kisah sepasang suami istri yang menyerah di tahun kedua pernikahan karena terlalu banyaknya pertengkaran diantara mereka.
pernikahan yang diawali dengan sebuah perjodohan antara Seraphina Anastasya dengan seorang pria dingin bernama Dikta Rey Ibrahim membuat keduanya mengalami konflik berkepanjangan dan yang diperparah oleh Dikta yang dengan sengaja tetap menjalin hubungan dengan kekasih pria itu yakni Delara Sasmita yang berujung pengkhianatan oleh Delara dengan berselingkuh dibelakang Dikta.
setelah 5 tahun, Dikta dan Sera dipertemukan kembali karena sebuah kecelakaan yang tidak disengaja oleh Sera sehingga dirinya diharuskan bertanggungjawab atas Dikta.
yuk simak kisahnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng_86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
jejak yang hilang
Adel membuka kembali album foto pernikahan Dikta dan Sera yang masih tersisa. Menatap lembaran foto-foto pernikahan itu dalam kesedihan.
Di sana terlihat senyum lembut Seraphina, perempuan yang dulu sempat menjadi bagian dari keluarga mereka, mantan istrinya Dikta, sekaligus mantan kakak iparnya yang selalu Adel hormati dan sayangi layaknya saudara kandung sendiri.
Sudah tiga tahun berlalu sejak hari itu, saat Seraphina memilih pergi membawa luka yang ditinggalkan oleh perceraiannya dengan Dikta. Sejak hari itu pula, jejaknya seakan lenyap ditelan bumi. Tak ada pesan, tak ada kabar. Bahkan alamat rumah tempat Sera tinggal pun kini sudah kosong melompong.
"Kau di mana, Kak Sera? Bahkan nomor ponselmu pun sudah tak lagi aktif. Kau benar-benar menghilang" gumam Adel pelan, menyusun foto itu kembali ke dalam sampulnya. Hatinya terasa sesak.
Ia tahu betapa beratnya cobaan yang harus dihadapi Seraphina dulu, dikhianati, lalu dipaksa pergi dari kehidupan yang baru saja ia bangun dengan harapan. Dan yang paling menyakitkan, Dikta, kakaknya sendiri, yang menjadi penyebab semua luka itu.
Adel tak menyalahkan Seraphina karena pergi.
Ia justru mengerti sepenuhnya mengapa perempuan itu memilih menjauh dari segalanya yang berhubungan dengan keluarga mereka. Namun rindu dan rasa bersalah terus menggerogoti hatinya. Ia ingin memastikan bahwa Seraphina hidup bahagia, sehat, dan tenang. Setidaknya itu satu hal yang bisa ia lakukan untuk menebus kesalahan kakaknya.
Suara decitan pintu kamar mengalihkan perhatian Adel.
"Sayang... Ayo kita pergi... Nanti kau ketinggalan pesawat..." ucap Gina melangkah masuk.
"Bentar ma.. Aku simpan album ini dulu..." ucap Adel memasukkan album foto kedalam sebuah kotak dan menyimpannya di ruang paling bawah dalam lemarinya.
Gina berjalan menghampiri putri bungsunya itu.
"Kangen Sera ya?" tebaknya hingga membuat Adel membeku.
"Banget ma... Aku kangen kak Sera.. Dia baik, dia tidak pernah memandang jelek kepadaku... Dia yang selalu dengar semua cerita-cerita ku... Tapi... Sekarang kita tidak tahu dia berada dimana. Apakah dia masih ingat kita? Atau mungkin udah lupa...." mata Adel berkaca-kaca.
Gina membelai rambut panjang Adel.
"Sera disana pasti lagi bahagia Nak... Dia mungkin saja sedang menyusun masa depannya yang sempat tertunda.... Papa bilang, Sera sekarang lagi menempuh perkuliahannya yang tertunda sambil mengajar anak-anak... Tapi papa sengaja tidak mau kasih tahu kita dimana Sera berada karena pemintaan dari pak Herman langsung.... Dan papa menghormatinya... Jadi, kita jangan lagi mengusiknya ya... Biarkan dia menjalani hari-harinya tanpa bayang-bayang keluarga Ibrahim...."
"Adel paham ma... Tapi Adel hanya rindu... Dengar kak Sera baik-baik aja, udah cukup buat Adel... Adel juga akan merajut mimpi biar nanti kalau ketemu kak Sera, dia bisa bangga pada Adel... Si anak pemalu ini udah berhasil dengan cita-citanya..."
Gina mengangguk haru.
Pengaruh Sera begitu besar dalam membentuk kepribadian Adel yang pemalu dan dirinya sangat berterimakasih akan hal itu.
"Ayo... Papa pasti udah kesal tungguin kita... Jangan sampai beliau ceramah sampai dua halaman... Pusing mama..." ajak Gina agar Adel segera turun.
Hari ini Adelina Ibrahim juga akan merajut mimpinya jauh di negeri orang demi sebuah cita-cita di bidang fashion.
Setelah perdebatan panjang antara dirinya dan Malik Ibrahim sang papa, akhirnya Adel bisa memperoleh izin kuliah di Paris begitu ujian akhirnya selesai.
...****************...
Jika Sera dan Adel sama-sama merajut mimpinya, berbeda dengan Dikta.
Sejak cerai dan putus dengan Delara, pria matang itu mengub*r dirinya dalam tumpukan pekerjaan yang selalu menyita waktunya.
Dengan jabatan sebagai CEO, Dikta kini menjadi pria yang tak tersentuh sama sekali.
Tak ada cinta, tak ada waktu berleha-leha atau bahkan tak ada perempuan dalam kehidupannya.
Meski Malik ataupun Gina beberapa kali mengenalkannya pada beberapa anak dari rekan bisnis mereka tapi selalu saja berakhir sia-sia.
Malik sempat khawatir akan perilaku Dikta yang belakangan sering menghabiskan waktu bersama Gavin.
Bahkan di area perusahaan dan antar karyawannya sudah beredar gosip miring tentang mereka, ya, walaupun itu tidaklah benar.
Pukul dua dini hari di gedung D&N Aroma Indonesia
Lampu ruangan itu masih menyala terang, menembus kegelapan gedung perkantoran yang sepi. Di atas meja kayu jati yang luas, berkas-berkas kerjasama menumpuk setinggi dada.
Dikta duduk di kursi kulitnya, mata merah tak terpejam, tangan kanannya memegang pena yang ujungnya hampir menembus kertas karena tekanan yang kuat. Ia tidak berhenti. Tidak makan dengan layak, tidak tidur lebih dari dua jam sekaligus, bahkan kadang lupa bernapas.
Kerja. Kerja. Terus bekerja.
Itu satu-satunya cara agar pikirannya tidak melayang kembali ke wajah Seraphina.
Jika ia berhenti sedetik saja, bayangan mata perempuan itu, berkaca-kaca namun tak setetes air pun jatuh saat hakim mengetuk palu perpisahan akan kembali menghantui meski itu sudah berlalu tiga tahun lalu.
Pintu diketuk pelan. Masuklah Gavin, sahabat sekaligus asistennya, dengan wajah cemas. Di tangannya nampan berisi kopi yang sudah dingin dan roti yang tak tersentuh.
"Kau belum pulang, Dikta? Ini sudah hari ketiga kau tidur di sofa kantor," ucap Gavin lembut, meletakkan nampan di sudut meja yang masih kosong. "Kantor bisa berjalan tanpa kau duduk di sini dua puluh empat jam sehari. Kau bukan mesin." Laki-laki itu berbicara santai ketika jam kerja berakhir.
Dikta tidak mendongak. Pena di tangannya terus bergerak, tinta hitam membentuk kalimat-kalimat tajam di atas kertas. "Aku tidak bisa menemukannya Vin... Dia hilang dan pergi tanpa bisa sekalipun aku meminta maaf dan menebus rasa bersalahku..."
Suaranya parau, berat seperti batu karang yang tersangkut di tenggorokan.
Gavin menghela napas panjang, melingkarkan kedua lengan di dada, menatap sahabatnya yang perlahan menghancurkan diri sendiri.
"Kau menghukum dirimu terlalu berat, Dikta. Aku tahu kau menyesal. Tapi membunuh dirimu dengan pekerjaan tidak akan mengembalikan Seraphina."
Kata 'Seraphina' membuat pena di tangan Dikta berhenti bergerak mendadak. Tinta menetes, membasahi huruf terakhir hingga kabur. Dikta menunduk, bahunya bergetar pelan.
"Justru karena aku tahu dia tidak akan kembali... aku harus sibuk," ucapnya lirih, hampir tak terdengar. "Sebab jika aku berhenti, aku akan mulai memikirkan hal-hal yang tak bisa kuubah. Aku akan teringat cara dia menyiapkan kopi pagiku, cara dia menata buku di rak sesuai warna, cara dia tersenyum malu saat memujiku, cara dia yang selalu memintaku pulang tepat waktu.... dan aku akan sadar, bahwa semua itu sudah bukan milikku lagi. Selamanya."
Ia mengangkat kepala, dan Gavin terkejut melihat mata sahabatnya, tak ada lagi semangat yang dulu menyala, yang tersisa hanyalah kekosongan yang dalam, seolah jiwanya ikut pergi bersama Seraphina.
"Delara memanfaatkanku, itu benar. Tapi yang paling menyakitkan bukan dikhianati... melainkan aku yang dengan kedua tanganku sendiri mengusir malaikat pelindungku. Aku... adalah orang paling tolol yang pernah hidup."
Dikta berdiri mendadak, berjalan ke jendela luas yang menampilkan pemandangan kota Jakarta yang masih berkelap-kelip lampu.
"Pekerjaan adalah satu-satunya hal yang tidak membohongiku, Gavin. Jika aku berusaha, aku menang. Jika aku teliti, aku benar. Tidak ada kebohongan di sini. Tidak ada kepura-puraan. Tidak ada hati yang berdenyut lalu berhenti tanpa alasan yang masuk akal." Ia menepuk dadanya sendiri. "Di sini... di dalam, sudah terlalu rusak. Biarkan aku tenggelam dalam pekerjaan. Biarkan aku lelah sampai tak punya tenaga untuk meratapi apa yang telah hilang."
Gavin tak mampu berkata apa-apa lagi. Ia tahu, kata-kata penghibur tak akan berguna bagi luka yang Dikta ciptakan sendiri.
Ia hanya mengangguk pelan, lalu berbalik menuju pintu. "Istirahatlah sesekali. Jika bukan untuk dirimu... setidaknya untuk orang yang masih menyayangimu meski kau tidak menyadarinya. Ingat! Kau masih punya pak Malik dan Bu Gina serta Adel, ya meski dia masih sinis terhadap mu! Tapi dia menyayangimu... Bahkan tadi sebelum dia berangkat, dia berpesan untuk aku menjagamu... Ck... Memangnya aku pacarmu apa!" kesal Gavin diujung kalimatnya.
Pintu tertutup, dan Dikta kembali sendirian.
Ia menatap pantulannya di kaca jendela, pria berpakaian rapi namun matanya tampak usang, tua sebelum waktunya. Ia merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah foto kecil yang dilipat rapi di dla dompetnya.
Foto Seraphina yang diam-diam ia ambil dari laci meja belajar Adel. Gadis itu tersenyum cerah, menatap ke kamera tanpa tahu bahwa tak lama lagi dunianya akan hancur.
Dikta menyentuh wajah di foto itu dengan ujung jari, perlahan seolah takut melukainya.
"Seraphina... di mana kau sekarang? Apakah kau bahagia? Apakah kau sudah melupakanku? Semoga ya. Semoga kau benar-benar bahagia, jauh dari pria yang hanya memberimu luka"
Meski Dikta tak pernah mengakui jika dia telah jatuh cinta pada mantan istrinya, tapi siapapun tahu dengan cara menghukum dirinya, bahwa itu adalah bentuk sebuah cinta dan penyesalan laki-laki itu.
bersambung...
Ditunggu crazy up nya💪