NovelToon NovelToon
Cinta Paksa Berujung Bahagia

Cinta Paksa Berujung Bahagia

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / CEO / Sci-Fi
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ketoprak Encok

Di mata publik, Rania hanyalah anak bungsu Keluarga Baskara yang manja, dan menjadi beban keluarga. Semua orang lebih memuja kakaknya, Resti, yang merupakan model sukses. Padahal di balik layar, Rania adalah gadis mandiri yang membangun toko rotinya sendiri dari nol tanpa bantuan siapa pun.Malam pernikahan megah tiba, namun Resti justru kabur ke Prancis demi karier modelnya. Demi menyelamatkan nama baik Keluarga Baskara, Rania dipaksa menjadi pengantin pengganti untuk menikahi Rangga, CEO dingin pewaris Pratama Group.
Rangga murka karena merasa ditipu. Dia mengira Rania adalah gadis manja yang sengaja menjebak kakaknya demi harta. Namun, saat Rangga mulai tahu kemandirian Rania—dan aroma roti buatan Rania justru menyembuhkan penyakit mag kronisnya—sang CEO mulai cemburu buta dan gengsi untuk mengaku bucin.Sanggupkah Rania membungkam mulut semua orang yang dulu meremehkannya?

UP SETIAP HARI JAM 06.00

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ketoprak Encok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Aroma manis mentega yang berpadu dengan keharuman vanila menggantung lembut di udara toko roti Sweet Memories. Tempat itu selalu sibuk, dipenuhi oleh deretan rak kaca berisi kue-kue segar dan tawa renyah para pelanggan yang menikmati pagi hari mereka. Namun, di ruang istirahat kecil di bagian belakang toko, suasana justru berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat.

Rania duduk sendiri di balik meja kerja kayunya yang sederhana. Jari-jarinya yang lentik memegang selembar laporan keuangan bulanan, namun matanya menatap kosong menerobos kaca jendela ke arah jalanan kota yang mulai padat. Pikirannya tidak berada di angka-angka omzet atau resep adonan roti baru; pikirannya terpusat pada bayangan penthouse megah yang kini terasa jauh lebih dingin daripada musim dingin di luar sana.

Hatinya terasa perih, menyisakan denyutan konstan yang melelahkan. Kejadian semalam—di mana Rangga dengan begitu telaten dan penuh perhatian menuruti setiap rengekan manja Resti—menjadi paku terakhir yang menutup peti mati bagi secercah harapan kecil yang sempat ia simpan di dalam dadanya.

Rania menarik napas panjang, mencoba mengisi rongga dadanya yang terasa sesak oleh sisa-sisa air mata yang enggan tumpah lagi. Ia sadar, perempuan di hadapan kenyataan harus bersikap rasional. Pernikahan paksa ini sejak awal memang dibangun di atas fondasi yang rapuh; sebuah pelarian, sebuah utang budi, dan sebuah kecelakaan takdir di altar suci.

Cinta pertama memang sulit untuk dilupakan, batin Rania getir, meresapi kebenaran pahit dari pepatah kuno tersebut.

Bagaimana mungkin ia bisa berharap lebih pada Rangga? Pria itu menghabiskan bertahun-tahun hidupnya mendambakan Resti, memuja bayangan wanita itu, hingga kehadiran Resti kembali seketika meruntuhkan seluruh dinding pertahanan emosional Rangga. Wajar jika Rangga masih mencintai kakaknya. Rania mengerti, sangat mengerti. Tapi pemahaman itu tidak lantas membuat rasa sakit di dadanya berkurang. Sakit itu tetap nyata, menjalar perlahan dan menggerogoti kewarasannya.

Rania merasa sangat lelah. Lelah berharap pada sesuatu yang mustahil, lelah berpura-pura tegar di bawah atap yang sama, dan lelah mencintai seorang pria yang hatinya telah lama disewakan untuk wanita lain.

Di titik itulah, sebuah tekad bulat terbentuk di benak Rania. Ia tidak ingin menjadi bayangan, ia tidak ingin menjadi pengisi kekosongan, dan ia tidak mau lagi membuang air matanya untuk seseorang yang tidak pernah menghargainya. Mulai hari ini, Rania memutuskan untuk mulai hidup tanpa suaminya—meskipun di lubuk hatinya yang paling dalam, ia harus mengakui satu kebenaran yang menyedihkan: dia sudah sangat mencintai Rangga Pratama. Cinta itu tidak bisa dicabut begitu saja dalam semalam layaknya mencabut sehelai benang. Namun, cinta itu kini akan ia kubur dalam-dalam di balik benteng es yang dingin.

Beberapa hari berlalu sejak keputusan sunyi itu diambil oleh Rania di dalam hatinya. Suasana di penthouse mewah milik Rangga mengalami pergeseran drastis yang langsung dirasakan oleh sang pemilik rumah. Rania akan berusaha melupakan Rangga, hidup tanpa bayang bayangnya, karna Rania akan segera mengurus surat cerainya.

Entah mengapa Rangga merasa ada yang tidak beres dengan Rania. Sikapnya menjadi dingin, teratur rasanya seperti majikan dan bawahan.

Perubahan itu terjadi secara senyap namun mematikan bagi kenyamanan hidup Rangga. Selama ini, tanpa disadari oleh Rangga sendiri, kehadirannya di penthouse selalu disambut oleh rutinitas kecil yang dikerjakan Rania dengan telaten. Setiap pagi, kemeja kerja Rangga selalu tersusun rapi di atas tempat tidur dengan kancing yang terbuka pas, aroma susu hangat bercampur madu selalu tersaji di meja makan tepat pukul enam pagi, dan Rania selalu memastikan segala kebutuhan kecil pria itu terpenuhi tanpa harus diminta.

Namun kini, semua fasilitas domestik itu lenyap tak bersisa.

Pagi itu, Rangga melangkah keluar dari kamar utama dengan mengenakan celana bahan hitam, sementara kemeja kerjanya masih tersampir di lengan dengan kancing-kancing yang belum terpasang. Ia berjalan menuju ruang tengah dengan kebiasaan lamanya—berharap aroma kopi hitam dan susu hangat menyambut indra penciumannya, sekaligus melihat Rania berdiri di dekat meja dapur.

Namun, yang ia temukan hanyalah keheningan. Meja makan utama kosong melompong. Tidak ada cangkir kopi, tidak ada uap panas dari mangkuk sup, dan tidak ada sosok Rania yang biasa duduk tenang membaca buku sambil menunggu suaminya bersiap.

Yang ada di ruang tamu hanyalah Resti, yang sedang duduk santai sambil memainkan ponsel mahalnya dengan balutan bathrobe sutra, menunggu pelayan membawakan sarapan khusus ala Prancis pesanannya.

Rangga menghentikan langkahnya, keningnya berkerut dalam. Ia melirik jam di pergelangan tangannya, lalu berbelok menuju dapur kecil. Di sana, Rania tampak berdiri membelakanginya, sedang memasukkan beberapa bahan makanan ke dalam tas belanja kain pribadinya. Rania sudah berpakaian rapi dengan setelan blazer kerja wanita yang elegan, bersiap untuk pergi ke toko rotinya lebih awal dari biasanya.

Rangga mengerjap beberapa kali, merasa ada sesuatu yang sangat janggal, namun ego CEO-nya langsung mendesak untuk menegur istrinya.

"Rania," panggil Rangga dengan nada suara yang sedikit ditegaskan, mencerminkan kebiasaannya memerintah orang lain. "Di mana kopiku? Kenapa meja makan kosong? Kau tahu aku harus segera pergi ke kantor untuk rapat besar pukul delapan pagi ini."

Rania tidak langsung berbalik. Ia menyelesaikan dulu kegiatannya merapikan tas, menarik napas pelan untuk menata detak jantungnya agar tetap stabil di hadapan pria itu, baru kemudian ia membalikkan tubuhnya secara perlahan.

Wajah Rania begitu tenang. Tidak ada lagi binar-binar penuh harap atau senyuman tipis yang biasa ia berikan di pagi hari. Tatapan matanya lurus, datar, dan kosong—sorot mata yang persis sama dengan kaca jendela yang terkena embun pagi: dingin dan memantulkan jarak yang teramat jauh.

Rania menatap Rangga sejenak, lalu melirik sekilas ke arah kemeja yang masih berantakan di lengan suaminya.

Dengan suara yang tenang, datar, dan tanpa emosi sedikit pun, Rania menjawab:

"Tanganmu tidak patah, Rangga. Buat sendiri."

Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Rania dengan sangat natural, tanpa keraguan, tanpa rasa takut akan kemarahan yang mungkin akan meledak dari pria di hadapannya. Selepas mengucapkan kalimat itu, Rania tidak menunggu reaksi apa pun. Ia mengangkat tas tangannya, melangkah melewati sisi tubuh Rangga dengan tenang, berjalan menuju pintu keluar penthouse tanpa mengucapkan sepatah kata pamit pun.

Klik.

Suara pintu utama tertutup rapat menandakan Rania telah pergi meninggalkan apartemen.

Di dalam dapur yang mendadak terasa sunyi itu, Rangga berdiri terpaku bagaikan disambar petir di siang bolong. Pria itu menatap lurus ke arah pintu yang sudah tertutup, sementara otaknya berputar keras mencerna apa baru saja terjadi.

Tanganmu tidak patah, buat sendiri.

Kalimat itu berdenging di telinga Rangga, berulang-ulang dengan amplitudo yang memukul telak harga dirinya sebagai seorang suami dan seorang CEO yang selalu dilayani. Belum pernah seumur hidupnya ada seorang pun—terutama istrinya sendiri—yang berbicara dengannya dengan nada setenang dan sedingin itu.

Rangga tertegun hebat. Ada rasa terkejut yang luar biasa menjalar di dadanya, bercampur dengan ketidakpercayaan yang mendalam. Selama ini, meskipun ia bersikap dingin dan mengabaikan Rania, wanita itu selalu ada di sisinya, sabar menanggung segala sikap buruknya, dan tidak pernah membantah sepatah kata pun. Rania adalah zona nyaman yang selalu ia anggap remeh kehadirannya karena ia mengira wanita itu akan selalu ada di tempat yang sama, menunggu kapan pun ia butuhkan.

Namun hari ini, zona nyaman itu runtuh dalam satu kalimat singkat.

Rangga mengepalkan kedua tangannya secara perlahan di sisi tubuhnya. Dadanya mendadak terasa panas, disusul oleh sensasi aneh yang mencengkeram ulu hatinya—sebuah rasa kehilangan yang asing, tajam, dan sama sekali tidak bisa ia jelaskan dengan logika bisnisnya.

Di ruang tengah, Resti yang mendengar percakapan singkat itu menoleh ke arah dapur dengan senyuman sinis terselip di sudut bibirnya. "Wah, rupanya gadis udik itu mulai besar kepala ya, Rangga," komentar Resti dengan nada mengejek. "Baru diberi sedikit kebebasan mengurus toko rotinya, dia sudah berani melawan suaminya sendiri. Seharusnya kau beri dia pelajaran agar tahu diri."

Biasanya, ucapan Resti akan langsung diiyakan dan dibenarkan oleh Rangga tanpa pikir panjang. Namun kali ini, kata-kata Resti justru menguap begitu saja di udara, sama sekali tidak masuk ke dalam pikiran Rangga.

Pria itu masih berdiri terpaku di ambang dapur, menatap kosong ke arah lantai marmer tempat Rania baru saja berdiri. Untuk pertama kalinya sejak hari pernikahan mereka, Rangga merasakan sebuah ketakutan kecil yang merayap di balik dada bidangnya—ketakutan bahwa Rania, istri yang selama ini ia sia-siakan dan ia anggap angin lalu, benar-benar sedang berjalan menjauh darinya, selamanya.

Jangan lupa like ya😉

1
fanny tedjo pramono
mampir baca guys
Rian Moontero
lanjuutt,,👍🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!