NovelToon NovelToon
Dari Benci Menjadi Bucin

Dari Benci Menjadi Bucin

Status: tamat
Genre:Idola sekolah / Tamat
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖

Kenzo yang keras dan Anisa yang berani selalu tak akur, saling berselisih setiap hari. Namun saat terpaksa bekerja sama, benci perlahan berubah menjadi cinta manis yang tak disadari keduanya. Dari yang saling menentang, kini berubah menjadi tak bisa berpaling satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 34. Rasa Cemas Saat yang Lain Sakit

Hari itu, sejak langkah kakinya melangkah masuk ke dalam kelas, Anisa tampak tak seperti biasanya. Wajahnya yang biasanya berseri-seri kini tampak pucat tanpa sedikit pun rona merah. Langkahnya pelan dan tak bertenaga, bahunya perlahan merosot seakan tak sanggup menanggung beban tubuhnya sendiri. Sesekali tangannya terangkat menekan lembut pelipisnya, matanya terpejam sejenak menahan rasa sakit yang menusuk pelan namun tak kunjung reda. Namun bibirnya tetap berusaha tersungging senyum tipis, berusaha bersikap biasa seakan tak ada yang keliru. Ia tak ingin menyusahkan siapa pun, terlebih lagi menarik perhatian seseorang yang diam-diam selalu ia simpan di dalam hatinya.

Namun mata Kenzo tak pernah melewatkan perubahan sekecil apa pun dari diri Anisa. Dari tempat duduknya, ia memperhatikan gadis itu dengan gelisah. Melihat keringat dingin yang perlahan muncul di pelipis meski udara tak terasa panas, melihat napasnya yang pendek dan berat, melihat caranya berusaha duduk tegak namun tubuhnya perlahan terkulai lemah di atas meja. Hati Kenzo seketika terasa dicekam rasa cemas yang mendalam. Jantungnya berdetak kencang bukan karena rasa sakit yang ia rasakan sendiri, melainkan karena melihat sosok yang ia sayangi sedang menahan kesakitan sendirian. Setiap kali Anisa meringis pelan, rasanya seakan ada sesuatu yang meremas dadanya dengan kuat. Rasa gelisah memenuhi segenap ruang di hatinya, membuatnya tak tenang sedetik pun.

Saat bel istirahat berbunyi dan teman-teman berhamburan keluar meninggalkan ruangan yang sepi, Anisa tak sanggup lagi berpura-pura. Ia membiarkan kepalanya terbaring lemah di atas lipatan tangannya, mata terpejam rapat menahan rasa pusing yang seakan memutar seluruh dunianya. Napasnya terdengar berat dan tersendat pelan.

Melihat itu, Kenzo tak lagi mampu menahan diri. Langkah kakinya bergerak cepat mendekat, namun hatinya terasa begitu berat seiring setiap langkah yang diambilnya. Ia berhenti tepat di samping meja Anisa, lalu berjongkok perlahan agar sejajar dengan wajah gadis itu. Tangannya terulur lembut, menyingkap sehelai rambut yang menutupi wajah pucatnya.

"Anisa..." suaranya terdengar lembut namun jelas bergetar menahan kekhawatiran. "Mengapa kau diam saja? Kau sedang tidak baik-baik saja."

Anisa perlahan mengangkat kepalanya, menatap Kenzo dengan pandangan yang kabur dan sayu. Ia berusaha tersenyum namun senyum itu tampak begitu rapuh dan lemah. "Tidak apa-apa... hanya sedikit pusing. Sebentar lagi pasti sembuh."

Jawaban itu justru membuat hati Kenzo semakin terasa sesak. Dengan lembut ia menempelkan punggung tangannya ke dahi Anisa. Seketika matanya melebar karena terkejut dan takut. Dahi itu terasa membakar panas. Demam yang cukup tinggi ternyata sedang menggerogoti tubuh gadis itu.

"Kau panas sekali, Anisa," ucap Kenzo pelan, suaranya terdengar penuh ketakutan yang tak disembunyikan lagi. Ia menggenggam jemari Anisa yang terasa dingin meski tubuhnya membakar. "Mengapa kau memaksakan diri datang ke sekolah dalam keadaan seperti ini? Dan mengapa kau menahannya sendirian begitu lama?"

"Aku..." suara Anisa tercekat pelan, menatap mata Kenzo yang tampak begitu cemas dan khawatir, "aku tak ingin membuatmu khawatir..."

Kalimat itu seketika membuat hati Kenzo terasa perih sekaligus terharu. Ia menatap Anisa lekat-lekat, matanya memancarkan ketulusan yang mendalam. "Kau tidak tahu betapa jauh lebih aku takut saat melihatmu menahan sakit sendirian tanpa kuberi tahu," ucapnya pelan namun penuh makna, sambil meletakkan telapak tangannya lembut di dadanya sendiri. "Di sini... hatiku ikut terasa sakit setiap kali kau meringis. Saat kau terluka atau jatuh sakit, akulah yang ikut merasakannya. Jangan pernah menyembunyikan keadaan dariku lagi, aku mohon."

Anisa menatapnya, matanya perlahan berkaca-kaca. Demam yang tinggi seakan menyamarkan segalanya kecuali satu hal — ketulusan yang terpancar jelas dari sepasang mata itu. Rasa sakit di kepalanya perlahan terasa tergantikan oleh kehangatan yang menjalar lembut di dadanya. Ia tak lagi berkata-kata, hanya mengangguk pelan dengan pandangan yang mulai berkabut.

Tanpa membuang waktu, Kenzo segera bergerak. Ia membawakan segelas air minum, merendahkan suaranya agar menenangkan, membasahi dahi dan pelipis Anisa dengan kain basah berulang kali untuk menurunkan suhu tubuhnya. Ia melakukannya dengan begitu teliti dan lembut, seakan takut menyakiti sedikit pun. Sepanjang waktu itu, tak sedetik pun matanya berpaling dari wajah Anisa. Ia duduk tak jauh darinya, menunggu dengan cemas, sesekali menyentuh dahi gadis itu untuk memastikan demamnya perlahan menurun. Rasa takut kehilangan begitu kuat menyergap hatinya, membuatnya tak berani meninggalkan Anisa sedetik pun.

Dan di saat itulah, di tengah rasa sakit yang perlahan mereda, Anisa menyadari satu kebenaran yang tak dapat disangkal lagi: bahwa rasa cemas yang begitu kuat itu tak akan pernah muncul jika hatinya tak saling terikat erat. Bahwa melihat orang yang disayangi jatuh sakit ternyata terasa jauh lebih berat dibandingkan jika diri sendiri yang menanggungnya. Bahwa kekhawatiran yang terpancar jelas dari wajah itu... adalah bukti paling jujur betapa berartinya dirinya di hati orang itu.

Hari itu, meski tubuhnya masih terasa panas dan lemah, hati Anisa justru terasa begitu hangat dan terlindungi. Karena ia paham — selama ada orang yang begitu cemas akan keselamatannya, selama ada hati yang ikut berdebar karenanya... ia tak akan pernah benar-benar sendirian dalam menghadapi apa pun. Dan rasa cemas yang tulus itu... ternyata adalah wujud kasih sayang yang paling nyata, paling jujur, dan tak dapat disembunyikan oleh apa pun.

 BERSAMBUNG...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!