Huo Li hidup sebagai murid pelayan kasta terendah di Sekte Pedang Mendalam. Diperlakukan bak sampah, dan hampir mati, ia kehilangan seluruh harapan hingga diselamatkan oleh seorang pria misterius.
Pria itu memberinya sebuah teknik kultivasi terlarang dan sebuah artefak yang mampu mengubah seluruh harta dunia menjadi sumber kekuatan. Sebagai gantinya, Huo Li menerima satu syarat yang mustahil: meruntuhkan langit.
Dengan dendam yang membara namun hati yang tetap terkendali, ia bersumpah akan bangkit dari dasar dunia kultivasi, membalaskan dendamnya dan meruntuhkan langit.
Bagaimanakah kisah Huo Li? Saksikan...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 26 — Menuju Kota Sungai Hijau
Pagi Hari, Kandang Binatang Spiritual Sekte Pedang Tiran.
Sebelum matahari beranjak terlalu tinggi, Huo Li dan Yun Bing telah mengganti seragam sekte mereka dengan pakaian pengembara biasa. Jubah sekte berlambang pedang menyilang khas Sekte Pedang Tiran hanya akan mengundang terlalu banyak tatapan curiga di tempat umum seperti Kota Sungai Hijau.
Di kandang binatang spiritual sekte, dua ekor kuda spiritual coklat kemerahan yang gagah dan berotot telah disiapkan untuk mereka. Binatang-binatang ini mampu berlari pukuhan mil tanpa henti, memangkas waktu perjalanan secara drastis.
Namun, alih-alih langsung naik, Huo Li justru berdiri mematung di samping kuda tunggangannya.
'Sial... Aku tidak pernah sekalipun menunggangi kuda sebelumnya.'
Matanya menatap lekat-lekat pada pelana dan tali kekang. Seumur hidupnya sebagai murid pelayan rendahan di Sekte Pedang Mendalam, ia hanya pernah bertugas membersihkan kotoran binatang peliharaan sekte, tidak pernah sekalipun diajari cara menungganginya.
Melihat raut wajah kaku dan keraguan yang jarang terlihat dari Saudara Juniornya itu, Yun Bing menghela napas pelan.
"Kau tidak pernah berkuda sebelumnya, kan?" tebak Yun Bing langsung pada intinya. Gadis itu menepuk bagian belakang pelana kudanya sendiri. "Jika kau tidak bisa, naiklah ke belakangku. Kita bisa menunggangi satu kuda yang sama. Dengan kultivasi kita, beban dua orang tidak akan memperlambat laju kuda spiritual ini."
Mendengar tawaran itu, harga diri Huo Li sebagai seorang pria—dan sebagai seseorang yang bertekad tak mau lagi terlihat lemah langsung tersentil. Ia tidak mau kalah hanya oleh seekor kuda peliharaan.
"Tidak perlu repot-repot, Senior. Aku bisa mengendalikannya," tolak Huo Li dengan wajah datar yang dipaksakan tenang.
Dengan sedikit gerakan yang awalnya kaku, Huo Li meraih tali kekang dan memaksakan diri melompat ke atas pelana. 'Ayo, menurutlah dengan baik kawan, jangan mempermalukan diriku.'
Namun, tepat ketika tubuhnya duduk di atas punggung kuda tersebut, sebuah keajaiban yang tak terduga terjadi.
Insting fisiknya yang telah dirombak dan disempurnakan oleh Lempengan Dewa Surgawi seolah mengambil alih sepenuhnya. Tanpa sadar, postur duduknya langsung tegap sempurna. Ia menggenggam tali kekang dengan ritme tenaga yang sangat pas. Kuda spiritual yang biasanya memiliki temperamen buas terhadap penunggang amatir itu, mendadak mendengus pelan, menundukkan kepalanya dengan patuh, dan tampak sangat nyaman berada di bawah tekanan aura Huo Li. Seolah-olah Huo Li adalah seorang jenderal kavaleri yang telah berlatih selama puluhan tahun.
Melihat betapa luwes dan ahlinya Huo Li di atas pelana, Yun Bing mengerjapkan matanya sejenak sebelum akhirnya mendengus pelan. Ia melipat tangannya di dada, menatap Huo Li dengan pandangan mencemooh namun terselip kelegaan.
"Itu hal yang baik," cibir Yun Bing dengan bibir sedikit melengkung. "Aku kira kau akan berpura-pura tidak bisa berkuda hanya agar bisa menunggangi satu kuda yang sama denganku."
Huo Li mengerjap bingung mendengar kalimat itu. Wajah datarnya memancarkan ketidakpahaman yang tulus. "Eh? Apa maksudmu, Senior? Mengapa aku harus berpura-pura tidak bisa berkuda hanya untuk merepotkanmu?"
Yun Bing tertegun. Melihat kepolosan di mata pemuda yang biasanya penuh perhitungan licik itu, ia memutar bola matanya jengah. Pemuda cerdik ini ternyata sangat padat dan bodoh dalam urusan seperti ini.
"Lupakan saja! Ayo berangkat!" seru Yun Bing cepat untuk menutupi kecanggungannya, lalu ia memacu kudanya melesat lebih dulu menuruni jalan pegunungan.
"Tunggu, Senior!" Huo Li yang masih kebingungan segera memacu kudanya menyusul gadis itu.
Enam jam berlalu begitu saja sejak mereka meninggalkan Sekte Pedang Tiran.
Matahari tepat berada di atas kepala ketika dua ekor kuda spiritual itu berlari membelah jalanan tanah berdebu. Di kejauhan, tembok batu setinggi tiga tombak yang mengelilingi sebuah kota mulai terlihat megah.
Kota Sungai Hijau adalah kota tingkat 2 di Prefektur Naga Air. Wilayah prefektur memiliki klasifikasi dari tingkat 1 sampai 3, di mana tingkat 1 adalah kota pusat yang paling besar.
Huo Li menarik tali kekang kudanya, memperlambat laju tunggangannya agar sejajar dengan Yun Bing. Matanya yang tajam menyapu pemandangan di depan. Tembok kota itu terbuat dari batuan hijau keabuan, dan di atasnya, panji-panji besar bergambar pedang emas berkibar.
"Yah, Kota Sungai Hijau termasuk dalam kota yang berada di bawah perlindungan dan pengaruh Sekte Pedang Mendalam," gumam Huo Li pelan, kilat dingin melintas di matanya.
Namun, yang lebih menarik perhatian Huo Li bukanlah kemegahan tembok atau panji sekte lamanya, melainkan barisan penjaga lapis baja yang berdiri ketat di gerbang utama. Mereka tidak mengenakan seragam resmi prajurit kota, melainkan zirah dengan lambang huruf 'Qu' terukir tebal di dada mereka.
'Keluarga Qu...' batin Huo Li, matanya sedikit menyipit. 'Bahkan gerbang kota pun dikuasai sepenuhnya oleh penjaga keluarga mereka. Pengaruh mereka di sini benar-benar mengakar kuat melebihi sang wali kota sendiri.'