Satu jalan keluar dari balik jeruji besi, namun berujung pada labirin tanpa pintu keluar.
Ketika Dorris Gate menawarkan kunci kebebasan, La Bonna De Luca tidak pernah menduga bahwa harga yang harus dibayar adalah jiwanya sendiri.
Terlempar ke dalam gemerlap remang Velvet Noir, Bonna dipaksa menari di atas benang tipis antara penyamaran dan kehancuran. Targetnya adalah Ezequiel Nolan Ashford—pria dingin bernapas racun yang tak pernah terpeleset oleh hukum.
Bonna menyadari satu hal: ini bukanlah misi penyelidikan, ini adalah eksekusi yang tertunda.
Ezequiel tidak hanya sulit dibaca; ia memegang kendali atas hidup dan mati siapa pun di wilayah kekuasaannya. Bagi Ezequiel, Bonna hanyalah mainan baru yang sewaktu-waktu bisa dihancurkan.
Untuk bertahan hidup di tangan pria yang memperlakukan manusia tak ubahnya properti, Bonna hanya punya satu senjata tersisa: memainkan sandiwara paling berbahaya. Berpura-pura menyerahkan hatinya pada sang iblis, atau menjadi bidak yang ditumbalkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#23
Di dalam kamar 101 yang pengap, aroma antiseptik beradu dengan amis darah yang belum sepenuhnya menguap dari udara. La Bonna meringis kesakitan, menahan napas saat jemari Dorsila yang dilapisi sarung tangan medis menempelkan kapas beralkohol pada luka robek di keningnya. Rasa perih yang menyengat seakan menusuk langsung ke tengkoraknya.
Dorsila menghela napas panjang berkali-kali. Dengan gerakan terampil namun kasar, ia membebat luka Bonna lalu menaruh alat-alat medisnya ke nampan stainless di samping ranjang.
Dorsila melipat kedua tangannya di dada, menatap Bonna dari atas ke bawah. "Kau ini bodoh atau bagaimana? Seharusnya kau tidak memprovokasi Tuan Nolan. Dia bukan orang sembarangan yang bisa kau tarik ulur emosinya. Pria itu bukan lawan main-mainmu, La Bonna."
Bonna hanya terdiam, mengetatkan rahangnya menahan ngilu di kening dan rahang.
"Aku sudah membaca dokumen tentangmu," lanjut Dorsila dingin, suaranya datar tanpa simpati. "Aku sudah tahu siapa dirimu, dari mana asalmu, dan kenapa kau bisa berakhir mengenaskan di tempat ini."
Bonna mendongak perlahan, menatap wajah dokter wanita di hadapannya.
Dorsila kembali menghela napas, menyandarkan pinggulnya pada meja kecil.
"Jika kau pikir kau cukup kuat untuk melawan Tuan Nolan hanya karena kau pernah melakukan kejahatan kecil di luar sana, maka kau salah besar, Bonna. Tuan Nolan bukan seperti adikmu yang bisa kau siram dengan air keras. Dia juga bukan seperti teman-teman kuliahmu yang bisa kau manipulasi sesuka hati untuk mengikuti kemauanmu. Kalau kau tidak mau mati, kau harus paham betul dengan kondisimu dan siapa lawanmu."
Dorsila melangkah satu garis mendekat, menunduk sedikit. "Membuat wajah adikmu hancur saja kau gagal dan berakhir mendekam di sel penjara, apalagi melawan Tuan Nolan. Dan kau tahu apa yang terjadi sekarang? Rumor tentangmu sudah tersebar luas di seluruh tempat ini. Seraphina menyebarkan keinginan bodohmu yang ingin menjadi kesayangan Tuan Nolan. Mereka semua menertawakanmu. Begitu kau melangkahkan kaki keluar dari kamar ini, kau hanyalah bahan tertawaan."
Bonna menggigit bibir bawahnya yang pecah hingga rasa asin darah kembali mengecap di lidahnya. "Aku tidak bermaksud memprovokasi Nolan," bisiknya parau, menahan gejolak amarah.
"Dia yang menghinaku lebih dulu. Dia menghina fisikku dan mengatakan tidak ada pria yang sudi mengeluarkan uang hanya untuk tidur denganku. Padahal... Nolan sendiri yang datang dua kali berturut-turut ke kamar ini untuk meniduriku."
Dorsila seketika berdecih, menggelengkan kepalanya lambat. "Memangnya kenapa kalau Tuan Nolan dua kali menidurimu secara berturut-turut? Apa kau pikir kau begitu spesial hanya karena wajahmu mirip dengan Electra? Atau kau merasa berharga hanya karena dikunjungi oleh Tuan Nolan dua hari berturut-turut?"
Dorsila mendekatkan wajahnya, menatap Bonna tajam. "Hampir semua wanita di tempat hiburan ini sudah pernah tidur dengannya, dan bukan hanya sekali. Jadi berhenti beranggapan bahwa kau seistimewa itu di matanya."
Bonna terdiam. Kata-kata Dorsila menghantam kesadarannya tanpa ampun.
"Buang jauh-jauh peran main character antagonis-mu itu," cecar Dorsila lagi. "Kau pikir kau sedang berada di dalam film atau novel romansa? Kau pikir kau akan dengan mudah menggeser posisi Seraphina di sini? Tidak semudah itu, Bonna. Semua hal di tempat ini tidak seberjalan lancar seperti saat kau berada di California, tempat asalmu."
Dorsila menunjuk dada Bonna dengan telunjuknya. "Di California, mungkin kau bisa berlagak menjadi penjahat paling licik. Tapi di sini, di Texas, setiap orang bisa membuat nyawamu melayang kapan saja bahkan hanya karena alasan sepele sekalipun. Yang harus kau takuti saat ini bukan cuma Tuan Nolan, tapi sikapmu sendiri. Sikap implusifmu bisa membawa kesialan—nyawamu bisa melayang pergi dari tubuhmu, dan kau baru saja memprovokasi orang yang salah. Seraphina bukan lawan tandingmu. Kau juga membuat Tuan Nolan semakin muak padamu karena kau berani melawannya semalam."
Dorsila merapikan peralatan medisnya dengan bunyi gemerincing logam yang tajam. "Posisimu tidak menguntungkan sama sekali. Kau masih bernapas detik ini hanya karena Alena menginginkanmu tetap hidup."
Perkataan Dorsila membuat Bonna termenung panjang. Pandangannya menerawang pada lantai kayu yang dingin.
Memang benar... ia tidak pernah mampu mengontrol emosinya sejak dulu. Dan karena ketidakmampuannya menahan emosi itulah, Bonna kini terdampar dalam keadaan yang amat menyedihkan.
Kalau saja semalam ia tidak melawan Nolan dan tidak membalas hinaannya, mungkin Nolan tidak akan melemparnya kepada empat anak buahnya bagikan sampah.
Andai saja ia bisa menjaga lidahnya, ia mungkin hanya perlu melayani Nolan seorang. Dan seandainya Bonna bisa menahan emosinya agar tidak terpancing oleh celaan Seraphina, ia tidak perlu menambah musuh baru di tempat asing ini. Namun Bonna justru membuat Seraphina yang terbakar cemburu semakin haus akan darahnya.
Bonna menghela napas perlahan, mencoba mengalihkan rasa penyesalan yang merayap di dadanya. "Aku penasaran..." gumam Bonna parau. "Kenapa semua orang di tempat ini begitu tunduk dan takut pada Nolan? Apa karena mereka semua takut berakhir tragis seperti dua orang yang menyelundupkanku kemari? Takut dibunuh?"
Bonna mencoba mengalihkan pembicaraan. Apa yang sudah terjadi memang tidak bisa diubah. Bonna selalu saja terjebak dalam lingkaran penyesalan atas keputusan masa lalunya. Entah mengapa, ia rasanya tak pernah bisa mengambil keputusan yang benar—keputusan yang tidak akan ia sesali pada akhirnya.
Dorsila kembali berdecih pelan. "Orang-orang di sini kebanyakan tidak takut mati," jawabnya santai. "Mereka lebih takut tidak punya uang. Dan di dunia keras seperti ini, kesetiaan di tanah Texas adalah hal nomor satu. Orang-orang yang berada di markas ini, hidup mereka sudah lama hancur dan berantakan di luar sana. Tapi di sini, Nolan memberi mereka kesempatan untuk membangun hidup kembali—menjadi anjing setia Tuan Nolan. Uang berlimpah dan keamanan mereka terjamin, asal satu syarat: jangan pernah membuat kesalahan, apalagi berkhianat."
Dada Bonna berdegup kencang. "Mereka... tidak terpaksa bekerja di sini seperti aku?"
"Hanya kau yang bekerja secara paksa di sini karena kau seorang tahanan dan penyusup," jawab Dorsila tanpa keraguan. "Mereka di sini atas kemauan mereka sendiri. Tapi ingat, sekali kau melangkah masuk ke dalam organisasi ini, kau tidak akan pernah bisa keluar... kecuali kau mati."
Dorsila melepaskan ikatan rambutnya, menyibakkan rambut hitamnya ke depan hingga menampakkan bagian belakang lehernya. Ia menunjukkan tengkuknya pada Bonna. Di sana, di balik kulit halus lehernya, terlihat tonjolan kecil berbentuk persegi datar di bawah permukaan kulit.
"Bukan cuma kau yang dipasangi chip pelacak dan bahan peledak di tubuhmu," kata Dorsila seraya merapikan kembali rambutnya. "Semua orang di sini dipasangi hal yang sama. Termasuk Alena, adik kandungnya sendiri."
Alis Bonna berkerut dalam menatap leher Dorsila. "Dipasang... agar tidak bisa kabur?"
Dorsila mengangguk singkat. "Untuk melacak dan membunuh pengkhianat yang mencoba kabur, sekaligus untuk menyelamatkan siapa pun yang diculik oleh musuh. Tergantung dari sisi mana kau melihat fungsinya."
Bonna terdiam. Tatapannya tertuju pada raut wajah Dorsila yang dingin dan tenang. Bonna mendadak penasaran dengan jalan hidup wanita di hadapannya ini.
Apakah hidup Dorsila di luar sana juga begitu hancur hingga ia memutuskan bekerja pada seorang bos mafia seperti Nolan? Meninggalkan seluruh kehidupan normalnya dan menjadi bawahan yang berurusan dengan mayat dan darah setiap hari?
Seolah bisa membaca perubahan raut wajah dan rasa penasaran di mata Bonna, Dorsila menarik napas pendek.
"Aku bukanlah seorang buronan," ujar Dorsila membuka suara, memberi tahu alasan kenapa ia berada di tempat gelap ini.
"Lebih tepatnya, aku dituduh melakukan malapraktik di rumah sakit tempatku bekerja dulu, hingga memakan banyak korban jiwa. Tapi bukan aku pelakunya. Pelaku sebenarnya adalah seorang dokter muda baru yang keluarganya memiliki koneksi kuat dengan orang-orang penting di jajaran direksi rumah sakit."
Dorsila tersenyum sinis, ada kilat dendam lama yang melintas cepat di matanya. "Semua kesalahan dan kelalaian itu dilimpahkan sepenuhnya padaku. Dan tentu saja, aku kabur. Nama baik rumah sakit itu kembali pulih hanya dengan memberikan uang ganti rugi pada media dan keluarga korban. Tapi tidak denganku. Namaku hancur. Aku tidak diterima bekerja di rumah sakit mana pun. Keluarga para pasien yang meninggal menuntutku, menguntitku setiap hari, dan bahkan menyerang kediamanku. Lalu... Nolan menemukanku. Aku memutuskan bergabung kemari."
Dorsila merapikan jas laboratoriumnya. "Uang yang kudapatkan dari Nolan jauh lebih besar dibandingkan gaji yang kuterima dari rumah sakit ternama sekalipun. Dan yang paling penting... aku bebas melakukan eksperimen medis apa pun pada mayat-mayat yang dikirimkan Nolan ke ruanganku. Tidak ada aturan hukum, tidak ada etik medis, tidak ada yang peduli pada apa yang kulakukan pada tubuh-tubuh mati itu. Di sini... aku merasa bebas."
Bonna cukup terkejut mendengarnya. Informasi ini benar-benar di luar prediksinya. Di tempat ini, ternyata setiap orang memiliki kegelapan dan alasan tersendiri untuk mengabdi pada iblis seperti Nolan.
Klek.
Pintu kamar 101 terbuka melambat. Alena melangkah masuk membawa nampan berisi semangkuk sup hangat dan segelas air.
"Bagaimana keadaan lukamu? Apakah sudah mendingan?" tanya Alena cemas. Matanya beralih menatap Dorsila.
"Apakah Dorsila sudah mengobati seluruh lukamu?"
Dorsila tidak menjawab pertanyaan Alena. Ia hanya membereskan nampan medisnya, menatap Bonna sekilas dengan pandangan penuh peringatan, lalu melangkah keluar kamar tanpa menguncinya.
Alena menghela napas lega, mendudukkan dirinya di pinggir ranjang tepat di samping Bonna. "Kak Nolan pergi ke Italia pagi ini," bisik Alena mencoba memberi kenyamanan. "Kau bisa tenang. Selama beberapa hari ke depan, kau tidak akan diganggu olehnya atau anak buahnya."
Alena menyendok sup hangat itu, menyuapkannya perlahan ke bibir Bonna yang masih pecah-pecah. "Seraphina juga tidak akan bisa mengganggumu secara fisik jika kau terus berada di sisiku," tambah Alena lagi penuh keyakinan.
Bonna berusaha menegakkan posisi duduknya. Namun gerakan kecil itu langsung membuat pinggul dan perutnya berdenyut ngilu, memaksanya kembali meringis menahan sakit.
Setelah berhasil menelan suapan sup itu, Bonna menatap iris mata Alena dengan serius. "Alena... boleh aku meminta sesuatu darimu?"
Alena menghentikan gerakan tangannya yang hendak menyendok sup kembali. "Kalau yang kau minta adalah membantumu kabur dari tempat ini, maka aku akan menjawab tidak," potong Alena cepat. "Lucifer selalu mengawasiku dua puluh empat jam."
"Bukan itu," balas Bonna parau. "Aku pun sadar betul... aku tidak akan pernah bisa kabur dari tempat ini."
Alena menatap Bonna heran. "Lalu kau ingin aku membantumu apa?"
"Aku ingin hal lain," bisik Bonna, matanya menatap tajam. "Aku ingin kau memberitahuku segala hal tentang kakakmu. Nolan."
Tangan Alena yang memegang sendok seketika terhenti di udara. Ia perlahan meletakkan sendok itu kembali ke atas piring. Raut wajah ramah dan penuh simpati di wajah Alena mendadak sirna.
Wajah gadis muda itu berubah dingin dalam sekejap. Tatapan matanya menusuk tajam ke arah Bonna, persis seperti tatapan Nolan saat sedang menghakimi tawanannya.
"Agar kau bisa membocorkannya pada Dorris?" cetus Alena dingin. "Kau masih memikirkan soal misimu dengan Dorris, padahal kau tahu kau bisa mati kapan saja di sini?"
Alena mencengkeram erat pinggiran piring di pangkuannya. Tangannya gemetar menahan gejolak emosi. "Aku mungkin peduli padamu, Bonna. Tapi bukan berarti aku akan mengkhianati kakakku sendiri demi dirimu."
"Aku tidak bermaksud begitu!" potong Bonna panik, mencoba memperbaiki kalimatnya. "Aku tidak memintamu untuk mengkhianatinya!"
"Tapi kau ingin mengorek informasi tentangnya dariku!" sergah Alena, suaranya naik satu oktav namun tetap terdengar menekan. "Kau ingin tahu apa kelemahannya agar kau bisa memberitahukannya pada Dorris dan menyelesaikan tugas sialanmu itu!"
"Tidak! Tidak! Aku tidak pernah bilang aku ingin tahu kelemahannya!" sela Bonna cepat, napasnya terengah-engah menahan sakit di dadanya. "Aku hanya ingin tahu... apa yang dia suka."
Alis Alena menukik dalam. "Apa maksudmu?"
Bonna menelan ludahnya yang terasa pahit. "Kau dengar sendiri apa yang kukatakan pada Seraphina sebelumnya, bukan? Aku ingin merebut posisinya di tempat ini. Aku ingin membalas perbuatannya... dan untuk melakukan itu, aku butuh bantuanmu. Jika aku berhasil menjadi wanita kesayangan kakakmu, aku juga akan semakin jauh dari ancaman kematian."
Alena menggelengkan kepalanya perlahan, menatap Bonna dengan pandangan kasihan sekaligus heran. "Menjadi kesayangan Kak Nolan tidak akan pernah membuatmu jauh dari kematian, Bonna. Kau mungkin bisa membalas Seraphina dengan posisi itu. Tapi kau justru akan melangkah semakin dekat menuju kematianmu sendiri. Karena menjadi kesayangan kakakku... bukanlah hal yang mudah."
Alena meletakkan piring makanan itu ke atas meja samping ranjang dengan helaan napas berat.
"Seraphina berada di posisinya yang sekarang bukan hanya karena ia pandai merayu," lanjut Alena dingin. "Seraphina sudah tidur dengan banyak pria atas perintah Kak Nolan—baik rekan bisnis yang ingin kakakku manfaatkan, maupun musuh politik yang ingin kakakku hancurkan dari dalam. Menjadi wanita kesayangan Kak Nolan berarti kau bersedia menjadi pion paling berguna dalam papan catur kematian yang dimainkan oleh kakakku. Dan kau... kau tidak akan pernah mampu melakukan itu."
Alena menatap Bonna dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Seraphina sudah mengorek begitu banyak informasi berharga untuk kakakku, dan dia juga sudah membunuh banyak orang demi perintah Kak Nolan. Kau tidak akan pernah bisa menggantikan posisinya."
Bonna mengetatkan rahangnya. "Tidak ada salahnya untuk mencoba."
"Kakakku tidak akan mungkin memberimu misi!" tembak Alena telak. "Kau itu seorang tahanan! Kau itu musuh di mata kakakku!"
La Bonna terdiam paku. Ruangan kembali disergap keheningan yang menekan. Namun Bonna tidak boleh menyerah detik ini.
Jika ia terus menjadi tahanan tak berguna, usianya di markas ini hanya tinggal menghitung hari sampai Seraphina atau anak buah Nolan yang lain menghabisi nyawanya secara perlahan.
"Kalau begitu... lakukan tanpa misi," bisik Bonna seraya menatap Alena lurus-lurus. "Katakan padaku apa yang kakakmu suka. Bagaimana cara menyenangkannya saat di ranjang... agar saat dia kembali nanti, aku tidak kembali membuatnya murka."
Alena menghela napas pendek, memalingkan wajahnya. "Aku tidak tahu soal urusan ranjang Kak Nolan."
"Dan aku tidak mungkin bertanya langsung pada Seraphina," sambung Bonna cepat.
Alena kembali menoleh, menatap Bonna dengan raut datar. "Kalau begitu... temukan jawabannya sendiri saat kakakku kembali nanti. Pesanku hanya satu: jangan pernah memancing amarahnya lagi. Bersikaplah lembut, menurut, dan jangan pernah bicara kalau tidak diperintahkan untuk bicara. Cari tahu apa yang membuat kakakku senang dengan caramu sendiri."
Alena bangkit dari duduknya. "Itu pun... kalau kakakku masih berminat untuk mengunjungimu lagi setelah dia kembali dari Italia nanti. Karena jujur saja, semalam kau benar-benar telah membuatnya murka luar biasa."
Bonna menghela napas panjang, bersandar lemas pada kepala ranjang saat Alena berjalan meninggalkan kamar 101.
Di dalam keheningan kamar yang sepi, Bonna berbisik pada dirinya sendiri dengan keyakinan yang tajam: Aku yakin kakakmu itu pasti akan kembali mendatangiku... walau hanya sekali lagi. Paling tidak, dia akan datang untuk melihat wajahku yang mirip dengan mendiang kekasihnya... atau sekadar memastikan apakah aku masih hidup atau sudah mati membunuh diriku sendiri.
Bonna memejamkan matanya rapat-rapat, meremas seprai tempat tidur yang dingin. Tapi jika kakakmu tidak kunjung mendatangiku... maka aku sendiri yang akan berjalan mendatangi iblis itu.
...----------------...
La Bonna De Luca