NovelToon NovelToon
SIMPUL KIRANA : TAKDIR ENAM NEGERI

SIMPUL KIRANA : TAKDIR ENAM NEGERI

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Isekai / Sistem / Penyelamat
Popularitas:431
Nilai: 5
Nama Author: Noona Y

Bhaskara hanyalah pemuda biasa ... hingga sebuah kecelakaan merenggut hidupnya.
Saat membuka mata, ia telah berada di Jagaddhita—dunia yang perlahan ditelan kegelapan. Sebuah sistem misterius muncul di hadapannya.

《Misi Utama》
-Pulihkan Prisma Kirana.
-Satukan Enam Negeri.
-Selamatkan Jagaddhita.

Untuk menyelesaikan misi itu, Bhaskara harus mencari lima putri pewaris elemen—Anala, Nirmala, Sekar, Samira, dan Vajra.

Namun, menyatukan mereka tidak cukup. Ia harus membentuk Simpul Kirana, ikatan suci yang dapat membangkitkan kembali cahaya dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11 : RITUAL IKATAN SUCI

lDi ujung altar, berdiri Pinandita Agni. Sosok pria tua berjubah merah gelap itu memegang tongkat kayu purba yang ujungnya membara tanpa asap. Matanya yang putih polos tanpa pupil menatap lurus ke arah Bhaskara dan Anala yang berjalan berdampingan.

Bhaskara menelan ludah. Setiap langkah kaki yang diayunkannya di atas lantai obsidian hitam memantulkan pendar lava dari celah batu di bawah mereka.

"Gila... udaranya berat banget," batin Bhaskara seraya membetulkan kerah jubah kebesarannya yang kaku. Di dunia nyata, pasrah dijodohkan di depan penghulu saja sudah bikin gemetaran. Sekarang ia berdiri di depan pendeta kuil kuno buat menikahi Ratu Kerajaan Api...

"Jangan tegang, Bhaskara," bisik Anala sangat pelan. Jemari lentiknya yang terasa hangat menyelinap di antara jemari Bhaskara, mengaitnya dengan erat.

Bhaskara menoleh sedikit. Anala malam ini terlihat teramat cantik hingga membuat napasnya tertahan. Gaun sutra merah tua berbiku emas membalut tubuh anggunnya, dan mahkota kecil berukir kobar api menghiasi rambutnya.

Tapi yang membuat dada Bhaskara berdesir adalah tatapan Anala—mata merah keemasan itu menatapnya tidak lagi sebagai Ratu yang angkuh, melainkan sebagai seorang wanita yang menyerahkan seluruh jiwanya.

"Kalian telah berdiri di hadapan Sang Pencipta Api," suara Pinandita Agni memecah keheningan. Suaranya serak, bergema seperti batu keras yang saling bergesekan. "Dewa Agni Maheswara tidak butuh kata-kata manis atau sumpah palsu manusia. Yang Beliau minta adalah penyatuan darah dan elemen."

Pinandita mengangkat tongkatnya.

WUUUSH!

Api di empat pilar aula mendadak melonjak tinggi, membumbung hingga menyentuh langit-langit batu. Suhu ruangan meroket dalam hitungan detik. Bukan panas yang membakar kulit hingga melepuh, tapi panas bertekanan tinggi yang seolah meremas dada Bhaskara dari dalam.

Deg!

Tiba-tiba, di atas altar batu, udara memuntir kencang. Sebuah manifestasi energi raksasa mewujud secara samar—sesosok bayangan bayang-bayang api berwujud burung Garuda bermahkota kobar membara, menatap mereka berdua dari atas.

Itulah Dewa Agni Maheswara.

Tekanan auranya membuat lutut Bhaskara lemas. Di dunia nyata, tekanan terbesar yang pernah ia rasakan hanyalah bentakan Pak Mandor saat proyek belum selesai. Tapi ini? Ini adalah tekanan dari entitas yang menguasai takdir seluruh negeri Agnivara.

Bhaskara refleks hendak berlutut pasrah, tapi tangan Anala menahannya.

"Berdirilah denganku, Bhaskara," bisik Anala tegas namun lembut, matanya menatap lurus ke arah manifestasi Dewa tanpa rasa gentar sedikit pun. "Kau adalah pahlawanku. Pria yang akan memimpin negeri ini bersamaku."

Mendengar bisikan itu, Bhaskara mengepalkan tangannya. Rasa takut di dadanya perlahan berganti menjadi luapan harga diri sebagai seorang pria. Dia menarik napas panjang, menegakkan punggungnya, dan menatap lurus ke depan.

Pinandita Agni menyodorkan Cawan Amerta Api—sebuah cawan kristal berisi cairan emas cair yang bergejolak pelan.

"Minumlah," perintah Pinandita. "Biarkan darah Dewa menguji kesucian ikatan kalian."

Anala menerima cawan itu lebih dulu. Dengan anggun, ia menyesap cairan emas tersebut, lalu menyodorkannya langsung ke bibir Bhaskara.

Bhaskara tidak ragu lagi. Ia memegang tangan Anala yang memegang cawan, lalu meminum sisanya sampai habis.

SLUURP.

Sensasinya meledak seketika! Begitu cairan itu melewati tenggorokannya, rasanya seperti menelan pendar hangat mentari pagi. Rasa hangat itu mengalir deras ke seluruh pembuluh darahnya, dari jantung hingga ke ujung jari.

"Genggam tangannya!" seru Pinandita Agni seraya menghantamkan tongkatnya ke lantai obsidian.

BLEK!

Bhaskara dan Anala saling menempelkan telapak tangan kanan mereka rapat-rapat.

ZRRRRTTTT!

Ukiran sihir bercahaya merah emas meledak dari titik bersentuhannya kulit mereka. Sebuah Sigil Api Naga Purba muncul perlahan, terukir secara magis menembus kulit telapak tangan Bhaskara dan Anala.

Rasa hangat yang menjalar bukan lagi sekadar energi—Bhaskara kini bisa mendengar detak jantung Anala di dalam kepalanya sendiri!

Thump... Thump... Thump...

Detak jantung Anala berpacu cepat, sama liar dan gugupnya dengan detak jantung Bhaskara.

"Jadi... dia sebenarnya sama gugupnya denganku?" batin Bhaskara terenyuh.

Bayangan raksasa Dewa Agni Maheswara di atas altar mengembuskan napas berupa pendar api keemasan yang melingkupi tubuh mereka berdua, seolah memberikan restu mutlak dari alam semesta.

"Ikatan Suci... telah terkunci!" tegas Pinandita Agni seraya membungkuk dalam-dalam ke arah mereka. "Mulai detik ini, jiwa Ratu Anala dan Bhaskara Danu Buwana adalah satu. Jika satu redup, yang lain akan menghidupkannya."

Pendar api di ruangan perlahan surut, menyisakan keheningan yang anggun dan hangat.

Anala perlahan merenggangkan genggaman tangannya, menatap Sigil Api yang kini berpendar lembut di telapak tangannya, lalu menatap Bhaskara dengan binar mata penuh keharuan.

"Kita... sudah resmi terikat, Bhaskara," bisik Anala, senyumnya mekar sempurna tanpa ada lagi dinding pembatas di antara mereka. "Jiwa dan ragaku... kini milikmu."

******

Udara di dalam ruangan itu terasa sangat berbeda dibanding selasar istana yang dingin; hangat, temaram, dan sarat akan aroma bunga padma yang manis membakar indra.

Bhaskara perlahan menaiki ranjang berkanopi raksasa itu. Kasur busa sutra yang teramat empuk seolah menelan tubuhnya, membuat posisinya yang kini terduduk kaku makin terasa nyata. Kedua tangannya mencengkeram erat tepi sprei emas di bawahnya.

Glek!

Tenggorokan Bhaskara berbunyi saat ia menyapu pandangan ke sekeliling.

Di hadapannya, tak jauh dari ranjang berkanopi tinggi berhias sulur emas, Anala sedang membelakanginya. Sang Ratu perlahan melepaskan jubah upacara agungnya yang tebal, membiarkan kain berat itu jatuh ke lantai tanpa suara.

Ketika Anala berbalik menghadapi Bhaskara, napas pria itu seketika tertahan di tenggorokan.

Anala kini hanya mengenakan gaun malam tipis bernuansa merah marun transparan bermaterial sutra Agnivara.

Kain halus itu jatuh membalut tubuh indahnya dengan sangat sempurna, memperlihatkan siluet lekuk tubuh Sang Ratu saat pendar lilin dari sudut ruangan menembus gaun tersebut.

Bahunya yang mulus porselen terekspos sepenuhnya, sementara tali gaun yang sangat tipis menahan bagian dada yang berombak naik-turun seiring helaan napasnya yang tidak teratur.

Mata merah keemasan Anala memancarkan pendar hangat, bertabrakan langsung dengan pandangan Bhaskara yang membelalak liar.

"Bhaskara..." panggil Anala, suaranya kini begitu serak dan lembut, seperti desiran angin malam yang membelai kulit.

Bhaskara menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokannya yang mendadak sekering padang pasir membuat jakunnya naik-turun kaku.

"Gila... gila! Ini beneran?!" Jeritan hati Bhaskara histeris di dalam benaknya. Di dunia nyata jangankan memegang tangan wanita, pacaran saja belum pernah!

Thump... Thump... Thump...

Anala melangkah pelan mendekat. Setiap ayunan kakinya membuat gaun sutra tipis itu tersingkap sedikit di bagian paha, memperlihatkan jemari kakinya yang lentik melangkah tanpa alas.

Ia berhenti tepat di hadapan Bhaskara. Jarak mereka kini tak sampai sejengkal. Aroma wangi bunga dan hangatnya aura tubuh Anala langsung mengurung Bhaskara sepenuhnya.

Anala mengulurkan kedua tangan halusnya yang agak gemetar, menempelkan telapak tangannya ke dada bidang Bhaskara yang terbungkus baju kebesaran.

"Aku bisa merasakannya," bisik Anala, menengadah menatap lurus ke dalam iris mata Bhaskara. Pipi Sang Ratu kini merona merah padam, menambah kadar pesonanya berkali-kali lipat. "Detak jantungku... resonansi energi di dalam dadaku... semuanya memanggil namamu, Bhaskara."

...****************...

1
Europa.
seperti biasa, novel baru, nunggu insect
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🥑⃟YAYA💘℘ℯ𝓃𝓪: 😭😭😭😭😭😭😭
total 1 replies
Phrolova
naiknya cepet banget
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🥑⃟YAYA💘℘ℯ𝓃𝓪: pacing cepatt 🤣🤣
total 1 replies
Yui
masterpiece /Angry//Angry/ aku nunggu insectnya/Drool//Drool//Drool/
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🥑⃟YAYA💘℘ℯ𝓃𝓪: gak ada insect /Curse//Hammer/
total 1 replies
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Han Boshalvaya
Waw, othor romance nulis fantasi! patut dilihat /Doge//Good/
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🥑⃟YAYA💘℘ℯ𝓃𝓪: /Awkward/ waduhhh
total 1 replies
Ironside
Wah /Hunger/
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🥑⃟YAYA💘℘ℯ𝓃𝓪: /Panic/
total 1 replies
Teteh Lia
nama tokoh na dari bahasa Sanskerta semua 👍
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🥑⃟YAYA💘℘ℯ𝓃𝓪: Isekai tema Nusantara 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!