Kisah seorang gadis yang menikah diusia muda. Dia menikah dengan seorang pengusaha tampan karena perjodohan dari orang tuanya. Meskipun mereka dijodohkan tapi mereka saling menyukai. Diawal pernikahan mereka sangat bahagia. Hingga suatu hari pernikahan mereka hancur penuh dengan penyesalan...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vi Oktavia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Aira sudah bangun. Aira ingin memberikan sesuatu kepada Anaya Sebagai kenang-kenangan bahwa mereka pernah menjadi sahabat. Meskipun Aira tidak tahu suatu hari nanti mereka masih bisa bertemu atau tidak. Hadiah itu bukanlah barang mahal atau barang berkelas. Tapi setidaknya Anaya bisa mengingat Aira & tidak melupakan Aira.
Setelah selesai mandi dan ganti pakaian, Aira ingin berpamitan pada ibunya "Buu, Aii..."
Seketika terhenti saat dia mengingat bahwa ibunya sudah tidak ada lagi. Aira pun bicara dengan dirinya sendiri sambil memukul kepalanya.
"Airaaa.. apa yang kau lakukan." Wajah Aira berubah menjadi sedih.
"Ai sangat merindukan kalian Ibuu, Bapaak. Hiks hiks hiks..." Aira pun menangis sejadi-jadinya.
Namun tiba-tiba tangisan itu hilang seketika saat dia ingat Anaya yang akan pergi ke London.
"Astaga, kenapa aku menangis di sini. Haiiih, Anaya akan pergi hari ini!!. Bukannya bergegas pergi, aku justru menangis di sini. Ada-ada saja." Gumam Aira.
Aira langsung bergegas menuju rumah Anaya dengan berjalan kaki, sambil berlari-lari. Sesampainya di rumah Anaya, Aira sengaja tidak memencet bel pintu tapi Aira mengetuk pintunya.
"Tok..Tok..Tok.. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Sahut Bik Ira dari dalam rumah. "Maaf, Non Cari siapa Ya?." Tanya Bik Ira.
"Naya Ada Bik?."
"Oo cari Non Naya Ya!!. Apa Non ini temannya Non Naya??."
"Iya betul Bik. Saya temannya."
"Ooh begitu. Tunggu sebentar ya non, Bibi panggilkan non Naya dulu." Sambung Bi ira.
"Baik Bik." Sambung Aira sambil tersenyum. Aira menunggu Anaya di luar rumah. Bi Ira tidak berani menyuruhnya masuk. Karna selama ini tidak ada teman Anaya yang berani untuk main kerumahnya. kecuali Yana dan Diah teman Siska. Bi Ira takut Siska akan marah besar nanti jika mengetahui ada teman Anaya yang main ke rumah mereka. Tentu saja Aira sudah tahu alasan kenapa Bi Ira tidak menyuruhnya masuk.
"Noon.." Bi Ira mengetuk pintu kamar Anaya.
"Iya bi, Ada apa?." Anaya membukakan pintu.
"Non Naya, di bawah ada teman Non". Bi Ira terdengar berbisik-bisik di telinga Anaya. Anaya sangat terkejut.
"Haah, Bibi serius. Siapa Bik?."
"Bibi lupa tanya namanya. Mendingan non buruan samperin dia sebelum non Siska melihatnya".
"Baiklah Bi. Naya akan turun."
"Siapa ya.. Apa mungkin Aira. Ya udah deh mendingan aku turun sebelum Siska lihat." Batin Anaya.
Anaya mengintip dari pintu kamarnya ada Siska atau tidak. Karna Naya tidak melihat keberadaan Siska. Anaya langsung bergegas turun dengan cepat. Karna dia takut jika Siska lihat pasti akan menjadi masalah dan Naya tidak mau terjadi sesuatu kepada sahabatnya itu.
"Ai".
Anaya langsung menarik Aira ke taman belakang rumah. Anaya masih celingak celinguk seperti maling yang akan ketahuan.
"Ada Apa??. Tumben kau ke rumah ku. Ada hal penting apa?." Tanya Anaya.
"Aku ingin memberi mu sesuatu, Nay. Tapi ini sangat tidak sebanding dengan apa yang kau berikan pada ku kemarin."
"Aahh. Kau ini. Kau tahu kan Ai, jika Siska melihat mu maka kau akan dalam masalah".
"Iya, aku tahu."
"Lalu kenapa kau masih nekad juga datang ke rumah ku. Haiiss Airaaa. Kau itu ada-ada saja ya. Huuh.."
"Bagaimana aku bisa menghubungi mu, haah. Aku sendiri bahkan tidak punya telpon."
"Iya juga ya. Memangnya kau ingin memberi ku apa Ai?." Anaya benar-benar penasaran.
"Hemm. Baiklah. Aku hanya ingin memberikan ini. Foto-foto kita waktu SMP kemarin. Aku membuat buku ini agar kau tidak melupakan ku. Kau tahu, setelah pulang sekolah kemarin aku membuat ini khusus untuk mu. Aku harap kau menyukainya."
Mendengar perkataan Aira, Anaya sangat terharu & langsung memeluk Aira. Betapa Aira sangat menyayangi sahabatnya itu. Bahkan dia sampai nekad datang ke rumah Anaya hanya untuk memberikan buku kecil yang berisikan beberapa foto mereka berdua dan ada beberapa tulisan tangan yang dibuat oleh Aira.
Aira bahkan tidak peduli apa yang akan terjadi dengan dirinya jika sampai Siska melihatnya. Yang Aira pikirkan saat ini hanyalah bagaimana agar aira bisa memberikan buku kecil itu kepada Anaya. Karna Aira tidak ingin kehilangan sahabatnya itu.
"Makasih ya Ai, aku tidak menyangka sebesar ini rasa sayang mu terhadap diri ku. Aku janji, setelah aku sukses, aku akan kembali kesini untuk mencari mu." Ucap Anaya
Seketika Aira melepaskan pelukannya, karna perkataan Anaya itu sudah mengingatkan Aira pada om Nando sahabat ayahnya itu.
"Kau kenapa Ai?." Pertanyaan Anaya membuyarkan lamunannya.
"Aahh.. tidak apa Nay. Tiba-tiba aku teringat Bapak & Ibu." Jawab aira berbohong. Anaya hanya diam saja.
"Ya sudah aku pulang dulu ya Nay. Kau juga harus pergi kebandara kan?. Jangan sampai kau ketinggalan pesawat. Byee Naya." Ucap Aira
"Bye Aira. Pergilah!!. Cepat!!. Jangan sampai Siska melihat mu. Cepat pergilaah!!." Pinta Anaya
Aira pun berlari meninggalkan Anaya. Tak terasa bulir air mata membasahi pipi aira. Anaya pun menangis melihat kepergian sahabatnya itu. Tiba-tiba Siska datang dan teriak kepada Anaya.
"Heeh. Ternyata kau disini. Kenapa menangis, ada apa hah??. Kayak bocah saja. Buruaaan!!. Ketinggalan pesawat baru tau rasa." Siska datang membuyarkan perasaan Anaya.
"Dasar cengeeng. Hiiish." Siska menunjukkan wajah sinisnya. Anaya tidak menjawab hanya menatap tajam kearah Siska.
"Apa liat liat!!."
Anaya langsung pergi ke mobil tanpa menoleh. Karna semua koper pakaiaan sudah dikemas oleh pembantunya dan sudah diletakkan di dalam bagasi mobil. Mereka langsung berangkat menuju bandara. Sesampainya di London, di Mension Siska & Anaya langsung disambut hangat dengan penuh cinta oleh kedua orang tuanya. Orang tuanya sendiri sudah lama tidak bertemu dengan kedua anaknya itu semenjak kelulusan SD.
"'Mommy......!!"
"Anayaaa. Sayank Mommy." Tasya langsung memeluk Anaya. "Maafkan Momy sayang, karna mommy tidak bisa menjemput kalian berdua." Ucap Anastasya
"Tidak apa Mom." Jawab Anaya.
"Daddy.....!!. Anaya kangen sama Daddy." Anaya memanyunkan bibirnya sambil memeluk Daddynya.
"Uuh kesayangan Daddy, sini Daddy peluuk." Tomy Wirawan Merentangkan kedua tangannya kedepan & memeluk Anaya.
"Dedy juga kangen sama Anaya". Tomy mencium pucuk kepala Anaya. Sedangkan Siska hanya diam saja. Tanpa mengatakan apa pun.
"Siska sayang. Kok dari tadi Siska diam saja siih. Tidak mau peluk Mommy??. Siska tidak kangen sama Mommy??." Tasya merentangkan tangannya kedepan berharap Siska akan memeluknya namun Siska masih tetap diam.
"Apa Siska juga tidak kangen sama Daddy?." Sambung Tomy. tetapi Siska masih tetap diam.
"Ehh, Songong!!. Momy sama Daddy ngomong sama Lu, bukan ngomong sama batu😏." Sambung Anaya.
"Gaaaaaak😒." Ucap Siska dengan sinis dan langsung pergi berlalu meninggalkan mereka bertiga.
Dengan ekspresi yang seperti itu tentu saja itu membuat Tasya dan Tomy merasa kecewa. Tapi harus bagaimana lagi begitulah sifat Siska sejak kecil. Angkuh, sombong dan pendendam. Berbeda dengan Anaya yang memiliki sifat baik, ramah, sopan, ceria & penyayang.
mimpi itu juga hanya dialaminya setiap 5thn sekali, seperti musiman saja😁😅 kereen thor
Sukses bwt kk 💐❤️
lanjut kak semangat!!!
pasti skrg unyu2 nggemesin dede bayinya😭😭 aq pengen dede bayii😔
jgn lama2 ya kak updatenya, udh ga sabar
dan semoga novelnya sukses 🤲 aamiin ya rabbal'alamiin 🤲