NovelToon NovelToon
Pergi Tanpa Kembali

Pergi Tanpa Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Teen / Anak Genius
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: halwa diyah

Saat kehidupan tidak lagi berpihak kepadaku. Saat orang yang kusayang semakin jauh meninggalkanku. Saat semua terungkap bahwa aku adalah alien di lingkunganku sendiri, yang tidak dinginkan kehadirannya, tidak dipedulikan keadaannya. Aku tahu, aku harus menyingkir. Menjauh dari semuanya. Kehidupan remaja bernama Adit yang sangat nyaman seperti surga tiba-tiba berubah menjadi seperti neraka. Apakah Adit akan memilih tetap bertahan atau menyerah?!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon halwa diyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perjalanan awal

Aku berpamitan pulang tepat saat adzan Maghrib diluar mulai terdengar. Setelah menemani Ferdy tidur, akhirnya aku yang terlalu lama menunggu memutuskan untuk membangunkan nya yang masih mengeluh bahwa kepalanya pusing. Aku sengaja memberikan alasan ingin nge-game bareng, dan tanpa mempedulikan pusing di kepalanya Ferdy pun menyetujui dan tiba-tiba bersemangat. Setelah ashar, aku meminta untuk berkeliling pematang sawah disamping rumah Ferdy. Ferdy yang masih terlihat pucat pun cukup antusias menanggapinya. Banyak cerita yang mengalir selama perjalanan kami di pematang sawah itu, dan tidak kulupakan tujuan utama ku juga untuk berpamitan padanya. Sahabat ku yang sudah kuanggap seperti kakak sendiri.

"Dy, gue besok mau pergi. Alhamdulillah mama dan papa udah baikan, dan gue mau ngerayain itu. Lo disini baik-baik ya. Nggak usah kangen gue." Ucapku sore tadi ditemani semilir angin persawahan yang cukup menyejukkan di tengah gedung-gedung pencakar langit yang mengelilinginya.

"Ah, Lo. Kaya mau kemana aja. Nggak gue nggak akan kangen Lo. Lo puas-puasin aja liburan bareng kluarga, bangun momen spesial untuk mengembalikan hubungan baik kaya dulu." Aku menatapnya tanpa berkedip, kenapa liburan?!

Oh... Mungkin Ferdy salah menangkap ucapanku. Tapi baguslah, dengan begini tidak akan ada pertanyaan lanjutan darinya.

Aku bergegas masuk kedalam mobil dan menyalakan mesin nya. Jika kuikuti saran babeh untuk ikut sholat dulu, bisa-bisa aku baru akan pulang tengah malam nanti. Karena pastinya aku pun akan ditahan untuk makan malam dahulu setelah itu ngobrol. Biarlah nanti aku mampir ke masjid yang kulewati untuk melaksanakan sholat Maghrib.

Perjalanan pulangku membutuhkan waktu hampir dua jam, macet di setiap jalan yang kulalui membuatku memutuskan mampir dua kali ke masjid untuk sholat Maghrib dan sholat isya. Aku baru sampai rumah di jam setengah sembilan malam.

Sesampainya di rumah, Aku dibuat takjub dengan lampu kerlap kerlip yang menghiasi halaman rumah ini. Berasa ada pesta besar tapi tidak ada orang sama sekali di halaman ini. Setelah memarkirkan mobil yang kukendarai ke dalam bagasi, aku pun bergegas masuk ingin tahu ada apa sebenarnya. Pintu rumah yang setengah terbuka membuatku bisa mengintip ke dalam. Dekorasi didalam rumah ini tidak kalah meriah nya dengan di halaman tadi.

Apa ini bagian kejutan untuk mama yang papa maksud?

Keberadaan mama dan papa masih belum kutemukan, entah ada dimana mereka. Bahkan bi Asih pun tidak kulihat kehadiran nya di dapur rumah ini.

Kemana orang-orang?

"Mah... Bi asih..." Aku mencoba memanggil dengan suara yang sedikit kukeraskan.

"Di belakang sayang!" Satu sahutan yang kuyakin adalah suara mama membuatku berbelok menuju pintu belakang rumah ini yang ada di ujung dapur. Taman belakang memang menjadi favorit kami saat berkumpul, selain tempatnya luas dan kesan outdoor nya sangat terasa, rumput Gajahan yang hijau dan rapi juga membuat kami bisa bermain dan berlari dengan leluasa tanpa alas kaki.

"Taraaaaa!"

Aku dibuat kaget saat beberapa party pooper meledak didepan ku tepat saat aku melewati pintu keluar.

Mama?

Papa?

Aku tersenyum lebar mendapati keakraban keduanya. Entah apa yang telah papa lakukan saat aku tidak ada di rumah tadi. Yang pasti wajah mama sangat terlihat penuh kebahagiaan sekarang. Aku sangat bersyukur.

Kami larut dalam kebahagiaan dan penuh rasa syukur menikmati semua makanan dan moment ini. Bahkan bi Asih pun tidak canggung ikut serta meramaikan malam ini. Segala cerita ringan pun mengalir dari bibir kami, aku sengaja tidak mempertanyakan bagaimana proses moment papa bertemu mama tadi. Kurasa pertanyaan itu malah akan membuka luka kembali. Tak lupa aku pun menyelipkan kalimat maaf dan terimakasih untuk kedua orangtuaku dan juga bi Asih, ya ini moment tepat untuk berpamitan. Meski tidak ada kata perpisahan setidaknya aku lega jika restu dan maaf mereka sudah kudapatkan.

Hampir tengah malam, akhirnya papa memutuskan untuk segera tidur. Aku pun mengiyakan karena memang sudah sangat mengantuk. Sebelum tidur aku menelan satu butir ARV ini, semoga saja obat ini tidak akan berulah lebih. Aku benar-benar butuh tidur sekarang untuk mempersiapkan petualanganku besok.

***

Saat ini, Aku sedang berada di salah satu toilet yang ada di dalam terminal kampung rambutan. Setelah sebelum shubuh tadi aku muntah-muntah parah, aku memutuskan tetap terjaga sampai pagi dan memasukkan baju-baju ku kedalam carrier yang saat ini kuletakkan diluar toilet ini. Ijazah telah ada ditanganku, bahkan aku meng-copy nya banyak dan meminta legalisir langsung pada bapak kepala sekolah. Entah nantinya aku akan melanjutkan kuliah atau bekerja, kurasa ijazah ini sangat kubutuhkan. Surat-surat penting pun sudah ku scan semua dan kusimpan dalam Gdrive ku. KK, Akta Lahir, Hasil lab pemeriksaan akhir dan resep onat terakhir yang diberikan kak Ivan.

Setelah mengganti seragam OSIS ku dengan baju santai berbalut jaket serta menuntaskan hajatku ditambah muntah dua kali, aku pun keluar dari toilet ini. Kuambil carrier ku dan menuju salah satu warung kopi yang ada di pinggiran terminal ini, kurasa perutku butuh kehangatan dari teh manis sebelum benar-benar melewati perjalanan jauh menggunakan bis nantinya.

Lima stel baju yang kubawa sedikit meringankan beban carrier ku, ya, aku memutuskan tidak membawa terlalu banyak baju agar tidak memberatkan perjalananku.

"Ibu, mau teh anget satu ya Bu." Aku duduk di salah satu kursi dan meletakkan carrier ku dibawah.

"Baik, sebentar dibuatkan ya." Aku hanya mengangguk menanggapinya. Mataku mulai mengawasi sekeliling, melihat sekumpulan bis yang datang dan pergi bahkan ada yang stay diam terparkir.

Kira-kira bis mana yang akan aku naiki?

"Ini mas." Aku menerima satu gelas teh manis hangat tersebut dan meneguknya sedikit.

Terlalu panas!

"Bu, kalau bis yang berangkat jam-jam segini ada nggak ya?" Aku mencoba bertanya pada ibu berkerudung coklat yang melayaniku tadi.

"Mau kemana memangnya mas?"

"Hmmm,,, bis yang berangkat siang kearah mana aja Bu?" Aku sengaja tidak menjawab pertanyaan nya secara langsung, karena aku pun bingung akan kemana.

"Coba ke deretan sana, bis-bis siang biasanya berangkat dari sana. Nanti jangan mau ditawari harga sama calo langsung ke loket aja biar nggak ditipu mas." Ibu tersebut menunjuk sisi kanan dari tempatku duduk. Disana memang terlihat lebih banyak orang duduk pada kursi tunggu dibanding area kursi tunggu dibagian lain.

"Baik, terimakasih Bu." Segera kuteguk habis teh manis sedikit panas ini.

"Air mineral ini satu Bu, sama teh tadi jadi berapa?" Aku mengambil satu botol air mineral berukuran sedang didepan ku.

"Jadi sebelas ribu mas." Kuambil selembar dua puluh ribuan dalam weist bag ku dan menyerahkan nya pada ibu tersebut.

"Kembali nya permen ini aja Bu." Kutunjuk toples berisi permen jahe di hadapan ibu itu. Dengan sigap ibu itupun mengambil kantong kresek dan memasukkan beberapa permen kedalam kresek tersebut lalu menyerahkan nya padaku.

"Terimakasih Bu."

Kulangkahkan kali ini menuju area kursi tunggu yang di tunjuk ibu penjual tadi.

"Mau kemana kak?" Seorang pria paruh baya tiba-tiba mendekati ku dan bertanya.

"Yang berangkat sekarang ada bang?" Aku menduga sepertinya inilah calo yang ibu penjual tadi maksud. Tapi kurasa aku memang lebih membutuhkan calo daripada harus datang ke loket.

"Kalau sekarang belum ada, sepuluh menit lagi ada bhineka ke Cirebon."

"Kalau mau beli tiketnya dimana ya bang?"

"Di saya bisa. Buat berapa orang?"

"Satu aja bang, saya aja."

"Oke, saya ambilkan dulu tiketnya."

Tidak berselang lama, Abang tersebut kembali datang dan membawa selembar kertas kecil.

"Ini kak, dua ratus sepuluh ribu."

Aku menerima tiket tersebut dan memberikan lima lembar uang lima puluhan kepada nya.

"Kembalinya buat Abang aja."

"Beneran ini?! Alhamdulillah.. itu bis nya yang ada tulisan bhineka. Biar saya bawakan tasnya kesana." Aku mengangguk menyetujuinya. Jujur saja aku mulai pusing melihat sekeliling ditambah berbagai macam bau yang tercium membuatku sesak.

Semoga perjalanan ku ini menjadi titik awal kehidupan terbaik ku.

1
salma
jadi nostalgia ke masa perpisahan SMA dlu. lagu nya sama
halwa diyah: 🤭 memang lagu itu yang paling cocok buat moment nya kak
total 1 replies
salma
Suka ceritanya ngalir. alurnya santai tapi bikin penasaran kelanjutan nya
halwa diyah
siaap...
semangatt juga kak 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!