NovelToon NovelToon
BERMAIN API DENGAN CINTA

BERMAIN API DENGAN CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir / Obsesi
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Park ha

Bagi Cinta (24 tahun), moralitas tidak ada harganya jika dibandingkan dengan uang. Menggunakan paras cantik dan tubuh indahnya, penipu ulung ini selalu berhasil meloloskan diri setelah mengeruk harta korbannya.

Hingga suatu hari, sebuah tawaran senilai 10 Miliar Rupiah datang dari Nyonya Valen, seorang wanita kalangan elit. Misinya terdengar mudah: goda Tuan Maxim, jadilah selingkuhannya, dan buat pria itu setuju untuk bercerai.

Cinta mengira ini hanyalah pekerjaan biasa di mana dia yang memegang kendali penuh sebagai pemburu. Namun, dia keliru. Begitu terjebak di dalam mansion mewah Maxim, Cinta baru menyadari bahwa dia bukan sedang memburu, melainkan sedang masuk ke dalam sangkar emas. Nyonya Valen tidak sedang menyewanya, melainkan menumbalkannya untuk melepaskan diri dari jeratan seorang pria posesif yang sangat berbahaya.

Ketika semua jalan keluar telah tertutup, akankah Cinta berhasil meloloskan diri, atau justru terbakar oleh api permainan yang dia nyalakan sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BERMAIN API DENGAN CINTA BAB 11_TERBAKAR API CEMBURU

BERMAIN API DENGAN CINTA

BAB 11_TERBAKAR API CEMBURU

Brak!

Suara pintu kayu mahoni yang dibuka dengan kasar bergema keras di lorong lantai teratas yang sepi. Cinta dan Rudi tersentak kaget secara bersamaan. Ketika mereka menoleh ke arah sumber suara, atmosfer di sekitar kubikel meja kerja Cinta mendadak turun hingga ke titik beku.

Tuan Maxim melangkah keluar dari ruangannya. Pria berusia dua puluh enam tahun itu berjalan dengan langkah lebar yang tegas, memancarkan aura membunuh yang begitu pekat dan mengintimidasi. Sepasang mata hitamnya berkilat tajam, menatap lurus ke arah Rudi seolah pria senior itu adalah mangsa yang siap dia koyak detik itu juga. Rahang kokoh Maxim mengeras sempurna dengan urat-urat leher yang menegang kencang.

Rudi yang tadinya mencondongkan tubuh dengan percaya diri di samping Cinta, mendadak menegakkan tubuhnya dengan kaku. Wajah manajer senior itu memucat seketika, dan jakunnya naik-turun menelan ludah dengan susah payah saat mendapati sang CEO tertinggi sudah berdiri tepat di hadapan mereka.

"T-Tuan Maxim..." sapa Rudi dengan suara yang mendadak bergetar ketakutan, kehilangan seluruh pesona dewasanya dalam sekejap.

Maxim tidak membalas sapaan itu. Dia berdiri menjulang, menatap Rudi dari atas ke bawah dengan pandangan yang amat merendahkan dan dingin.

"Manajer Rudi," suara bariton Maxim keluar dengan nada yang sangat rendah namun sarat akan ancaman yang mematikan. "Sejak kapan divisi pengembangan proyek kekurangan pekerjaan sampai seorang manajer senior memiliki waktu luang untuk berkeliaran di lantai eksekutif?"

"Maaf, Tuan Maxim... saya hanya... saya hanya berniat membantu Nona Cinta yang kelihatan kesulitan memeriksa berkas audit proyek lama," kilah Rudi terbata-bata, tangannya bergerak kaku merapikan jasnya sendiri yang mendadak terasa mencekik.

"Membantu?" Maxim terkekeh rendah—sebuah kekehan dingin yang membuat bulu kuduk siapa pun yang mendengarnya merinding hebat. Pria itu melirik sekilas ke arah berkas yang sempat disentuh Rudi, lalu kembali mengunci mata Rudi dengan tatapan tajamnya. "Tugas audit itu adalah perintah mutlak dari saya khusus untuk sekretaris pribadi saya. Jika saya mendapati ada orang luar yang ikut campur, itu artinya kamu sedang mempertanyakan keputusan saya, Rudi. Atau jangan-jangan, kamu merasa posisimu sudah cukup tinggi untuk mengambil alih wewenang di perusahaan ini?"

Tuduhan berat itu menghantam mental Rudi hingga runtuh total. Keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya. Dia tahu betul bahwa dengan satu jentikan jari, Maxim bisa menghancurkan karier dan masa depannya di industri properti ini dalam sekejap mata.

"B-bukan begitu, Tuan! Saya sama sekali tidak bermaksud begitu! Maafkan kelancangan saya!" seru Rudi panik, membungkukkan tubuhnya berkali-kali demi menyelamatkan posisinya.

"Keluar dari lantai ini sekarang juga," perintah Maxim mutlak, nadanya tenang namun tidak menerima bantahan seujung kuku pun. "Kembali ke divisimu dan selesaikan laporan bulananmu. Jika dalam waktu satu jam laporan itu tidak ada di meja saya, kamu bisa mengemas barang-barangmu hari ini juga."

"Baik, Tuan! Baik! Permisi!" tanpa membuang waktu satu detik pun, Rudi langsung berbalik dan setengah berlari menuju lift eksekutif, meninggalkan area tersebut dengan kepanikan total.

Cinta terpaku di kursi kerjanya, menyaksikan seluruh kejadian itu dengan jantung yang berdegup kencang. Rasa jemawa dan licik yang tadi sempat dia rasakan karena berniat memanfaatkan Rudi langsung menguap tanpa sisa. Ini adalah pertama kalinya Cinta melihat secara langsung sisi mengerikan dari Tuan Maxim yang selama ini Valen ceritakan. Pria ini benar-benar gila kendali, dominan, dan memiliki aura kegelapan yang pekat.

Setelah lift tertutup membawa Rudi pergi, keheningan yang mencekam kembali menguasai lantai teratas. Maxim tidak langsung kembali ke ruangannya. Dia memutar tubuhnya perlahan, lalu menatap Cinta yang sedang duduk kaku di balik meja.

Tatapan mata hitam Maxim perlahan turun, menyusuri kerah kemeja sutra putih gading Cinta yang sedikit terbuka, lalu beralih pada jemari lentik Cinta yang masih memegang pulpen mewah. Di dalam dada Maxim, sisa kemarahan karena dicampakkan dan ditinggali uang kompensasi oleh Cinta tadi subuh kini bercampur aduk dengan rasa kepemilikan yang agresif setelah melihat wanita ini tersenyum manis pada pria lain. Sifat posesifnya benar-benar sudah berada di ambang batas.

"Nona Cinta," bisik Maxim dengan suara baritonnya yang berat dan bergetar seksi, menatap langsung pada bibir merah menyala milik wanita itu. "Kulihat kamu sangat ramah pada pria lain di kantorku. Apakah tumpukan berkas yang kuberikan tadi kurang banyak, sampai kamu masih punya waktu untuk menebar pesona murahmu di sini?"

Cinta menahan napasnya sejenak di bawah intimidasi jarak dekat sang bos. Aroma mint yang segar bercampur kehangatan maskulin dari tubuh Maxim mengepungnya, sempat membuat pasokan oksigen di otaknya menipis. Namun, Cinta bukanlah wanita polos yang mudah diciutkan mentalnya oleh gertakan pria. Jiwa penipu ulung di dalam diri menolak keras untuk kalah.

Bagi Cinta, ini bukan lagi sekadar intimidasi bos kepada karyawan. Ini adalah sebuah umpan balik yang sempurna. Amarah dan reaksi berlebihan Maxim adalah bukti nyata bahwa dinding es pria ini tidak hanya retak, melainkan sudah runtuh. Cinta menatap lurus ke dalam sepasang manik mata hitam Maxim yang berkilat gusar. Ini kesempatanku, batin Cinta bersorak licik. Dia tidak boleh membuang kesempatan emas ini untuk semakin menjerat suami Nyonya Valen agar misinya cepat selesai dan uang sepuluh miliar jatuh ke tangannya.

Cinta tidak mundur. Sebaliknya, dia justru mengulas sebuah senyuman menawan yang sangat berani di bibir merah menyalanya. Dengan gerakan lambat yang sangat sensual, Cinta bangkit berdiri dari kursi kerjanya, mengikis sisa jarak yang memisahkan tubuh mereka hingga kemeja sutra putih gadingnya hampir bersentuhan dengan dada bidang Maxim.

Kedua tangan lentik Cinta yang berhias cat kuku merah bata bergerak maju tanpa ragu. Jemarinya yang halus menyentuh kerah kemeja hitam Maxim, lalu dengan santai dan telaten mulai membenarkan posisi dasi sutra atasannya itu yang sedikit miring. Sentuhan ujung jarinya sengaja digesekkan perlahan di atas kulit leher Maxim yang hangat, mengirimkan gelombang provokasi yang nyata.

Cinta sedikit mendongak, memiringkan kepalanya dengan tatapan mata jeli yang mengunci penuh manik mata sang CEO.

"Apakah pesona murahku ini baru saja mengusik Tuan Maxim, dan membuat Tuan Maxim repot-repot datang kemari?" bisik Cinta dengan nada suara yang sengaja diturunkan, terdengar sangat mendayu, manja, sekaligus menggoda tepat di depan wajah pria itu.

Maxim membeku di tempatnya. Rahang tegasnya mengeras lebih kencang saat merasakan sentuhan berani dari jemari Cinta di dasinya. Keberanian wanita ini benar-benar di luar perkiraannya. Cinta mengira dia sedang menjerat seekor domba kaya milik Valen, tanpa tahu bahwa tindakannya barusan—membenarkan dasi dengan cara yang persis sama seperti yang dia lakukan pada "Ethan" di bar malam itu—telah menyulut sisa-sisa kewarasan Maxim hingga ke batas paling akhir.

Maxim menatap bibir merah Cinta yang berjarak sangat dekat dari bibirnya sendiri. Rasa marah karena dicampakkan tadi pagi, cemburu karena Rudi, dan gairah posesif yang menuntut kepemilikan kini melebur menjadi satu ledakan emosi yang sangat berbahaya di dalam dada sang penguasa.

1
Lea
bagus GK ngebosenin ceritanya
Lea
lanjut
Lea
bagus..lanjut
Meysha Talitha Putri
bagus
Park ha: makasih 😍🙏🙏
total 1 replies
Fauzianurul 08
cepat² up yaaa
Park ha: 🤭🤭 aku usahain 2 bab sehari kak... gimnaa pendapat ceritanya? kalau berkenan kasih pendapat...
total 1 replies
the virtuso
izin mampir
Park ha: makasih udah mampir🙏🙏😍
total 1 replies
Abid Din
kak CPT update
Park ha: ok siap...tbw jangan lupa like kasih ulasan kritik saran... makasih😍🙏
total 1 replies
falea sezi
q kirim hadiah lanjut banyak thor
falea sezi
lanjutt
Park ha
moga suka wkkwkwk
falea sezi
nyimakk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!