan matanya, menatap Bita dengan senyuman penuh arti. "Sok ngatur gimana? Tapi tadi dia kelihatan perhatian banget pas ngerapiin jilbab lo sebelum lo turun. Sumpah, gerakan tangannya lembut banget, Ta. Gue yang liat dari jauh aja langsung baper. Eh, iya. Tumben banget lo ya pakai hijab, biasanya tampil seksi."
"Itu cuma pencitraan!" seru Bita defensif, padahal di dalam hatinya, ingatan tentang sentuhan jemari Ibra pagi tadi kembali membuat jantungnya berdegup tidak karuan. "Udah ah, diem! Dosennya beneran dateng tuh!"
Tiga jam mata kuliah prasyarat yang membosankan akhirnya selesai tepat pukul dua belas siang. Dan lanjut mata kuliah lain sampai jam tiga. Sepanjang kelas berlangsung, Bita sama sekali tidak bisa fokus. Otaknya terus-menerus memikirkan bagaimana caranya ia pulang nanti tanpa harus memesan taksi online yang mahal, mengingat uang sakunya masih dibatasi oleh sang ayah.
Begitu ia melangkah keluar dari gedung fakultas bersama Jessica dan Kevin, ponsel di dalam saku celana jinsnya bergetar panjang. Sebuah notifikasi pesan masuk dari nomor yang diberi nama "Gus Ibra".
Gus Ibra: Kuliahnya sudah selesai, Tsabita? Saya kebetulan baru selesai rapat dengan klien di daerah dekat kampus kamu.
Bita mendengus, jemarinya dengan cepat mengetik balasan dengan nada ketus andalannya.
Tsabita Azzahra: Udah selesai. Tapi gak usah sok perhatian mau jemput ya. Gue bisa balik sendiri pakai taksi!
Hanya butuh waktu beberapa detik bagi Ibra untuk membalas pesan tersebut.
Gus Ibra: Saya sudah di area parkir lobi depan fakultas kamu sejak sepuluh menit yang lalu. Saya berikan waktu lima menit untuk kamu jalan ke sini, atau saya yang akan masuk ke dalam gedung untuk menjemput kamu langsung di depan kelas.
Bita membelalak lebar. "Gila ya ini cowok!" makinya keras-keras, membuat Jessica dan Kevin yang berjalan di sebelahnya tersentak kaget.
"Kenapa lagi lo, Ta? Kayak abis liat setan," tanya Kevin heran.
"Bukan setan, tapi pawang singa!" gerutu Bita panik. Ia langsung mempercepat langkah kakinya menuju area lobi luar. "Gue duluan ya, guys! Suami gila gue udah nunggu di depan!"
"Eh, Bita! Tunggu, gue mau liat suami lo lagi!" teriak Jessica, langsung ikut berlari mengejar Bita bersama Kevin yang penasaran setengah mati.
Begitu keluar dari pintu kaca lobi, pemandangan di area parkir depan kembali membuat Bita ingin menghilang dari bumi. Gus Ibra tidak lagi menggunakan kemeja kasualnya yang tadi pagi. Pria itu kini mengenakan setelan jas formal premium berwarna hitam tanpa dasi, dengan kemeja putih di bagian dalam yang kancing atasnya sengaja dibuka satu, memberikan kesan effortlessly handsome yang luar biasa maskulin.
Ibra sedang berdiri bersandar pada badan mobil sedan sport mewah berwarna hitam metalik miliknya, bukan lagi menggunakan moge. Tangan kirinya memegang ponsel, sementara tangan kanannya dimasukkan ke dalam saku celana bahan yang membungkus kaki jenjangnya. Beberapa mahasiswi dan bahkan dosen muda yang lewat tampak sengaja memperlambat langkah mereka hanya untuk melirik pria berwibawa itu.
"Oh my God, Ta... itu mobil sport keluaran terbaru," bisik Kevin dengan mulut menganga di sebelah Bita. "Suami lo beneran bukan sekadar kaya, tapi kaya melintir!"
"Gantengnya dapet, kayanya dapet, setianya... moga-moga dapet ya, Ta," tambah Jessica sambil menyenggol bahu Bita yang sudah membatu di tempat.
Bita menguatkan mentalnya. Ia melangkah lebar-lebar menghampiri Ibra dengan wajah ditekuk sedalam mungkin. "Heh! Lo ngapain sih jemput-jemput segala?! Kan gue udah bilang gak usah!"
Ibra menurunkan ponselnya perlahan, lalu menegakkan tubuh jangkungnya. Tatapan matanya yang tajam namun menenangkan langsung mengunci wajah Bita. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat menawan.
"Assalamualaikum, Istriku," sapa Ibra lembut, suaranya yang bariton terdengar begitu jelas di tengah kebisingan area lobi.
Wajah Bita seketika memanas mendengar sapaan itu, apalagi dari belakangnya, Jessica dan Kevin kompak melepaskan suara pekikan tertahan.
"W-waalaikumsalam," jawab Bita terbata-bata, suaranya mendadak mengecil karena malu. "Gak usah panggil begitu di sini bisa gak sih? Malu tahu dengerin anak-anak!"
"Kenapa harus malu? Memanggil istri sendiri dengan sebutan yang baik itu pahala," balas Ibra santai, nada suaranya terdengar begitu cool sekaligus tidak bisa dibantah. Ia kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Jessica dan Kevin yang berdiri canggung di belakang Bita. Ibra sedikit menundukkan kepalanya dengan sopan. "Teman-temannya Tsabita?"
"I-iya, Mas! Eh, Pak! Eh... Kak!" jawab Jessica gugup, mendadak kehilangan kemampuan bicaranya yang biasanya cerewet. "Saya Jessica, ini Kevin. Teman sekelas Bita."
"Saya Ibra. Suaminya Tsabita," ucap Ibra memperkenalkan diri dengan senyuman ramah yang sangat berwibawa, membuat Jessica hampir saja pingsan di tempat karena terpesona. "Terima kasih sudah menjaga istri saya selama di kampus."
"Sama-sama, Kak Ibra! Wah, Bita mah aman sama kita!" sahut Kevin, ikut-ikutan salah tingkah di depan karisma Ibra.
Bita yang merasa posisinya makin tersudut langsung menarik lengan jas hitam Ibra dengan gusar. "Udah kan kenalannya?! Ayo pulang! Keburu macet!"
Ibra melirik tangan Bita yang memegang lengannya, lalu kembali menatap wajah istrinya yang sudah memerah padam. "Baik. Mari pulang."
Pria itu melangkah maju, membukakan pintu mobil sport di bagian penumpang depan untuk Bita dengan gerakan yang sangat gentle. Setelah Bita masuk dengan wajah cemberut, Ibra menutup pintu dengan halus, lalu berbalik mengangguk pamit pada Jessica dan Kevin sebelum memutari mobil dan masuk ke kursi kemudi.
Mobil sport mewah itu perlahan bergerak meninggalkan area kampus, meninggalkan Jessica dan Kevin yang masih berdiri terpaku di tempat semula.
"Jes," panggil Kevin pelan, matanya masih menatap ke arah gerbang kampus.
"Apa?"
"Gue rasa... Bita yang berandalan kayak begitu, gak bakal berkutik sama sekali di depan suaminya yang spek malaikat pencabut nyawa dibalut ketampanan kayak gitu."
Jessica mengangguk setuju dengan pandangan kosong. "Iya, Vin. Gue rasa juga begitu. Si Bita bener-bener dapet jackpot seumur hidup!"