NovelToon NovelToon
KUTUKAN GAUN PENGANTIN

KUTUKAN GAUN PENGANTIN

Status: tamat
Genre:Misteri / Horor / Kutukan / Tamat
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Andhig Rosdiana

Anindiya dikenal sebagai seorang makeup artist berbakat yang memiliki sanggar rias pengantin ternama di kotanya. Setiap hari, ia membantu para calon pengantin mewujudkan impian mereka tampil sempurna di hari bahagia. Hidupnya berjalan tenang hingga suatu hari ia mengunjungi sebuah butik tua untuk mencari beberapa gaun pengantin baru.
Di antara deretan gaun mewah, pandangannya terpaku pada sebuah gaun putih yang dipajang anggun di atas manekin. Ada sesuatu yang aneh sekaligus memikat dari gaun itu. Seolah memiliki kehidupan, gaun tersebut memanggilnya tanpa suara. Meski sang pemilik butik memperingatkan agar tidak menyentuhnya, Anindiya justru membawanya pulang.
Sejak saat itu, kejadian-kejadian mengerikan mulai menghantui hidupnya. Bisikan misterius terdengar di tengah malam, bayangan pengantin berlumuran darah muncul di setiap cermin, dan setiap pengantin yang mengenakan gaun tersebut mengalami nasib tragis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 6

​Jarum jam di dinding menunjukkan pukul tiga sore.

​Suasana di Anindiya Bridal & Makeup mulai kembali hidup. Sinar matahari sore menerobos masuk melalui jendela kaca depan, memberikan cahaya hangat pada interior sanggar. Aroma bunga segar yang baru diganti pagi tadi berpadu lembut dengan wewangian ruangan.

​Anindiya sedang merapikan beberapa album katalog di atas meja tamu ketika ponsel di saku celananya bergetar.

​"Halo, selamat sore. Anindiya Bridal di sini," sapa Anindiya ramah.

​"Selamat sore, Kak Anin. Saya Siska. Tadi pagi saya yang sempat pesan jadwal lewat WhatsApp. Saya sudah sampai di depan sanggar nih, Kak."

​"Oh iya, Mbak Siska! Masuk saja, pintunya tidak dikunci kok."

​"Baik, Kak."

​Kling!

​Bunyi bel pintu mengalun halus. Anindiya bergegas berjalan ke area depan untuk menyambut tamunya.

​"Selamat sore," sapa Anindiya hangat.

​"Selamat sore, Kak Anin!"

​Seorang wanita muda berusia sekitar dua puluh lima tahun melangkah masuk dengan senyum mengembang. Di sampingnya, berjalan seorang perempuan paruh baya berusia lima puluhan dengan penampilan bersahaja.

​"Silakan masuk, Ibu, Mbak. Duduk dulu," sambut Anindiya ramah seraya memandu mereka ke area ruang tamu.

​Tak lama, Rina muncul dari dapur membawa nampan berisi tiga gelas air mineral dingin. "Silakan diminum dulu, Bu, Mbak. Luar panas banget ya sore ini."

​"Wah, terima kasih banyak ya," balas ibu tersebut hangat.

​Setelah suasana mencair, Anindiya duduk di hadapan mereka dan mulai membuka percakapan profesionalnya. "Jadi, siapa nih calon pengantin cantiknya?"

​Wanita muda itu tersenyum malu-malu, pipinya agak merona. "Saya, Kak."

​"Mbak Siska ya? Nah, kalau ibunya nama siapa?"

​"Saya Ibu Rahmi," jawab sang ibu ramah.

​Anindiya mengangguk sambil mencatat di buku tamunya. "Selamat ya, Mbak Siska! Rencananya tanggal berapa acaranya?"

​"Dua minggu lagi, Kak," jawab Siska dengan nada sedikit berdebar.

​Anindiya agak kaget. "Wah, sudah dekat banget ya! Bentar, aku cek buku jadwal dulu ya."

​Anindiya dengan cepat membolak-balik kalender kerjanya. Setelah meneliti slot di tanggal tersebut, ia mengembuskan napas lega. "Alhamdulillah, tanggal itu slot rias kita masih kosong."

​Raut wajah Siska seketika nampak amat lega. "Syukurlah! Jujur saya deg-degan banget dari kemarin, Kak. Soalnya saya dari dulu udah ngidam banget ingin dirias sama Kak Anin di hari pernikahan saya."

​Anindiya terkekeh pelan, hatinya tersanjung. "Terima kasih banyak ya sudah mempercayakan hari bahagianya ke sanggar kami."

​Mereka bertiga lantas terlibat diskusi seru. Membahas konsep acara, lokasi akad nikah, hingga tema warna dekorasi. Siska menginginkan konsep pernikahan yang sederhana namun tetap terkesan mewah dan elegan, dengan dominasi warna putih dan sentuhan emas.

​Setelah semua detail riasan dan konsep acara dicatat rapi, Anindiya berdiri dari kursinya. "Nah, sekarang kita lihat-lihat koleksi gaunnya yuk. Biar Mbak Siska bisa coba yang pas."

​"Asyik! Ayo, Kak," sahut Siska antusias.

​Begitu melangkah melewati tirai pembatas menuju ruang koleksi gaun, mata Siska langsung berbinar-binar memandangi deretan gaun putih yang tergantung rapi di dalam etalase kaca.

​"Masya Allah... bagus-bagus banget gaunnya, Kak!" puji Siska takjub.

​"Silakan dilihat-lihat dulu, Mbak. Pegang bahannya juga boleh," ujar Anindiya bangga.

​Siska berjalan pelan, jemarinya menyusuri beberapa gaun. "Yang ini cantik banget... Eh, tapi yang model ini juga elegan."

​Ibu Rahmi ikut mengangguk setuju dari belakang. "Pilih yang paling kamu suka, Nak. Yang nyaman dipakai."

​Siska terus melangkah menyusuri ruangan. Namun, begitu pandangannya bergulir ke sudut paling depan dekat jendela kaca besar, langkah kaki Siska mendadak terhenti total.

​Matanya membelalak lebar. Bicaranya tercekik di tenggorokan.

​Di sana, di bawah sorotan sinar matahari sore yang keemasan, berdiri sebuah manekin yang mengenakan gaun pengantin putih gading—gaun yang baru saja dibawa Anindiya dan Rina dari kota lama tadi siang.

​Siska berdiri mematung. Selama beberapa detik, ruangan itu mendadak hening. Tatapan matanya terkunci rapat, seolah terhipnotis oleh gaun tersebut.

​"Mas..." panggil Siska refleks, seolah sedang memanggil calon suaminya, sebelum akhirnya ia tersadar dan tersenyum canggung. "Eh... maksud saya... Kak Anin..."

​Anindiya menoleh. "Iya, Mbak Siska?"

​Siska menunjuk gaun di sudut dekat jendela itu dengan jari gemetar. "Itu... cantik sekali, Kak..."

​Anindiya tersenyum lebar. "Oh, itu! Itu koleksi gaun terbaru kami, Mbak. Baru saja dipajang tadi siang."

​"Pantas saja..." gumam Siska dengan suara bergetar. "Saya belum pernah lihat model gaun seindah ini sebelumnya."

​Siska melangkah mendekat, seakan ada tali gaib yang menarik dirinya. Raut wajahnya dipenuhi rasa takjub yang amat sangat saat meneliti tiap lengkung renda, kilau halus payet, dan potongan ekor gaun yang jatuh sempurna.

​"Masya Allah... indah banget, Kak..." bisik Siska memuji.

​Ibu Rahmi yang ikut mendekat pun ikut mengaguminya. "Wah... iya, Nak. Yang ini kelihatan beda sekali. Kelihatan mewah dan anggun."

​Siska menoleh pada Anindiya dengan mata berbinar. "Kak Anin... boleh saya pegang kainnya?"

​"Boleh banget, Mbak. Silakan."

​Dengan sangat hati-hati, seolah takut mengotori kain tersebut, Siska mengelus lembut ujung rok gaun itu. "Ya ampun... bahannya halus dan adem banget."

​"Iya, bahannya kualitas premium," sahut Anindiya makin puas.

​Siska memandangi gaun itu dari atas sampai bawah tanpa henti. Makin lama dipandang, tatapan mata Siska tidak lagi sekadar takjub, melainkan tampak seperti seseorang yang terikat.

​"Ibu..." panggil Siska tanpa berpaling dari gaun itu. "Aku mau pakai gaun yang ini saja."

​Ibu Rahmi tersenyum memaklumi. "Kalau kamu memang sreg yang ini, ya tidak apa-apa. Tapi coba lihat gaun yang lain dulu saja buat perbandingan?"

​Siska menggeleng cepat. "Nggak usah, Bu. Nggak perlu."

​"Yakin? Baru lihat satu lho?"

​"Yakin banget, Bu. Aku cuma mau gaun yang ini."

​Anindiya tertawa kecil. "Masih banyak model lain di sebelah sana lho, Mbak Siska."

​"Tidak, Kak Anin," potong Siska tegas namun lembut. "Saya benar-benar sudah jatuh cinta sama yang ini."

​Rina yang sejak tadi memperhatikan dari balik meja kasir hanya bisa mengelus dada. Di dalam hatinya, ia membatin gila-gilaan: Beneran kata Mbak Anin tadi di mobil! Baru dipajang beberapa jam, langsung ada yang kepincut!

​Siska kembali mengelus kain di bagian lengan gaun itu. Senyumnya terkembang aneh. "Rasanya..." Siska menggantung kalimatnya.

​"Kenapa, Mbak?" tanya Anindiya heran.

​"Nggak tahu ya, Kak..." bisik Siska pelan, tatapannya menerawang jauh ke dalam manekin. "Saya merasa... gaun ini seperti memang lagi menunggu saya di sini."

​Deg.

​Kalimat polos Siska itu mendadak membuat Rina yang berdiri tak jauh dari sana tersentak. Bulu-bulu halus di lengan Rina mendadak berdiri tegak. Perasaan ganjil yang sempat hilang kini merayap kembali di tengkuknya.

​Namun, Anindiya justru menanggapi kalimat itu dengan tawa renyah. "Nah! Berarti memang sudah jodohnya Mbak Siska!"

​Siska mengangguk pelan, tatapannya masih terkunci pada gaun. "Iya, Kak... Ini jodoh saya."

​"Ya sudah, kalau begitu kita ukur badan Mbak Siska dulu ya, biar tahu apakah perlu dipotong sedikit atau dirapikan," ujar Anindiya seraya mengambil pita meteran kain dari atas meja.

​Proses pengukuran berjalan lancar. Anindiya dengan sigap mengukur lingkar dada, pinggang, hingga tinggi badan Siska. Namun di selang-seling proses pengukuran, mata Siska berulang kali melirik ke arah gaun di manekin itu—seolah ia takut gaun itu akan mendadak hilang jika ditinggal berkedip.

​"Ukurannya pas banget, Mbak Siska. Hanya perlu sedikit penyesuaian di bagian pinggang biar lebih presisi," jelas Anindiya seusai mengukur.

​"Berarti bisa saya pakai kan, Kak?" tanya Siska antusias.

​"Bisa banget!"

​Wajah Siska dan ibunya seketika dipenuhi binar kebahagiaan. Tanpa berpikir panjang, Siska langsung memilih paket bridal terlengkap dan menyerahkan uang muka (DP) dalam jumlah besar secara tunai tanpa menawar sedikit pun.

​"Ini DP-nya ya, Kak Anin. Tolong amankan gaun ini buat saya ya," pesan Siska sungguh-sungguh.

​Anindiya menerima uang tersebut dengan senyum lebar. "Pasti, Mbak Siska. Gaun ini resmi disimpan untuk acara Mbak dua minggu lagi."

​Dalam hati, Anindiya merasa sangat puas. Investasi besarnya membeli gaun dari kota lama terbukti membuahkan hasil instan.

​Sebelum berpamitan pulang, Siska sekali lagi berdiri melamun di depan manekin tersebut. Ia mengulas senyum manis yang nampak amat bahagia. "Sebentar lagi aku yang bakal pakai kamu..." bisiknya lirih, hampir tak terdengar.

​Namun, tepat di saat Siska mengucapkan kalimat itu...

​Sret.

​Ujung kain veil (kerudung pengantin) transparan yang menjuntai di balik kepala manekin mendadak mengibas pelan—berayun melengkung di udara seolah ditiup angin yang cukup kencang.

​Padahal, seluruh pintu kaca dan jendela sanggar tertutup rapat, dan pendingin ruangan terpasang jauh di sudut sebelah kanan.

​Rina yang kebetulan sedang memperhatikan manekin itu seketika membelalakkan mata. Jantungnya serasa berhenti berdetak.

​"M-Mbak Anin..." bisik Rina terbata-bata.

​Anindiya menoleh. "Kenapa, Rin?"

​"T-Tadi... kain veil-nya melayang sendiri..." tunjuk Rina dengan jari yang sedikit gemetar.

​Anindiya berpaling menatap veil gaun tersebut. Kain tile itu kini kembali tergantung lurus, diam tak bergerak sedikit pun.

​Anindiya tertawa kecil seraya menggelengkan kepala. "Ah, kamu ini ada-ada saja. Itu terkena embusan angin dari AC kali."

​"AC kan jauh di sana, Mbak..." gumam Rina pelan.

​"Sudah, kamu itu cuma terlalu capek. Jangan bikin Mbak Siska bingung," tegur Anindiya halus.

​Rina akhirnya mengangguk pasrah dan menunduk. Meski begitu, jauh di dalam hatinya, Rina tahu persis apa yang ia lihat barusan bukanlah ilusi akibat kelelahan.

​Siska dan ibunya kemudian berpamitan dengan waut wajah penuh kepuasan. "Kami pulang dulu ya, Kak Anin. Terima kasih banyak!"

​"Sama-sama, Mbak Siska, Ibu. Hati-hati di jalan ya!"

​Siska bahkan sempat menolehkan kepalanya beberapa kali menatap gaun itu sebelum akhirnya pintu kaca sanggar benar-benar tertutup rapat.

​Begitu mobil Siska meninggalkan halaman sanggar, Anindiya memandangi gaun putih gading di sudut ruangan itu dengan rasa bangga yang meluap-luap. "Tuh kan, Rin! Apa aku bilang? Gaun ini bakal jadi mesin pencetak rezeki buat sanggar kita!"

​Rina ikut mengulas senyum tipis, mencoba membuang prasangka buruknya. "Iya, Mbak... Syukurlah."

​Sementara itu...

​Di dalam ruang koleksi yang kembali tenggelam dalam keheningan sore, gaun pengantin itu berdiri tegak di atas manekinnya.

​Tampak begitu anggun. Begitu memikat.

​Dan kini... gaun misterius itu telah menemukan calon korbannya yang pertama.

1
Mega Arum
bagus kak.. cm kurang dlm dialog dan tokoh pemeran
andhig Rosdiana: siap kak ,sudah memberikan dukungan like dan komen ..untuk kedepannya saya akan lebih baik lagi dalam berkarya 💪
total 1 replies
MARQUES
semoga author lekas sembuh dan tetap semangat berkarya saya menantikan karya terbarunya 🙏
MARQUES
karya yang bagus author
andhig Rosdiana
jelas padat dan tamat 🤭
MARQUES
nah gitu dong cari tahu setelah kehilangan orang yang bisa di andalkan baru ngerasa janggal kan kalau ga sadar juga dah lha selanjutnya Anindya aja yang di incar🤣🙏
andhig Rosdiana
untuk beberapa hari kedepan author belum bisa melanjutkan bab berikutnya ,asam lambung author kambuh ,doain author cepat sembuh ya .jangan lupa tinggalkan like dan koment ya ...🙏
MARQUES: semangat terus buat author semoga lekas sembuh dan bisa up cerita baru🙏
total 1 replies
MARQUES
asli kesal banget sama Anindya jelas depan mata kenyataan begitu hadeh kalau didunia nyata ada orng begitu juga ku gaplok beneran kepalanya kesel asli🤣🙏
MARQUES: susah buat sabar Thor karna cerita nya menarik🤣🙏
total 2 replies
MARQUES
keras banget kepala si Anindya pingin ku gapluk biar sadar 🤣
MARQUES: sama sama author tetap semangat upload walaupun masih sepi pembaca terus up jangan berhenti ya author soalnya cerita nya bagus tanpa ada drama percintaan 🤣🙏
total 2 replies
andhig Rosdiana
jangan lupa tinggalkan jejak like dan komen supaya author tambah semangat berkarya👍🤭
andhig Rosdiana
jangan lupa tinggalkan jejak like dan komen ya suy🤭 supaya author lebih semangat lagi nulisnya 💪
MARQUES
mantap author sekali up banyak saya sangat senang tapi ga ada notif nya jadi telat baca🙏
andhig Rosdiana
jangan lupa tinggalkan jejak ya suy like dan koment, terimakasih sudah memberikan dukungan
MARQUES
biasanya cewe keras kepala gini yang suka mencari masalah
MARQUES
absen author keliatan bagus nih ceritanya 🙏
andhig Rosdiana: siap .... terimakasih udah hadir dan memberikan dukungan ,
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!