NovelToon NovelToon
One Piece: Puppet System

One Piece: Puppet System

Status: tamat
Genre:Sistem / Anime / Transmigrasi / Tamat
Popularitas:11.1k
Nilai: 5
Nama Author: RabilMuhammadTahir

Muzan Kibutsi, seorang remaja dari Bumi, meninggal akibat kecelakaan dan bereinkarnasi ke dunia One Piece beberapa bulan sebelum perjalanan Luffy dimulai. Sebagai orang biasa tanpa kekuatan apa pun, ia memperoleh Puppet System, sebuah sistem yang memungkinkannya melakukan gacha menggunakan Belly untuk mendapatkan boneka karakter dari berbagai dunia anime.

Setiap boneka memiliki penampilan, kemampuan, dan gaya bertarung seperti karakter aslinya, tetapi sepenuhnya dikendalikan oleh Muzan dan setia tanpa syarat.

Dengan mengumpulkan Belly, membangun koleksi boneka, dan bergerak dari balik bayang-bayang, Muzan perlahan mengukir namanya di lautan. Sementara sejarah One Piece terus berjalan, seorang dalang misterius mulai memainkan perannya di balik panggung, siap mengubah keseimbangan dunia dengan pasukan boneka dari berbagai dimensi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RabilMuhammadTahir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20: Selamat Datang di Surga, Agen Pembawa Maut

Deru ombak Grand Line terdengar jauh lebih buas dan berat dibandingkan perairan mana pun di East Blue. Di bawah bayang-bayang tebing karang Tanjung Kembar, lautan bergolak memuntahkan buih putih, seolah memberikan salam perpisahan yang kejam kepada siapa saja yang berani melewati Reverse Mountain. Angin berhembus membawa aroma garam pekat dan misteri masa lalu.

​Di atas dek kapal hitam Tartarus, Roy Mustang menatap puing-puing perahu kayu yang terombang-ambing di permukaan air laut. Dua sosok manusia bertengger di atas bongkahan kayu itu dengan kondisi memprihatinkan, tubuh mereka basah kuyup, menggigil kedinginan, dan menelan banyak air laut.

​Dengan langkah santai, Mustang meraih segulung tali tambang tebal yang terletak di dekat pagar pembatas. Ia melemparkan ujung tali itu ke arah puing-puing tersebut. Lemparannya sangat presisi, mendarat tepat di jangkauan tangan pria bermahkota kecil yang memiliki ukiran angka sembilan di pipinya.

​"Naiklah, jika kalian masih ingin bernapas esok hari," perintah Mustang dengan suara baritonnya yang tenang namun memancarkan otoritas mutlak, khas seorang perwira militer yang terbiasa memberi komando di medan perang.

​Pria itu—Mr. 9—segera mencengkeram tali tersebut dengan panik, lalu menarik rekan wanitanya yang berambut biru laut (Miss Wednesday, atau Putri Vivi) untuk ikut memanjat naik ke lambung kapal Tartarus. Dengan susah payah, keduanya berhasil melewati pagar pembatas dan jatuh terjerembap di atas geladak kayu berwarna hitam legam.

​Air laut menetes dari pakaian mereka, menciptakan genangan kecil. Vivi terbatuk-batuk keras, memuntahkan air asin dari paru-parunya. Sambil mengatur napas, mata gadis itu menyapu sekeliling kapal dengan tatapan waspada yang terlatih.

​Kapal ini... tidak ada awaknya? batin Vivi, insting bertahannya sebagai agen mata-mata langsung berbunyi. Layarnya terkembang, kemudinya bergerak, tapi dek ini benar-benar kosong. Hanya ada pria berseragam militer aneh ini, dan... seorang anak kecil berjubah yang berdiri diam di sudut sana.

​Vivi melirik ke arah Muzan Kibutsi yang menyandarkan punggungnya pada tiang layar utama. Jubah hitam tebalnya menutupi wajahnya, membuat remaja itu terlihat seperti bayangan yang menyatu dengan kayu kapal. Muzan tidak bergerak, namun Vivi bisa merasakan hawa dingin yang tak kasat mata memancar dari arah anak itu.

​Mr. 9, yang tampaknya tidak memiliki kepekaan setajam Vivi, segera bangkit berdiri. Ia membusungkan dadanya, menepuk-nepuk pakaiannya yang basah dengan gerakan teaterikal layaknya seorang akrobat.

​"Hmph! Penyelamatan yang sangat lambat! Tapi, yah, sebagai pangeran yang berhati mulia, aku akan berterima kasih padamu, Tuan Kapten!" seru Mr. 9 sambil memutar tongkat besinya, mencoba mengintimidasi. "Sebagai imbalannya, kau harus mengantarkan kami kembali ke kota asal kami, Whiskey Peak! Ini bukan permintaan, ini adalah sebuah keharusan demi kelancaran tugas kami!"

​Mustang menatap pria aneh itu selama beberapa detik. Keheningan yang tidak nyaman menggantung di udara. Lalu, sang Kolonel tersenyum tipis—sebuah senyuman yang tidak mencapai matanya yang gelap.

​"Menarik," ucap Mustang, melangkah mendekat perlahan. Suara langkah sepatu kulitnya beradu dengan kayu dek menciptakan gema yang berat. "Kalian baru saja ditarik dari rahang kematian, namun kata-kata pertama yang keluar dari mulutmu adalah sebuah perintah. Kau memiliki keberanian yang luar biasa, atau kebodohan yang tidak bisa diobati."

​Vivi segera menyadari bahaya dalam nada suara Mustang. Ia melangkah maju, memosisikan dirinya sedikit di depan Mr. 9, memasang senyum diplomatis yang menawan.

​"Tolong maafkan rekan saya, Tuan Kapten. Dia memang sedikit eksentrik," ucap Vivi dengan suara lembut, mencoba meredakan ketegangan. "Kami benar-benar berterima kasih atas pertolongan Anda. Kapal kami hancur saat mencoba... berburu bahan makanan. Jika Anda berkenan mengantarkan kami ke Whiskey Peak, kami berjanji kota kami akan memberikan sambutan yang sangat meriah dan imbalan yang setimpal."

​Di sudut geladak, di balik tudung jubahnya, Muzan menganalisis percakapan itu dengan otak superkomputernya.

​Whiskey Peak. Kota para pemburu bayaran Baroque Works. Mereka menyambut bajak laut dengan pesta pora, membuat mereka mabuk, lalu membantai mereka saat tertidur untuk menukarkan nilai buronannya. Muzan menyeringai kecil dalam kegelapan. Sebuah sarang tikus yang mengumpulkan uang receh. Namun, di sanalah benang kusut konspirasi Alabasta bisa ditarik.

​Muzan tidak berbicara. Ia hanya mengirimkan gelombang perintah telepati yang halus langsung ke dalam kesadaran Mustang.

​"Setujui permintaan mereka, Kolonel. Mainkan peranmu sebagai kapten bayaran yang haus akan keuntungan finansial. Biarkan mereka mengira kita masuk ke dalam perangkap mereka."

​Mustang menangkap instruksi tersebut dengan sempurna. Ia menghentikan langkahnya, melipat kedua tangan di dada, dan menatap Vivi dengan tatapan menilai.

​"Sebuah sambutan meriah dan imbalan, katamu?" Mustang mendengus pelan, menaikkan sebelah alisnya. "Aku adalah komandan Erebus. Kami adalah organisasi kontraktor independen yang bergerak berdasarkan profit. Jika kotamu bisa memberikan bayaran yang sesuai untuk jasa pelayaran ini, aku akan mengantarkan kalian."

​"T-Tentu saja!" Mr. 9 menimpali dengan antusias, merasa negosiasinya berhasil. "Whiskey Peak adalah kota yang sangat ramah terhadap para pelaut hebat seperti Anda! Kami jamin, Anda tidak akan pernah melupakan malam yang akan Anda habiskan di sana!"

​Kau benar, batin Muzan dingin. Malam itu akan menjadi malam yang tidak akan pernah kalian lupakan seumur hidup kalian.

​Mustang menunjuk ke arah buritan kapal. "Log Pose kapal ini sudah merekam rute menuju pulau tersebut dari navigasi kalian. Beristirahatlah di sudut sana dan jangan menyentuh apapun. Asistenku di sana—" Mustang menunjuk sekilas ke arah Muzan "—tidak terlalu suka jika ada orang asing yang berkeliaran di dekat ruang kemudi."

​Vivi menunduk hormat. "Terima kasih, Tuan Kolonel."

​Gadis berambut biru itu menarik lengan Mr. 9, membawanya menjauh dari Mustang. Keduanya duduk meringkuk di dekat pagar pembatas, berbisik-bisik pelan. Vivi terus mencuri pandang ke arah Muzan dan Mustang, mencoba menganalisis kekuatan apa yang sebenarnya mereka tumpangi ini. Kapal hitam tanpa awak ini terlalu misterius.

​Sementara itu, Muzan mengalihkan perhatiannya ke arah pantai Tanjung Kembar.

​Seorang lelaki tua botak dengan kacamata bunga dan pakaian santai—Crocus, mantan dokter kapal Gol D. Roger—berdiri di dekat mercusuar, menatap kapal Tartarus yang bersandar sejenak.

​Muzan tahu identitas pria tua itu, namun ia tidak memiliki kepentingan untuk berinteraksi dengannya saat ini. Menggali informasi dari mantan kru Raja Bajak Laut mungkin berguna, tetapi Muzan lebih memilih mengandalkan sistem dan observasinya sendiri. Lagipula, ia tidak ingin meninggalkan jejak eksistensinya lebih dari yang diperlukan.

​"Mustang," perintah Muzan melalui koneksi mental. "Tinggalkan tempat ini. Grand Line menanti."

​Mustang mengangguk samar. Ia berjalan ke arah haluan kapal, memunggungi Crocus dan mercusuar.

​Kapal Tartarus, yang dioperasikan langsung oleh perintah saraf Muzan melalui sistem Shadow-Wood, membentangkan layar hitam legamnya secara otomatis. Tanpa perlu ada awak yang menarik tambang atau memutar kemudi, kapal raksasa itu perlahan meninggalkan Tanjung Kembar, meluncur membelah perairan Grand Line yang tenang dengan keanggunan seorang predator.

​Namun, ketenangan Grand Line hanyalah sebuah ilusi yang menipu.

​Beberapa mil laut setelah mereka meninggalkan Reverse Mountain, langit yang tadinya cerah dan biru mendadak tertutup oleh awan cumulonimbus berwarna hitam pekat. Transisi cuaca itu terjadi dalam waktu kurang dari lima menit. Suhu udara anjlok drastis, mengubah hembusan angin menjadi badai salju ekstrem.

​Mr. 9 dan Vivi yang masih mengenakan pakaian basah langsung menggigil hebat, berpelukan untuk mencari kehangatan.

​"B-Badai salju?! Di musim panas?!" teriak Mr. 9 dengan gigi bergemeretak. "Cepat, turunkan layarnya! Angin kencang ini akan mematahkan tiang kapal!"

​Di tengah badai salju yang membutakan mata, kapal biasa akan mengalami kepanikan massal. Namun, di dek Tartarus, keheningan mutlak justru terjadi.

​Muzan tetap bersandar pada tiang utama, jubah hitamnya bahkan tidak berkibar kencang meski angin menerjang. Dengan 104 Poin Kekuatan Fisik dan refleks setara teknik Soru, Muzan memiliki keseimbangan gravitasi yang tidak bisa digoyahkan oleh cuaca apa pun.

​Secara rasional, Muzan tidak membiarkan kapal itu dihantam badai tanpa perlawanan. Di dalam ruang mentalnya, ia memanggil sebagian kecil kemampuan sensorik dari Neji Hyuga.

​Urat-urat halus muncul secara samar di sekitar mata Muzan di balik tudung jubahnya. Byakugan tidak harus dimanifestasikan melalui pemanggilan fisik bonekanya. Selama ia mengalokasikan beban stamina mentalnya, ia bisa meminjam visi x-ray tersebut secara internal.

​Pandangan Muzan menembus badai salju yang membutakan. Ia melihat arah aliran angin silang, merasakan fluktuasi tekanan udara, dan membaca titik-titik di mana gelombang laut akan bertabrakan.

​Otak superkomputernya yang ditopang oleh 636 Poin Mental memproses ratusan variabel hidrodinamika dan aerodinamika dalam hitungan detik. Melalui koneksi sarafnya dengan kapal Tartarus, Muzan mengatur rotasi layar, sudut kemudi, dan distribusi berat kapal dengan presisi matematis yang mustahil dilakukan oleh navigator manusia terbaik sekalipun.

​Tartarus menari di tengah badai. Kapal kayu hitam itu meliuk dengan lembut menghindari hantaman ombak raksasa, memanfaatkan tekanan angin badai salju untuk melesat ke depan bukannya terdorong mundur. Gerakannya begitu efisien hingga dek kapal terasa sangat stabil, tidak ada guncangan keras yang menjatuhkan barang.

​Vivi menatap fenomena itu dengan mulut sedikit terbuka. Salju menumpuk di rambut birunya, namun ia terlalu terpukau untuk membersihkannya.

​Kapal ini... bergerak sendiri menghadapi cuaca anomali Grand Line tanpa ada satu pun orang yang menyentuh kemudi? batin Vivi tak percaya. Bahkan navigator paling berpengalaman di Alabasta akan kesulitan membaca badai ini. Siapa sebenarnya mereka? Apakah kapal ini dikendalikan oleh sihir atau kekuatan Buah Iblis?

​Roy Mustang, yang berdiri di haluan kapal, membiarkan salju turun mengenai mantelnya. Ia melirik ke belakang, menatap Muzan dengan rasa hormat yang teramat dalam.

​"Dunia ini memang tidak rasional," gumam Mustang pada dirinya sendiri. "Tapi di bawah komando Tuan, bahkan alam pun dipaksa untuk tunduk pada kalkulasi."

​Setelah lima jam berlayar melintasi berbagai anomali cuaca—mulai dari badai salju, hujan es, hingga panas terik secara tiba-tiba—kabut tebal akhirnya menyelimuti pandangan mereka.

​Dari balik kabut tersebut, siluet beberapa bukit yang bentuknya sangat aneh mulai terlihat. Bukit-bukit itu bulat dan ditumbuhi struktur vertikal raksasa yang menyerupai duri-duri hijau besar.

​"Gunung kaktus raksasa..." bisik Muzan pelan, suaranya teredam oleh jubahnya.

​Log Pose di tangan Muzan berhenti berputar, menunjuk lurus ke arah pulau tersebut.

​Whiskey Peak.

​"Kita sudah tiba, Tuan Kolonel!" teriak Mr. 9, melompat-lompat kegirangan, melupakan rasa dinginnya. "Selamat datang di surga para penjelajah! Mari merapat ke dermaga utama!"

​Tartarus meluncur perlahan membelah kabut, memasuki muara sungai yang membelah pulau tersebut.

​Di sisi kiri dan kanan tepian sungai, pemandangan yang sangat tidak wajar tersaji. Ratusan warga kota, dari segala usia dan gender, berkumpul di pinggir dermaga. Mereka mengenakan pakaian warna-warni, membawa botol anggur, menabuh genderang, dan meniup terompet.

​"SELAMAT DATANG DI WHISKEY PEAK!!" sorak-sorai kerumunan itu meledak secara serempak. "SELAMAT DATANG, PARA PAHLAWAN LAUTAN!"

​Mereka bernyanyi, menari, dan melambaikan tangan dengan antusiasme yang terasa begitu tulus.

​Vivi tersenyum tipis ke arah Mustang. "Seperti yang saya janjikan, Tuan Kolonel. Kota ini sangat mencintai para pelaut. Kami telah menyelenggarakan pesta selamat datang khusus untuk Anda."

​Mustang berjalan ke tepi geladak, menyandarkan sikunya pada pagar pembatas. Mata gelapnya menatap kerumunan yang bersorak-sorai di bawah sana. Dari balik senyum keramahan warga kota itu, insting militernya—dan Haki Observasi minor yang mulai berkembang dari pengalaman bertarungnya—mencium bau anyir darah dan niat membunuh yang busuk.

​"Sebuah sambutan yang sangat hangat," ucap Mustang, suaranya dipenuhi sarkasme halus yang hanya bisa ditangkap oleh mereka yang peka. "Aku jadi tidak sabar untuk mencicipi 'keramahan' kalian malam ini."

​Sementara Tartarus membuang sauh secara otomatis, Muzan Kibutsi tetap diam di posisinya di dekat tiang layar utama. Di bawah tudung jubahnya, sepasang mata hitam menatap lurus menembus kerumunan.

​Ia bisa melihat ratusan pistol, pedang, dan senapan yang disembunyikan di balik pakaian rapi para "warga sipil" itu. Ini adalah sebuah sekte pembunuh bayaran yang bekerja untuk Baroque Works. Lebih dari seratus agen kelas bawah berkumpul di sini. Ratusan domba yang merasa diri mereka adalah serigala.

​"Sistem," perintah Muzan dalam ruang mentalnya, memanggil struktur logistik dan perhitungannya.

​«"Menyiapkan modul pertempuran. Memproses parameter..."»

​"Kita tidak akan memainkan permainan mabuk-mabukan mereka. Kita tidak akan membuang waktu mendengarkan kebohongan murahan ini," lanjut Muzan dingin. "Tujuan utama kita di sini adalah melenyapkan jaringan Baroque Works dan mendapatkan Eternal Pose menuju Little Garden atau Alabasta."

​Muzan memfokuskan pikirannya ke dalam Puppet Storage. Ia menatap deretan kartu yang memancarkan aura mengerikan.

​Malam ini, Whisky Peak tidak akan dikunjungi oleh pahlawan. Malam ini, kota para pembunuh bayaran ini akan kedatangan tamu yang jauh lebih mematikan.

​"Giyu," panggil Muzan dalam hatinya. "Zenitsu."

​Kedua pilar cahaya biru dan kuning mulai berdenyut perlahan di dalam ruang dimensi sistem, menunggu untuk dilepaskan.

​"Bersiaplah. Panggung pembantaian akan segera dibuka."

1
variable of ancient
batu gravitasi bukanya udah dipasang thor
Bintang Surya
lanjutttt
Bintang Surya
upp terus thor
Jane R.S
lanjut upp
Axel
thor sebaiknya pakai kalimat dewa, jangan pakai kalimat tuhan
Rabil Muhammad Tahir: terimakasih saran nya dan saya sudah revisi ya 🙂‍↕️
total 1 replies
Bintang Surya
uppp thor
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Blue Lock München Gaiden
MP
gas
Bintang Surya
uppppp
Rabil Muhammad Tahir: makasih komennya 😭😭 jadi terharu ada yang semangat sama novel saya
total 1 replies
Bintang Surya
lanjut plisss
Bintang Surya
bagus
Bintang Surya
pliss upp
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!