Di bawah langit kelabu Inggris yang selalu basah oleh gerimis, Aurora "Rory" Vance melangkah masuk ke kampus paling bergengsi di Britania Raya hanya berbekal koper tua, beasiswa penuh, dan keteguhan hati. Sebagai gadis dari kalangan menengah ke bawah yang realistis dan tak punya waktu untuk urusan cinta, prioritas Rory hanya satu: bertahan hidup dan mempertahankan IPK-nya.
Namun, tradisi Freshers' Week (PKKMB) di kampus elit ini jauh dari kata ramah. Para senior panitia yang keras dan disiplin tanpa ampun siap menyaring siapa yang pantas berada di sana. Di tengah tekanan fisik dan mental itu, Rory bertabrakan dengan Julian Edward Radcliffe senior tingkat tiga sekaligus ketua panitia kedisiplinan yang berasal dari salah satu dinasti bangsawan terpandang di Inggris.
Julian adalah definisi kesempurnaan yang dingin, tampan, cerdas, kaya, dan tak tersentuh. Namun, di balik tatapan tajam dan wibawanya yang mendominasi, Julian menyimpan beban ekspektasi keluarga yang mencekik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon air sungai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputusan di Bawah Lampu Halaman Utama
Kabar keberangkatan Julian ke Radcliffe Manor sempat menyebar halus di koridor kampus St. Jude’s. Beberapa spekulasi tentang aliansi bisnis dan pertunangan dengan keluarga Montgomery mulai berembus di antara para mahasiswa senior, memicu bisik-bisik tiap kali Rory berjalan melintasi lorong.
Namun, Rory tetaplah Aurora Vance.
Dengan kepala tegak, ia melangkah menyusuri pelataran utama kampus menuju Laboratorium Biokimia, membawa setumpuk laporan riset yang baru saja diselesaikannya. Gemma berjalan di sampingnya, melemparkan tatapan tajam ke arah beberapa mahasiswi yang berbisik di dekat pilar batu.
"Abaikan saja mereka, Rory. Mereka cuma iri karena nilai UTS-mu nomor satu dan Senior Julian enggak pernah melirik mereka," sungut Gemma kesal.
"Aku tidak punya waktu untuk memikirkan asumsi orang lain, Gem," jawab Rory tenang sambil merapikan tali ranselnya. "Fokus utamaku hari ini adalah menyerahkan draf riset ini sebelum jam dua."
Namun, di depan tangga utama Gedung Sains, langkah mereka terhenti.
Victoria Montgomery berdiri di sana bersama dua temannya. Ia mengenakan mantel merah menyala yang mencolok, memegang secangkir kopi mahal, dan menatap kedatangan Rory dengan senyum sinis.
"Ah, Aurora Vance," panggil Victoria dengan nada meremehkan yang keras, sengaja menarik perhatian mahasiswa lain di sekitar pelataran. "Bagaimana rasanya? Mengira bisa memikat Julian hanya dengan nilai akademik, padahal kenyataannya kamu tidak akan pernah cocok masuk ke dunianya?"
Beberapa mahasiswa mulai berhenti dan menonton. Gemma sudah hendak maju untuk membalas, namun Rory menahan lengan sahabatnya.
Rory menatap Victoria lurus-lurus, matanya jernih dan tak memancarkan rasa takut sedikit pun.
"Duniaku dibentuk oleh kerja keras dan kemampuan diriku sendiri, Miss Montgomery," jawab Rory, suaranya tenang namun bergema tegas di pelataran yang mendadak hening. "Saya tidak mendefinisikan nilai diri saya berdasarkan siapa nama belakang keluarga saya atau dengan siapa saya disandingkan."
Wajah Victoria memerah mendengar jawaban tajam dan berkelas itu. "Berani sekali kamu"
"Dia memang berani, Victoria. Dan dia sepenuhnya benar."
Suara berat, dingin, dan sangat berartikulasi memotong ucapan Victoria dari arah gerbang utama.
Seluruh orang di pelataran menoleh.
Julian Radcliffe melangkah masuk ke halaman kampus. Namun kali ini, ada yang berbeda. Ia tidak lagi mengendarai mobil mewah keluarganya. Ia berjalan kaki menembus udara dingin, mengenakan sweater hitam dan mantel cokelat kasualnya tanpa pin lambang dinasti Radcliffe yang biasa bertengger di kerahnya.
Meski tanpa kemewahan keluarganya, aura keberadaan Julian justru terasa jauh lebih kuat, dominan, dan penuh kebebasan.
Mata hazel-nya menatap Victoria dengan dingin, sebelum bergeser menatap Rory dan seketika matanya melunak penuh kehangatan.
"Julian?!" seru Victoria kaget. "Kenapa kamu berjalan kaki? Mana mobil dan pengawalmu?"
Julian berhenti tepat di samping Rory, berdiri tegap memposisikan dirinya di sisi gadis itu.
"Aku sudah mengembalikan seluruh fasilitas dan nama besar keluarga Radcliffe kepada Ayahku kemarin pagi," kata Julian santai, suaranya terdengar jelas oleh semua orang di pelataran. "Aku berdiri di St. Jude’s hari ini murni sebagai Julian seorang peneliti independen dan asisten dosen."
Gap kaget terdengar serempak dari para mahasiswa di sekitar mereka. Victoria membelalakkan mata, tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Kamu...kamu melepaskan warisan keluargamu hanya demi... demi mahasiswi beasiswa ini?!" pekik Victoria histeris.
Julian menatap Victoria datar. "Aku melepaskannya demi kehormatan dan kebebasanku sendiri. Dan soal Aurora..." Julian menoleh, menatap mata cokelat Rory dengan binar cinta dan rasa hormat yang luar biasa mendalam. "dia bukan sekadar 'mahasiswi beasiswa'. Dia adalah wanita paling cerdas, paling tangguh, dan satu-satunya orang yang kuinginkan ada di sampingku."
Di bawah pendar matahari siang yang menerobos awan mendung Oxford, kata-kata Julian menggema sempurna.
Victoria berdiri terpaku, tak sanggup berkata-kata lagi. Dengan wajah menahan malu yang luar biasa, ia berbalik dan berlari pergi meninggalkan pelataran kampus.
Mahasiswa di sekitar mereka perlahan membubarkan diri dengan rasa kagum yang tak terbendung atas ketegasan Julian. Gemma tersenyum lebar hingga matanya berkaca-kaca, memberi isyarat pada Leo yang baru datang di ujung tangga untuk memberi ruang bagi Rory dan Julian.
Rory menatap Julian. Dadanya berdesir begitu hebat, matanya sedikit berkaca-kaca melihat pengorbanan dan keberanian pria di hadapannya.
"Julian..." panggil Rory pelan, suaranya sedikit bergetar. "Kamu tidak perlu melepaskan semuanya..."
Julian tersenyum senyuman paling tulus dan menawan yang pernah Rory lihat dalam hidupnya. Pria itu mengikis jarak, meraih kedua tangan Rory dan menggenggamnya erat.
"Aku tidak melepaskan apa pun yang berharga, Rory," bisik Julian lembut. "Aku hanya meninggalkan beban yang mengekangku, demi mendapatkan hal yang benar-benar bernilai dalam hidupku. Yaitu kebebasanku... dan kamu."
Rory menatap mata hazel yang memancarkan kejujuran murni itu. Tembok rasionalitasnya yang dibangun selama bertahun-tahun kini sepenuhnya runtuh digantikan oleh kehangatan cinta yang tak lagi perlu ia sembunyikan.
Rory menyunggingkan senyuman manisnya, mempererat genggaman tangannya pada jemari Julian.
"Kalau begitu... selamat datang di duniamu yang baru, Julian," balas Rory tulus.
Julian tertawa halus, menundukkan kepalanya dan mencium kening Rory dengan lembut di bawah naungan menara tua St. Jude’s. Di antara riuk angin musim gugur dan dinamika akademis yang masih membentang panjang di depan mereka, Aurora Vance dan Julian Radcliffe akhirnya melangkah bersama bukan lagi sebagai senior dan junior, melainkan sebagai dua jiwa yang setara dan saling melengkapi.