Arya Satria, pemimpin organisasi bayangan terkuat di Semarang yang dikenal dingin, kejam, dan tak kenal ampun. Dunianya hanya tentang kekuasaan, balas dendam, dan menjaga rahasia kelam yang tak boleh terkuak. Hingga ia bertemu Nayara Adiswara, gadis polos yang tak sengaja menyaksikan kejadian yang seharusnya tak pernah ia lihat. Demi menjaga rahasia organisasinya, Arya memaksa Nayara tetap tinggal di sisinya. Namun perlahan, di balik pelukan yang awalnya hanya cara untuk mengawasi, tumbuh rasa yang tak pernah ia bayangkan. Dan di saat yang sama, Nayara mulai menyadari bahwa ada banyak hal tersembunyi di balik sosok Arya—rahasia yang bisa menyelamatkan nyawanya, atau menghancurkan mereka berdua selamanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Kebaikan Yang Membingungkan
Keesokan paginya, Nayara terbangun karena cahaya matahari yang lebih terang dari biasanya menerobos masuk ke kamar. Namun yang membuatnya terkejut bukanlah itu—melainkan sebuah nampan berisi sarapan lengkap dan sebuah bungkusan kecil yang diletakkan rapi di samping tempat tidurnya. Di atasnya terselip secarik kertas bertuliskan tangan tegas namun rapi: "Maaf tidak bisa menemanimu sarapan. Ada urusan sebentar. Buka bungkusan itu setelah makan."
Nayara menatap tulisan itu lama. Jantungnya berdegup pelan, perasaan hangat yang asing merayap di dadanya. Ia sudah terbiasa dengan perintah keras, tatapan tajam, dan aturan yang tak terbantahkan dari Arya. Namun perhatian kecil seperti ini... entah bagaimana membuat semua dinding pertahanan yang ia bangun perlahan runtuh.
Setelah selesai makan, ia membuka bungkusan itu perlahan. Di dalamnya terdapat sebuah syal rajut berwarna krem yang lembut, dan sebuah buku catatan baru dengan sampul kulit yang halus. Terselip lagi secarik pesan singkat: "Aku ingat kau pernah bilang rindu merajut dan menulis. Buku itu untuk menuliskan apa saja yang kau rindukan, atau apa yang tak berani kau ucapkan. Syal itu untuk menghangatkanmu saat angin bukit bertiup kencang."
Air mata menetes tanpa sadar membasahi pipinya. Bagaimana mungkin pria yang seluruh Semarang takuti, pria yang tak segan melenyapkan siapa pun yang menghalangi jalannya, bisa begitu mengingat hal-hal sekecil itu? Hal yang bahkan ia sendiri hampir lupa pernah mengucapkannya secara sepintas saat berbincang dengan Bima beberapa hari lalu.
Siang harinya, saat Arya pulang, ia mendapati Nayara sedang duduk di teras belakang memegang syal itu erat di dada. Mendengar langkah kaki pria itu, Nayara segera menghapus air matanya dan berdiri menyambutnya.
"Anda... Anda membelinya untuk saya?" tanyanya dengan suara bergetar menahan haru.
Arya mengangguk singkat, mencoba menyembunyikan rasa canggungnya dengan melipat kedua tangan di dada. "Kau menghabiskan waktumu hanya dengan menatap jendela. Itu tak sehat. Jika itu bisa membuatmu sedikit lebih tenang..."
"Tapi kenapa?" potong Nayara, menatap lekat mata pria itu. "Kenapa Anda begitu baik padaku? Padahal awalnya saya hanya saksi mata yang seharusnya Anda singkirkan. Padahal Anda bilang saya hanya beban."
Arya terdiam sejenak, menatap hamparan kota di bawah sana sebelum akhirnya menatap kembali ke arah gadis itu. "Kebaikan itu yang paling membingungkanku juga, Nayara. Selama ini aku diajarkan bahwa kelembutan adalah kelemahan. Bahwa memberi perhatian hanya akan membuatmu terluka. Tapi melihatmu duduk sendirian, melihatmu berusaha tetap tegar walau jelas kau menderita... aku tak sanggup bersikap dingin lagi."
Ia melangkah mendekat, mengambil tangan Nayara dan meletakkannya di antara kedua telapak tangannya yang besar dan hangat. "Mungkin aku tidak pandai mengatakannya. Mungkin caraku selalu salah dan menakutkan. Tapi percayalah... kebaikan ini bukan sandiwara. Dan aku sendiri masih berusaha mengerti kenapa keberadaanmu begitu penting bagiku."
Nayara tersenyum di antara tangis harunya. "Mungkin... mungkin karena di dunia yang penuh kekerasan ini, kita berdua sama-sama butuh seseorang yang tidak hanya memerintah atau takut, tapi juga peduli."
Arya tak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengangguk pelan, lalu menarik gadis itu masuk ke dalam pelukannya—pelukan yang tak lagi terasa seperti penjara, melainkan tempat di mana segala kebingungan perlahan menemukan jawabannya. Kebaikan Arya memang membingungkan, tapi itu adalah kebingungan yang paling indah yang pernah dirasakan Nayara seumur hidupnya.
Lanjut ke Bab 13: Ancaman Dari Luar? 😊