Insiden yang membuatnya harus mengandung anak dari pria asing yang mengaga*inya di Club. Niat hati ingin menjemput sahabatnya justru mendapatkan mala petaka baginya.
Cerita ini dibuat atas dasar pemikiran sendiri:)
Silahkan tinggalkan jejak sebagai bentuk apresiasi kalian
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D.K.A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kabar baik or buruk?
Kabar baik or buruk?
Apartemen
Setelah melakukan pekerjaan kantornya Max kini sudah kembali ke apartemennya. Sedikit perkenalan tentang Max.
Kedua orang tuanya dipertemukan oleh keluarga ini, hingga menikah, memiliki anak dan membesarkannya dilingkarkan keluarga MOORE. Hingga akhir hayatnya kedua orang tuanya mengabdi, sekarang digantikan oleh putranya.
MAXIMO STEVANO ditinggalkan kedua orangtuanya ketika berumur 5 tahun. Max bersyukur karena keluarga ini masih mau merawa dan menyekolahkannya. Di keluarga ini lah Max mendapatkan kasih sayang layaknya seorang anak kandung. Setelah dewasa Max bertekad untuk membalas budi dan menggantikan posisi orang tuanya untuk mengabdi.
***
"Akhirnya aku mendapatkan informasi tentang gadis tadi." gumam Max menyeringai puas.
"Vania Hanindiya, usia 19 tahun. Eeuummm ... 19 tahun sepertinya aku bisa dicap seorang pedofil jika bersamanya. Aaaahh! masa bodoh. Kerap dipanggil Vivi dan kedua orang tuanya meninggal dunia saat kecelakaan mobil. Vivi dibesarkan di panti asuhan. Ternyata gadis ini yatim piatu. Dia bekerja di Los Angeles Central Library. Not bad, biasanya para wanita lebih memilih di kantor atau Club tapi kurasa berbeda dengan gadis ini dan temannya tadi." tuturnya.
Setelah mendapatkan informasi sedikit Max mencari - cari foto gadis tersebut.
"Ketemu!"
"Jika suatu hari nanti, kita akan bertemu kembali maka akan ku cap kau adalah milikku Via." Max bergumam seraya tersenyum tipis.
***
Los Angeles Central Library.
"Ci, apa kau sakit? Wajah dan bibirmu terlihat pucat." tanya rekan kerja Cia.
"Masa sih? aku tidak sakit cala. Hanya kelelahan saja." sahutnya.
"Akhir - akhir ini aku merasa kau mudah lelah Ci, biasanya kau sangat kuat hingga perpustakaan tutup saja kau masih ceria."
"Kurasa juga begitu, entahlah aku pun tak tau Cal."
Gadis yang disebut Cala hanya mengangguk mengerti. "Baiklah, jika memang kau sakit jangan dipaksakan Ci." ujarnya menepuk pundak Cia dan berlalu pergi.
DOR!
Dengan kejahilannya Vivi mengagetkan sahabatnya yang tengah melamun dari samping.
"Astaga!" jerit Cia, untung saja tidak terlalu keras.
"Viana! kau mengejutkan ku." lanjutnya.
"Maaf Ci, lagi pula kenapa kau melamun setelah berbicara Cala? apa dia mengusik mu?"
"Tidak, eeuummm ... apa menurutmu aku akhir - akhir ini terlihat berbeda Vi?"
"Ya tentu saja, kau semakin menjengkelkan."
"Iiihhh bukan begitu, bisa kau jelaskan bagaimana perubahan ku?" desaknya.
"Akhir - akhir in~~"
Bruk!
Belum sempat Vivi menyelesaikan ucapannya, sahabatnya tergeletak dilantai dengan wajah dan bibi pucat pasi.
"Ya tuhan Cia!!" paniknya dan segera memapah tubuh Cia untuk dibawa ke rumah sakit.
Cala yang mendengar jeritan Vivi berlari kencang dan melihat Vivi sedang kesusahan memapah tubuh Cia.
"Astaga Cia! ayo Vi ku bantu, aku akan menelpon ambulans."
***
Hospital.
Vivi melakukan hal yang sama seperti dulu ketika Cia dibawa ke klinik. Mondar - mandir didepan pintu UGD. Sedangkan Cala sudah kembali, Karena tidak mungkin jika meninggalkan pekerjaannya.
Sudah setengah jam dokter didalam belum juga keluar. Akibat kelelahan mondar-mandir tidak jelas akhirnya Vivi memutuskan untuk duduk dan menyandarkan kepalanya ditembak belakang dan memejamkan mata sejenak.
Ceklek!
Mendengar pintu terbuka Vivi segera membuka matanya dan berdiri dihadapan dokter tadi.
"Keluarga pasien?" tanya sang dokter.
"Iya saya sahabatnya dok, bagaimana keadaan sahabat saya?"
"Dimana suaminya?" bukannya menjawab dokter malah berbalik tanya.
"Suami? sahabat saya belum menikah dok." ucap Vivi mengerutkan keningnya.
"Kalau begitu orang tuanya?"
"Bisa dijelaskan langsung saja dok." ucapnya merasa kesal dengan dokter satu ini, kebanyakan bertanya padahal diakan sangat penasaran dengan kondisi sahabatnya.
"Baiklah nona, mari keruangan saya."
"Jadi bagaimana? apakah ada penyakit yang membahayakan kesehatan sahabat saya?" tanyanya to the point
Dokter tersebut memberikan amplop dan menyerahkannya sebelum berbicara.
"Pasien tidak mengalami penyakit, dia hanya kelelahan apalagi dengan kondisinya yang sedang mengandung maka dari itu pihak keluarga harus menjaganya dengan baik karena wanita hamil sangat mudah merasa kelelahan."
Vivi melongo dengan penjelasan dokter. "Jadi benar Cia hamil." batinnya syok.
"Nona heyy, kau tidak apa-apa?" membuyarkan lamunan Vivi.
"Aaaa, iya dokter saya tidak apa-apa."
"Syukurlah, ini vitamin yang harus di apotek." menyodorkan selembar kertas tersebut.
"Baiklah dokter, terimakasih kalau begitu saya permisi."
Ceklek!
Vivi menghampiri Cia yang masih pucat.
"Aku harus bagaimana tuhan, jika ku sampaikan pasti Cia akan sangat syok tapi jika tidak disampaikan mau sampai kapan aku menutupinya." batinnya dengan mata yang terus melihat wajah Cia.
Eunggh
Lenguhan Cia terdengar samar menandakan ia mulai sadar.
"Cia, apa ada yang sakit? Bagaimana? Apa kepala mu pusing? Kau lapar? Atau apa?" tanyanya bertubi - tubi.
"Satu - satu jika ingin bertanya Vi."
"Apa kata dokter tadi Vi?" lanjutnya.
"Eeuummm ... bagaimana yah. Kau baca ini saja ya, aku bingung mau bicara apa." menyerahkan amplop berisi surat dan foto usg.
Deg!
Tes
Tes
Tes
Cia yang membaca keseluruhan isi dari amplop tersebut sangat terkejut, bahkan air matanya sudah mengalir deras.
"Vi apa ini benar." suaranya lirih dan bergetar menahan isak tangisnya.
"Maaf Ci, sebenarnya waktu kau pingsan dijalan dokter di klinik itu juga mengatakan kau hamil. Awalnya aku juga tidak percaya tapi setelah mendengar ucapan dokter tadi ternyata memang benar kau hamil." paparnya menunduk tak berani menatap manik mata Cia.
"Hikks ... hikkss Vi bagaimana jika kedua orang tuaku tau. Aku akan menggugurkan nya saja kalau begitu."
Seketika Vivi mendongakkan kepalanya, tak percaya.
"Tidak Cia! apa kau tidak merasa kasihan? dia tidak bersalah." ujarnya setengah berteriak.
"Bagaimana dengan orang tuaku Vi!" Cia tak kalah berteriak.
"Hikkss ... hikkss aku tau Ci, kita akan menghadapinya bersama oke. Aku akan tetap ada disaat kau membutuhkan. Tolong jangan menggugurkan bayi malang tidak bersalah ini." pintanya memeluk sahabatnya agar lebig tenang.
Tidak ada respon yang diberikan Cia, hingga Vivi kawatir dan memanggil dokter untuk memeriksanya kembali.
"Hanya pingsan ternyata." bernafas lega.
"Aku tau ini menyakitkan Ci tapi aku juga tidak mau kehilangan calon keponakan ku." lanjutnya dengan mengusap pelan pucuk kepala Cia.
***
Sudah 1 hari ini Ziand tidak melihat istrinya. Entah kenapa jika Ziand melihat wajah Anggelina rasanya sangat marah dan ingin muntah. Ziand sendiri juga tidak menyangka. Apakah ini bawaan calon anaknya.
Akhirnya Ziand memutuskan untuk tinggal di apartemen miliknya untuk menenangkan diri.
Apakah sifat Ziand sekarang bawaan bayi Anggelina atau Cia?
Bagaimana Vivi membujuk sahabatnya?
Tinggalkan jejak sebagai apresiasi kalian:)
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya Caraku Menemukanmu