NovelToon NovelToon
Bangkit Sistem Penghakiman, Semua Penjahat Berlutut!

Bangkit Sistem Penghakiman, Semua Penjahat Berlutut!

Status: sedang berlangsung
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Darma

"Raka Laksana — yatim piatu, detektif gagal, ditertawakan semua orang. Sampai malam itu, sebuah sistem bangkit dalam dirinya: “Sistem Penghakiman”. Mata Dosa yang bisa membaca dosa siapa pun. Buku Penghakiman yang bisa menjatuhkan hukuman di hadapan seluruh negeri. Kekuatan yang tak dimiliki polisi, jaksa, atau hakim mana pun.

Menyamar sebagai konsultan biasa di Satreskrim Kota Elang Biru, Raka membongkar kasus demi kasus — pembunuhan, sindikat perdagangan manusia, konspirasi elite — sambil menyembunyikan identitas aslinya sebagai eksekutor bayangan. Sistem terus naik level, skill terus bertambah, dan setiap penjahat yang lolos dari hukum biasa... tidak akan lolos dari tangannya.

Tapi ada satu kasus yang tak pernah bisa ia lupakan: dua puluh tahun lalu, kedua orangtuanya difitnah dan dihancurkan oleh **Keluarga Halim** — konglomerat paling berkuasa di kota ini. Setiap kasus yang ia selesaikan membawanya selangkah lebih dekat pada kebenaran itu.

Dan pada hari penghakiman tiba, seluruh bangsa akan menyaksikan."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Darma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 6

Bab 6: Suara dari Boneka

Bukti itu juga sedang diburu orang lain.

Raka tidak menunggu.

Ia berlari menuruni jalur bambu menuju rumah Ratih, sementara matahari sore mulai tenggelam di balik kebun kosong. Ponselnya masih menampilkan pesan Kribo: Boneka Teddy Bear Dewi hilang dari meja pos.

Kalau boneka itu hanya mainan biasa, tidak ada yang perlu mengambilnya.

Kalau seseorang mengambilnya, berarti Lina benar.

Boneka itu menyimpan sesSatu.

Kribo menunggu di gang kecil dekat pos polisi desa, wajahnya merah karena marah. "Gue tinggal lima menit buat cari sinyal. Lima menit, Bro. Pas balik, plastiknya sudah nggak ada. Petugas bilang mungkin dipindahkan sama yang piket. Yang piket bilang nggak tahu. Klasik."

"Wisnu? Marlina?"

"Wisnu masih di kota, katanya. Marlina sempat datang bawa teh buat petugas. Setelah itu boneka hilang."

Raka menatap ke arah rumah Ratih. Jaraknya tidak jauh dari pos. Jika Marlina mengambil boneka itu, ia pasti tidak akan menyimpannya di tempat yang mudah ditemukan.

"Tong sampah," kata Raka.

Kribo mengerjap. "Akhirnya lo mulai berpikir seperti orang miskin. Kalau mau menghilangkan barang cepat, buang ke tempat yang semua orang malas sentuh."

Mereka mulai dari belakang pos, lalu jalur samping rumah, lalu area pembuangan dekat dapur. Bau sampah basah, sisa sayur, dan abu dapur bercampur sampai Kribo menahan muntah.

"Kalau nanti kita masuk polisi beneran," gumam Kribo, "gue minta divisi yang bersih. Cyber. AC. Kursi empuk. Tidak ada popok bekas."

"Cari."

"Iya, Komandan masa depan."

Di tong sampah belakang rumah Ratih, Raka melihat plastik hitam yang baru diikat. Terlalu baru dibanding sampah lain. Ia membuka dengan ranting, lalu menemukan bulu cokelat kotor di antara tisu basah dan sisa makanan.

Boneka Teddy Bear Dewi.

Satu telinganya semakin robek. Perutnya tampak sudah ditekan-tekan, seolah seseorang mencoba memastikan tidak ada benda di dalamnya tapi buru-buru menyerah.

Begitu Raka mengangkatnya dengan plastik, Mata Dosa menyala.

【BARANG BUKTI KRITIS TERDETEKSI】

【Objek: Boneka Teddy Bear Dewi】

【Kandungan tersembunyi: Perangkat perekam suara digital mini】

Raka dan Kribo saling menatap.

"Di dalam?" bisik Kribo.

Raka mengangguk. "Perutnya."

Mereka membawa boneka itu ke kamar kecil yang dipakai Raka menumpang di rumah warga dekat pos. Kribo mengunci pintu, menggelar handuk, lalu membuka jahitan perut boneka dengan pinset kecil dari tas alatnya.

Di balik kapas gumpal, ada perangkat hitam sebesar ruas ibu jari, dibungkus plastik tipis.

Kribo bersiul pelan. "Perekam digital mini. Model lama, tapi baterainya bisa tahan lama kalau mode aktivasi suara. Siapa yang naruh benda beginian di boneka bayi?"

Sistem menjawab sebelum Raka sempat menebak.

【Perangkat bukan milik tersangka utama.】

【Kemungkinan pemasang: pihak ketiga yang memiliki akses emosional terhadap korban.】

Pihak ketiga.

Raka memikirkan nama yang terus berdiri di pinggir kasus ini.

Bagus Saputra.

Ayah kandung Dewi.

Kribo menyambungkan perangkat itu ke laptop. Beberapa folder muncul, sebagian rusak, sebagian bisa dibuka. Nama file otomatis hanya berupa tanggal dan jam.

Suara pertama yang keluar hanya tangisan bayi, suara kipas, dan langkah-langkah rumah.

Lalu sebuah suara laki-laki meledak dari speaker kecil laptop.

"Diam! Anak sialan! Nangis terus!"

Ratih tidak ada di rekaman itu. Suara bayi Dewi menangis lebih keras, lalu sesSatu terbanting di dekat perekam.

Kribo mematung.

Raka menatap layar, rahangnya mengeras.

"Wisnu," katanya.

Mereka membuka file lain.

Suara Wisnu kembali terdengar, kali ini lebih rendah, berbicara dengan perempuan tua.

"Anak ini cuma beban. Kalau bukan karena uang Bagus, sudah dari dulu aku..."

Suara Marlina menyela, tegang. "Jangan ngomong sembarangan. Dinding punya telinga."

Rekaman terputus.

Cukup.

Tidak cukup untuk pengadilan menutup semua celah, tapi cukup untuk menunjukkan motif. Dewi bukan anak. Bagi Wisnu, Dewi adalah beban yang masih menghasilkan uang dari Bagus.

File ketiga tidak bisa dibuka.

Kribo mencoba dua kali. Gagal. Mencoba menyalin. Gagal lagi. Dahinya mulai berkeringat.

"File corrupt atau sengaja ke-lock. Ada suara di sini, tapi indeksnya rusak. Gue butuh waktu."

"Berapa lama?"

"Kalau perangkatnya tidak mati total, malam ini bisa. Kalau nasib kita seperti biasanya, sebelum kiamat kecil besok pagi."

Raka membuka Buku Penghakiman.

Halaman hitam muncul dalam ruang sunyi di hadapannya. Ia menulis bukti baru: perangkat perekam tersembunyi dalam Boneka Teddy Bear Dewi; rekaman Wisnu membentak korban; rekaman Wisnu dan Marlina membahas Dewi sebagai beban; file ketiga rusak dan menunggu pemulihan.

Tinta hitam meresap ke halaman.

【BUKTI: 45%】

【Status: BELUM CUKUP UNTUK DAKWAAN】

Raka menutup matanya sebentar.

Empat puluh lima persen.

Masih jauh dari cukup. Sistem tidak mau hanya amarah. Sistem meminta kebenaran yang bisa berdiri.

"Aku dapat nomor Bagus," kata Kribo tiba-tiba. "Dari kontak lama Ratih dan data pembayaran transfer. Mau telepon sekarang?"

Raka melihat boneka di meja. Jahitannya terbuka, kapasnya keluar seperti isi perut kecil yang dipaksa bicara.

"Sekarang."

Panggilan pertama tidak dijawab. Panggilan kedua tersambung setelah dering panjang.

Suara laki-laki di seberang serak, seolah sudah berhari-hari tidak tidur. "Halo?"

"Pak Bagus Saputra? Nama saya Raka Laksana. Saya membantu menyelidiki kasus Dewi."

Hening.

Lalu napas di seberang patah.

"Dewi... kalian menemukan Dewi?"

Raka tidak langsung menjawab. Ia tahu ada kalimat yang bisa menghancurkan seseorang jika dijatuhkan terlalu cepat.

"Pak Bagus, kami menemukan Boneka Teddy Bear Dewi. Di dalamnya ada perekam suara."

Suara Bagus berubah. "Kamu... kamu menemukan bonekanya?"

Jadi benar.

Raka menatap Kribo. "Anda yang memasangnya?"

Bagus menangis. Tidak keras. Justru pelan, tertahan, seperti laki-laki yang sudah lama tidak punya hak untuk menangis di depan siapa pun.

"Saya cuma ingin tahu dia aman atau tidak," katanya. "Ratih sudah menikah lagi. Saya tidak bisa datang sesuka hati. Setiap kali saya lihat Dewi, dia takut kalau Wisnu dekat. Saya tanya Ratih, dia bilang saya cemburu. Saya... saya cuma mantan suami gagal. Jadi saya taruh alat itu di bonekanya. Kalau ada apa-apa, setidaknya saya tahu."

Raka menelan sesSatu yang pahit.

Usaha terakhir seorang ayah untuk melindungi anaknya justru menjadi suara yang tersisa setelah anak itu mati.

"Pak Bagus," kata Raka, "saya butuh Anda datang ke Desa Batu Giok. Ada yang harus Anda dengar. Dan ada yang harus Anda jelaskan kepada polisi."

"Apakah Dewi..."

Kali ini Raka tidak berbohong.

"Kami menemukannya. Saya turut berduka."

Di seberang, Bagus tidak lagi bicara. Hanya ada suara napas yang pecah, lalu satu kalimat yang hampir tidak terdengar.

"Saya berangkat sekarang."

Panggilan berakhir.

Kribo menatap file ketiga yang masih gagal dibuka. "Kalau file ini isinya malam kejadian..."

"Maka Wisnu tidak punya tempat sembunyi."

Di luar jendela, malam menebal di atas Desa Batu Giok.

Wisnu dan Marlina belum tahu boneka itu kembali bersuara.

Belum.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!