NovelToon NovelToon
The Ghost Of Uchiha In One Piece

The Ghost Of Uchiha In One Piece

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Naruto / One Piece
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Bahari

Setelah rencana Mugen Tsukuyomi hancur, Madara Uchiha menemui ajalnya di Perang Dunia Ninja Keempat. Namun, bukannya pergi ke alam baka, ia justru terbangun di pesisir Grand Line yang ganas dalam wujud remajanya yang berusia 16 tahun. Kehilangan ambisi lamanya, sang "Hantu Uchiha" kini hanya ingin hidup bebas dan terlepas dari pertumpahan darah yang tak berarti.

​Berbekal sebuah Sistem misterius yang memulihkan kekuatan dewanya secara bertahap, Madara memulai perjalanan barunya. Ironisnya, sikap Madara yang arogan, dingin, dan selalu menolak membunuh musuh lemah malah memicu rentetan kesalahpahaman yang konyol. Dunia dan para pengikutnya—mulai dari Nico Robin, Boa Hancock, hingga Enel—menyanjungnya sebagai sosok penyelamat agung sekaligus penguasa mutlak yang tak tertandingi.

​Bersama Bajak Laut "Mugen", eksistensi Madara perlahan meruntuhkan alur takdir lautan. Mulai dari mempermalukan Angkatan Laut, membelah langit melawan Yonko, hingga diakui sebagai "Kaisar Kelima".

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Sang Gadis Salju di Pasar Budak

​Angin laut yang berhembus di perairan ini tidak membawa aroma garam yang menyegarkan. Udara terasa berat, bercampur dengan bau karat besi, kayu lapuk, dan keserakahan manusia.

​Kapal Bajak Laut Mugen berlabuh di sebuah pelabuhan yang tersembunyi di balik tebing karang hitam. Tempat ini adalah titik buta dari pengawasan Angkatan Laut. Sebuah pulau pasar gelap yang menjadi tempat persinggahan terakhir sebelum rute resmi Grand Line dimulai.

​Uchiha Madara melangkah menuruni papan titian kapal. Sandal kayunya berketuk pelan menyentuh dermaga batu yang berlumut.

​Di belakangnya, Nico Robin dan Vinsmoke Reiju mengikuti dengan jarak yang sangat teratur. Mereka berdua mengenakan jubah kain tebal yang menutupi kepala dan tubuh mereka, menyembunyikan identitas dan kecantikan mereka dari tatapan liar para kriminal pelabuhan.

​Tujuan Madara turun ke tempat kotor ini sangat sederhana.

​Bilah sabit hitamnya telah hancur dalam pertarungan sebelumnya karena kelelahan material. Logam dari eksoskeleton Germa terbukti tidak cukup kuat untuk menampung tekanan Haki Persenjataan dan benturan skala besar secara terus menerus. Dia membutuhkan material baru. Sebuah logam yang lebih padat, lebih langka, atau logam pengantar chakra jika dunia ini memilikinya.

​Jalanan pelabuhan dipenuhi oleh tenda-tenda kumuh dan pedagang gelap. Mereka menjual senjata selundupan, peta palsu, dan obat-obatan terlarang.

​Madara berjalan melewati semua itu tanpa menoleh. Kenbunshoku Haki miliknya menyebar seperti jaring laba-laba, memindai seluruh pulau untuk mencari aura material berkualitas tinggi atau energi kehidupan yang menarik.

​Langkah Madara terhenti di depan sebuah bangunan batu bata besar yang setengah bangunannya terkubur di bawah tanah.

​Bangunan itu tidak memiliki papan nama. Dua orang penjaga berbadan besar dengan pedang melingkar di pinggang berdiri menghalangi pintu masuk kayu jati yang tebal.

​“Hanya tamu dengan undangan atau uang jaminan 10.000.000 Berries yang boleh masuk,” ucap salah satu penjaga dengan suara kasar, menatap Madara dari atas ke bawah.

​Madara tidak menjawab. Dia bahkan tidak menghentikan langkahnya.

​Saat jarak mereka tersisa dua meter, sebuah tekanan energi spiritual yang sangat pekat keluar dari tubuh Madara. Itu bukan Haoshoku Haki, melainkan murni hawa membunuh dari seorang ninja elit yang menekan sistem saraf targetnya.

​Kedua penjaga itu melebarkan mata mereka. Udara di sekitar mereka mendadak terasa membeku. Paru-paru mereka seolah diremas oleh tangan tak kasatmata. Mereka kehilangan kesadaran seketika, jatuh menabrak pintu kayu hingga terbuka lebar.

​Madara melangkah masuk melangkahi tubuh mereka, diikuti oleh Robin dan Reiju dalam keheningan.

​Suasana di dalam bangunan itu sangat kontras dengan di luar.

​Sebuah aula besar yang melingkar menyerupai arena pertunjukan panggung. Lampu-lampu kristal menggantung di langit-langit, menerangi puluhan kursi beludru yang diduduki oleh para bangsawan korup, pedagang senjata, dan bajak laut kelas menengah. Asap cerutu mengepul tebal memenuhi ruangan.

​Di tengah aula, terdapat sebuah panggung kayu tempat pelelangan sedang berlangsung.

​Seorang pembawa acara berpakaian jas eksentrik sedang mengetukkan palu kayunya. Dia baru saja menjual sebuah pedang berkualitas rendah dengan harga yang tidak masuk akal.

​Madara berjalan menyusuri lorong atas yang gelap. Dia menyandarkan tubuhnya pada pilar batu di area balkon belakang, tempat yang memberikan pandangan luas ke seluruh isi ruangan.

​Robin dan Reiju berdiri diam di belakangnya. Mereka tahu kapten mereka sedang mengamati barang-barang lelang untuk mencari material yang dia butuhkan.

​Beberapa barang dilewati. Ada pelindung dada berlapis emas, meriam portabel, dan bahkan sebutir Buah Iblis palsu yang langsung dikenali Robin dari pola spiralnya yang cacat. Madara menatap semua itu dengan kebosanan mutlak. Tidak ada satu pun barang di tempat ini yang pantas untuk dilebur menjadi senjatanya.

​“Barang selanjutnya!” teriak sang pembawa acara melalui pelantang suara.

​Suara roda besi berderit nyaring. Dua orang penjaga panggung mendorong sebuah kerangkeng besi berukuran besar dari balik tirai merah.

​Suasana di dalam aula mendadak riuh. Tatapan lapar dan penasaran langsung tertuju ke arah panggung. Bisik-bisik keserakahan terdengar berdengung di telinga Madara.

​Di dalam kerangkeng besi tebal itu, terdapat seorang gadis muda.

​Gadis itu sedang berlutut di atas lantai besi yang dingin. Pakaiannya hanya berupa kain putih kusam yang robek di beberapa bagian. Rambutnya berwarna hijau pucat, berantakan, dan menutupi sebagian wajahnya.

​Namun, yang membuat kerumunan itu menahan napas bukanlah wajahnya.

​Di punggung gadis itu, menempel sepasang sayap buatan yang terbuat dari bulu dan kerangka logam ringan. Sayap itu adalah hasil dari operasi eksperimen pasar gelap yang sangat kejam dan tidak manusiawi. Luka jahitan kasar masih terlihat memerah di sekitar pangkal sayap yang menyatu dengan kulit punggungnya.

​Rantai besi berukuran tebal melilit leher, kedua pergelangan tangan, dan pergelangan kakinya. Ujung rantai itu tertanam kuat di lantai kerangkeng.

​“Tuan dan Nyonya! Perhatikan karya seni biologis yang langka ini!” teriak pembawa acara dengan penuh semangat.

​Dia memukul jeruji besi kerangkeng dengan tongkatnya, memaksa gadis itu untuk mengangkat wajahnya.

​“Gadis dengan sayap hasil rekayasa. Bertahan hidup dari operasi transplantasi yang membunuh sembilan puluh sembilan persen subjek uji coba lainnya! Sangat cocok untuk menjadi koleksi hewan peliharaan eksotis di halaman belakang Anda!”

​Para penonton tertawa dan bersorak. Mereka mulai meneriakkan angka tawaran.

​“20.000.000 Berries!” teriak seorang pria gemuk dari kursi depan.

​“35.000.000 Berries!” sahut pedagang bersorban dari sisi kanan.

​Di balkon gelap, Madara tidak memedulikan angka-angka yang diteriakkan. Fokus matanya menembus keramaian, mengunci langsung ke arah wajah gadis berambut hijau pucat di dalam sangkar besi tersebut.

​Gadis itu adalah Monet.

​Madara melihat mata gadis itu. Mata berwarna emas kekuningan yang menatap tajam dari balik poni rambutnya yang berantakan.

​Tidak ada air mata di sana. Tidak ada keputusasaan yang biasa terlihat pada budak yang pasrah pada nasib. Meskipun tubuhnya dipenuhi luka, meskipun lehernya dirantai seperti binatang peliharaan, mata itu memancarkan tekad yang sangat keras. Tekad untuk terus hidup, tekad untuk membalas dendam, dan sebuah hawa membunuh yang terpendam di dasar jiwanya.

​Bagi Madara, tatapan mata adalah cermin dari jiwa seseorang.

​Dia telah melihat ribuan prajurit menangis dan memohon ampun di medan perang. Dia membenci kelemahan. Tetapi gadis ini, yang sedang berada di titik terendah dari jurang penderitaan, menolak untuk menundukkan jiwanya.

​Madara melihat sebuah bayangan insting bertahan hidup dari seorang shinobi sejati di dalam mata emas tersebut.

​'Mata yang bagus,' batin Madara memberikan penilaian. 'Sebuah pisau yang belum diasah. Jauh lebih berharga daripada semua logam rongsokan di pulau ini.'

​Penawaran di bawah sana terus meningkat.

​“75.000.000 Berries!” teriak seorang bajak laut dengan parut di wajahnya.

​Ruangan itu menjadi sedikit hening. Angka itu terlalu besar untuk seorang budak eksperimen. Sang pembawa acara tersenyum lebar, mengangkat palunya bersiap untuk menutup lelang.

​“75.000.000 Berries untuk pertama! Kedua! Dan ke...”

​Brak.

​Suara ledakan batu yang sangat keras memotong kalimat pembawa acara.

​Seluruh kepala di dalam aula serentak menoleh ke arah balkon belakang.

​Dinding batu yang menjadi pagar pembatas balkon itu hancur berkeping-keping. Serpihan kerikil dan debu mengepul ke udara.

​Uchiha Madara melangkah menembus kepulan debu tersebut. Dia tidak berjalan memutar mencari tangga. Dia langsung melompat dari ketinggian sepuluh meter, mendarat tepat di tengah lorong yang memisahkan kursi-kursi penonton.

​Jubah merahnya berkibar pelan. Sandal kayunya menghantam lantai kayu aula tanpa menimbulkan suara berderit, namun getaran pendaratannya terasa hingga ke seluruh ruangan.

​Para bangsawan dan pedagang gelap menahan napas. Mereka menatap pemuda misterius yang tiba-tiba muncul menghancurkan fasilitas lelang.

​Robin dan Reiju melompat turun menyusul di belakangnya, berdiri diam menjaga jarak.

​“S-Siapa kau?! Berani-beraninya mengacaukan lelang ini!” teriak pembawa acara dari atas panggung dengan suara bergetar panik.

​Dia melambaikan tangannya memberikan isyarat.

​Dari balik tirai dan sudut-sudut ruangan, puluhan penjaga pasar budak bermunculan. Mereka adalah pembunuh bayaran yang disewa khusus untuk menjaga keamanan. Mereka membawa pedang berukuran besar, kapak ganda, dan senapan api laras panjang.

​Sekitar tiga puluh orang penjaga berlari merangsek maju mengepung Madara di tengah lorong.

​Para penonton lelang yang ketakutan segera merunduk dan bersembunyi di bawah kursi beludru mereka.

​Madara berdiri dengan tenang. Kedua tangannya disilangkan santai di depan dada. Dia sama sekali tidak berniat mencabut senjata. Mengotori tangannya dengan darah penjaga rumah lelang rendahan ini adalah sebuah penghinaan bagi taijutsu-nya.

​Dia akan menggunakan metode yang jauh lebih elegan dan mutlak.

​Puluhan penjaga itu sudah berjarak kurang dari tiga meter darinya. Beberapa dari mereka sudah melompat ke udara mengayunkan kapak mereka lurus ke arah kepala Madara.

​Madara membuka kelopak matanya perlahan.

​Iris matanya yang berwarna hitam kelam berputar secara instan. Warna merah darah menyapu bola matanya. Tiga tanda koma hitam muncul dan berputar mengelilingi pupil matanya dengan sangat cepat.

​Sharingan.

​Mata merah itu memancarkan cahaya redup di tengah ruangan yang remang-remang.

​Madara tidak melepaskan gelombang tekanan fisik. Dia melepaskan gelombang energi spiritual langsung ke pusat saraf optik puluhan penjaga yang sedang menatap matanya secara bersamaan.

​Genjutsu tingkat tinggi dijatuhkan.

​Bagi puluhan penjaga yang sedang menyerangnya, dunia nyata mendadak menghilang dalam sekejap mata.

​Realitas di sekitar mereka hancur menjadi pecahan kaca. Warna ruangan berubah menjadi negatif. Atap bangunan menghilang, digantikan oleh langit berwarna merah darah yang sangat pekat. Awan-awan hitam berputar melingkari sebuah bulan purnama yang juga berwarna merah kegelapan.

​Gravitasi menghilang. Tubuh para penjaga itu terasa melayang, sebelum akhirnya terikat kuat pada sebuah salib kayu berwarna hitam yang tertancap di atas lautan air berwarna kelabu.

​Mereka tidak bisa menggerakkan jari mereka sedikit pun. Mulut mereka dibungkam oleh keheningan dimensi ilusi.

​Di depan setiap salib kayu tersebut, berdiri sosok pemuda berarmor merah. Ratusan klon ilusi dari Madara berdiri memegang sebuah pedang katana panjang yang berkilau dingin.

​Wajah Madara di dalam genjutsu itu sama datarnya dengan di dunia nyata.

​Tidak ada kata peringatan. Tidak ada negosiasi.

​Klon-klon ilusi itu secara serentak menusukkan pedang katana mereka tepat ke bagian perut para penjaga yang terikat di salib.

​Rasa sakitnya terasa sangat nyata. Saraf rasa sakit di otak mereka merespons ilusi itu sebagai sebuah kebenaran absolut. Sensasi logam dingin yang merobek kulit, menembus otot, dan menggesek tulang belakang terasa begitu detail dan mengerikan.

​Darah ilusi menetes ke lautan kelabu.

​Belum sempat mereka mencerna rasa sakit tusukan pertama, klon Madara mencabut pedang itu dan menusukkannya kembali di titik yang berbeda. Di paha. Di bahu. Di paru-paru.

​Satu suara bariton bergema dari segala penjuru langit merah tersebut, menembus langsung ke dalam jiwa para penjaga yang sedang disiksa.

​“Waktu, ruang, dan massa di dalam dunia ini berada di bawah kendaliku secara mutlak.”

​Tusukan pedang terus berlanjut tanpa henti. Ritmenya konstan dan menyiksa.

​“Di dunia nyata, kalian mungkin akan mati dalam hitungan detik. Tetapi di sini, kalian akan merasakan pedang ini menembus daging kalian selama tujuh puluh dua jam ke depan.”

​Kepanikan dan keputusasaan yang tidak bisa diukur dengan nalar manusia menghancurkan kewarasan para penjaga tersebut. Tujuh puluh dua jam disiksa tanpa bisa pingsan dan tanpa bisa mati. Waktu terasa merenggang tanpa batas.

​Ribuan tusukan. Puluhan ribu tusukan. Rasa sakit menumpuk menghancurkan akal sehat mereka menjadi serpihan debu.

​Tiga hari tiga malam dalam neraka ilusi psikologis berlalu dengan sangat lambat dan menyiksa.

​Lalu, dimensi merah itu hancur berantakan.

​Di dunia nyata, waktu baru saja berlalu selama tiga detik.

​Tiga detik sejak kapak penjaga itu diayunkan dari udara. Tiga detik sejak Madara membuka mata Sharingan-nya.

​Suara dentingan logam jatuh memenuhi aula pelelangan.

​Kapak, pedang, dan senapan terlepas dari genggaman para penjaga. Tubuh mereka yang sedang melompat di udara jatuh menghantam lantai kayu bagaikan karung beras yang berat.

​Pemandangan yang terjadi selanjutnya membuat darah para bangsawan dan pedagang di ruangan itu membeku.

​Para penjaga itu tidak pingsan. Tubuh fisik mereka sama sekali tidak memiliki luka goresan. Tidak ada setetes darah pun yang keluar dari kulit mereka.

​Namun reaksi tubuh mereka menceritakan kengerian yang berbeda.

​Ketiga puluh orang penjaga itu berteriak histeris dengan suara yang sangat melengking, seolah-olah pita suara mereka akan robek. Jeritan itu adalah jeritan murni dari rasa sakit yang terbawa dari dimensi ilusi ke dalam sistem saraf nyata mereka.

​Mata mereka memutih dan membelalak lebar, urat-urat merah menonjol keluar dari bola mata mereka. Mulut mereka mengeluarkan busa putih yang bercampur dengan air liur.

​Mereka mulai menggelepar di atas lantai kayu.

​Tangan-tangan besar mereka bergerak dengan brutal. Mereka mengangkat tangan mereka sendiri dan mulai mencakar wajah mereka. Kuku-kuku mereka merobek kulit pipi, mencakar kelopak mata, dan mencekik tenggorokan mereka sendiri dengan kekuatan penuh.

​Mereka berusaha menghentikan ilusi rasa sakit yang masih tertinggal dan menyengat otak mereka. Mereka melukai diri mereka sendiri secara fisik hanya untuk mencoba terbangun dari mimpi buruk yang sebenarnya sudah berakhir.

​Darah segar mulai mengalir dari wajah dan leher mereka akibat cakaran kuku mereka sendiri.

​Jeritan kesakitan dan suara rintihan gila itu bergema memenuhi aula pelelangan yang tertutup, menciptakan simfoni neraka yang langsung menghancurkan mental siapa pun yang mendengarnya.

​Para bangsawan gemuk yang bersembunyi di bawah kursi menutup telinga mereka rapat-rapat. Beberapa dari mereka menangis ketakutan dan mengompol di celana. Mereka menatap pemuda berarmor merah di tengah lorong itu seolah menatap inkarnasi iblis yang baru saja merangkak keluar dari jurang penderitaan.

​Di balkon belakang, Robin dan Reiju menatap kejadian itu dengan ekspresi paham.

​Mereka berdua adalah wanita yang sangat mengenal konsep pembunuhan. Tetapi apa yang baru saja dilakukan oleh kapten mereka berada di tingkat kekejaman yang berbeda. Menghancurkan jiwa dan akal sehat musuh dari dalam, membiarkan tubuh musuh menghancurkan dirinya sendiri.

​'Kekuatan mental yang tidak bisa dilawan,' batin Robin, mencatat kengerian teknik ilusi mata merah tersebut.

​Reiju menelan ludah. Kehebatan ilmu medis dan kekebalan racunnya tidak akan ada gunanya jika otaknya dikunci dalam sangkar ilusi seperti itu. Kepatuhannya pada Madara semakin mengeras menjadi absolut.

​Madara menurunkan lengannya yang menyilang.

​Dia tidak repot-repot melihat para penjaga yang sedang mencakar wajah mereka sendiri di atas lantai. Matanya sudah kembali berwarna hitam kelam biasa.

​Dia melangkah dengan tenang melewati tubuh-tubuh yang menggelepar tersebut. Sandal kayunya melangkah rapi, tidak menyentuh tetesan darah yang mulai mengotori lantai aula.

​Madara berjalan menaiki beberapa anak tangga kayu menuju panggung utama.

​Sang pembawa acara lelang telah mundur hingga tubuhnya membentur dinding tirai belakang. Pria jas eksentrik itu jatuh terduduk, memeluk kakinya dengan tubuh bergetar sangat hebat. Wajahnya sepucat kertas.

​Madara melewati pembawa acara itu seolah pria itu hanyalah udara kosong.

​Dia melangkah mendekati kerangkeng besi besar yang terletak di tengah panggung.

​Di dalam kerangkeng, Monet masih berlutut.

​Gadis berambut hijau pucat itu menatap pemuda yang berjalan menghampirinya. Matanya yang berwarna emas kekuningan melebar perlahan. Dia telah melihat pembantaian aneh di bawah panggung tadi. Dia melihat bagaimana para penjaga itu kehilangan kewarasan hanya dalam hitungan detik tanpa disentuh.

​Monet merasakan hawa kematian yang pekat menguar dari tubuh pemuda ini. Ketakutan menyusup ke dalam hatinya, namun dia memaksa dirinya untuk tidak menundukkan kepala. Tekadnya untuk hidup menahan rasa takut tersebut. Dia membalas tatapan Madara tanpa berkedip.

​Madara berhenti tepat di depan jeruji besi.

​Dia menatap mata gadis bersayap buatan itu dari jarak dekat.

​“Kau menolak untuk hancur di tempat kotor seperti ini,” ucap Madara memecah keheningan yang tersisa di atas panggung. Suaranya datar, namun kata-katanya menusuk langsung ke kesadaran Monet.

​Monet menggigit bibir bawahnya, tidak berani menjawab. Rantai besi tebal di lehernya berdenting pelan saat dia menarik napas.

​Madara mengangkat tangan kanannya.

​Dia mengulurkan jari telunjuknya ke arah depan, tepat mengarah ke gembok baja raksasa yang mengunci pintu kerangkeng besi tersebut.

​Madara tidak merapal segel tangan. Dia hanya memfokuskan energi chakra dalam skala mikroskopis di ujung jarinya.

​Sebuah titik api kecil menyala di ujung jari telunjuk Madara. Api itu tidak berwarna merah atau oranye. Api itu berwarna biru terang yang memutih di bagian tengahnya. Suhu dari titik api kecil itu mencapai tingkat panas peleburan logam yang sangat ekstrem.

​Jari telunjuk Madara menyentuh gembok baja tebal tersebut.

​Sssshhh.

​Suara desisan tajam terdengar di udara.

​Gembok baja yang terbuat dari campuran logam berat itu meleleh seketika, berubah menjadi tetesan cairan besi berwarna jingga yang jatuh ke lantai kayu panggung dan membakarnya sedikit.

​Pintu kerangkeng besi berderit terbuka dengan sendirinya akibat hilangnya penahan.

​Madara melangkah masuk ke dalam kerangkeng.

​Dia berdiri tepat menjulang di atas tubuh Monet yang berlutut.

​Dia kembali mengulurkan jari telunjuknya yang masih menyisakan sedikit titik api biru. Dengan presisi kontrol chakra tingkat dewa yang tidak akan pernah bisa ditiru oleh manusia biasa, Madara menyentuh rantai besi tebal yang melingkar di leher Monet.

​Logam rantai itu meleleh tepat di bagian engsel penyambungnya, tanpa panasnya membakar kulit pucat gadis tersebut.

​Trak. Rantai di leher Monet terputus dan jatuh ke lantai.

​Madara melakukan hal yang sama pada borgol di kedua pergelangan tangan dan kaki gadis itu. Dalam hitungan detik, seluruh belenggu yang mengikat kebebasan Monet hancur menjadi logam cair.

​Monet mematung. Dia menatap rantai yang terlepas dari tubuhnya. Pergelangan tangannya yang lecet kemerahan kini bebas bergerak. Dia tidak percaya bahwa kebebasannya diberikan oleh iblis yang baru saja menghancurkan kewarasan puluhan orang.

​Tepat pada detik itu, layar biru transparan dari Sistem berdenting pelan di sudut pandang Madara.

​[Pemberitahuan Sistem.]

​[Tindakan intervensi selesai. Mengubah garis takdir individu terikat.]

​[Poin Reputasi +15.000.]

​Madara mengabaikan notifikasi tersebut. Poin reputasi dari membebaskan satu orang tidak seberapa, namun nilai investasi dari prajurit baru ini akan jauh lebih besar di masa depan.

​Dia menatap Monet ke bawah.

​“Berdiri,” perintah Madara dengan nada mutlak.

​Monet tersentak. Suara pemuda itu tidak menerima bantahan. Gadis itu menopang tubuhnya dengan kedua tangan, perlahan mengangkat tubuhnya yang lemah hingga berdiri dengan lutut bergetar. Sayap buatan di punggungnya bergesekan pelan dengan lantai.

​Tinggi Monet hanya mencapai sebatas dada Madara. Dia mendongakkan wajahnya untuk menatap mata hitam kelam sang pembebas.

​“Nyawamu bukan lagi milik tempat ini. Kebencian di matamu terlalu berharga untuk dibuang sebagai hewan peliharaan,” kata Madara dingin.

​Dia memutar tubuhnya, bersiap untuk melangkah keluar dari kerangkeng besi yang telah terbuka.

​“Ikut denganku. Atau tetap di sini dan mati bersama sampah-sampah ini. Pilihan ada di tanganmu.”

​Madara tidak memberikan bujukan manis. Dia tidak memberikan janji kebebasan abadi. Dia hanya menawarkan sebuah jalan yang diwarnai oleh darah dan kepatuhan mutlak.

​Dia melangkah keluar dari kerangkeng, berjalan kembali menuju lorong aula yang dipenuhi oleh tubuh-tubuh penjaga yang masih mengerang dalam kegilaan mereka.

​Di atas panggung, Monet menatap punggung berarmor merah yang menjauh itu. Jantungnya berdegup sangat kencang. Dia menatap sekilas ke arah pembawa acara yang meringkuk ketakutan, lalu menatap rantai besinya yang telah meleleh.

​Gadis berambut hijau pucat itu tidak ragu sedikit pun. Dia mengepalkan kedua tangannya yang bebas. Sayap di punggungnya bergetar pelan.

​Monet melangkah keluar dari kerangkeng. Dia berlari kecil dengan sisa tenaganya, mengikuti jejak langkah Madara menembus kegelapan pasar budak tersebut. Sang gadis salju baru saja menemukan dewa yang akan dia sembah dengan kesetiaan buta di lautan yang kejam ini.

1
Pi Xi
aku tunggu
Pi Xi
hahahaha
Pi Xi
semangat
Pi Xi
lanjut
Pi Xi
✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!