NovelToon NovelToon
Bocah Kambil

Bocah Kambil

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Teen / Komedi
Popularitas:523.2k
Nilai: 4.9
Nama Author: Doris Gaverna

Bimo mengayuh sepedanya di tengah sinar jahat mentari. Entah melamunkan apa dia saat itu, ia tidak sadar sudah sampai di perempatan lampu merah dan tidak sempat mengerem sepedanya. Nahas, dia sangat terlambat. Ia menghantam seorang gadis yang berhenti di depannya.

Dimensi dalam diri mereka berhenti. Namun, lampu dengan cepat berubah hijau. Sejak kejadian itu, Bimo dihantui rasa penasaran karena perempuan itu sangat familiar baginya.

Hari ini, Adeth berangkat terlalu pagi. Kelas dan sekolahnya masih sepi. Tidak lama kemudian, muncul seorang lelaki dari balik pintu kelasnya untuk meminta bantuan. Adeth terkejut melihat lelaki itu.

Hai, terima kasih sudah mampir! Jangan lupa tekan tombol suka dan vote, ya, agar saya semangat untuk berkarya setiap harinya. Bagikan juga ke teman-teman kalian, ya, siapa tahu suka, karena dukungan dari kalian semua sangat warbyasah!

Find me on social media
IG: @dernatasw or @dahelart
FB: Derna Taswara

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Doris Gaverna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

006. Episode 06

Nita berjalan tergesa menuju markasnya di bawah tangga. Ia guncang gerbang besi penutup tangga. Nafasnya menggebu dan wajahnya memerah. Tangannya mengepal hingga urat nadinya membekas.

“Wah, wah, datang-datang nggak santai. Kenapa lagi kamu?” sambut Latif sambil menyilangkan lengannya di dada.

“Iya, nih. Santai dikit, lah,” sambung Marcel, sambil menyeruput ice blended-nya dengan muka super santai. Badannya yang tambun disandarkannya pada sebuah pilar penyangga tangga.

“Anjing si Adeth! Aku nggak terima sama cewek ganjen itu!” teriak Nita kesal. Ia ambil wadah plastik disampingnya dan membenturkannya keras-keras seperti orang tidak waras ke lantai.

Latif langsung berdiri sambil memasang mimik bingung dengan alis terangkat sebelah. “Lo ini kenapa, sih, sebenarnya? Gila atau sarap? Langsung cerita sini, jangan pake kode-kodean gitu, ribet keleus.”

“Cih, asal kalian pada tahu, ya, dia itu ngegodain gebetanku, Kak Bimo. Dia manfaatin muka sok polosnya itu buat ngeganjenin Kak Bimo. Siapa, sih, yang nggak tersayat melihat gebetan sendiri sama orang lain? Ilfeel banget sumpah, sama si Adeth itu. Anak *******.” Nita mengakhiri perkataannya dengan menghembuskan nafasnya kencang-kencang sehingga berpotensi badai pada upil-upil mungil di dalam hidungnya.

Marcel langsung terbatuk hebat. Ia memuncratkan hampir seluruh isi minuman di mulutnya. Sambil cengengesan, ia lap kotoran yang bercecer di sekitar lantai dan mulutnya.

“Jorok lo kuda,” Latif mengatai Marcel dengan memasang muka jijik.

 

“Sori, abangnya ngasih keju kebanyakan,” sahutnya beralasan agar tak dicap jorok oleh teman-temannya. “Gimana tadi? Sekarang posisi mereka dimana?”

 

“Itu, tuh. Di taman sebelah green house. Tapi sekarang nggak tahu,” jawab Nita dengan nada penuh kecemburuan. Ia putar bola matanya yang hitam sampai hampir terbalik. Dengan tangan kanan ditopangkan pada tangan kirinya, ia amati kukunya dengan centil sambil berkata, “kita labrak, yuk, pasti seru.”

“Kamu yakin? Muka mau ditaruh mana, kalau kita gagal ngelabrak dia? Terus, atas dasar apa kita melabraknya? Jika nggak ada alasan yang logis buat melabrak dia, mending siapin muka yang tebal, deh. Kalau kamu pacarnya juga, nggak apa-apa. Lha ini, masih gebetan pula,” sahut Latif cepat penuh pertimbangan.

“Jangan dulu, deh. Kita buat masa percobaan dulu. Jika sampai dia selama dua minggu tetap begitu tanpa perubahan, kita baru laksanakan rencana kita. Lagipula, lumayan juga, kan, buat ngumpulin bukti-bukti yang kuat sebelumnya,” tanggap Marcel bijak.

Nita cekikikan. Sambil merubah posisinya, ia tepukkan telapaknya pada jidat lebarnya. “Iya juga ya, kenapa aku gak mikir gitu, sih?”

“Karena pola pikirmu dangkal,” ujar sebuah suara tiba-tiba. Tiga kawanan terhenyak. Mereka mendapati Reyza berdiri dengan pose menantang di ambang gerbang tangga.

“Aku akan laporin kalian semua ke Adeth!” ancam Reyza serius sambil mendongakkan kepala. “Dan tentunya, guru BK juga. Kalian tidak berpikir sejauh, seperti ‘bagaimana jika ada yang mendengar pembicaraan kami?’, ya? Masalah gini saja dibesar-besarin. Selamat mencium aroma konseling.”

Dengan bibir atas disungginggkan, ia melangkah cepat meninggalkan kawanan yang masih terkejut terheran-heran. Latif yang tersadar segara mengejar Reyza. Ia berhasil meraih pergelangan tangannya. Secara refleks, Reyza menggigit tangan Latif. Latif mengerang kesakitan sementara Reyza tersenyum puas. “Makanya, jangan cari masalah sama Reyza.”

Nita segera berlari kencang menyusul Reyza. Fisiknya yang kecil memudahkannya berlari gesit dan mencengkeram lengan Reyza. Dibantu Marcel, mereka menyekap dan menyeret Reyza.

“Lepasin tangan najis dan munafik kalian dariku! Kalian semua, akan berakhir buruk! Manusia munafik!” teriak Reyza memecah keheningan koridor. Nita dengan geram mencengkeram dan mengangkat rahang Reyza.

“Kau dengar ini baik-baik. Kita nggak bakal ngelepasin kamu sampai dirimu membuat perjanjian dengan kita,” Nita memandang kedua kawannya, “kau harus berjanji nggak akan ngelaporin apapun kepada siapapun. Kau hanya punya dua pilihan. Menyerah atau dilaporkan. Mungkin kamu lupa, bahwa kami pandai membolak-balikkan keadaan. Dan ingat juga, jangan berani-berani membuat masalah dengan kami.”

“Begitu, ya? Kalian semua memang pengecut.”

Nita mengangkat dagu. “Aku menunggu jawaban.”

Reyza memutar otak dengan keras. Ia tidak mungkin menyerah pada keadaan, juga tidak mungkin melawan. Dirinya sadar bahwa itu juga bukan pilihan. Menyerah dan dilaporkan. Akhirnya ia menemukan solusi dan memilih satu keputusan.

“Baiklah, akan kuturuti semua yang akan kau katakan. Tapi juga dengan satu syarat.”

“Nggak perlu basa-basi. Kami nggak punya banyak waktu.”

“Dengar dan simak baik-baik. Aku akan turuti semua yang kalian katakan dengan syarat,” Reyza mengulang kata guna memberi penekanan, “jangan biarkan masalah ini sampai ke telinga siapapun. Atau—“

Reyza bangkit dan melepaskan cengkeraman kedua gadis tadi dengan kasar. Tangannya merogoh sesuatu dari balik sakunya. Ia mengeluarkan benda itu dan tersenyum penuh kemenangan. Tiga gadis tadi terperanjat. Sebuah kotak hitam seukuran genggaman tangan ada pada Reyza. Kotak yang saat ini juga dapat menjungkir balikkan dunia mereka. “Aku tidak akan segan-segan menyerahkan perekam suara ini kepada kepala sekolah.”

“Bagaimana kamu bisa ….”

“Oh, tentu bisa. Kalian lupa bahwa aku ketua Komite Ketertiban di sini, ya? Bukannya sombong, tapi aku juga merupakan mantan kepala Staf Kepercayaan Kepolisian karena kecerdikan dan kecerdasanku dalam memecahkan kasus dan masalah. Kalian tidak percaya, kan? Aku juga tidak percaya. Padahal, kan, aku masih SMP waktu itu. Aku direkrut setelah mengikuti lomba pemecahan masalah dengan skor sempurna. Kembali lagi ke topik, yang mana langkah awalnya adalah pengumpulan bukti dan pencarian jejak. So,” Reyza berjalan mengitari tiga gadis yang tengah panik mengatasi konflik batin mereka. Sadar akan posisi mereka yang saat ini tengah di ujung tanduk, Reyza berniat semakin memojokkan mereka, “jika sampai hal itu terjadi, dua minggu berikutnya akan tersebar kabar bahwa tiga siswi SMA 1 Gadjah Mada dikeluarkan dari sekolah karena terjerat kasus penganiayaan teman yang diduga disebabkan oleh rebutan kekasih. Dan boom, kasus ditutup.”

Reyza menyelesaikan kalimatnya dengan nada ancaman yang terkesan angkuh. Ia kembali memasukkan kotak rekaman tadi ke balik sakunya. Sementara tiga gadis tadi masih tercengang dengan kejadian barusan. Mereka tak percaya lawannya akan secerdik dan sehebat ini.

“Oh, ya, dan satu lagi,” imbuh Reyza, “aku akan berbaik hati jika kalian juga berbaik hati padaku, dengan catatan, syarat kalian tidak terlalu berat dan kalian tidak berkhianat. Bagaimana? Setuju?”

Latif menggigit bibirnya. Ia kemudian memandang kedua temannya yang terlihat amat sangat resah menghadapi nasib mereka selanjutnya. Reyza membungkukkan badan dan meyejajarkan wajahnya dengan muka Nita.

“Bagaimana gadis manis? Itu sudah cukup murah, bukan?” tanya Reyza ringan sambil menyentil hidung Nita.

“Kau mengalahkan kami dengan cara yang kotor!” bentak Nita dengan muka yang memerah. Kemudian ia usap wajahnya yang kelihatan sangat tertekan. Hatinya panas. Pikirannya menemui jalan buntu. Ia tidak menemukan satu carapun untuk menjatuhkan lawannya yang terbang makin tinggi tersebut. “Kau hanya membela sahabatmu.”

Reyza tertawa dengan nada meremehkan. Ia silangkan lengannya di depan dada. Sambil membetulkan letak kacamata, ia berjalan mendekat ke arah Nita yang tidak lebih tinggi dari lehernya.

”Apa katamu? Kotor? Sebentar. Apakah dapat kau sebut kotor kegiatan polisi yang mengeksekusi kriminalnya? Kotorkah cara si detektif terkenal, Sherlock Holmes yang menggunakan intuisi serta kecerdikannya dalam menangani kasus? Itukah yang disebut K-O-T-O-R? Sekarang lihat diri kalian. Meringkus diriku seorang dengan kalian yang bertiga, Itulah yang disebut kotor! Kenyataannya, sekarang kalian kalah, bukan? Wah, selamat. Selamat. Harga diri kalian jatuh dan terinjak-injak. Dan kalian tahu? Kalian mengotori harga diri kalian di hadapan lawan,” Reyza berceloteh panjang lebar dengan nada santai namun mampu menekan batin lawan. Nita yang merasa kalah mengerang keras sambil memukul tembok. Reyza melirik ke arah Nita kembali. “Ya …, dan, jika kau tadi berkata ‘kau hanya membela sahabatmu’, itu benar. Bukankah seperti itu seharusnya teman?”

“Baiklah, bodoh, kau yang meminta,” desis Nita.

“Silakan.”

“Permintaan yang pertama, kau harus selalu mengirimkan laporan mengenai perkembangan hubungan Kak Bimo dan Adeth. Tanpa pemalsuan,” pinta Nita dengan sedikit penekanan pada akhir kalimat.

“Mudah saja,” jawab Reyza ringan dengan menaikkan alis dan mengangkat bahu sambil berlalu. Ketiga kawanan itu menatap Reyza seolah-olah jijik. Sedetik kemudian, langkah Reyza terhenti.

“Oh, ya, satu hal kecil lagi,” ujar Reyza sambil membalikkan badan. “Jangan pernah memancing masalah denganku. Kenapa? Karena aku orangnya terlalu vulgar. Jadi jika kalian masih ingin tubuh kalian mulus tanpa lecet atau memar, jangan dicoba, ya. Dan tentunya juga karena kotak hitam tadi. Terimakasih, selamat dimarahi guru karena istirahatnya sudah habis.”

Reyza mengakhiri kalimatnya dengan santai dan tangan melambai. Ketiga sahabat itu tercekat. Marcel menepuk jidatnya sambil berjalan menuju anak tangga. “Mati kita. Woi, ngapain? Kok, malah bengong? Buruan naik, jangan songong.”

Latif mengikuti Marcel, disusul Nita dari belakang. Langkah Nita tertahan. Dari ekot matanya ia dapat melihat bayangan seseorang. Seseorang yang berhasil menjatuhkan harga dirinya. Ia menatap dengan jijik seseorang itu. Tangannya meremas roknya dan rahangnya mengeras.

Lihat saja Reyza, siapa yang akan kalah selanjutnya, gumam Nita penuh dendam. Ia membalikkan badan dengan keras. Saat berbalik, kepalanya menghantam sesuatu yang bidang. Nita mengaaduh kesakitan. Ia melongokkan kepala untuk melihat siapa atau apa yang ditabraknya. Sepasang matanya membulat tak percaya. Nita memekik kaget.

“Kak Bimo?!”

___________________________________

Kok ... saya malu, ya, baca ulang tulisan saya sendiri? Sudahlah.

Hai, terima kasih sudah mampir! Bagikan ke teman-teman kalian, ya, siapa tahu suka. Karena, dukungan dari kalian semua sangat warbyasah!

Find me on social media

IG: @dernatasw or @dahelart

FB: Derna Taswara

1
Cut SNY@"GranyCUT"
masin subuh
Cut SNY@"GranyCUT"
mama bagaimana sih.. anaknya cantik kok dibilang wajahnya buruk..
Cut SNY@"GranyCUT"
waduh cantik kok jorok sih ndok.. seminggu gak keramas mambune koyo bunga raflesia arloldi.. namanya keren ya, tapi istilah indonesianya bunga bangkai... 😆
Mukmini Salasiyanti
laaaaa...
waahhhh
ternyata..
ada saingan mu, Deth....
Mukmini Salasiyanti
Berdebar..
adrenalin naik..
sePi (sesak pipis) thor..
😄🤣🤣
Mukmini Salasiyanti
maaf thor..
bocah Kambil itu apa ya artinya??
Mukmini Salasiyanti
nyimak thor
salken
Rahma Husnul
dr tutur bahasanya, penulis punya pemikiran yg dewasa. meski yg di sajikan cerita anak SMA ... keren 👍👍👍
Rahma Husnul
suka dg pemilihan katanya. terus semangat berkarya ya 💪💪💪
Dawet_Legi
hai kak aku mampir, kapan" mampir baca karyaku juga ya..thanks🙏☺️
ruhaynizz
mampir nih thor
Zuai Azmi
satu vote buat athor 👍👌
r4tn4🌛
penasaran sama judulnya, trnyta ceritanya seru juga👍
harie insani putra
salam kenal ijin meninggalkan jejak di sini ya thooorrr
lembayungsenja88
masalahnya kau terlalu lemah dan dungu bimo
lembayungsenja88
lemah kau Bimo banci heang.
Anita Suwarti
Bocah kambil,, ank pramuka thor???
jd inget tempo dulu pas ikut pramuka,
azkia zain
kok enggak update, kayaknya kan Senin ma Kamis,
مي زين الش
sdh aq kasih vote dan like kakak... . sukses sll ya
im_ha
10 like untukmu ya Thor. mampir juga di karyaku DOAKU BERBEDA DENGAN DOAMU 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!