Pada hari ia terbangun kembali tujuh tahun lalu, Wulan Ardani sadar bahwa pernikahannya dengan Panglima Senja, Nalendra, akan menimbulkan tragedi. Dalam hidup sebelumnya, ia menolak, keluarga hancur, dan sang pria yang menolongnya gugur di Lembah Sigar. Kini ia menerima takdir itu, menyimpan rahasia sebagai putri malam dari Paguyuban Niskala. Saat intrik istana, racun mematikan, dan perebutan takhta mengejar, Wulan harus memilih: menebus masa lalu atau menulis takdir baru bersama lelaki yang pernah mati demi menyelamatkannya.
note : support para pembaca sangat berarti bagi penulis untuk tetap berkarya dan upload minimal 3 bab per hari
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28 - SEPULUH MIL RIASAN MERAH
Aryati mengetahui sifat kompetitif Wulan dengan sangat baik. Di masa lalu, jika ada sesuatu yang Wuri ragukan, Wuri tidak akan ragu untuk melakukannya segera setelah Aryati menggunakan metode provokasi. Sayangnya, kali ini ia mendapatkan hasil yang sebaliknya. Perhitungannya meleset, dan ia tidak tahu bahwa lawannya sudah bukan Wulan yang dulu lagi. Ia memasang jebakan untuk burung, tetapi yang ia dapat justru peringatan keras dari burung yang jauh lebih cerdik dari dirinya.
Setelah mendengar apa yang ia katakan, ekspresi Wulan tidak berubah sedikit pun, tetapi ia masih berkata dengan senyum tipis, "Oh? Meskipun seperti yang dikatakan sepupuku, bukankah Nalendra orang yang lebih cocok untuk Wuri, kalau dihitung tahunnya? Ia telah mencintaiku selama tujuh tahun, jadi sepertinya Nalendra lebih tulus." Ucapannya tenang, tetapi setiap kata yang keluar seperti jarum yang menusuk tepat di bagian paling sensitif dari rencana Aryati.
Benar saja, ekspresi Aryati langsung berubah. Adakah yang lebih tak tertahankan daripada mendengar kisah cinta kekasihnya disebutkan dari mulut wanita yang paling ia benci? Wajahnya memerah dan memucat bergantian, dan untuk sesaat ia nyaris kehilangan seluruh kendali atas raut wajahnya sendiri. Jemarinya mengepal di balik lengan baju, menahan keinginan untuk menghapus senyum tipis dari wajah sepupunya itu.
"Wuri, bukankah kamu mengatakan akan kawin lari dengan Pangeran Cendana? Bagaimana kamu bisa menarik kembali kata-katamu?!" Aryati melihat senyum acuh tak acuh di wajah Wulan, merasa cemas dan marah. Tidak peduli betapa bodohnya ia, ia masih mengerti bahwa saat ini ia sedang ditipu oleh Wuri. Tetapi di sinilah letak kesalahannya — Wulan tidak pernah mengucapkan janji itu; semuanya hanya berada di kepala Aryati sendiri. Ia terlalu percaya diri pada kelemahan sepupunya yang dulu, hingga lupa bahwa orang yang paling mudah ditipu adalah mereka yang menganggap dirinya paling pintar.
"Kapan aku mengatakan akan kawin lari dengan Pangeran Cendana?" Wulan mencibir di ujung alisnya, menatapnya, dan berkata dengan lembut, "Bukankah semua yang dikatakan sepupuku? Tidak semuanya. Apakah sepupuku yang mengaturnya?" Pertanyaan itu polos, tetapi di baliknya tersimpan ejekan yang halus, dan Aryati menyadari bahwa ia telah bermain ke tangan Wulan sejak awal.
"Aku..." Aryati tersedak oleh kata-katanya dan tidak bisa berkata-kata. Mulutnya terbuka, tetapi tidak ada satu suara pun yang keluar, dan seluruh tubuhnya kaku seperti batu.
Memang benar, dialah yang terus berbicara hari itu. Wulan tidak mengatakan apa-apa; ia hanya mengulangi kata-kata Aryati beberapa kali. Setiap kalimat manis yang tadinya ia susun untuk menjebak Wulan, kini berbalik menusuk dirinya sendiri, dan tidak ada satu pun yang bisa ia bantah.
"Tapi kamu jelas-jelas berjanji padaku!" Aryati menggigit bibirnya dan berbisik dengan enggan. Suaranya bergetar, menahan tangis yang nyaris pecah, karena ia tahu bahwa semua dalihnya sudah habis dan tidak ada lagi yang bisa ia pegang.
"Jadi bagaimana jika aku setuju?" Wulan tidak tergerak sama sekali, menatapnya dengan acuh tak acuh. "Saya menyesal sekarang." Kata-kata itu sederhana, tetapi begitu dingin, dan untuk pertama kalinya Aryati merasakan betapa menakutkannya lawan yang tidak lagi bisa ia kendalikan.
"Kamu..." Aryati cemas dan marah, tetapi sebenarnya tidak ada yang bisa dilakukan padanya. Belum lagi apakah ia bisa menyeret Wuri keluar dengan paksa, hanya dengan menyebut identitasnya sebagai putri sah, Wulan akan selalu bisa membuatnya kewalahan. Bahkan ketika Wuri sedang menggodanya, ia tidak bisa berkata apa-apa, karena kedudukan mereka memang tidak sebanding.
Wulan memandangnya dengan acuh tak acuh, dan tiba-tiba merasa sedikit tidak tertarik. Ia terlalu malas untuk berbicara dengannya lagi. Ia menoleh dan berteriak ke luar. "Intan!"
"Ya, Nona." Intan yang menjaga pintu mendengar suaranya dan segera membuka pintu lalu masuk. Ia melangkah cepat, siap menerima perintah apa pun yang akan diberikan tuannya.
"Tolong ajak sepupuku keluar. Aku lelah dan ingin diam." Wulan melambaikan tangannya dengan malas, tidak lagi sudi menatap wajah Aryati yang sudah tidak tertahankan itu.
"Ya, Nona Aryati, silakan keluar bersamaku." Intan merespons dengan cepat, dan ketegangan yang menggumpal di benaknya akhirnya mengendur. Ia menarik napas lega, bersyukur tuannya akhirnya sadar dan tidak lagi membiarkan dirinya dipermainkan.
Ia telah berjaga di sini sejak pagi, takut nona mudanya akan melakukan sesuatu yang tidak masuk akal atas dorongan gadis-gadis dari keluarga kedua. Sekarang ia melihat nona muda itu mengusir mereka, Intan akhirnya menghela napas lega. Sepanjang pagi ia berdiri di balik pintu, mengatur napas setiap kali mendengar suara Wulan, siap melompat masuk jika keadaan mulai membahayakan.
Ruangan menjadi sunyi lagi. Wulan berdiri dan berjalan ke cermin perunggu sambil membawa kerudungnya. Ia jelas masih tampak seperti gadis berusia empat belas tahun di cermin itu. Alisnya dimanjakan dan sombong, tetapi ada sesuatu yang berbeda. Ia dengan jelas melihat matanya sendiri melalui cermin perunggu itu — dingin dan acuh tak acuh. Itu jelas bukan mata Wuri yang berusia empat belas tahun, melainkan mata orang yang telah melewati tujuh tahun penyesalan dan melihat segalanya dengan terang. Hanya ia sendiri yang tahu betapa jauh perjalanan yang telah ia tempuh untuk sampai di titik ini.
Setelah menonton beberapa saat, suara keras dari jauh dan dekat perlahan terdengar di telinganya — bunyi genderang pernikahan yang semakin mendekat, diiringi sorak-sorai para warga yang berjejer di sepanjang jalan. Wulan menurunkan bulu matanya, diam-diam duduk kembali di tepi tempat tidur, dan menutupi wajahnya dengan kerudung. Di balik kerudung itu, bibirnya melengkung membentuk senyum tipis yang tidak akan bisa dilihat siapa pun.
Pernikahan yang sangat megah dan mewah antara putri ketujuh Adipati Ardani dan Pangeran Nalendra dari Senja telah lama dibicarakan oleh masyarakat Kota Pelantar. Seluruh kota menunggu-nunggu hari yang dinanti itu, dan setiap orang punya cerita sendiri tentang betapa agungnya pernikahan itu nanti.
Nalendra tidak tahu metode apa yang ia gunakan, tetapi pohon maple merah yang layu tiba-tiba mekar kembali di seluruh kota dalam semalam. Dari kejauhan, pegunungan ditutupi warna merah, hutan diwarnai, dan brokat sutra merah membentang dari atap ke atap. Mahar dan hadiah pertunangan yang tak terhitung jumlahnya berubah menjadi riasan merah sepanjang sepuluh mil, dan Kota Pelantar ramai untuk sementara waktu.
Orang-orang yang berjalan di sepanjang jalan harus berhenti dan menepi, karena rombongan pengantin itu memenuhi setiap jengkal jalan, dan tidak seorang pun berani menghalangi. Sejak kedatangan Pangeran Senja di kota ini, belum pernah ada pemandangan semegah itu, dan semuanya ia lakukan demi seorang gadis yang dulu nyaris ia kehilangan.