NovelToon NovelToon
Jangan Jatuh Cinta Pada Ku

Jangan Jatuh Cinta Pada Ku

Status: sedang berlangsung
Genre:Enhypen
Popularitas:186
Nilai: 5
Nama Author: rerevana

....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rerevana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ketiduran di bahu

Minimarket 24 Jam

Restoran L’Evanne tutup tepat pukul 23.00. 

Cheyrin tidak langsung pulang. Ia berjalan kaki selama lima menit menuju minimarket terdekat, lalu duduk di kursi besi yang berada di depan toko.

Kota pada malam hari terdengar bising dengan lalu lalang sepeda motor dan cahaya lampu neon yang berkedip.

Namun di dalam benak Cheyrin, semuanya terasa sunyi.

Ia menatap kosong ke arah jalan. Pikirannya melayang.

Pesan dari Mama tadi siang kembali terngiang di kepalanya. Kalimat singkat yang seketika menghancurkan jiwanya.

Nak... Mama dan Papa ingin berbicara serius denganmu.

Kami... akan bercerai.

Dadanya terasa sesak. Di dalam benaknya, Cheyrin ingin berteriak sekencang-kencangnya.

Seolah tidak ada seorang pun yang benar-benar mengerti dirinya.

Apakah orang tuanya tidak mengerti alasan ia pergi dari rumah?

Bukannya memperbaiki rumah tangga, mereka justru menghancurkan semuanya.

Termasuk dirinya.

Air matanya akhirnya jatuh.

Tanpa suara. Tanpa isak.

Hanya pipi yang basah dan bahu yang sedikit bergetar.

Cheyrin menunduk. Tangannya meremas ujung jaketnya erat-erat.

“Cheyrin.”

Suara itu tiba-tiba terdengar dari samping, berat dan langsung menyadarkan lamunannya.

Cheyrin mendongak. 

Steven berdiri di depannya dengan jaket hitam nya. Satu tangan berada di dalam saku, tangan lainnya memegang kantong plastik berisi camilan.

“Ngapain duduk di sini sendirian? Mau masuk angin?” katanya, suaranya datar tetapi tidak dingin.

Cheyrin segera menyeka pipinya yang tanpa sadar basah kembali. 

“G-gue… Cuma duduk aja, Ven.”

Steven tidak langsung percaya. Ia duduk di kursi kosong di sebelah Cheyrin tanpa meminta izin, lalu meletakkan kantong plastiknya di pangkuan. 

“Mata bengkak gitu kok nggak apa-apa. Habis nangis ya?”

Cheyrin menunduk, tidak menjawab. 

Steven mendesah pelan. 

“Kalau nggak mau cerita juga gapapa. Tapi jangan melamun gitu sendirian. Bahaya.”

Ia menyodorkan botol air yang belum dibuka ke tangan Cheyrin. 

“Minum dulu. Otak nggak jalan kalau dehidrasi.”

Cheyrin menerima botol itu dengan ragu. 

Steven tidak beranjak dari tempatnya. 

Ia duduk diam di sebelah Cheyrin, membiarkan keheningan berlangsung beberapa saat.

Cheyrin menatap botol air di tangannya. Ia memutar tutupnya pelan, lalu akhirnya meneguk sedikit. 

“Cuma capek di kerjaan,” ujarnya pelan. “Biasa lah.”

Steven menoleh, menatapnya dengan tatapan menyelidik. 

“Capek kerja sampai mata bengkak?”

Cheyrin tertawa kecil, suaranya kering. 

“Apaan sih. Gue cuma kurang tidur.”

Steven tidak menjawab langsung. Ia mengamati wajah Cheyrin yang berusaha terlihat biasa saja, tapi bahunya masih terlihat tegang. 

“Kalau mau bohong, setidaknya yang meyakinkan,” gumamnya pelan.

Cheyrin tidak membalas. Ia hanya menunduk lagi, menatap ujung sepatunya yang penuh debu dapur.

Steven menghela napas pelan. Tanpa sadar, tangannya terangkat dan mengelus pelan bagian atas kepala Cheyrin, seperti menenangkan adik kecil. Cheyrin terdiam, dan langsung menoleh ke Steven.

Gerakannya Steven berhenti setengah detik saat ia sadar apa yang baru saja ia lakukan.

“Maaf,” katanya cepat, suaranya sedikit canggung. “Tangan gue kebiasaan.”

Cheyrin terdiam. Ia tidak menyingkir, hanya tetap menunduk. 

Suasana hening kembali turun di antara mereka berdua. 

Belum sempat Cheyrin menjawab ucapan Steven, suara mesin motor terdengar berhenti tepat di depan minimarket.

Jayden turun dari motor dengan helm masih tergantung di siku. 

Matanya langsung mengarah ke Cheyrin dan Steven yang duduk berdekatan di kursi besi itu. Tatapannya sedikit menajam, curiga, tetapi ia tidak mengucapkan apa-apa. 

Bagaimanapun, Steven adalah sahabatnya.

Cheyrin langsung mengangkat kepala begitu menyadari kehadiran Jayden. 

Ia tampak sedikit terkejut, lalu buru-buru merapikan duduknya.

Jayden melangkah mendekat, suaranya datar saat bertanya pada Steven. 

“Kok lo ada di sini?”

Steven menyandarkan punggungnya ke kursi, menjawab santai seolah tidak terjadi apa-apa. 

“Lagi beli camilan. Ketemu dia duduk sendirian, jadi gue temenin sebentar.”

Jayden menatap Steven sejenak, seakan menimbang kebenaran alasan itu. 

Ia tidak melanjutkan pertanyaan. Tatapannya lalu beralih pada Cheyrin.

Tanpa banyak bicara, Jayden mengulurkan tangan ke arah Cheyrin. 

“Pulang. Udah malam.”

Nadanya bukan perintah kasar, hanya ajakan yang tidak bisa ditolak. 

Cheyrin menatap tangan itu sebentar, lalu menyambutnya pelan.

Jayden membantu Cheyrin berdiri, lalu berjalan menuju motornya. 

Seperti biasa, ia mengambil helm dan memasangkannya pada kepala Cheyrin dengan hati-hati.

Saat itulah ia melihatnya. 

Mata Cheyrin merah dan bengkak, bekas air mata yang tidak bisa disembunyikan sepenuhnya.

Gerakan Jayden terhenti. 

Ia menangkup kedua pipi Cheyrin dengan kedua telapak tangannya, memaksa gadis itu menatap matanya.

“Kenapa?” tanyanya pelan, suaranya rendah tetapi penuh kekhawatiran yang tidak bisa ia sembunyikan.

“Ada apa?” tanyanya pelan, suaranya rendah tetapi penuh kekhawatiran yang tidak bisa ia sembunyikan.

Cheyrin mengedip cepat. Tatapan Jayden terlalu dekat, terlalu serius.

Ia menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan sesuatu yang hampir lolos dari tenggorokannya.

“Ng… nggak ada apa-apa,” jawabnya akhirnya, suaranya serak.

“Cuma capek aja.”

Jayden tidak langsung melepaskan pegangannya. Ia menatap mata Cheyrin dalam-dalam, seolah mencari kebohongan di balik jawaban itu.

Steven di belakang mereka hanya diam, berpura-pura sibuk membuka bungkus snack agar tidak jadi pusat perhatian.

“Bohong ke gue nggak akan bikin masalahnya hilang,” ujar Jayden pelan.

“Kalau lo nggak mau cerita sekarang, gapapa, gue tunggu sampai lo siap.”

Cheyrin tidak menjawab. Ia hanya mengangguk kecil, lalu menunduk.

Hangat dari telapak tangan Jayden di pipinya masih terasa, dan untuk pertama kalinya malam ini, rasanya dia nggak sendirian nahan semuanya.

Jayden menghela napas pelan, lalu menurunkan tangannya.

“Nah, udah. Naik. Nanti kemaleman.”

Cheyrin menurut. Ia melangkah ke motor Jayden tanpa banyak bicara, sementara Steven hanya melambaikan tangan dari belakang dengan senyum tipis.

Motor Jayden melaju pelan meninggalkan minimarket.

Angin malam menerpa jaket mereka berdua, tapi tidak cukup untuk mengusir hening yang menggantung di antara.

Cheyrin duduk di belakang, memeluk pinggang Jayden erat.

Sejak awal, ia sudah menundukkan kepala, berusaha menyembunyikan wajahnya agar Jayden tidak melihat.

Tapi percuma.

Bahunya yang bergetar pelan dan napasnya yang tidak beraturan sudah cukup memberi tahu Jayden bahwa Cheyrin sedang menangis.

Jayden tidak bertanya lagi. Ia hanya mengerti.

Tangannya yang memegang stang sesekali bergerak sedikit mengusap punggung tangan Cheyrin yang melingkar di pinggangnya. Tanpa kata, tanpa janji kosong. Hanya memastikan gadis itu tahu ia tidak sendirian.

Perjalanan pulang terasa lebih lama dari biasanya.

Jalanan yang biasanya ramai kini terasa sunyi, hanya ada suara mesin motor dan desir angin.

Lama-lama, pelukan Cheyrin melemah.

Kepalanya yang sedari tadi menunduk mulai miring, lalu akhirnya bersandar pelan di pundak Jayden.

Jayden langsung menyadari.

Napas Cheyrin sudah teratur, terlalu teratur untuk orang yang masih terjaga.

Ia menoleh sedikit, cukup untuk melihat wajah Cheyrin yang terlelap dengan sisa air mata masih menempel di pipi.

Kelelahan. Kuliah pagi, kerja sampai malam, lalu harus menahan semuanya sendirian.

Jayden menghela napas pelan. "Dasar bocil sulit di tebak. Tiba-tiba nangis, tiba-tiba tidur."

Tangannya sedikit menyesuaikan posisi, memegangi tangan Cheyrin agar ia tidak terjatuh jika tubuhnya bergeser saat tertidur.

Sampai kos pun, ia tidak akan membangunkan Cheyrin dulu.

Biarlah gadis itu istirahat, walau hanya sebentar, di pundak yang memang selalu berusaha jadi tempatnya bersandar.

Motor berhenti di depan kos Cheyrin.

Lampu kuning yang menempel di tembok pagar mulai redup.

Jayden mematikan mesin.

Cheyrin masih terlelap di pundaknya, napasnya pelan dan teratur. Wajahnya terlihat lebih tenang sekarang, seolah semua beban yang ia tahan sepanjang hari ikut tertidur.

Jayden tidak langsung membangunkannya.

Ia menggeser sedikit tangan Cheyrin yang masih melingkar di pinggangnya, lalu merogoh pelan tas selempang gadis itu yang tergantung di samping.

Di dalam tas, jarinya menemukan gantungan kunci kecil berbentuk bintang.

Kunci kos Cheyrin.

Dengan hati-hati, Jayden mengangkat tubuh Cheyrin.

Ia menggendongnya seperti menggendong anak kecil, satu tangan menyangga punggung, satu lagi menopang lutut.

Langkahnya pelan saat naik tangga kos menuju kamar nya.

Pintu kamar nomor 7 dibuka dengan kunci itu, lalu ia membawa Cheyrin masuk dan membaringkannya pelan di atas kasur.

Jayden menarik selimut tipis dan menyelimuti Cheyrin sampai dada.

Ia tidak beranjak langsung. Duduk sebentar di pinggir kasur, menatap wajah Cheyrin yang akhirnya bisa istirahat tanpa harus berpura-pura kuat.

“Kasian kecapean,” gumamnya pelan, cukup untuk dirinya sendiri.

Lalu ia berdiri, mematikan lampu kamar, dan menutup pintu pelan-pelan.

STEVEN ALVARO

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!