NovelToon NovelToon
Sistem Bakat: Dari Pengangguran Menjadi Raja Bisnis

Sistem Bakat: Dari Pengangguran Menjadi Raja Bisnis

Status: tamat
Genre:System / Balas dendam. / Perubahan Hidup / Tamat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Hadid

"Raka Pradana, pengangguran dengan uang pas-pasan, tiba-tiba mendapatkan Sistem Arsitek Talenta—kemampuan melihat potensi tersembunyi yang dibuang perusahaan besar.

Syaratnya: dirikan perusahaan legal, bayar karyawan layak, ubah bakat menjadi keuntungan. Dari pabrik kasur kecil di Cikarang, ia membangun PT Arunika Karya Nusantara menjadi jaringan bisnis raksasa.
Konglomerat lama panik dan melancarkan fitnah, perang harga, hingga sabotase ekspor. Namun setiap serangan justru membuka kekuatan baru. Ketika Arunika ekspansi ke Kuala Lumpur, musuh menawarkan harga yang bisa membuatnya kaya seumur hidup.

Dua pilihan: menjual semua orang yang percaya padanya, atau gunakan bakat yang dulu diremehkan untuk menumbangkan imperium. Kali ini, sistem tak akan memilihkan jawabannya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 20

Reza Mahendra menulis gajinya sebelum menulis jabatannya.

Angka itu cukup besar untuk membuat Bima mengeluarkan suara pendek dari hidung.

"Anda bahkan belum bekerja satu hari."

"Karena kalau saya bekerja satu hari dengan cara yang benar, angka itu akan terlihat murah," jawab Reza.

Bima menutup spidol yang tidak ia pakai dengan gerakan keras. "Pak Raka, biasanya orang seperti ini saya minta keluar."

Raka tidak menjawab Bima. Ia menatap Reza. "Buktikan dalam kalimat yang bisa diuji."

Reza menulis tiga baris di bawah angka gaji.

Ketergantungan pada satu produk.

Ketergantungan pada satu sumber traffic.

Tidak ada aset komunitas setelah pembelian.

"Lentera menang karena krisis kalian terbuka," kata Reza. "Itu kuat, tapi melelahkan. Tidak mungkin setiap bulan kalian berharap ada musuh membuat kesalahan. Kalau tidak membangun memori merek, pelanggan akan ingat kasur nyaman, bukan Arunika."

Ia mengambil spidol merah dan menggambar tiga lingkaran: produk, cerita, komunitas. Lingkaran produk paling besar, dua lainnya hampir kosong.

"Kalian sudah punya produk. Cerita kalian dipinjam dari krisis. Komunitas kalian belum ada. Begitu pengiriman selesai, pelanggan diam. Diam itu bagus untuk tidur, buruk untuk merek."

Dimas yang ikut dipanggil ke sudut ruangan mendadak diam. Kalimat itu kasar, tetapi mengenai tempat yang selama ini ia hindari. Konten mereka memang besar ketika ada konflik.

"Solusinya?" tanya Raka.

"Brand asset dan bisnis kedua. Produk yang bisa diuji cepat, diproduksi bertahap, dan membuat orang berkumpul bahkan saat tidak membeli kasur."

Bima mengangkat tangan. "Tidak ada proyek baru sebelum tiga ratus pre-order terkirim."

"Benar," kata Reza. "Karena itu saya tidak minta produksi massal. Saya minta tiga puluh hari untuk membuat produk uji dan angka retensi awal."

Raka mengambil spidol lain. "Bukan PPT."

Reza menoleh. "Saya benci PPT."

"Bagus. Tiga puluh hari. Produk harus bisa diuji oleh pengguna nyata. Tidak boleh mengganggu produksi kasur. Tidak boleh memakai pre-order tanpa izin. Tidak boleh membuat klaim yang tidak bisa dibuktikan."

Untuk pertama kalinya, Reza tersenyum kecil. "Akhirnya ada orang yang paham cara mengikat orang berbahaya."

"Saya belum bilang Anda diterima."

"Tapi Anda belum mengusir saya."

Bima menatap Raka. "Gaji sebesar itu dari mana?"

Raka menjawab sebelum Reza sempat bicara. "Kita tulis sebagai paket percobaan tiga puluh hari. Gaji dasar lebih rendah dari angka dia. Sisanya bonus milestone jika target terukur tercapai."

Reza menggeleng. "Kalau saya murah di awal, Anda tidak akan memberi saya ruang cukup."

"Kalau Anda mahal tanpa batas, Yusuf akan membekukan pembayaran," kata Bima.

Nama Yusuf membuat Reza berhenti sejenak. Ia tampaknya sudah membaca struktur tim.

Pintu terbuka. Nadia masuk lewat panggilan video di laptop, dipanggil Raka untuk membaca draf. Ia tidak membuang waktu.

"Tidak ada ekuitas."

Raka langsung mengangkat tangan. "Bu Nadia, bahasa Indonesia."

"Tidak ada ekuitas," ulang Nadia datar. "Tidak ada kuasa tanda tangan umum. Tidak ada hak kontrak keluar tanpa batas. Untuk pembelian dalam anggaran, tetap butuh bukti dan audit Yusuf. Untuk publikasi, tetap lewat Naya. Untuk pre-order, harus disetujui Bima."

Reza menyandarkan tubuh ke kursi. "Kalian mengundang saya untuk mengikat tangan saya?"

"Kami mengundang Anda untuk melihat apakah otak Anda tetap tajam saat tidak boleh membakar rumah," kata Bima.

Dimas menahan tawa.

Raka menulis target akhir.

Dalam 30 hari:

Satu produk uji.

Delapan pengguna internal/eksternal.

Biaya maksimal tertulis.

Indikator retensi.

Skenario gagal dan penghentian.

Reza membaca daftar itu. "Tambahkan satu hal. Jika saya gagal, proyek dihentikan tanpa perpanjangan belas kasihan."

"Dan kalau Anda berhasil?" tanya Raka.

"Saya dapat milestone penuh dan ruang membangun tim kecil."

Bima langsung menunjuk papan. "Tim kecil bukan berarti merekrut teman."

"Setuju. Tes terbuka, target tertulis."

Raka menambahkan dua baris: rekrutmen proyek harus lewat uji kerja, dan seluruh biaya masuk anggaran yang bisa dihentikan kapan saja.

Bima berkedip. Ia tidak menyangka kalimat itu datang dari Reza sendiri.

"Bagus," kata Raka. "Tulis."

Reza menulisnya. Lalu ia menulis jabatan: Kepala Strategi Merek.

Bima langsung mencoret kata kepala.

"Brand Strategy Lead. Percobaan. Bukan kepala apa pun sebelum ada tim dan hasil."

Reza menatap coretan itu selama dua detik, lalu tertawa pendek. "Saya mulai suka orang operasi."

"Saya belum mulai suka Anda," kata Bima.

Panel SAT menyala di sisi pandangan Raka.

[Kandidat 5 bintang memasuki kontrak target.]

[Peringatan: bintang tinggi meningkatkan potensi hasil dan potensi kerusakan.]

Raka menandatangani setelah Nadia menyetujui draf final. Reza menandatangani tanpa upacara. Gajinya milestone-nya cukup tinggi untuk membuat Dimas berbisik, "Kalau dia berhasil, kita semua harus belajar bahasa angka.".

Yusuf, yang membaca salinan dari ruang sebelah, mengirim satu pesan singkat.

Anggaran dicatat sebagai proyek uji. Tidak boleh dicampur dengan dana produksi kasur.

Bima membacanya keras-keras. Reza tidak tersinggung. Ia malah mengangguk, seolah baru menemukan lawan main yang layak.

"Kalian harus belajar bahasa pengguna," kata Reza tanpa menoleh.

Ia membuka tas tipisnya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil. Di dalamnya ada kartu-kartu bergambar kasar: tokoh pedagang, pelaut, perajin, pasar, badai, gudang, dan kapal.

Dimas mendekat seperti anak kecil melihat mainan baru. "Ini apa?"

"Prototipe," kata Reza. "Saga Nusantara. Permainan kartu tentang membangun jalur dagang. Murah untuk diuji, kuat untuk komunitas, bisa memakai cerita produksi lokal tanpa menjual kasur lagi."

Ia menyebar delapan kartu di meja. Aturannya belum rapi, gambarnya belum layak jual, tetapi Raka melihat sesuatu yang berbeda dari brosur. Kartu itu memaksa orang bicara, menawar, mengingat nama tempat, dan tertawa saat rencana dagang mereka rusak oleh badai.

Bima memijat pelipis. "Kita perusahaan kasur."

"Hari ini," jawab Reza.

Raka mengambil satu kartu bergambar kapal. Gambarnya belum rapi, tetapi idenya terasa hidup. Karena Dimas, yang biasanya melihat konten, tiba-tiba melihat produk.

"Aku bisa cari delapan orang malam ini," kata Dimas.

Naya dari pintu menatapnya. "Delapan orang yang mengerti ini uji tertutup, bukan peluncuran."

"Ya, ya. Tapi ini bisa jalan."

Reza menunjuk Dimas. "Dia paham."

Bima menatap Raka. "Pak Raka, ini akan membuat hidup kita sulit."

Raka melihat kotak kartu, target tiga puluh hari, dan nama Reza di kontrak.

"Perusahaan ini memang dibangun dari orang yang membuat hidup sulit dengan cara berguna."

Reza mendengar itu dan untuk pertama kalinya tidak membalas. Ia hanya merapikan kartu-kartu di meja.

Malam itu, Reza menulis daftar delapan penguji pertama. Di baris atas papan, kalimatnya tetap sama.

Raka melihat tulisan itu dan tidak menghapusnya. Untuk bisnis kedua, mereka membutuhkan orang yang berani menyusahkan ide sejak awal.

Bisnis kedua yang bisa direplikasi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!