Jordan Carlton mengira Vanessa adalah wanita lemah yang tak akan pernah berani meninggalkannya.
Yessika mengira ia berhasil merebut segalanya dari Vanessa, termasuk calon suaminya.
Namun Vanessa memegang kunci takhta sejati keluarga Carlton dan ia memilih untuk menyerahkannya pada pria yang paling dibenci Jordan.
Alessio Carlton mungkin terlihat menakutkan, dingin, dan licik. Namun saat Vanessa menawarkan pernikahan sebagai senjata balas dendam, Alessio tersenyum gelap. Sebab, jauh sebelum Vanessa memasuki kamarnya malam itu, Alessio sudah menyiapkan panggung untuk menjadikannya sang Ratu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
"Pergi! Hentikan kameranya! Jangan memotret lagi!" jerit Yessika histeris dari kursi rodanya, menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia ditarik ke dalam kepanikan luar biasa.
"Jordan, tolong aku! Usir mereka semua! Usir!"
Jordan yang akhirnya tersadar dari syoknya langsung melangkah maju, menghadang puluhan kamera yang terus menembakkan lampu kilat ke arah mereka.
"Matikan semua kamera kalian!" bentak Jordan, suaranya menggelegar dipenuhi kemarahan dan keangkuhan.
"Kalian semua, keluar dari rumah sakit ini sekarang juga! Jika ada satu saja artikel atau video tentang kejadian ini yang sampai rilis di media kalian... aku pastikan Keluarga Carlton akan menuntut dan menghancurkan perusahaan media kalian sampai bangkrut!"
Para wartawan saling pandang. Di bawah ancaman kekuasaan Keluarga Carlton, mereka terpaksa menurunkan kamera dan melangkah mundur secara perlahan, meninggalkan koridor lobi rumah sakit.
Prok! Prok! Prok!
Suara tepuk tangan yang nyaring memecah hening di koridor. Vanessa berdiri di sana, menatap Jordan dengan tawa renyah yang sarat akan penghinaan.
"Luar biasa, Jordan. Sungguh pertunjukan yang sangat spektakuler," puji Vanessa, nada suaranya menusuk.
"Kau benar-benar raja yang sangat pilih kasih."
Jordan menoleh tajam, menatap Vanessa dengan raut wajah memerah.
"Vanessa, cukup!"
"Kenapa harus cukup?" Vanessa melangkah satu tapak mendekat, menyunggingkan senyum miring.
"Tadi, saat aku yang masih menjadi 'tersangka', kau bahkan memanggil puluhan media sendiri untuk mempermalukanku di depan umum. Kau sama sekali tidak berniat melindungiku. Tapi sekarang, begitu Yessika terbukti secara sah dan meyakinkan menjadi pelakunya... kau malah pasang badan dan berusaha menutup-nutupinya?"
Jordan mengepalkan tangannya, membuang muka gengsi.
"Ini berbeda, Vanessa! Kau tidak bisa menyamakannya!"
"Apanya yang berbeda?" potong Vanessa tajam. "Jelaskan padaku, apa bedanya?!"
"Yessika itu penakut!" bentak Jordan beralasan, mencetuskan argumen konyol demi membela wanita di depannya.
"Mentalnya tidak sekuat dirimu! Aku cuma tidak mau Yessika makin stres dan jatuh depresi karena serbuan wartawan! Berbeda denganmu, Vanessa... kau itu wanita yang kuat mental dan kau pasti bisa menghadapi hal-hal seperti ini dengan baik! Sebagai calon Nyonya Carlton, kamu memang harus ku didik sejak sekarang. Jadi, aku melakukan ini semua juga demi kamu."
Vanessa terkekeh pelan. Sebuah tawa dingin yang membuat bulu kuduk merinding.
"Logika iblis macam apa itu? Jadi karena aku dianggap 'kuat', aku berhak difitnah dan diinjak-injak? Sedangkan Yessika yang 'lemah' berhak bertindak jahat tanpa konsekuensi?"
Vanessa memutar tubuhnya, merogoh ponselnya kembali.
"Aku tidak terima. Aku akan menelepon polisi sekarang juga dan melaporkan Yessika atas tuduhan pencemaran nama baik serta laporan palsu."
Kepanikan seketika meledak di tempat itu.
"Tidak! Aku tidak mau dipenjara!" jerit Yessika histeris. Ia memegang erat gaun Rika dan jas Jordan, menangis tersedu-sedu.
"Ibu! Jordan! Tolong aku! Aku tidak mau masuk sel! Buka hatinya Kak Vanessa, tolong bujuk dia! Aku... Aku hanya bercanda dengannya. sungguh!"
Melihat situasi makin berbahaya, raut wajah Jordan mendadak berubah seratus delapan puluh derajat.
Ia memelankan langkahnya, mendekati Vanessa dengan memasang raut wajah manis nan penuh penyesalan. Sebuah topeng palsu yang amat menjijikkan bagi Vanessa.
"Vanessa... dengarkan aku dulu, sayang," bisik Jordan dengan nada lembut yang dipaksakan.
"Aku minta maaf, ya? Aku aku salah karena sudah salah menuduhmu tadi. Tapi tolong... jangan perpanjang masalah ini sampai ke polisi. Kita selesaikan secara kekeluargaan, ya?"
Benny Grey juga melangkah maju, memamerkan raut wajah sebagai seorang ayah yang bijak.
"Benar kata Jordan, Vanessa. Kita ini keluarga, tidak perlu sampai melapor ke polisi. Malu dilihat orang luar! Maafkan adikmu, Yessika. Usianya kan masih sangat kecil, dia hanya tersulut emosi dan belum berpikir panjang."
Vanessa menatap ayahnya dengan tatapan paling dingin yang pernah ia miliki.
"Masih kecil, Ayah?" tanya Vanessa dengan penekanan di setiap kata.
"Aku dan Yessika hanya berbeda usia satu minggu. Satu minggu, Ayah! Jadi darimana letak 'masih kecilnya'? Apa karena dia anak dari wanita simpanan kesayanganmu, makanya usianya mendadak menyusut jadi anak-anak setiap kali dia berbuat salah?"
"Vanessa! Jaga mulutmu!" bentak Benny, wajahnya memerah karena malu.
Jordan menghela napas berat, mencoba menggunakan otoritasnya sebagai tunangan. Ia memegang bahu Vanessa dengan hembusan napas sok berkuasa.
"Cukup, Vanessa. Sebagai tunanganmu dan calon kepala keluarga, aku yang mengambil keputusan untukmu. Kita tutup masalah ini di sini dan tidak akan memperpanjangnya lagi."
Vanessa menepis tangan Jordan secara kasar dari bahunya.
"Siapa bilang aku setuju? Kau tidak berhak mengambil keputusan atas namaku, Jordan! Aku tetap akan membawa masalah ini ke jalur hukum!"
"Kau jangan keras kepala! Kau..."
"Aku bersedia membayar berapa pun sebagai ganti rugi atas kerusakan mental dan nama baikmu, Nona Vanessa."
Sebuah suara berat, dalam, dan amat berwibawa menggema tiba-tiba dari ujung koridor lobi.
Suara langkah sepatu kulit yang tegas mengetuk lantai pualam membuat semua orang di koridor itu serta-merta menoleh.
Sosok pria tinggi tegap dengan setelan jas hitam elegan melangkah anggun. Garis wajahnya tegas bagai pahatan patung, matanya yang tajam memancarkan aura dominasi yang pekat dan berbahaya.
Alessio Carlton.
Mata Vanessa membelalak pelan. Jantungnya berdesir hebat dalam keterkejutan.
"Alessio?" batin Vanessa terpaku. "Bagaimana bisa pria ini pulang secepat ini? Bukankah seharusnya dia baru kembali tiga hari lagi?"
Jordan mengepalkan tangannya saat melihat kedatangan adiknya. "Alessio?! Mau apa kau ke sini?!"
Alessio sama sekali tidak mengacuhkan Jordan. Matanya yang sehitam malam terkunci lurus hanya pada Vanessa. Ia berhenti tepat di depan Vanessa, merogoh kantong jasnya, lalu mengeluarkan sebuah buku cek eksklusif.
"Katakan berapa nominal yang kau inginkan untuk menyembuhkan rasa sakit hatimu, Nona Vanessa," ujar Alessio dengan suara rendah yang amat memikat sekaligus dingin.
"Atas nama calon tunangan ku, Yessika... aku yang akan membayarnya."
makin kesini makin seruuuuuuu ,,
penasaran kak ,,
lanjuut kak ,,
pgen liat si Jordan Dan yessika keluar dr keluarga Carlton dg kaos oblong Dan daster ,,
😏😏😏